5 Sektor Ini Diprediksi Bisa Cemerlang di Tahun Kuda Api, Ini Hitungan Probabilitasnya
Setiap jelang imlek, salah satu yang menarik adalah riset dari CLSA terkait feng shui Index. Dalam risetnya akan menilai sektor bisnis yang bisa GREAT, GOOD, Mediocare, higga WARNING. Beberapa sering mengaitkannya dengan sektor saham. Lalu, apa saja yang menarik di 2026?
Mikirduit – Salah satu hal yang menarik dipantau jelang Imlek adalah rilis analisis keuangan dan bisnis dari CLSA berdasarkan Feng Shui. Kami akan coba menilai probabilitas dari sektoral yang diproyeksikan oleh CLSA dalam riset-nya tersebut, serta bagaimana dengan tahun ini.
Highlight
- Riset Feng Shui dari CLSA periode 2023–2025 menunjukkan sebagian sektor seperti telekomunikasi, migas, infrastruktur, dan distribusi gas sempat selaras dengan realita pasar, tetapi secara probabilitas tetap cenderung 50:50 karena banyak faktor fundamental dan sentimen lain yang lebih dominan.
- Memasuki 2026 Tahun Kuda Api, sektor kesehatan, teknologi (termasuk isu merger GOTO dengan Grab), otomotif, baterai nikel, dan internet dinilai berpotensi GOOD hingga GREAT, namun hingga Februari pergerakannya masih mixed dan sangat bergantung pada katalis fundamental maupun aksi korporasi.
- Kesimpulannya, Feng Shui Index dapat menjadi alat screening tambahan, tetapi keputusan investasi tetap harus berbasis strategi, valuasi, likuiditas, dan perkembangan kinerja emiten karena proyeksinya tidak spesifik untuk pasar Indonesia dan tidak menjamin arah harga saham.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.
Kami akan merekap riset pasar CLSA berdasarkan Feng Shui sejak 2023. Catatannya, proyeksi ini tidak menggambarkan pasar Indonesia secara spesifik, tapi lebih ke pasar dunia secara umum. Sehingga korelasinya memang berpotensi cukup rendah. Tapi, kami coba ulas probabilitasnya di sini.
Proyeksi dan Realitanya Saham Pemenang di Tahun 2023 Kelinci Air
Tahun 2023 disebut tahunnya Kelinci Air. Hasilnya, sektor yang dianggap sangat bagus di tahun kelinci air pada 2023 antara lain, telekomunikasi / Internet, Migas, Semikonduktor, Kesehatan, Perkebunan, dan Consumer Goods, sedangkan sektor yang moderat ada properti, Pertambangan (terutama bahan baku), dan transportasi perkapalan, sedangkan sektor yang kurang bagus di logam (baja dan manufaktur), keuangan, dan kelistrikan.
Jika kami korelasikan dengan pergerakan harga sahamnya, saham operator seluler mencatatkan kinerja yang cukup menarik, meski salah satunya ada faktor aksi korporasi.
Misalnya, TLKM naik 5,33 persen, sedangkan ISAT naik 51,82 persen. Namun, untuk ISAT ada faktor konsolidasi dengan 3 Hutchinson yang rampung. Selain itu, ada WIFI juga yang mulai naik 18 persen sepanjang 2023.
Namun, untuk emiten infrastruktur pendukung telekomunikasi seperti menara telekomunikasi, kontraktor telekomunikasi, hingga penyedia backbone fiber optik-nya lesu. TOWR, TBIG, MTEL, KETR, dan INET mencatatkan penurunan yang cukup signifikan.
Dari sektor migas yang juga dianggap Great pada tahun kelinci air mencatatkan pergerakan harga saham yang mayoritas positif. MEDC naik 13,24 persen, AKRA naik 5,36 persen, dan ELSA naik 24,36 persen.
Sementara itu, PGAS turun 35,8 persen karena a sentimen pengumuman kondisi force majeure untuk kontrak LNG dengan Gunvor Singapore pada akhir 2023. Kala itu, PGAS diekspektasikan bisa rugi hingga Rp15 triliun sebagai skenario terburuk.
