IDX Mau Depak Saham Terkonsentrasi dari Perhitungan IHSG, Begini Dampak dan Strateginya
Rencana pemisahan 80 saham HSC dari perhitungan IHSG membuka peluang indeks yang lebih representatif. Namun, saham terkait menghadapi risiko berkurangnya minat investor institusi, sementara ketidakpastian status Indonesia di MSCI masih membayangi.
Mikirduit – IDX mengungkapkan akan memisahkan saham-saham high shareholding concentration dari perhitungan IHSG. Lalu, apa dampaknya terhadap IHSG dan saham-saham terkait?
Key Takeaways
- Pemisahan saham HSC berpotensi membuat IHSG lebih representatif, dengan mengurangi pengaruh saham berkepemilikan terkonsentrasi. Jadwal penerapannya belum diumumkan.
- Saham HSC berisiko kehilangan sebagian minat investor institusi, tetapi tekanan jual akan bergantung pada mandat dan strategi masing-masing pengelola dana.
- Perubahan IHSG belum menjamin Indonesia terhindar dari status standalone MSCI. Investor tetap perlu mencermati konsentrasi kepemilikan, likuiditas, dan fundamental bisnis.
- Cek pilihan saham investasi dengan perhitungan yang jelas antara peluang dan risiko, join Mikirsaham dengan klik link di sini
Saat ini, ada sekitar 80 saham high shareholding concentration (HSC) di IDX. Total free float market cap-nya sekitar Rp423 triliun atau sekitar 19 persen dari total free float market cap IHSG yang mencapai Rp2.162 triliun.
Secara hitungan sederhana dari angka-angka tersebut, jika IHSG mengecualikan saham-saham HSC, berarti IHSG berpotensi berada di area 4.020.
Lalu, apakah itu buruk bagi IHSG? secara teknis tidak. Hal itu justru bisa membuat IHSG lebih kredibel sebagai indeks pasar saham karena pergerakannya akan menyesuaikan tren pergerakan harga saham yang dianggap likuid. Sehingga tingkat irasional market selisihnya tidak 'kebangetan' seperti yang terjadi di saham-saham HSC.
Toh, saham HSC juga membuktikan seolah-olah Haji Isam membeli saham PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) dengan harga diskon karena selisihnya dengan harga pasar yang sangat jauh. Padahal, secara riilnya angka transaksi Haji Isam di BYAN itu cukup wajar. Tapi, karena anomali pergerakan harga saham BYAN di pasar seolah-olah transaksi itu dibeli dengan harga diskon besar.
Catatannya, penerapan pemisahan perhitungan saham HSC ke IHSG tidak langsung dilakukan saat ini juga. IDX belum mengumumkan tanggal pasti penerapan kebijakan tersebut.
Lalu, apa dampaknya bagi saham-saham HSC?
Dampak terhadap saham HSC, Tidak Dilirik Fund Manager?
Salah satu risiko terburuk bagi saham HSC yang dikecualikan dari perhitungan indeks adalah, mereka akan sulit mendapatkan eksposure dari fund manager.
Biasanya, fund manager akan mengukur kinerjanya disesuaikan dengan indeks acuan seperti IHSG, LQ45, IDX30 dan lainnya. Jika kelolaannya bisa menyamai indeks acuannya, strategi fund manager itu dianggap tepat sasaran.
Artinya, jika saham HSC di luar perhitungan IHSG, ada potensi fund manager akan mengesampingkan masuk ke saham-saham tertentu.
Kecuali, memang ada fund manager yang fokus di saham-saham hsc tersebut.
Sehingga dalam jangka pendek, bisa saja ada tekanan jual dari fund manager, terutama fund manager asing yang aktif (bukan sekadar fund manager pasif yang mengacu ke MSCI dan sebagainya). Lagipula, saham-saham HSC sudah dikeluarkan dari MSCI.
