Saham TLKM Salah Satu Underrated Proxy Data Center yang Belum Naik?
Saat saham lain yang terkait AI dan data center terbang, sahamTLKM malah masih nyungsep. Padahal, TLKM disebut sebagai pemilik data center terbesar ketiga di RI. Lantas, apa yang bikin sahamnya belum ikut naik? apakah sekarang jadi momen yang tepat untuk beli?
Mikirduit - Artificial Intelligence (AI) dan data center lagi jadi primadona pasar. Tapi kenapa saham PT Telkom (Persero) Tbk. (TLKM) masih di zona merah? Padahal, bisnis data center TLKM punya potensi ikut menikmati pertumbuhan AI. Apakah ini justru jadi peluang akumulasi?
Key takeaways
- TLKM masih tertinggal dari euforia AI dan data center karena perusahaan sedang menjalani restrukturisasi besar InfraNexia, sementara kontribusi NeutraDC baru sekitar 1,1% dari total pendapatan.
- Potensi pertumbuhan TLKM ada pada ekspansi data center Cikarang dan Batam serta monetisasi aset fiber InfraNexia, yang ke depan bisa menciptakan efisiensi CapEx, pendapatan eksternal, hingga peluang unlock value melalui investor strategis atau IPO.
- Meski masih menghadapi tekanan net sell asing dan pelemahan pelanggan Telkomsel, kenaikan ARPU, pertumbuhan laba, valuasi PE sekitar 12 kali, serta indikasi akumulasi membuat TLKM mulai menarik untuk strategi akumulasi bertahap.
- Mikirduit Masterclass 2026, Wealthverse: Dapatkan bocoran aset paling menarik untuk 2026-2027. Early Bird cuma Rp250.000 (kuota terbatas, amankan seat-mu sekarang juga) dengan klik link di sini
Prospek ekosistem data center yang terus berkembang telah memicu saham-saham yang berkaitan terbang puluhan sampai ratusan persen tahun ini.
Saham yang related itu tersebar di berbagai sektor, mulai dari kawasan industri, energi dan kelistrikan, sampai sektor yang berhubungan langsung yaitu telekomunikasi.
Namun, TLKM, perusahaan telekomunikasi pelat merah yang disebut sebagai pemain data center terbesar di Tanah Air. Justru, harga sahamnya tenggelam hampir 25 persen sejak awal tahun.

TLKM Masih Fokus Berbenah
Salah satu alasan kenapa harga saham TLKM bergerak lambat, menurut kami karena internal mereka yang fokusnya lagi banyak berbenah di tahun ini.
Pada sisa tahun ini, TLKM lagi fokus melakukan pemisahan bisnis (spin-off) infrastruktur serat optic ke dalam InfraNexia yang sudah masuk tahap kedua, mencakup pemindahan sisa aset sampai migrasi kontrak.
Dalam kondisi seperti ini, pasar sering kali tidak menyukai transisi restrukturisasi yang kompleks karena bisa memicu ketidakpastian biaya operasional, beban transaksi, serta penyesuaian pencatatan antar-anak usaha sebelum nilai tambahnya (value unlock) benar-benar terealisasi. Hal ini yang kemudian membuat pelaku pasar cenderung wait and see.

