Harga Batu Bara Naik ke 150 dolar AS, Begini Peluang dan Risiko Sahamnya

Harga batu bara melejit di tengah ketidakpastian logistik karena pendangkalan di sungai besar Kalimantan seperti Mahakam-Barito. Kira-kira siapa yang masih diuntungkan dan paling bertahan dari risiko?

Share
saham batu bara

Mikirduit - Harga batu bara melesat di tengah kekhawatiran pasokan akibat logistik yang terhambat seiring pendangkalan di sejumlah sungai utama di Kalimantan seperti Mahakam-Barito.

Key takeaways

  • Harga batu bara menembus US$150 per ton setelah naik hampir 10 persen dalam sepekan, ditopang kekhawatiran pasokan Indonesia akibat sungai Kalimantan yang surut serta permintaan China, India, dan potensi coal switching di Eropa.
  • Kekeringan menjadi risiko utama emiten yang mengandalkan jalur sungai seperti BYAN dan BSSR, sementara BUMI, ITMG, dan PTBA relatif lebih terlindungi karena memiliki akses logistik darat atau pelabuhan laut yang tidak bergantung pada Mahakam-Barito.
  • AADI, BUMI, ITMG, dan PTBA masuk radar karena berpotensi menikmati kenaikan harga dan tambahan produksi pasca revisi RKAB, tetapi strategi masuk saat ini lebih cocok berorientasi jangka pendek karena siklus batu bara sudah tidak berada di titik terendah.
  • Mikirduit Masterclass 2026, Wealthverse: Dapatkan bocoran aset paling menarik untuk 2026-2027. Early Bird cuma Rp250.000 (kuota terbatas, amankan seat-mu sekarang juga) dengan klik link di sini

Melansir data Refinitiv sampai perdagangan Rabu kemarin (3/9/2026), harga batu bara melejit hampir 10 persen hanya dalam seminggu, menembus US$ 150 per ton, menandai level tertinggi dalam dua bulan lebih atau sejak 8 Juni 2026. 

Menurut kami ada tiga alasan utama dibalik kenaikan harga batu bara yang signifikan akhir-akhir ini:

harga batu bara

Pertama, kekhawatiran pasokan di Indonesia

Kekhawatiran pasokan kembali bergulir bukan hanya soal RKAB, saat ini risiko beralih ke efek kekeringan akibat kemarau panjang alias El-nino telah merambat ke pendangkalan sungai-sungai besar di Kalimantan, seperti Mahakam, Kapuas, dan Barito. 

kondisi sungai di Kalimantan

Wakil Menteri ESDM Yuliot secara langsung juga mengonfirmasi bahwa angkutan batu bara di Kalimantan Timur saat ini terhambat karena sungai mengering.

Menurutnya, tongkang tidak dapat berjalan bukan karena produksi dibatasi, melainkan karena debit air sungai tidak cukup untuk dilalui tongkang.

Kondisi tersebut menjadi semakin relevan karena waktu untuk merealisasikan tambahan produksi juga semakin pendek. Revisi RKAB baru mulai disetujui ketika 2026 sudah memasuki paruh kedua, sementara kondisi sungai justru semakin surut. 

Di Sungai Mahakam, misalnya, penurunan debit air sudah memengaruhi aktivitas di sepanjang aliran sungai. Sementara di Sungai Barito, kondisi surut bahkan telah mengganggu transportasi sungai dan membuat tongkang batu bara kesulitan melintas.

Dengan kata lain, persoalannya kini bukan hanya apakah perusahaan mendapatkan tambahan RKAB, tetapi apakah tambahan volume tersebut bisa benar-benar diproduksi dan dikirim sebelum akhir tahun.

Kedua, permintaan dari China dan India tetap tinggi

China dan India, dua konsumen batu bara terbesar dunia, masih menghadapi kebutuhan listrik yang tinggi. 

Di China, gangguan produksi, pengetatan terhadap aktivitas pertambangan ilegal, serta persediaan yang relatif rendah dapat mendorong pembeli kembali melakukan restocking

Sementara itu, India masih mengandalkan batu bara untuk memenuhi kebutuhan pembangkit saat permintaan listrik meningkat. 

Jika impor kedua negara kembali naik di tengah pasokan global yang mengetat, persaingan untuk mendapatkan batu bara yang siap dikirim (seaborne coal) akan semakin tinggi dan berpotensi menopang harga. 

Ketiga, Eropa mulai melirik batu bara lagi

Sejak perang Rusia-Ukraina pada 2022, Eropa semakin bergantung pada LNG global untuk menggantikan pasokan gas Rusia. 

Ketika pasokan LNG mengetat akibat gangguan geopolitik dan harga gas meningkat, batu bara dapat kembali menjadi alternatif yang lebih ekonomis bagi pembangkit listrik.

Dalam perkembangan terakhir, Eropa berpotensi melakukan switch energi daari gas ke batu bara lagi karena cadangan gas menyusut. Sampai pekan terakhir Agustus 2026, cadangan gas di Uni Eropa tersisa 63 persen dari rata-rata normal 80 persen.