Mikirduit · Data saham
High Shareholding Concentration
Posisi data: 19 Oktober 2026 · 80 saham
| Saham | Kapitalisasi pasar (Rp) |
Harga (Rp) |
Saham beredar (lembar) |
Free float | Saham free float (lembar) |
Kapitalisasi free float (Rp) |
|---|
Kami coba membongkar komposisi pemegang saham di 5 saham HSC dengan tingkat free float market cap terbesar.
Pertama, saham PT DCI Indonesia Tbk. (DCII). DCII menjadi saham HSC dengan free float market cap terbesar mencapai Rp81,82 triliun.
Meski dari segi free float yang berupa masyarakat non-warkat mencapai 18,55 persen, tapi total pemegang saham di atas 1 persen DCII tembus 99,85 persen.
Dari jumlah itu, ada beberapa pemegang saham DCII dari reksa dana dengan jumlah kepemilikan 1.600 lembar, asuransi 146.450 lembar, dan perusahaan sekuritas sebesar 700 lembar.
Kedua, BYAN menjadi saham HSC dengan free float market cap terbesar kedua senilai Rp70,4 triliun. BYAN memang tercatat punya pemegang saham publik (masyarakat non-warkat) mencapai 21,28 persen. Tapi total pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen mencapai 98,49 persen.
Jumlah komposisi pemegang saham BYAN yang relate dengan institusi keuangan antara lain, perusahaan sekuritas 3,03 juta lembar saham, Bank 2,97 juta lembar saham,Investment advisors sebesar 188.850 lembar saham, Institusi pasar modal 130.280 lembar saham, dan reksa dana 85.000 lembar saham.
Ketiga, saham PT Barito Renewable Energi Tbk. (BREN) dengan status saham HSC free float market cap terbesar ketiga senilai Rp32,51 triliun. BREN tercatat punya free float sekitar 12,69 persen dengan akumulasi pemegang saham di atas 1 persen mencapai 93,2 persen.
Komposisi institusi keuangannya lebih besar daripada DCII dan BYAN. REksa dana pegang sekitar 4,38 miliar lembar saham BREN dengan porsi 3,27 persen. Perusahaan sekuritas pegang 2,36 miliar lembar saham BREN dengan porsi 1,76 persen, Bank pegang 302,7 juta lembar saham BREN dengan porsi 0,23 persen, Investment Advisors pegang 220,64 juta lembar saham BREN dengan porsi 0,16 persen, Hedge Fund pegang 285 juta lembar saham BREN dengan porsi 0,21 persen, Exchange Traded Fund pegang 162 juta lembar saham BREN dengan porsi 0,12 persen, Institusi pasar modal pegang 65,18 juta lembar saham BREN dengan porsi 0,05 persen, Asuransi pegang 33,02 juta lembar saham BREN dengan porsi 0,02 persen, dan dana pensiun pegang 8,67 juta lembar saham BREN dengan porsi 0,0065 persen.
Keempat, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk.(DSSA) dengan status saham HSC dengan free float market cap terbesar keempat senilai Rp32,29 triliun. DSSA tercatat punya free float 22,5 persen, meski total pemegang saham di atas 1 persen tembus 87,68 persen.
Struktur komposisi institusi lembaga keuangan di DSSA juga cukup kompleks seperti BREN. Perusahaan sekuritas tercatat pegang sekitar 8,75 miliar lembar saham setara 4,54 persen saham, Investment Advisors pegang sekitar 14,94 miliar lembar saham setara 7,76 persen, Reksa dana pegang sekitar 1,91 miliar lembar atau setara 0,99 persen dari total lembar saham, Bank pegang 1,52 miliar lembar saham setara 0,79 persen saham, institusi keuangan pegang 1,27 miliar lembar atau setara 0,66 persen, Dana pensiun pegang 55,6 juta lembar atau setara 0,03 persen, Exchange Traded Funds pegang sekitar 43,9 juta lembar atau setara 0,02 persen saham, Investment Manager pegang sekitar 37,5 juta lembar saham atau setara 0,02 persen, Asuransi pegang 7,43 juta lembar saham atau setara 0,0039 persen, dan masih ada beberapa kategori lembaga keuangan lainnya dengan porsi yang lebih kecil.
Kelima, saham PT Ekamas Mora Republik Tbk. (MORA) menjadi saham HSC dengan free float market cap terbesar kelima senilai Rp30,84 triliun. MORA tercatat punya free float sekitar 18,88 persen dengan total pemegang saham di atas 1 persen mencapai 95,66 persen.
Komposisi kategori pemegang saham MORA dari lembaga keuangan antara lain, Investment Advisors sebesar 4,91 miliar lembar atau setara 10,28 persen, Perusahaan sekuritas sebesar 1,18 miliar lembar atau setara 2,46 persen, Asuransi sebesar 4,97 juta lembar atau setara 0,01 persen, Bank setara 3,13 juta lembar atau setara 0,0065 persen, reksa dan sebesar 1,72 juta lembar saham atau setara 0,0036 persen, Exchange traded funds pegang 671.200 lembar saham atau setara 0,0014 persen.
Lalu, apakah seluruh pemegang saham institusi keuangan itu akan keluar jika saham HSC resmi dikeluarkan dari perhitungan IHSG? jawabannya belum tentu. Nantinya akan tergantung dengan strategi masing-masing lembaga keuangan dalam menyikapi kebijakan tersebut.

Kebijakan yang Mirip Dilakukan Hong Kong pada 2016
Salah satu contoh terkait saham terkonsentrasi terjadi di Hong Kong. Waktu itu, MSCI mendepak 18 saham Hong kong dari indeks Global Standard pada 2016 karena adanya manipulasi kepemilikan semu yang aslinya dimiliki hingga lebih dari 90 persen oleh hanya beberapa pihak.
Kala itu, indeks Hong Kong membuat kebijakan pemisahan saham-saham terkonsentrasi dari perhitungan indeks sahamnya.
Dalam perkembangannya, ada beberapa saham akhirnya delisting dari bursa saham Hong Kong seperti, Goldin Properties, Imperial Pacific Internasional, dan Hanergy Thin Film Power.
Selain itu, ada beberapa saham dari era 2016 setelah skandal saham terkonsentrasi itu masih ada di bursa Hong Kong saat ini seperti, Wanda Hotel Development Co. Ltd. (0169.HK), China Evergrande New Energy Vehicle Group Ltd. (0708.HK), dan China Smarter Energy Group Holdings Ltd. (1004.HK).
Kini, saham-saham tersebut sering disebut menjadi saham Zombie. Khusus 0708.HK juga disebabkan oleh kondisi sulit induk usahanya di China, yakni Evergrande.
Catatannya, kala itu MSCI tidak mengancam Hong Kong untuk turun kelas meski ada kasus yang mirip dengan Indonesia saat ini.

Kesimpulan
Lalu, dengan IDX sudah komitmen memisahkan saham HSC dari perhitungan IHSG apakah peluang menjadi standalone menjadi sangat tipis?
Jawabannya akan tergantung. Keputusan MSCI ini sifatnya kualitatif yang variabelnya cukup banyak. Jika ingin antisipasi risiko, formula saham yang bisa jadi pilihan antara lain, saham yang di luar MSCI Global Standard dan small caps serta tidak termasuk saham HSC. Dengan begitu, secara teknis risikonya hanya terjadi karena penurunan akibat kepanikan satu indeks, atau ada faktor bisnis internal yang menjadi sentimen negatif.
Kami akan membahas terkait strategi menghadapi risiko pasar di tengah ancaman MSCI ke Standalone dan transisi memisahkan saham HSC dari IHSG dalam Ngopdar Online Mikirduit edisi Oktober 2026 pada 24 Oktober 2026 pukul 13:00 WIB (khusus Member Mikirsaham).
Mau Dapat Insight Saham hingga Action-nya Sesuai dengan Kebutuhan?
Join Mikirsaham sekarang dan dapatkan benefit:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Event Online Rutin bulanan
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

