Indonesia Mau Ubah Formula Harga Acuan Nikel, Begini Efeknya ke Saham Terkait
Narasi di sektor nikel tampaknya belum selesai. Dari rencana pemangkasan produksi di awal tahun, kini berlanjut ke kenaikan harga acuan bijih nikel. Lantas, bagaimana prospek ke depan dan siapa saja yang akan merasakan manfaatnya?
Mikirduit - Ada narasi baru di saham nikel. Setelah sempat membuat heboh seantero dunia dengan rencana pemangkasan produksi. Kini, ada kabar mau mengubah formula harga acuan bijih nikel menjadi lebih tinggi. Lalu, siapa yang diuntungkan dan dampaknya dari rencana tersebut?
Key Takeaways
- Harga nikel diproyeksi masih akan tinggi tahun ini, berkat kenaikan harga patokan mineral dan RKAB produksi nikel yang diturunkan tahun ini.
- Kami melihat emiten upstream akan cenderung lebih diuntungkan, ada tiga masuk radar kami yaitu INCO, NICE, dan DKFT.
- Risiko akan lebih terasa untuk emiten hulu yang memiliki smelter, terutama HPAL yang menghasilkan produk untuk bahan baku bateray. Hal ini juga bisa menjalar pada risiko kenaikan harga EV (kendaraan listrik).
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.
Update Harga Patokan Bijih Nikel Dinaikkan
Pemerintah Indonesia resmi mengubah skema Harga Patokan Mineral (HPM) melalui Kepmen ESDM No. 144 Tahun 2026 yang mulai berlaku besok Rabu, 15 April 2026.
Perubahan ini bukan sekadar menaikkan harga secara langsung, tetapi lebih ke penyesuaian formula yang secara keseluruhan membuat harga bijih nikel di dalam negeri cenderung lebih tinggi dan relatif lebih menguntungkan bagi penambang.
Beberapa perubahan kunci yang perlu dicatat:
- Penyesuaian faktor koreksi (CF) Pemerintah menaikkan corrective factor, misalnya dari sekitar 20% menjadi 30% untuk kadar tertentu. Artinya, harga jual bijih nikel domestik akan ikut terdorong naik, sebagai respons atas keluhan bahwa HPM sebelumnya belum mencerminkan biaya produksi.
- Mineral ikutan kini diperhitungkanFormula baru tidak lagi hanya berbasis kadar nikel, tetapi juga memasukkan nilai mineral lain seperti kobalt (≥0,05%), besi (≥35%), dan krom. Sebelumnya, komponen ini sering dianggap tidak bernilai dalam transaksi, tetapi kini menjadi sumber tambahan harga (value uplift).
- Perubahan satuan hargaHPM kini dihitung dalam basis wet metric ton (wmt), bukan lagi dry metric ton (dmt), agar lebih sesuai dengan kondisi riil bijih yang diperdagangkan di lapangan.
Di saat yang sama, harga nikel global mulai menanjak lagi setelah mendatar beberapa hari. Selama sepekan naiknya sekitar 5 persen dan mulai mendekati US$ 18.000 per ton lagi

Katalis kenaikan harga patokan bijih nikel tentu memberi katalis tambahan, karena dari awal tahun produksi untuk tahun ini dari Indonesia diturunkan signifikan.
Kementerian ESDM telah merampungkan sebagian besar proses persetujuan RKAB nikel untuk tahun 2026.
Mengutip Bloomberg Tehcnoz, sampai 6 April 2026, kuota yang sudah disetujui sebanyak 190 juta ton, jauh di bawah realisasi RKAB tahun 2025 yang mencapai 379 juta ton.
Di sini, posisi pemerintah sengaja melakukan "rem" produksi untuk menjaga harga nikel di pasar global agar tidak anjlok akibat kelebihan pasokan (oversupply).
Meskipun kuota RKAB yang disetujui saat ini ada di angka tersebut, pemerintah mematok target produksi bijih nikel total untuk tahun 2026 sebesar 209,08 juta ton.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sempat memberikan sinyal bahwa pemerintah mungkin akan memberikan relaksasi terukur (penambahan kuota terbatas) pada semester kedua jika harga pasar stabil dan kebutuhan smelter domestik meningkat.