Terakhir, Guvnor membawa kasus dengan PGAS ini ke arbitrase dengan risiko kerugian untuk PGAS sekitar 74 jtua dolar AS (Rp1 triliun).
Selain PGAS, saham ENRG juga turun 24,14 persen sepanjang tahun 2023.
Selaras dengan dua sektor lainnya, saham consumer yang dianggap GOOD pada 2023 juga mencatatkan kinerja yang cukup oke. ADES paling agresif dengan kenaikan 33 persen, CLEO naik 27 persen, ICBP naik 6 persen, MYOR cenderung stagnan. Hanya GOOD dan KINO yang mencatatkan penurunan hingga 18 persen dalam setahun.
Namun, tidak semua sektor yang disebut GREAT dan GOOD pada 2023 itu cukup oke. Sektor kesehatan dan perkebunan malah tertekan cukup dalam sepanjang 2023.
Saham sektor kesehatan kompak nelangsa di 2023. SIDO dan KLBF turun hingga 22-30 persen, sedangkan emiten rumah sakit seperti MIKA, HEAL, dan SRAJ turun mulai dari 5 - 57 persen.
Tercatat, saham kesehatan yang mencatatkan kenaikan pada periode tersebut hanya PYFA sebesar 32 persen dan SILO sebesar 73 persen.
Untuk penurunan saham kesehatan ada korelasinya dengan normalisasi kinerja bisnis pasca Covid-19 mereda. Hal itu berdampak terhadap tekanan jual saham kesehatan yang sempat booming selama periode pandemi Covid di 2020-2022.
Seperti halnya sektor kesehatan, sektor perkebunan yang dianggap GOOD malah mencatatkan penurunan harga saham yang signifikan pada 2023. LSIP, AALI, TAPG, DSNG, dan SSMS turun dari 7 - 28 persen dalam setahun.
Adapun, saham perkebunan sawit mengalami tekanan harga selaras dengan tren El Nino yang terjadi pada 2023-2024.
Proyeksi dan Realitanya Saham Pemenang di Tahun 2024 Naga Kayu
Tahun 2024 disebut Naga Kayu, beberapa sektor yang disebut punya peluang bagus di tahun tersebut antara lain, consumer, kesehatan, internet/telko, teknologi, dan properti.
Lalu, bagaimana realita dan korelasinya ke pasar saham di Indonesia?
Sektor pertama adalah consumer. Jika melihat pergerakan harga saham sektor consumer pada tahun 2024 masih cenderung naik. ICBP naik 7,57 persen, MYOR naik 11,65 persen, CLEO naik 121 persen. Namun, KINO masih turun 5,14 persen, GOOD turun 4,19 persen, dan ADES turun 4,19 persen.
Khusus untuk ADES, penurunan harga saham terjadi karena perseroan masuk ke papan notasi khusus karena belum memenuhi ketentuan free float.
Sementara itu, saham sektor kesehatan bergerak cenderung mixed. SIDO mampu catatkan kenaikan 12,38 persen sepanjang 2024, disusul HEAL naik 9,4 persen, SILO 45 persen, dan SRAJ 686 persen.
Namun, KLBF masih turun 15,53 persen dan PYFA turun 14,95 persen. Penurunan saham PYFA terkait pasca aksi right issue jumbonya. Penyesuaian harga teoritis yang signifikan membuat sentimen negatif untuk harga saham perseroan dalam jangka pendek.
Dari sektor telekomunikasi dan internet, saham operator seluler mayoritas mencatatkan kenaikan kecuali TLKM yang turun 31 persen. Penurunan saham TLKM sepanjang 2024 selaras dengan isu adanya pensiun dini yang membuat perseroan harus keluar biaya jumbo dalam periode tahun tersebut. Sehingga laba bersihnya cukup mengalami tekanan.
Sementara itu, ISAT melanjutkan tren kenaikan sebesar 5,81 persen, EXCL naik 12,5 persen, dan WIFI naik 166 persen.