Kondisi itu bisa membuat harga gas di Eropa berpotensi naik. Alternatifnya beberapa pembangkit listrik yang masih bisa switch ke coal bisa ganti haluan. Sebagai catatan, Eropa bukan tujuan utama ekspor coal Indonesia, tapi bisa jadi penambah growth saat permintaannya muncul.

 Jika kondisi tersebut berlanjut hingga musim dingin 2026–2027, Eropa berpotensi meningkatkan impor batu bara dari eksportir seperti Indonesia dan Australia, terutama untuk batu bara berkalori tinggi (high-CV) yang lebih sesuai dengan kebutuhan pembangkit.

Rebalancing GDX dan GDXJ Sebentar Lagi, Saham Emas Mana Paling Potensial?
Rebalancing GDX dan GDXJ akan segera dilakukan pertengahan September ini. Ada beberapa saham emas RI yang potensial masuk dan keluar, siapa saja mereka?

Peta Risiko dan Peluang Emiten Batu Bara RI 

Bagi pemain tambang batu bara di Indonesia, dengan harga yang lagi naik tentu menjadi satu keuntungan, ditambah RKAB yang berhasil direvisi, setidaknya memberikan tambahan kuota produksi untuk memanfaatkan momentum ini. 

Secara regulasi, emiten batu bara tahun ini relatif aman karena windfall tax dan bea keluar masih ditahan. Namun, tahun depan tetap perlu jadi perhatian karena bisa beda cerita. 

Namun, tantangan tetap membayangi, terutama saat ini karena efek kemarau panjang yang membuat hulu sungai besar di Kalimantan mendangkal, seperti sungai Kapuas, Barito, Mahakam. 

Bagi perusahaan tambang yang mengandalkan jalur sungai untuk membawa batu bara dari tambang menuju pelabuhan, kondisi ini dapat menghambat pengiriman ketika kapasitas angkut tongkang harus dikurangi.

Ketika muka air turun, tongkang tidak dapat membawa muatan sebanyak biasanya. Perusahaan pun berpotensi harus mengurangi muatan atau menambah frekuensi perjalanan untuk mengangkut volume yang sama. 

Jika berlangsung cukup lama, waktu pengiriman dapat menjadi lebih panjang dan batu bara berisiko menumpuk di area tambang maupun stockpile.

Kami membuat peta risiko bagi beberapa perusahaan yang punya tambang batu bara di Kalimantan berdasarkan lokasi yang potensi terkenda dampak kekeringan: 

Kondisi aset saham batu bara

Dari peta risiko di atas, emiten yang sangat bergantung pada jalur sungai hulu seperti PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) dan PT Baramulti Suksessarana Tbk. (BSSR) paling rentan mengalami penurunan kapasitas angkut, keterlambatan pengiriman, hingga kenaikan biaya logistik. 

Sebaliknya, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), PT Indika Energy Tbk. (INDY), dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) relatif lebih aman karena memiliki akses pengapalan laut langsung. 

Meski begitu, menurut kami dampak kekeringan ini tidak akan secara langsung pengaruh ke laba. 

Dampaknya akan beda-beda, bergantung efektivitas perusahaan dalam mengelola beban, fleksibilitas jalur pengangkutan, serta kemampuan menjaga volume penjualan di tengah kapasitas angkut sungai yang menurun, belum lagi manuver ekspansi di luar bisnis batu bara yang harapannya jadi penopang pertumbuhan. 

Pada 1 September 2026 lalu, kami juga sempat mengulas kinerja keuangan deretan emiten batu bara sepanjang paruh pertama tahun ini, hasilnya banyak yang masih cuan. 

Jadi, menurut kami momentum pertumbuhan positif sektor batu bara hingga akhir tahun masih berpeluang dipertahankan, ditopang harga jual yang menguat dan permintaan global yang masih solid. 

Adapun, ada empat saham batu bara yang masuk radar kami karena memiliki karakteristik yang relatif menarik di tengah kondisi tersebut, yakni PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI), BUMI, PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), dan ITMG.

Adu Prospek dan Strategi Investasi dari 4 Saham Pengelolaan Air Terkait Sentimen Data Center AI dan El Nino
Salah satu yang bisa diuntungkan dari tren data center hyperscaler adalah pengelolaan air. Lalu, apa saham yang menarik dilirik terkait bisnis tersebut?

4 Pilihan Saham Batu Bara 

Saham AADI  

AADI menjadi salah satu pilihan utama karena menawarkan kombinasi volume produksi yang besar, biaya produksi yang kompetitif, dan valuasi yang relatif murah. 

Produksi dan penjualan pada semester I 2026 masing-masing mencapai 33,1 juta ton dan 33,5 juta ton, sehingga masih berada di jalur untuk mencapai target produksi 67 juta ton dan penjualan 65 juta ton tahun ini. 

Dari sisi valuasi, AADI juga diperdagangkan sekitar PE 5,36 kali dan PBV 1,37 kali,  membuatnya menjadi salah satu emiten batu bara dengan valuasi paling murah.

Yang menjadi PR AADI adalah dari sisi logistik saat ini karena sangat bergantung pada sungai Barito. 

Menariknya, meski sungai Barito mulai surut, sampai saat ini belum memberikan dampak material terhadap operasi AADI karena sebagian besar area yang terdampak kekeringan berada di bagian hulu, sementara operasi AADI berada di bagian hilir. 

Peta tambang AADI

Artinya, AADI masih memiliki peluang untuk menangkap kenaikan harga batu bara tanpa terkena dampak logistik sebesar perusahaan yang lebih bergantung pada jalur sungai di bagian hulu.

Saham BUMI 

BUMI menarik karena skala produksinya paling besar di antara pilihan ini. Pada semester I 2026, produksi batu bara mencapai 38,5 juta ton, naik 7 persen YoY, sedangkan penjualan mencapai 38,8 juta ton, naik 12 persen YoY. Perseroan juga mempertahankan target penjualan 2026 sebesar 82–84 juta ton.

Keunggulan lainnya adalah KPC dan Arutmin tidak termasuk yang mengalami pemangkasan RKAB secara signifikan, sehingga BUMI memiliki ruang yang relatif besar untuk mempertahankan volume ketika pasokan nasional mengetat. 

Dengan skala tersebut, setiap kenaikan harga batu bara berpotensi memberikan dampak yang cukup besar terhadap laba. Dari sisi logistik, BUMI relatif aman dari risiko kekeringan sungai karena jalur pengangkutannya menggunakan akses darat dan pelabuhan laut langsung. Meski demikian, kenaikan biaya produksi dan BBM tetap menjadi risiko yang perlu diperhatikan. 

Saham ITMG 

ITMG menjadi pilihan yang lebih menarik dari sisi margin dan kualitas batu bara. Pada semester I 2026, perusahaan membukukan laba bersih US$106 juta, naik 17 persen YoY, dengan ASP sekitar US$81 per ton. Penjualan mencapai 12,3 juta ton, naik 5 persen YoY.

ITMG juga sudah mendapatkan revisi RKAB 2026 dengan kuota produksi grup sekitar 23 juta ton, sehingga ada peluang untuk mengejar volume pada sisa tahun ini. 

Di tengah potensi kembalinya permintaan Eropa, exposure terhadap batu bara berkalori tinggi menjadi nilai tambah karena segmen ini relatif lebih sesuai untuk pasar yang membutuhkan efisiensi pembangkitan.

Namun, ITMG bukan pilihan yang semurah AADI. Dengan valuasi yang lebih tinggi dengan PE sudah di angka 8 kali, ruang kenaikannya sangat bergantung pada kemampuan perusahaan meningkatkan volume sekaligus mempertahankan margin. 

Karena itu, ITMG lebih cocok sebagai pilihan bagi investor yang mengejar kualitas earnings dan margin, bukan sekadar valuasi murah.

Saham PTBA 

PTBA juga cukup menarik perhatian karena eksposur terhadap kenaikan harga batu bara dengan risiko logistik yang berbeda dari mayoritas produsen Kalimantan. 

Sebagai produsen berbasis Sumatra, PTBA tidak bergantung pada Sungai Mahakam maupun Barito untuk mengangkut batu bara dari tambang ke pelabuhan. Ini menjadi nilai tambah ketika kekeringan mulai mengganggu kapasitas angkut tongkang di Kalimantan.

Dari sisi operasional, PTBA juga masih menjaga target produksi 2026 sebesar 49,5 juta ton. 

Pada semester I 2026, produksi mencapai 19,45 juta ton, sementara penjualan lebih tinggi di 21,10 juta ton dengan dukungan persediaan. Selain itu, statusnya sebagai BUMN memberikan visibilitas yang relatif lebih baik di tengah ketidakpastian kebijakan RKAB.

Kesimpulan

Dalam kondisi ini, kami menilai memilih saham batu bara yang terkena dampak paling rendah dari kekeringan yang terjadi di Kalimantan sehingga peluang kenaikan harga batu bara bisa dioptimalkan. Lalu, jika baru masuk saat ini, disarankan lebih untuk jangka pendek karena berarti masuk bukan saat siklus terbawah, agak berisiko untuk hold jangka panjang.

Secara umum, peluang dari saham batu bara saat ini adalah antara lain:

  • Kenaikan kebutuhan listrik untuk data center
  • Potensi kenaikan permintaan batu bara dari China karena faktor El Nino yang membuat PLTA-nya menjadi kurang optimal
  • Potensi permintaan dari Eropa, terutama untuk saham batu bara yang punya spesifikasi produk kalori tinggi
  • Penambahan produksi pada kuartal IV/2026 setelah revisi RKAB disetujui pada Agustus 2026. (Dampaknya mayoritas baru terasa di kuartal keempat)

Mau Diskusi Saham Langsung dengan Founder Mikirduit?

Join Mikirsaham sekarang dan dapatkan benefit:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

Investasi Crypto di PINTU sekarang