Saham ABMM, Pencari Cuan dari Bantuin Ngeruk Batu Bara

Saham ABMM salah satu dividend player yang patut diperhatikan. Bagaimana prospek saham kontraktor tambang batu bara ini ya?

Saham ABMM, Pencari Cuan dari Bantuin Ngeruk Batu Bara

Mikir Duit – PT ABM Investama Tbk. atau saham ABMM menjadi salah satu emiten dividend player yang dinanti berapa besaran dividennya. Apalagi, saham kontraktor tambang batu bara itu juga dimiliki oleh investor kawakan Indonesia, Lo Kheng Hong. Memang, seperti apa prospek saham ABMM ini?

Sejarah Saham ABMM

Saham ABMM adalah perusahaan kontraktor tambang batu bara yang berada di bawah naungan Grup Trakindo. Dengan bisnis Grup Trakindo di bidang alat berat, seperti PT United Tractors Tbk. (UNTR), ABMM sebagai penyedia jasa tukang keruk batu bara bisa dibilang punya kemiripan dengan anak usaha PT Astra International Tbk. (ASII) tersebut.

Apalagi, ABMM juga mengakuisisi 30 persen saham perusahaan tambang batu bara milik Sinar Mas Group, yakni PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS) pada September 2022. Dengan begitu, secara tidak langsung ABMM sudah punya afiliasi untuk menciptakan ekosistem pertambangan yang terintegrasi.

Jadi tidak heran Lo Kheng Hong yang pernah merasakan cuan di saham UNTR betah untuk hold saham ABMM yang bisa dibilang memiliki karakter bisnis yang hampir mirip. Namun, kira-kira bagaimana prospek saham ABMM ya?

BACA JUGA: Jika Kita Beli Setiap Saham Grup Astra 1 Lot, Bisa Cuan Berapa Banyak dari Dividennya Ya?

Kinerja Keuangan Saham ABMM

Sepanjang 2022, kinerja keuangan ABMM bisa dibilang cukup ciamik. Perseroan mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 41 persen menjadi 1,44 miliar dolar AS. Laba bersihnya tumbuh lebih agresif sebesar 82 persen menjadi 270 juta dolar AS.

Laba bersih ABMM sepanjang 2022 bisa meroket karena ada pendapatan tambahan dari bagian laba atas entitas asosiasi, yakni GEMS senilai 66,58 juta dolar AS. Ditambah, ABMM juga mendapatkan jatah dividen interim GEMS di akhir tahun 2022 senilai 22,5 juta dolar AS. Kedua pendapatan itu baru ada di 2022 sehingga menjadi salah satu pengerek laba bersih ABMM.

Jika melihat portofolio klien ABMM, seharusnya dalam jangka menengah kinerja perseroan bisa tetap terjaga. Pasalnya, ABMM punya portofolio klien di beberapa negara produsen batu bara seperti Indonesia, India, China, dan termasuk Singapura. Keempat negara itu mencatatkan pendapatan masing-masing hingga di atas 100 juta dolar AS bagi ABMM.

Di sisi lain, operasional tambang batu bara di China belum optimal setelah sepanjang 2022 masih adanya aksi lock down. Jika operasional batu bara di China kembali meningkat, bukan tidak mungkin pendapatan ABMM dari negara itu juga bisa naik.

Secara keseluruhan, pendapatan dari kontraktor batu bara yang cukup melejit sepanjang 2022. Sumber pendapatan itu naik 43 persen menjadi 1,23 miliar dolar AS.

Namun, tidak bisa dipungkiri, kinerja keuangan ABMM akan sangat terpengaruh oleh posisi harga batu bara dunia. Hal itu terlihat ketika harga batu bara turun ke level rendah pada 2014-2015, pendapatan ABMM menyusut dan mereka mencatatkan kerugian juga.

Intinya, selama harga batu bara berada di atas 100 dolar AS per ton seharusnya aman. Saat ini, harga batu bara masih bertahan di kisaran 190 dolar AS per ton.  

Dividen ABMM

Saham ABMM mencatatkan dividen payout ratio beberapa tahun terakhir berada di kisaran 30 persen sampai 35 persen. Namun, ABMM memutuskan bagikan dividen sebanyak 27 persen dari total laba bersih di 2022.

Hasilnya, ABMM akan bagikan dividen senilai Rp400 per saham ke setiap pemegang sahamnya. Dengan mengacu ke harga penutupan saham di Rp3.500 per saham, artinya dividend yield ABMM sekitar 12 persen.  

Sebenarnya, angka dividen yield ABMM itu sudah besar, tapi tetap saja di bawah ekspektasi banyak orang hingga sahamnya sempat hampir auto reject bawah (ARB) setelah pengumuman jumlah dividen.

Di sisi lain, banyak juga yang menilai wajar ABMM hemat dividen sementara karena harus bayar beban bunga utang setelah akuisisi PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS). Namun, apakah pesta kinerja laba batu bara akan berlanjut tahun depan? ada peluang ABMM tebar dividen lebih banyak lagi?

Kesimpulan

Kinerja keuangan ABMM bisa melejit karena dorongan harga batu bara yang tinggi dalam dua tahun terakhir. Namun, peforma ABMM bisa menurun jika harga batu bara benar-benar turun, terutama jika turun di bawah 100 dolar AS per ton.

Untuk itu, bagi kamu yang mau memburu dividen saham ABMM di 2023, lebih baik berhati-hati. Soalnya, bisa saja lebih untung ambil capital gain sebelum periode cum-dividen ketimbang mendapatkan dividennya. Nanti, kita akan analisis lebih untung ambil dividen atau capital gain sebelum periode cum-dividen ya.

💡
Periode cum-dividen adalah waktu di mana batas terakhir pembelian saham yang bisa mendapatkan hak dividen. Jika jual di periode cum-dividen, berarti penjualnya tidak dapat hak dividen. 

Untuk jangka panjang, posisi harga saham ABMM saat ini terlalu tinggi. Jadi, kalau masuk sekarang berarti ada risiko penurunan harga yang cukup dalam dan jangka panjang. Kecuali, ada trigger baru yang membuat harga batu bara melejit lagi.

Namun, jika Amerika Serikat (AS) jadi resesi, hal itu akan menurunkan permintaan dan harga komoditas sementara. Nah, ketika ekonomi pulih, harga komoditas dan batu bara ada peluang bangkit sekali lagi. Sayangnya, jika mengharapkan skenario itu sangat berisiko karena tingkat akurasinya harus menunggu Negeri Paman Sam benar-benar resesi dulu.

Kamu masih tertarik berburu saham batu bara nggak nih untuk jangka panjang?