Namun, saham menara telekomunikasi dan infrastrukturnya masih dalam tekanan. TOWR turun 33,5 persen, MTEL turun 11,32 persen, KETR turun 24,79 persen, dan INET turun 29 persen. (DATA belum kami masukkan karena baru IPO di 2024).
Meski begitu, TBIG menjadi satu-satunya saham menara telko yang mencatatkan kinerja positif sepanjang 2024 dengan kenaikan 0,48 persen.
Untuk sektor teknologi, kami tidak melakukan korelasi ke pasar saham di Indonesia. Pasalnya, saham teknologi di Indonesia cenderung terbatas dan pergerakan harganya cenderung tertekan karena faktor perkembangan bisnis yang merugi dan belum ada tanda-tanda pemulihan.
Terakhir, sektor properti yang dianggap GREAT ternyata tidak berdampak laten di Indonesia. Saham properti hanya mengalami kenaikan dari Juli hingga September 2024. Setelahnya cenderung turun dan secara akumulasi satu tahun mengalami penurunan signifikan.
Dari catatan kami, rata-rata saham properti residensial mengalami penurunan lebih dari 10 persen di sepanjang 2024. Rentang terkecil BSDE yang turun 12,5 persen dan terbesar ASRI yang turun 18 persen.
Proyeksi dan Realitanya Saham Pemenang di Tahun 2025 Ular Kayu
Memasuki 2025, sektor bisnis yang dianggap bisa mendapatkan energi positif di tahun ular kayu antara lain infrastruktur, gas distributor, dan consumer goods.
Untuk sektor infrastruktur tidak ada penjelasan detailnya, tapi kami akan merujuk ke saham-saham kontraktor yang membangun infrastruktur seperti, PTPP, ADHI, NRCA, ACST dan TOTL.
Hasilnya, sepanjang tahun 2025, kelima saham konstruksi itu mencatatkan kenaikan. NRCA paling agresif setelah naik 330 persen dalam setahun karena rumor Prajogo berpotensi membeli saham milik anak usaha SSIA tersebut.
Lalu, ACST naik 52 persen, TOTL naik 49 persen, sisanya dua saham kontraktor BUMN yang naik 23-26 persen yang juga membawa ekspektasi akuisisi-merger antar BUMN karya.
Sektor selanjutnya terkait distribusi gas. Di sini, ada dua saham yang cukup related sebagai distributor gas, yakni RAJA dan PGAS. Hasilnya, kinerja pergerakan harga saham keduanya sepanjang 2025 juga cukup agresif. PGAS naik 18 persen dan RAJA naik 124 persen.
Di sisi lain, saham sektor consumer goods secara mayoritas dan pemain besarnya malah mencatatkan penurunan harga saham. ICBP mengalami penurunan 27 persen, MYOR turun 23 persen, CLEO turun 40 persen, dan GOOD turun 8,87 persen.
Untuk ICBP mengalami penurunan signifikan pada 2025 karena didepak dari indeks MSCI. Hal itu membuatnya mengalami tekanan jual asing yang cukup signifikan.
Dua saham consumer goods yang mengalami kenaikan antara lain ADES sebesar 64 persen dan KINO naik 16 persen.

Prospek Tahun Kuda Api 2026, Sektor Apa yang Menarik? dan Bagaimana dengan Probabilitasnya?
Lalu, bagaimana dengan 2026? dari riset CLSA terkait feng shui Indeks tersebut, sektor perawatan kesehatan terkait obat, multivitamin, menjadi yang berpeluang mencatatkan GREAT dengan puncaknya ada di Juni dan Juli (selain Februari-April).
Jika melihat kinerja saham kesehatan (SIDO, KLBF, PYFA, MIKA, HEAL, SILO, SRAJ) hingga 13 Februari 2026, secara year to date hanya SILO yang mencatatkan kenaikan 1,49 persen. Secara bulanan di Februari 2026 malah kompak mengalami penurunan.
Sementara, sektor bisnis yang dianggap GOOD (level di bawah GREAT) antara lain, teknologi, otomotif, baterai, dan internet. Untuk teknologi. kami menilai korelasi dengan Indonesia cukup rendah, tapi dengan adanya rumor GOTO merger dengan Grab ada potensi korelasi signifikan di saham terkait jika aksi korporasi terealisasi. (setidaknya untuk volatilitas dalam jangka pendek).
Lalu, sektor selanjutnya adalah otomotif yang kami asumsikan termasuk sektor komponen otomotif. Sentimen positif otomotif berpotensi terjadi sepanjang tahun dengan puncaknya di Desember 2026 dan Januari 2027.
Untuk kinerja harga saham terkait otomotif hingga 13 Februari 2026 juga cukup positif. Kami menghimpun pergerakan harga saham AUTO, DRMA, SMSM, ASII, dan IMAS. Jika dilihat secara year to date, AUTO, DRMA, dan IMAS mencatatkan penurunan, sedangkan sisanya SMSM dan ASII naik.
Lalu, secara bulanan per Februari 2026, AUTO, SMSM, ASII, dan IMAS mencatatkan kenaikan yang cukup agresif, tercatat hanya DRMA yang turun sebesar 1,44 persen.
Catatannya, untuk volatilitas saham ASII dan AUTO juga related dengan keputusan pemerintah terkait tambang martabe yang masih terkatung-katung dan tidak jelas, apakah diambil oleh Danantara atau tidak. AUTO memang seharusnya memiliki korelasi rendah di sentimen tersebut. Tapi, saat sentimen itu keluar, seluruh saham di Grup Astra yang tidak terkait juga mendapatkan tekanan. Sebaliknya, ketika ada potensi dikembalikan lagi, saham-saham related Grup Astra kembali naik.
Sektor lainnya yang berpotensi GOOD pada tahun ini adalah related dengan bisnis baterai. Dengan asumsi bisnis baterai related dengan saham-saham smelter nikel HPAL yang produksi MHP, kami coba menghimpun saham terkait seperti NCKL, MBMA, ANTM, LABA, INCO, dan HRUM.
Hasilnya, pemain nikel kompak mencatatkan kenaikan harga saham yang agresif di atas 10 persen (Kecuali HRUM yang hanya 3,64 persen karena sempat ada sengketa lahan tambang PT Position milik HRUM dianggap ilegal meski porsi dugaan lahan ilegal tidak besar).
Sementara itu, LABA mencatatkan penurunan sebesar 21 persen karena ada kasus komisaris utamanya yang juga memimpin OLIV dan KRYA sempat dideportasi karena menjadi buronan di China.
Terakhir, saham related Internet secara spesifik dianggap GOOD. Dalam hal ini, kami menghimpun saham internet antara lain termasuk operator seluler yang juga memberikan layanan internet. Beberapa saham terkait antara lain, TLKM, EXCL, ISAT, WIFI, INET, DATA, KETR, MORA.
Saham Internet dinilai punya momentum puncak di Agustus - September 2026. Namun, hingga 13 Februari 2026, pergerakan harga saham di sektor related Internet lagi tertekan signifikan.
Kami membagi tipe saham booming dan fundamental. Untuk saham booming rata-rata penurunan di atas 10 persen seperti WIFI, INET, KETR, MORA, hingga DATA. Sementara itu, saham TLKM hanya turun 1,71 persen dan ISAT turun 4,29 persen. Hanya EXCL yang turun hingga 24 persen karena efek pasca konsolidasi dengan FREN, perseroan malah mencatatkan kerugian.
Tekanan di saham EXCL juga terjadi saat vonis MSCI. EXCL yang kini dimiliki sebagian sahamnya oleh keluarga Sinarmas pun langsung turun cukup agresif pada akhir Januari 2026 tersebut.
Kesimpulan
Untuk sektor yang diperkirakan bisa GREAT atau GOOD di tahun kuda api, kami rincikan momentumnya:
Pertama, saham perawatan kesehatan seperti SIDO, KLBF, MIKA, dan HEAL memang sudah murah. Namun, mereka butuh sentimen pendorong untuk menjaga pertumbuhan kinerja keuangannya bisa lebih atraktif. Keempat saham ini memiliki pergerakan harga saham yang selaras dengan tren fundamentalnya. Sehingga, jika ada pertumbuhan kinerja yang menarik di 2026 bisa jadi pendorong dari posisi harga yang sudah cukup terdiskon.
Kedua, saham teknologi terkait GOTO dan BUKA bisa menguat juga, tapi lebih ke sentimen non-fundamental. Misalnya, Jika GOTO dan GRAB jadi merger bisa jadi pendorong volatilitas dalam jangka pendek. Sementara itu, jika BUKA bergerak menggunakan dana IPO untuk ekspansi bisnis baru yang margin keuntungannya lebih menarik juga bisa jadi pendorong.
Ketiga. untuk saham otomotif, sentimen terdekat adalah beroperasinya pabrik BYD dan Vinfast, serta penjualan otomotif di Indonesia berada di lowbase. Jika ada perbaikan daya beli bisa membuat pertumbuhan penjualan otomotif lebih agresif. Namun, kami menilai peluang hal itu terjadi bisa di semester II/2026 hingga 2027.
Keempat, untuk saham related baterai juga memiliki beberapa momentum, salah satunya target pabrik IBC (perusahaan baterai yang dimiliki Indonesia) ditargetkan rampung pada 2026. Hal ini bisa berdampak langsung ke ANTM dan INCO. Di luar itu, jika harga MHP (nikel olahan untuk kebutuhan baterai) meningkat karena adanya kenaikan demand, bisa menguntungkan para pemilik smelter HPAL seperti NCKL, MBMA, INCO, dan HRUM.
Terakhir, untuk saham internet dari segi momentum di Indonesia ada lelang frekuensi 700 Mhz dan 2,6 GHz yang diperuntukkan untuk mobile broadband 5G. Hal ini cenderung mengutungkan operator seluler dan menara telekomunikasi.
Proyeksi dari Feng Shui ini tidak menggambarkan 100 persen peluang kenaikan harga saham karena fokusnya dari perkembangan bisnis saham terkait. Faktor kenaikan dan penurunan harga saham juga ada faktor internal emiten (aktivitas owner) hingga pengaruh ke fundamentalnya.
Jika melihat periode 2023-2025, ada beberapa yang tampak related tapi secara hitungan peluang-nya tetap 50:50. Untuk itu, kembali lagi, sebagai investor atau trader ritel, kita perlu fokus dengan strategi yang sudah dijalankan. Investor mencari saham yang lagi diskon dan punya prospek, serta trader mencari peluang saat ada saham yang penuh dengan likuiditas sehingga cukup menarik untuk ditradingkan.
List dari gambaran Feng Shui Index CLSA bisa membantu screening saham, apakah dari sektor terkait ada yang menarik. Apalagi, Feng Shui Index ini tidak secara khusus merujuk ke pasar saham atau bisnis di Indonesia.
Dapatkan Insight Saham hingga Diskusi serta Konsultasi Bersama hampir 1.000 Investor Lainnya di Mikirsaham
Yuk join dengan Mikirsaham sekarang untuk bisa dapatkan benefit ini semua:
- Stockpick investing (dividend, value, growth, contrarian) yang di-update setiap bulan (terbarunya akan diseleksi terbaik maksimal 5 masing-masing strategi dengan analisis yang komprehensif)
- Stock Ideas (memberikan gambaran besar saham-saham yang menarik, tapi tidak termasuk stockpick)
- Stockpicking swing trade mingguan (khusus member mikirsaham elite jika kuota masih tersedia)
- Insight saham terkini serta action-nya
- Update porto founder
- IPO dan Corporate Action Digest
- Event online bulanan
- Grup Diskusi Saham
Join ke Member Mikirsaham Pro sekarang juga dengan klik link di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