Sebagai catatan yang diungkapkan manajemen TLKM dalam keterangan resminya, spin-off infrastruktur serat optik Telkom ke InfraNexia merupakan aksi korporasi dan restrukturisasi internal terbesar dalam sejarah Telkom Group, dengan total aset yang dialihkan mencapai Rp85 triliun.
Prosesnya dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama yang rampung akhir tahun lalu telah memindahkan aset senilai Rp35,3 triliun, sementara tahap kedua yang masih berlangsung akan memindahkan sekitar Rp50 triliun aset tambahan.
Jika berjalan lancar, proses ini ditargetkan selesai akhir September dan akan dimintakan persetujuan investor melalui RUPSLB pada 30 September 2026.
Setelah seluruh proses selesai, InfraNexia akan mengelola lebih dari 90 persen aset jaringan fiber Telkom Group, mencakup sekitar 112.000 km fiber optik darat dan 26.000 km SKKL di Indonesia.
Lalu, apa manfaatnya buat Telkom? Selama ini Telkomsel, IndiHome, maupun bisnis enterprise bisa membangun jaringan fiber masing-masing, sehingga ada potensi duplikasi CapEx.
Dengan InfraNexia sebagai satu pengelola, pembangunan dan pengembangan jaringan bisa dilakukan dari satu pintu, sehingga belanja modal Telkom Group diharapkan lebih efisien.
Yang menarik, jaringan tersebut nantinya juga tidak hanya dipakai untuk kebutuhan internal Telkom. Dengan konsep Neutral Carrier, InfraNexia bisa menyewakan kapasitas fiber yang masih tersedia kepada operator lain, ISP, cloud provider, hingga perusahaan data center.
Targetnya, sekitar 25–30 persen pendapatan InfraNexia berasal dari pihak eksternal, sehingga aset fiber yang sebelumnya lebih banyak menjadi cost center bisa mulai menghasilkan sumber pendapatan baru.
Nah, potensi besarnya ada di tahap berikutnya. Setelah InfraNexia berdiri sebagai Pure-Play FiberCo dengan aset sekitar Rp85 triliun, Telkom punya opsi untuk melepas sebagian kepemilikannya kepada investor infrastruktur atau sovereign wealth fund, maupun membawa InfraNexia ke bursa melalui IPO.
Jika terealisasi, langkah ini berpotensi menjadi unlock value sekaligus memberikan suntikan kas baru bagi Telkom.
Prospek Ekspansi Bisnis Data Center
Beralih ke data center, berdasarkan paparan public expose pada Senin hari ini (7/9/2026), manajemen TLKM menyatakan segmen ini akan menjadi sumber value creation bagi revenue di masa depan.
Namun, perlu dicatat untuk saat ini kontribusinya belum signifikan ke pendapatan. Di bawah naungan NeutraDC, bisnis ini sampai paruh pertama 2026 baru membukukan pendapatan sebesar Rp867 miliar. Nilai ini hanya setara 1,1 persen dari total pendapatan TLKM yang mencapai Rp75 trliun.
Menurut kami, bisnis data center di awal membutuhkan CapEx awal yang jumbo (pembangunan gedung, pengadaan listrik, dan sistem pendingin), tetapi pengisian tenant (pencapaian okupansi) dilakukan secara bertahap dalam hitungan tahun.
Jadi, tidak heran jika momen pengembangan ekosistem data center saat ini, yang sahamnya naik duluan adalah pemain yang bergerak di kawasan industri sampai kelistrikanl lebih dulu.
Suatu saat nanti, jika momentum nya sudah kembali, akan ada waktunya untuk nanjak lagi bagi pemain yang berhubungan langsung dengan bisnis data center.
Adapun untuk ekspansi data center yang dilakukan TLKM saat ini baru mengarah pada pembangunan dan perluasan kapasitas fisik (hyperscale & edge), serta penataan ulang struktur portofolio jaringan penunjangnya.

Fokus utamanya saat ini tertuju pada penyelesaian fasilitas skala raksasa (hyperscale AI-ready), seperti pengoptimalan DC Cikarang yang sedang ditingkatkan menuju 21,5 MW sebelum masuk Tahap-2 di tahun 2027, serta penyelesaian DC Batam berkapasitas awal 6 MW di paruh kedua 2026 yang disiapkan untuk menangkap potensi pasar dari Singapura.
Langkah ini didukung pula oleh penguatan puluhan titik edge data center neuCentrIX di berbagai kota untuk melayani kebutuhan pemrosesan data berlatensi rendah.
Di saat yang sama, ekspansi tersebut disejajarkan dengan integrasi ekosistem serat optik di bawah InfraNexia guna memastikan seluruh fasilitas NeutraDC terhubung ke jaringan backbone nasional yang efisien.
Namun, karena strategi ekspansi ini masih berada dalam tahap penambahan kapasitas dan penataan struktur aset, kontribusi pendapatannya ke neraca konsolidasi TLKM tergolong masih dalam tahap awal perkembangan.
Hasil nyata dari ekspansi ini diperkirakan baru akan terasa signifikan saat seluruh kapasitas anyar tersebut beroperasi penuh dan siap dimonetisasi melalui kemitraan strategis di masa mendatang.

Telkomsel Masih Jadi Kontributor Utama Vs Tantangan Daya Beli
Bisnis TLKM saat ini masih sangat bergantung pada Telkomsel. Secara keseluruhan, sekitar 85–90 persen pendapatan TLKM masih berasal dari bisnis konektivitas, mulai dari layanan seluler Telkomsel, fixed broadband IndiHome, hingga konektivitas untuk pelanggan korporasi. Jadi, bisnis konektivitas masih menjadi bread and butter TLKM.
Namun, bisnis ini juga mulai menghadapi tantangan dari sisi daya beli. Jumlah pelanggan Telkomsel turun 3,1 persen menjadi 153,5 juta, sementara penggunaan data turun tipis 0,7 persen. Ini menunjukkan sebagian konsumen mulai lebih berhemat dalam menggunakan layanan telekomunikasi.