Di sisi lain, untuk permintaan, kondisi masih relatif lemah. Produksi stainless steel masih cukup tinggi, sementara aktivitas manufaktur secara umum belum menunjukkan penguatan. Permintaan dari sektor baterai juga belum memberikan lonjakan signifikan.
Selain itu, dukungan kebijakan juga muncul pada April, di mana Western Australia menawarkan pinjaman tanpa bunga untuk membantu para penambang nikel kembali beroperasi dan meningkatkan produksi.
Begini Dampak ke Harga Nikel
Dengan keputusan pengetatan RKAB ini, ditambah dengan kenaikan Harga Patokan Mineral (HPM) yang berlaku besok, diprediksi akan membuat pasokan bijih nikel di dalam negeri menjadi lebih ketat dan lebih mahal.
Ada dua dampak yang bisa terjadi tentunya. Positif-nya akan dirasakan sejumlah emiten tambang nikel karena harga jual mereka naik. Namun, untuk pemain smelter akan cenderung dirugikan karena biaya bahan baku naik.
Ini juga bisa menjalar ke pemain EV, karena harga produk jadi bisa naik, ditambah diskon atau insentif dari pemerintah sudah mau selesai.
Secara khusus kami melihat emiten yang potensi diuntungkan lebih banyak yang bermain di upstream, kami memantau ada tiga yaitu INCO, NICE, dan DKFT. Mari kita ulas satu per satu:
Saham INCO
INCO itu aslinya adalah produsen Nikel Matte. Jadi, mereka tidak hanya menggali tanah (bijih), tapi sudah diolah di pabrik pengolahan (smelter) mereka sendiri di Sorowako.
Namun, ada perkembangan menarik di tahun 2025-2026 ini di mana mereka mulai diversifikasi dengan menjual bijih nikel langsung.
Berdasarkan data operasional terbaru 2026, INCO menargetkan volume penjualan bijih nikel ke pihak ketiga mencapai 8 hingga 8,5 juta ton per tahun. Lokasi pasokan ini mayoritas berasal dari blok tambang mereka di Bahodopi dan Pomalaa yang dialokasikan khusus untuk memperkuat arus kas perusahaan.
Dengan kenaikan HMP baru baru ini, maka margin dari Blok Bahodopi dan Pomalaa bisa meningkat karena harga patokan domestik naik dan formula baru memasukkan nilai mineral ikutan
Adapun, mayoritas pembeli adalah perusahaan pengolahan nikel independen yang membutuhkan pasokan bijih kadar tinggi.
Namun, ada juga yang tidak jual putus, melainkan sudah ada yang menampung dari smelter-smelter raksasa yang dibangun bersama mitra strategisnya
- Huayou Cobalt: Mitra utama di proyek HPAL Pomalaa dan Sorowako untuk mengolah bijih kadar rendah (limonit) menjadi bahan baku baterai (MHP).
- Ford Motor Co: Terlibat dalam rantai pasok di Pomalaa untuk mengamankan bahan baku baterai kendaraan listrik.
- TISCO & Xinhai: Mitra di proyek Morowali (Blok Bahodopi) yang akan mengolah bijih saprolit INCO menjadi ferronickel atau nickel pig iron (NPI).
Sementara untuk bisnis utamanya, nickel mate hampir seluruhnya dijual ke Vale Canada Limited atau Vale Japan melalui kontrak penjualan jangka panjang. Jadi, bisa dibilang penjualan nikel INCO itu relatif terjamin karena pembeli sudah ada, faktor paling pentingnya adalah melihat harga dan pasokan.
Kami menilai, kinerja kuartal I/2026 diperkirakan masih positif, didukung harga nikel global yang sempat mendekati US$19.000/ton di awal tahun, ditambah produksi masih menggunakan RKAB yang lama, jadi produksi masih aman.
Namun, risiko mulai muncul di kuartal II/2026 dan seterusnya jika kepastian produksi belum terjaga. Saat ini, alokasi produksi masih sekitar 30 persen dan masih ada potensi revisi RKAB dalam waktu dekat.
Sementara itu, proyek Pomalaa masih dalam tahap penyesuaian dengan target mechanical completion pada Agustus 2026. Hingga kini, progres proyek telah mencapai sekitar 62 persen, dengan pembangunan fasilitas utama dan pendukung yang terus berjalan.

