19 Saham dari BBCA sampai UNTR Siap Buyback Saat IHSG Jeblok, Begini Arah ke Depannya
BBCA, DSSA, BREN, dan sejumlah emiten menyiapkan buyback di tengah tekanan IHSG. Seberapa besar aksi ini bisa meredam penurunan, dan apa yang perlu dicermati investor?
Mikirduit - Saat IDX berpotensi diturunkan ke Standalone market, IHSG langsung turun hingga sempat sentuh 4.900. Dari situ, beberapa emiten langsung mengumumkan rencana buyback. Apakah rencana buyback emiten itu bisa jadi obat penurunan anomali IHSG?
Key Takeaways
- 9 emiten menyiapkan buyback saham, dengan BBCA mengalokasikan dana terbesar hingga Rp5 triliun, disusul UNTR Rp2 triliun dan MBMA Rp1,38 triliun.
- Buyback bisa menjadi bantalan saat pasar terkoreksi. Sejumlah emiten seperti DSSA, BRPT, BREN, CUAN, dan TPIA memulai program buyback pada 19 Oktober 2026, di tengah tekanan besar di pasar saham.
- Buyback bukan jaminan harga saham langsung pulih. Kita tetap perlu mencermati realisasi pembelian, valuasi, kinerja keuangan, dan prospek bisnis emiten sebelum mengambil keputusan investasi.
- Cek pilihan saham investasi dengan perhitungan yang jelas antara peluang dan risiko, join Mikirsaham dengan klik link di sini
Dengan penurunan harga yang terjadi dalam dua hari terakhir, pasar sudah mulai melihat banyak saham dalam valuasi yang murah.
Pengumuman buyback beberapa emiten sudah santer terdengar sejak beberapa bulan lalu, tetapi sejak IHSG jatuh sampai trading halt pada pekan lalu. Sejumlah emiten langsung merespon mau buyback pada hari Senin kemarin (19/10/2026). Bahkan, IHSG sempat bergerak naik dari tekanan 5 persen pada sesi 2 Senin 19 Oktober kemarin.
IHSG juga bergerak naik agresif 5,65 persen pada Selasa 20 Oktober 2026. Namun, kenaikan IHSG didorong oleh transaksi domestik karena sampai penutupan pasar, asing masih net sell Rp2,13 triliun.
Lalu, apakah IHSG ini naik karena aksi buyback? kami nilai dampak aksi buyback belum tentu menggambarkan IHSG secara keseluruhan karena tergantung aksi para emiten tersebut. Buyback akan terasa ke pergrakan saham jika sudah dijalankan, tapi jika baru wacana, dampaknya hanya sentimen harapan jangka pendek.
Sebenarnya, Apa Itu Buyback Saham?
Secara sederhana, buyback adalah aksi ketika perusahaan membeli kembali sahamnya sendiri yang beredar di pasar.
Aksi ini biasanya dilakukan untuk menjaga stabilitas harga saham, menunjukkan keyakinan manajemen terhadap prospek perusahaan, atau mengoptimalkan struktur permodalan.
Saham yang dibeli kembali dapat disimpan sebagai saham treasuri atau diperlakukan sesuai ketentuan yang berlaku.
Daftar Saham Dalam Periode Buyback
Berdasarkan data per 20 Oktober 2026, kami mengumpulkan ada 19 emiten yang masuk dalam daftar perusahaan dengan program buyback yang sedang berjalan atau baru dimulai. Berikut daftarnya:

Dari sisi nilai, BBCA menyiapkan dana paling besar, yakni maksimal Rp5 triliun untuk program periode 12 Maret 2026 hingga 11 Maret 2027.
Namun, pada 19–21 Oktober 2026, BBCA kembali melaksanakan buyback sebagai kelanjutan program, periode ini bahkan menghimbau karyawan untuk tidak melakukan transaksi di saham bank swasta terbesar di RI tersebut.
Di bawahnya ada UNTR dengan alokasi Rp2 triliun, serta MBMA yang menyiapkan Rp1,38 triliun.
Sejumlah emiten juga memulai program buyback tepat pada 19 Oktober 2026, bertepatan dengan periode tekanan besar yang terjadi di pasar. Di antaranya DSSA, BRPT, BREN, CUAN, dan TPIA.

Buyback Bukan Jaminan Harga Saham Langsung Pulih
Perlu dicatat, emiten yang mengumumkan program buyback selama beberapa bulan tidak harus membeli seluruh saham sekaligus. Pembelian bisa dilakukan secara bertahap, menyesuaikan kondisi pasar, harga saham, likuiditas, dan pertimbangan manajemen. Jadi, meskipun programnya masih berlangsung, bukan berarti perusahaan akan terus membeli saham setiap hari.
Dalam jangka pendek, buyback memang bisa menambah permintaan terhadap saham dan membantu meredam tekanan jual. Namun, seberapa besar dampaknya tetap bergantung pada nilai pembelian dibandingkan dengan transaksi di pasar, sentimen investor, dan kondisi fundamental emiten.
Artinya, harga saham tidak otomatis naik terus selama periode buyback. Kalau tekanan jual masih lebih besar daripada permintaan beli, harga saham tetap bisa turun. Sebaliknya, saham juga bisa rebound tanpa adanya buyback, misalnya karena investor mulai kembali masuk ke pasar.

Karena itu, buyback sebaiknya dilihat sebagai salah satu faktor pendukung, bukan alasan utama untuk membeli saham. Di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi, investor tetap perlu memperhatikan kemampuan perusahaan menghasilkan laba, kualitas neraca, arus kas, valuasi, dan prospek bisnisnya. Sebab, perusahaan yang punya dana untuk buyback belum tentu otomatis menjadi pilihan investasi yang menarik di harga saat ini.
Menurut kalian, buyback saham mana yang paling menarik dicermati saat ini?
Mau Dapat Insight Saham hingga Action-nya Sesuai dengan Kebutuhan?
Join Mikirsaham sekarang dan dapatkan benefit:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Event Online Rutin bulanan
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