Meski begitu, TLKM masih mampu menjaga pertumbuhan dengan meningkatkan nilai dari pelanggan yang ada. ARPU Telkomsel naik 11,6 persen menjadi Rp46 ribu, sementara pelanggan pascabayar Telkomsel HALO terus tumbuh hingga 8,9 juta.
Strategi tersebut membantu menjaga kinerja bisnis. Pada kuartal II/2026, pendapatan B2C mencapai Rp28,02 triliun, sementara laba bersih TLKM tumbuh 24,9 persen menjadi Rp5,27 triliun. Jadi, meskipun jumlah pelanggan menurun, pendapatan masih bisa tumbuh karena setiap pelanggan menghasilkan nilai yang lebih tinggi.
Untuk menjaga posisi Telkomsel di tengah persaingan, TLKM juga tetap agresif berinvestasi di jaringan. Tahun ini, Telkomsel menambah 100 MHz spektrum baru, sehingga total spektrumnya mencapai 265 MHz, dengan biaya tahunan sekitar Rp1 triliun.

Risiko Teknis Saham TLKM
Di sisi lain, faktor yang membuat saham TLKM belum bangkit karena ada beberapa faktor seperti:
Pertama, normalisasi bobot MSCI karena pasar saham Indonesia dibekukan dalam rebalancing sepanjang tahun ini. Alhasil, dari segi bobot turun dan aksi net sell asing cukup jumbo. TLKM dengan posisi bobot yang cukup besar terdampak signifikan. Sepanjang tahun ini, TLKM sudah mencatatkan net sell asing senilai Rp1,9 triliun.
Kedua, TLKM juga mencatatkan kasus setelah diinvestigasi oleh regulator bursa Amerika Serikat terkait dugaan fraud laporan keuangan. Investigasi tersebut dimulai sejak Oktober 2023 terkait proyek BAKTI Kominfo dan berkembang mencakup isu akuntansi dan pengungkapan. Hingga Mei 2026, pihak TLKM mengungkapkan belum menerima pemberitahuan resmi terkait gugatan class action.

Teknikal dan Valuasi Saham TLKM
Beralih ke harga saham lagi, meskipun TLKM ini masih nyungsep dari awal tahun. Secara teknikal, pergerakannya sudah terkonsolidasi setelah jatuh dalam. Ini menunjukkan adanya akumulasi yang rapi.
Frekuensi analyzer juga mulai menguat, biasanya menunjukan smart money yang mulai rajin akumulasi.
Salah satu yang kami amati adalah Schroder Dana Prestasi Plus pada sepanjang Juli 2026 mulai akumulasi TLKM, tercermin dari kenaikan nominal dana sebesar 11,83 persen ketika pergerakan harga saham hanya naik 7,79 persen.

Berdasarkan lama analysis di terminal Ajaib, saham TLKM diberikan rating BUY oleh 36 dari 42 analis dengan target ke harga 3480.
Adapun secara valuasi, saham TLKM juga masih bisa dinilai murah dengan nilai PE di 12 kali, posisinya sudah mulai mendekati -1 standar deviasi dalam tiga tahun tearkhir.

Kesimpulan
TLKM memang belum sepenuhnya menikmati booming AI dan data center, tapi justru di situlah peluangnya. Saat ini kontribusi data center masih kecil, sementara perusahaan masih fokus membangun kapasitas, merapikan aset fiber lewat InfraNexia, dan memperkuat bisnis konektivitas yang menjadi sumber cuan utama.
Jika proses restrukturisasi berjalan lancar, ekspansi NeutraDC mulai menghasilkan okupansi dan monetisasi, serta InfraNexia nantinya bisa membuka potensi unlock value, cerita pertumbuhan TLKM ke depan bisa jauh lebih menarik.
Di sisi lain, bisnis utama Telkomsel masih cukup kuat meski menghadapi tekanan daya beli, dengan ARPU yang terus naik dan laba yang tetap tumbuh. Ditambah valuasi yang relatif murah dan mulai munculnya indikasi akumulasi, menurut kami TLKM mulai menarik untuk dicermati sebagai saham akumulasi bertahap, bukan sekadar mengejar momentum AI/data center.
Jadi, TLKM mungkin memang belum “ngebut” sekarang, tapi justru sedang membangun fondasi untuk pertumbuhan berikutnya. Gimana, menurut kalian menarik beli sekarang atau tunggu konfirmasi reversal dulu?
Mau Diskusi Saham Langsung dengan Founder Mikirduit?
Join Mikirsaham sekarang dan dapatkan benefit:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