Saham NICE
Kedua, ada NICE yang fokus di bisnis upstream nikel, yang menguasai tambang strategis di Morowali Utara, Sulawesi Tengah.
NICE saat ini berfokus sebagai penambang murni yang menjual bijih nikel langsung ke pasar domestik. Produknya ada dua yaitu:
- Bijih Saprolit (Kadar Tinggi): Menjadi tulang punggung pendapatan saat ini untuk memasok smelter RKEF (produksi NPI/Ferronickel).
- Bijih Limonit (Kadar Rendah): Mulai menjadi aset strategis seiring berkembangnya teknologi HPAL untuk bahan baku baterai EV di Indonesia.
Penjualan NICE ini juga mirip INCO, sudah terjamin. Sampai akhir tahun lalu, semua penjualan nikel milik NICE dibeli oleh PT Energy Metal Indonesia, yang merupakan pihak berelasi.
Sebagai penambang murni (pure miner), NICE termasuk pihak yang paling diuntungkan dari kenaikan Harga Patokan Mineral (HPM). Setiap kenaikan formula HPM langsung berdampak pada kenaikan top-line (pendapatan) NICE secara instan.
Adapun terkait RKAB 2026, NICE diketahui sudah mendapatkan persetujuan sejak Februari 2026 untuk produksi sekitar 2,5 Juta ton bijih nikel tahun ini, jumlah ini justru naik dari kuota tahun sebelumnya sebanyak 2 juta ton.
Meski begitu, NICE dikabarkan tengah menyiapkan pengajuan revisi kenaikan kuota pada semester II/2026 (Juli-Agustus) untuk memaksimalkan kapasitas produksi tambang mereka di Konawe Utara yang masih sangat potensial.
Saham DKFT
Terakhir ada DKFT yang bisa dibilang punya model bisnis yang cukup lengkap di sektor nikel, dari tambang sampai pengolahan.
Dari sisi bisnis, pendapatan DKFT masih didominasi oleh bijih nikel, dengan tambang yang tersebar di Morowali Utara dan Konawe Utara. Selain itu, DKFT juga memproduksi feronikel dari smelter yang saat ini sedang terus dioptimalkan.
Sebagai catatan juga, di luar nikel, DKFT juga menjual batu kapur, tapi kontribusi belum signifikan ke laporan keuangan.
Lanjut lagi ke nikel, untuk pasar, bijih nikel DKFT mayoritas diserap domestik, terutama oleh smelter di kawasan industri Morowali. Jadi, dengan bisnis ini, DKFT relatif diuntungkan sebagai penambang karena harga jual bijih bisa naik.
Sementara feronikel lebih banyak ditujukan ke pasar ekspor, khususnya ke Tiongkok sebagai bahan baku stainless steel.
Namun, ada juga risiko yang dihadapi dari smelter miliknya. Sebagai operator smelter RKEF, DKFT tetap akan merasakan kenaikan biaya bahan baku.
Memang, dibanding HPAL dampaknya cenderung lebih ringan, tapi margin tetap berpotensi tertekan, apalagi kalau kenaikan harga tidak sepenuhnya bisa diteruskan ke harga jual feronikel.
Tantangan lain juga datang dari sisi efisiensi, terutama karena DKFT masih bergantung pada energi konvensional. Kalau biaya energi atau logistik naik, ini bisa ikut menekan profit dari segmen smelter.
Dari sisi ekspansi, DKFT sedang mengembangkan smelter tahap kedua dengan teknologi RKEF senilai sekitar US$500 juta, dengan target mulai uji coba di 2026. Proyek ini cukup krusial untuk menentukan apakah DKFT bisa naik kelas sebagai pemain hilir yang lebih besar.
Untuk 2026 sendiri, kuota produksi (RKAB) DKFT diperkirakan ada di kisaran 2–3 juta ton. Dengan kondisi yang relatif lebih stabil dan dukungan pendanaan baru, ada peluang produksi bisa dimaksimalkan selama harga nikel masih menarik.
Jadi, mana nih pilihan kalian yang menarik dari tiga emiten upstream nikel?
Dapatkan Analisis dan Diskusi Komprehensif, serta Screeningan Saham yang Menarik untuk Trading hingga Jangka Panjang
Kamu bisa dapatkan semuanya di Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US,
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini