Data non-Farm Payroll AS Memperkuat Probabilitas Kenaikan Suku Bunga The Fed, Ini yang Investor Harus Lakukan
Data non-farm payroll AS mencatatkan kenaikan di atas ekspektasi pasar. Proyeksi kenaikan suku bunga The Fed di bulan ini pun kembali menguat. Jadi, apa yang harus dilakukan investor?
Mikirduit – Data non-farm payroll Amerika Serikat per Agustus 2026 membuat ketidakpastian kembali meningkat. Hasil non-farm payroll yang naik 127.000 lebih tinggi dari perkiraan melambat menjadi 45.000. Bahkan, jika dihitung secara bulanan naik 71 persen dibandingkan dengan Juli 2026. Lalu, apa dampak data tersebut terhadap prospek pasar saham?
Key Takeaways
- Non-farm payroll AS Agustus 2026 melonjak menjadi 127.000, jauh di atas ekspektasi 45.000, sehingga kembali meningkatkan kekhawatiran inflasi dan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps.
- Risiko kenaikan suku bunga The Fed dapat memicu tekanan pada IHSG melalui potensi outflow asing, kenaikan yield obligasi AS, serta kebutuhan Bank Indonesia menjaga selisih suku bunga dan stabilitas rupiah.
- Dalam kondisi pasar yang masih undecision, investor dapat menjaga cadangan kas, mempertahankan saham investasi yang fundamentalnya masih sesuai rencana, dan lebih disiplin mengambil profit saat memanfaatkan volatilitas jangka pendek.
- Mikirduit Masterclass 2026, Wealthverse: Dapatkan bocoran aset paling menarik untuk 2026-2027. Early Bird cuma Rp250.000 (kuota terbatas, amankan seat-mu sekarang juga) dengan klik link di sini
Sepanjang pekan ini, ada dua data yang dianggap menjadi clue terkait potensi arah suku bunga Federal Reserve (The Fed), yakni Jobless Claim mingguan di Amerika Serikat dan Non-farm payroll.
Data pertama, Jobless Claim dirilis pada 3 September 2026. Hasilnya, Jobless Claim mengalami kenaikan menjadi 206.000 dibandingkan dengan pekan sebelumnya sebesar 204.000, bahkan di atas proyeksi pasar yang sebesar 205.000. Rata-rata tingkat Jobless Claim mingguan sepanjang Agustus 2026 juga mencatatkan kenaikan menjadi 207.250 dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 205.750.
Dari data ini, ada potensi inflasi bisa melandai karena aktivitas tenaga kerja menurun karena tingkat jobless claim meningkat. Hasilnya, indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 kompak mencatatkan kenaikan 1 persen pada perdagangan 3 September 2026.
Data kedua, Non-farm payroll Amerika Serikat bulanan per Agustus 2026 yang justru hasilnya malah mencatatkan kenaikan signifikan menjadi 127.000 atau lebih tinggi dari perkiraan yang hanya 45.000.
Hasil dari data kedua seolah-olah menjadi antitesis dari data yang pertama sehingga membuat potensi suku bunga The Fed kembali meningkat.
Dari data Departemen Ketenagakerjaan AS, pemulihan lapangan kerja terlihat muncul di sektor rekreasi dan perhotelan setelah dua bulan sebelumnya mengalami penurunan.
Kenaikan non-farm payroll ini sering dijadikan indikasi perkiraan inflasi berpotensi naik. Jika dihubungkan dengan pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole, kenaikan inflasi lebih lanjut dari level sebelumnya berpotensi membuat kenaikan suku bunga The Fed menjadi lebih tinggi.
Dikutip dari Reuters pada 5 September 2026, Gubernur Fed Christopher Waller mengungkapkan suku bunga The Fed berpotensi tetap stabil. Dengan catatan, jika tren kenaikan inflasi mereda.
Pekan depan menjadi penentuan arah suku bunga The Fed karena data inflasi akan dirilis pada akhir pekan depan.
Dari Fed Watch CME Grup, Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps kembali meningkat menjadi 59,4 persen setelah data non-farm payroll rilis. Sebelumnya, 3 September 2026, probabilitas terbesar justru menahan suku bunga dengan peluang sebesar 50,6 persen setelah data jobless claim keluar.
Bahkan, probabilitas kenaikan suku bunga dari Oktober 2026 hingga Oktober 2027 terus meningkat dari 70 persen hingga tembus 96 persen. Namun, probabilitas ini akan berubah selaras dengan realisasi data ekonomi yang muncul hingga pernyataan pejabat The Fed setelah rapat FOMC.
Di sisi lain, kenaikan suku bunga The Fed bisa sedikit menahan risiko outflow pasar saham secara global termasuk AS dari aksi likuidasi aset untuk menyelesaikan carry trade dengan yen. Apalagi, dua hari setelah The Fed, Gubernur Bank of Japan akan mengumumkan hasil rapatnya dengan indikasi ada kenaikan suku bunga.
Jika Bank of Japan menaikkan suku bunga dan The Fed tetap, berarti ada risiko investor yang melakukan carry trade yen akan melakukan likuidasi aset. Ini menjadi risiko jangka pendek bagi pasar.
Apalagi, jika dilihat yield US Treasury Bond 10 Tahun sudah naik hingga tembus 4,78 persen per awal September 2026. Tingkat yield itu sudah naik 40 basis poin dalam lebih dari 1 bula terakhir, setelah terakhir ada di 4,3 persen pada akhir Juli 2026. Kenaikan yield obligasi negara 10 tahun sering diasosiasikan dengan risiko kenaikan suku bunga, meski hal itu belum tentu terjadi sepenuhnya.
Dampak Terhadap Pasar Saham Indonesia
Data-data Jobless claim maupun non-farm payroll mungkin belum berpengaruh secara signifikan karena masih berupa data-data untuk indikasi awal prospek inflasi AS. Namun, data inflasi yang lebih pasti dirilis pada pekan depan bisa jadi penentu pergerakan IHSG. Alasannya, jika kenaikan inflasi terjadi, ada potensi outflow atau arus modal keluar bersih asing dari pasar saham emerging market bisa kembali meningkat. Namun, jika inflasi mereda di bawah 3,4 persen (dari data terakhir) bisa menjadi sentimen positif.
Di sisi lain, jika inflasi AS meningkat dan memicu potensi kenaikan suku bunga The Fed, hal itu juga berdampak untuk kebijakan Bank Indonesia. Pasalnya, ketika Fed Fund Rate naik, Bank Indonesia harus menjaga spread atau selisih antara BI rate dengan Fed Fund Rate ini berada di level yang sesuai agar tidak memicu outflow cukup besar, serta berisiko menekan pergerakan kurs rupiah.
Dalam hal ini, dampak dari risiko kebijakan moneter tersebut lebih kepada asumsi risiko investasi di negara emerging market. Hal ini berbeda dengan faktor pembekuan rebalancing MSCI, yang mana fund manager yang mengacu ke indeks MSCI terpaksa jual saham-sahamnya di Indonesia untuk menyesuaikan bobot indeks.Sehingga, risiko kejadiannya bisa terukur dari periode pengumuman rebalancing hingga jelang H-1 efektif.
Nah, untuk faktor makro seperti risiko kenaikan suku bunga ini lebih sulit terukur. Pasalnya, akan ada dugaan-dugaan potensi kenaikan suku bunga dari data-data ekonomi terkait. Sehingga dampaknya ke pasar saham Indonesia lebih beragam dan tercampur dengan sentimen lain hingga nantinya ada kepastian suku bunga The Fed benar-benar dinaikkan.
Jika dilihat, saham-saham yang berpotensi terdampak biasanya adalah saham-saham market cap besar yang punya bobot besar ke IHSG. Investor asing akan melakukan net sell untuk mengantisipasi risiko. Tingkat outflow-nya lebih sulit diperkirakan karena akan tergantung dari persepsi risiko tersebut.
Menariknya, jika The Fed tidak menaikkan suku bunga. Pasar saham bisa mengalami rebound dalam jangka pendek. Tapi, semuanya akan tergantung dengan komentar pejabat The Fed setelah rapat. Jika ada nada suku bunga berpotensi naik di pertemuan selanjutnya (Oktober 2026), itu tetap bisa menjadi tekanan.
Sehingga, masa-masa saat ini bisa dibilang masa undecision karena risiko pasar-nya sangat tidak pasti.

Risiko Saham Terkait Data Center dan AI
Masalah potensi kenaikan suku bunga The Fed ini berpotensi mengganggu booming AI dan Data Center. Pasalnya, jika tingkat suku bunga The Fed naik, ada risiko mengusik rencana ekspansi data center untuk kebutuhan AI. Alasannya sederhana:
- Jumlah modal untuk ekspansi sudah cukup besar dan cukup banyak dalam bentuk leverage atau tingkat utang
- Jika suku bunga The Fed naik bisa memperlambat ekonomi. Dari sini, ada potensi banyak perusahaan calon klien produk AI dan Data center akan melakukan efisiensi. Nantinya, akan dibuat hitungan keekonomian jika proyek data center dilanjutkan apakah akan menguntungkan atau jadi risiko aset kurang terutilisasi secara optimal
Jika itu terjadi, sektor data center dan AI terutama di Amerika Serikat (AS) bisa mengalami kontraksi dari segi harga saham karena persepsi risiko tersebut.
Bagaimana dengan di Indonesia? ada dua kemungkinan yang terjadi.
- Investasi data center di Indonesia yang ‘direncanakan’ akan ditunda terlebih dulu
- Bisa mendapatkan orderan permintaan data center yang lebih besar karena dianggap lebih murah dibandingkan dengan membangun di Amerika Serikat (namun, perhitungan lebih murah ini hanya dari segi operasional seperti listrik dan pembelian lahan, sedangkan risiko jaringannya perlu dipahami lebih lanjut)

Kesimpulan
Dalam kondisi saat ini, kondisi pasar sedang mengalami ketidakpastian yang cukup tinggi. Hal yang bisa dilakukan antara lain:
- Wait and see dengan dana cash untuk plan investasi jangka menengah panjang
- Jika tidak punya cash dan ada beberapa saham yang mencatatkan floating profit lumayan besar, bisa jual sebagian untuk cash cadangan
- Jika ada saham yang mengalami floating loss, kamu bisa putuskan jual atau tidak sesuai dengan rencanamu dan evaluasi kondisi saham, apakah masih on the track dengan perkiraanmu atau memang lebih baik dijual
- Saham investasi yang masih on the track dan dalam program beli bertahap bisa di-hold
- Untuk trading bisa cuan bungkus memanfaatkan volatilitas yang terjadi dalam jangka pendek. Namun, jaga ekspektasi, jangan terlalu maruk untuk menargetkan keuntungan.
Mau Diskusi Saham Langsung dengan Founder Mikirduit?
Join Mikirsaham sekarang dan dapatkan benefit:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

