Prospek Saham Logam-logaman dan Amoniak Boy Thohir, Ini Deretan Momentumnya

Saham grup Boy Thohir mulai mencuri perhatian dengan kenaikan signifikan saham ADRO-MDKA dkk. Kenaikan harga emas sampai alumunium menjadi salah satu pendongkrak utama, bahkan JP Morgan sampai menaikkan target harga. Lantas, gimana prospeknya? 

saham boy thohir

Mikirduit - Saham emiten yang terafiliasi grup Boy Thohir seperti ADRO-MDKA dkk mulai menunjukkan taji-nya berkat reli harga emas-alumunium. Lantas, gimana prospeknya? menarik beli sekarang atau wait and see dulu? 

Highlight
  • Setelah saham grup Prajogo Pangestu dan Bakrie mulai terkoreksi, kini giliran saham-saham grup Boy Thohir yang manggung. 
  • Kenaikan harga komoditas menjadi salah satu pemicu utama saham-saham ADRO-MDKA dkk menguat signifikan. 
  • JP Morgan sematkan rating overweight ke saham ADRO, naikkan target dari 2000 menjadi 2540. 
  • Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini

Saham Grup Boy Thohir Manggung

Ketika IHSG bergerak volatile dan mayoritas saham konglo koreksi seperti dari grup Prajogo Pangestu dan sebagian grup Bakrie, saham-saham grup Boy Thohir malah kembali eksis. 

Saham ADMR memimpin dengan penguatan sebulan lebih dari 40 persen, saham induk usaha-nya pun mengikuti, ADRO sudah reli lebih dari tujuh hari tepat setelah melewati ex date dividen. AADI juga mengekor seiring dengan sentimen pemangkasan produksi batu bara nasional pada 2026. 

Beralih ke saham MDKA dan EMAS juga ikut bergerak moncer mengikuti kenaikan harga emas dan tembaga di pasar internasional. Saham ESSA juga sama karena mengikuti gerak harga ammonia naik di pasar global. 

Saham lain dalam satu grup juga tampak ikut mengekor, seperti PALM, TRIM, dan WOLF. Pola ini mencerminkan kebiasaan pelaku pasar yang cenderung mengikuti arus, di mana saat dana besar masuk ke satu saham utama, emiten lain yang berada dalam grup yang sama ikut merasakan limpahan aliran dana tersebut. Di tengah tren tersebut, sisa saham BFIN saja yang masih tertahan di zona koreksi.

Pilihan Saham di Grup Boy Thohir 

Kami melihat beberapa saham di grup Boy Thohir memiliki story menarik dan valuasi yang relatif terdiskon dibandingkan saham-saham konglo lain yang sudah naik duluan. 

Secara khusus kami mengulas beberapa saham dalam satu grup tersebut yang masih memiliki prospek di tengah tren kenaikan harga komoditas global. Berikut rinciannya: 

Saham ADMR 

Mulai dari ADMR yang harga saham-nya sudah naik paling kencang berkat story alumunium yang dinilai bisa menjadi game changer. 

Struktur kepemilikan smelter aluminium ADMR sendiri tersusun melalui beberapa lapis entitas. Smelter tersebut berada di bawah PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI), yang merupakan cucu usaha ADMR melalui PT Alamtri Indo Aluminium. 

Di tingkat KAI, kepemilikan saham dikuasai oleh Alamtri Indo Aluminium sebesar 65 persen , disusul Aumay Mining berbasis Singapura sebesar 22,5 persen , serta PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) sebesar 12,5 persen .

Dari sisi rantai pasok, posisi CITA menjadi krusial. Emiten ini telah memiliki fasilitas pengolahan bauksit menjadi alumina, sehingga berpotensi menjadi pemasok bahan baku utama bagi smelter aluminium ADMR. Sinergi ini kian kuat karena Alamtri Indo Aluminium juga tercatat sebagai pemegang saham minoritas di CITA dengan porsi sekitar 3 persen , mencerminkan keterkaitan strategis di hulu hingga hilir.

Sementara itu, Aumay Mining sebagai pemegang saham KAI masih relatif minim terekspos ke publik, sehingga peran strategisnya belum banyak diketahui secara detail. 

Namun dari sisi arah bisnis, ADMR mulai menunjukkan langkah konkret. Sejak Maret 2025, perseroan dikabarkan telah menjajaki kontrak jual-beli aluminium dari smelternya, dengan calon pembeli yang disebut berasal dari pasar domestik maupun internasional, meski detail mitra dagang dan volume belum diungkapkan secara resmi.

Secara keseluruhan, smelter aluminium ADMR melalui KAI memiliki fondasi yang cukup solid. Dukungan pasokan bahan baku dari CITA memberi keunggulan integrasi hulu–hilir, sementara persiapan pasar ekspor dan domestik membuka ruang pertumbuhan baru. 

Update terbaru, smelter aluminium sudah mulai beroperasi secara bertahap atau first pot operation pada akhir 2025 lalu. Artinya, fasilitas ini sudah masuk fase operasional awal dan bukan lagi tahap perencanaan.

Pada fase pertama, kapasitas produksi smelter tersebut diproyeksikan mencapai hingga 500.000 ton aluminium ingot per tahun. Ke depan, kapasitas ini dirancang untuk terus ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai 1,5 juta ton aluminium ingot per tahun dalam beberapa fase pengembangan di tahun-tahun berikutnya. 

Dari sisi progres pembangunan, hingga kuartal II-2025 pekerjaan struktur baja utama di area smelter KAI sudah hampir rampung. Tahapan ini kemudian diikuti konstruksi bangunan serta pemasangan peralatan utama, mulai dari potroom, sistem anoda, hingga berbagai fasilitas pendukung. 

Di area jetty, peralatan utama termasuk alat bongkar muat juga telah terpasang, dengan pekerjaan berlanjut ke instalasi sistem kelistrikan dan kabel. Sementara di area asrama, sebagian bangunan sudah selesai dan pembangunan struktur utama serta utilitas masih berjalan. 

Di sisi lain, kinerja coking coal ADMR juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebagai produsen batubara metalurgi, segmen ini masih menjadi tulang punggung arus kas perseroan dalam jangka pendek hingga menengah. Selama permintaan baja global masih terjaga, coking coal berperan sebagai bumper, menjaga stabilitas kinerja dan cash flow di tengah fase awal pengembangan bisnis aluminium. Sementara itu, aluminium diposisikan sebagai booster pertumbuhan ke depan. 

Ketika smelter mulai beroperasi lebih optimal dan kapasitas produksi meningkat, aluminium diharapkan menjadi sumber nilai tambah baru yang mendorong pertumbuhan pendapatan dan margin secara struktural, setidaknya ini baru akan terasa pada laporan keuangan 2027 mendatang.

Saham ADRO

Berikutnya ada induk usaha nya ADMR yaitu ADRO yang kami nilai juga menarik, termasuk untuk pilihan saham investasi jangka panjang. 

Saham ADRO semakin menarik karena valuasi yang sudah murah. Dengan Price to Book Value (PBV) 0,86 kali masih undervalued dibandingkan rata-rata lima tahun di 0,96 kali. 

Lebih menarik lagi jika dibandingkan dengan anak usahanya, ADMR, yang memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp82 triliun. Sementara itu, kapitalisasi pasar induknya, ADRO, masih berada di kisaran Rp67 triliun, atau setara sekitar 81,7 persen dari valuasi ADMR.

Padahal, ADRO menggenggam sekitar 85 persen saham ADMR. Artinya, prospek pertumbuhan ADMR yang dinilai masih moncer ke depan pada dasarnya juga akan ikut mengalir ke ADRO sebagai induk usaha. 

Belum lagi, ADRO masih memiliki sekitar 15 persen saham AADI, anak usaha yang fokus di bisnis batu bara termal dan dikenal punya potensi dividen yang relatif atraktif.

Artinya, aliran kas ADRO masih ditopang dari beberapa sumber sekaligus. Dalam jangka pendek, kontribusi dari batubara termal melalui AADI berpotensi menjaga arus dividen tetap solid.

Sementara di sisi lain, eksposur ke ADMR memberi opsi pertumbuhan jangka menengah–panjang lewat bisnis coking coal dan aluminium. Kombinasi ini membuat posisi ADRO relatif unik, dengan profil sebagai holding yang tetap menikmati cash flow defensif, sambil menyimpan mesin pertumbuhan baru ke depan.

Di sisi lain, salah satu momentum besar lainnya adalah ekspor listrik ke Singapura. ADRO disebut menjadi salah satu entitas yang akan melakukan ekspor listrik tersebut bersama MEDC pada 2028.

Dalam kesepakatan sebelumnya, Adaro olar International Pte. Ltd, yang dimiliki secara penuh oleh ADRO mendapatkan jatah ekspor listrik sekitar 0,4 Gigawatt.

Dengan asumsi tarif yang disepakati sebelumnya sekitar 0,014 - 0,02 dolar AS per KWH, serta di luar hitung-hitungan cost dengan PLN, ada potensi pendapatan ADRO per tahun bisa mencapai 49,05 juta sampai 70,08 juta dolar AS.

Artinya, dari bisnis ekspor listrik ini, kontribusinya ke pendapatan ADRO hanya sekitar 5 persen. Kontribusi bisnis terbesar tetap dari ADMR.

Di luar itu, salah satu yang ditunggu adalah gebrakan ekspansi ADRO lainnya. Hingga kuartal III/2025, ADRO mencatatkan kas dan setara kas sekitar Rp17 triliun (di luar pembagian dividen), kami ekspektasi dari dana tersebut ADRO bisa mencari peluang pertumbuhan anorganik atau mengejar proyek EBT lainnya. Namun, memang belum ada kabar terbaru terkait hal tersebut.

Mengutip riset terbaru JP Morgan, rekomendasi saham ADRO dikerek naik dengan target 2540 dari sebelumnya 2000, artinya masih ada potensial upside sekitar 11,4 persen lagi. Sementara itu, berdasarkan data stokbit ada 20 analis juga menyematkan rekomendasi beli ADRO dengan target yang hampir mirip di 2.555.

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini

Saham MDKA

Berikutnya ada emiten tembaga milik Boy Thohir, MDKA yang dinilai masih cukup menarik untuk dicermati. 

Merujuk data Stockbit, dari total 27 analis yang meliput MDKA, sebanyak 25 analis memberikan rekomendasi beli dan hanya dua yang menyarankan tahan. Target harga rata-rata berada di kisaran Rp3.156 per saham, sementara target paling optimistis bahkan mencapai Rp4.400. Konsensus tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 43 persen  dari level harga saat ini.

Menariknya, minat investor institusi global juga terlihat cukup solid. Dalam beberapa bulan terakhir, BlackRock Inc. dan The Vanguard Group, dua firma investasi terbesar dunia, kompak terus mengakumulasi saham MDKA

Berdasarkan data Bloomberg, Vanguard tercatat membeli tambahan 34.800 saham MDKA sepanjang Desember 2025, sehingga total kepemilikannya naik menjadi 498,76 juta saham dari 498,72 juta saham pada bulan sebelumnya. Vanguard sendiri sudah mengakumulasi MDKA selama enam bulan berturut-turut sejak Juli 2025, dengan total penambahan mencapai 9,57 juta saham.

BlackRock juga menunjukkan pola serupa. Sepanjang Desember 2025, BlackRock menambah 5,19 juta saham MDKA, meningkatkan kepemilikan dari 223,25 juta saham menjadi 228,44 juta saham. Sejak Juli 2025, total akumulasi BlackRock mencapai 29,36 juta saham. 

Selain itu, WisdomTree Inc. juga tercatat melakukan pembelian jumbo sebesar 11,57 juta saham pada bulan yang sama, sehingga total kepemilikannya meningkat menjadi 37,76 juta saham dari sebelumnya 26,19 juta saham.

Dari sisi fundamental, MDKA membukukan pendapatan sebesar US$1,28 miliar hingga kuartal III-2025 atau per 30 September 2025, turun 23 persen secara tahunan. 

Di sisi lain, EBITDA justru meningkat 33 persen YoY menjadi US$295 juta. Kinerja ini ditopang oleh kenaikan harga jual rata-rata emas, lonjakan margin emas hingga 59 persen, serta efisiensi biaya di seluruh rantai nilai nikel terintegrasi. 

Meski demikian, MDKA tetap memiliki catatan yang perlu diperhatikan. Perseroan masih diperkirakan mencatatkan kerugian pada kinerja sepanjang 2025, dengan estimasi sekitar Rp73 miliar. Namun, angka ini menunjukkan perbaikan yang signifikan, mengingat pada 2024 MDKA membukukan rugi yang jauh lebih besar, yakni sekitar Rp884 miliar. 

Ini menjadi pengingat kita jika nanti ada gejolak pada harga saham MDKA setelah rilis laporan keuangan sepanjang 2025, bisa dimanfaatkan investor sebagai peluang untuk mulai taking profit sebagian atau mengambil kesempatan untuk masuk lagi.

Prospek Saham Batu Bara di Tengah Rencana Pemangkasan Produksi 24 Persen
Pemerintah Indonesia berencana memangkas produksi batu bara 24 persenmenjadi sekitar 600 juta ton pada 2026. Secara teori, suplai yang turun akan membuat harga naik, akankah ini jadi katalis saham batu bata seperti ITMG-AADI naik lagi?

Saham EMAS

EMAS juga menjadi salah satu saham yang tergabung dalam Grup MDKA yang punya momentum di 2026. Pasalnya, EMAS yang baru IPO di 2025 ini bakal melakukan produksi perdana di kuartal I/2026.

Saham EMAS disebut akan memproduksi emas sekitar 75.000 sampai 85.000 ounce dengan target bisa mencapai 500.000 ounce pada 2032.

Dalam studi terbaru, cadangan emas milik saham EMAS naik menjadi 4,8 juta ounce per Oktober 2025 dengan total kandungan sumber daya mineral bisa mencapai 7 juta ounce.

Ditambah, dalam jangka pendek, harga emas lagi mencatatkan all time high di 4.600 dolar AS per troy ounce.

Saham MBMA

Sementara itu, saham MBMA juga mendapatkan tenaga lumayan agresif setelah harga nikel melonjak dari 14.000 dolar AS sempat ke 18.000 dolar AS per ton.

MBMA berencana mengoperasikan smelter HPAL terbarunya dengan kapasitas 90.000 ton per tahun pada pertengahan 2026. Di luar itu, belum ada rencana ekspansi yang lebih jelas dari MBMA.

Jika dihitung dari cadangan terbukti, MBMA menjadi emiten nikel ketiga dengan cadangan terbesar setelah INCO dan ANTM, yakni sebesar 235 juta wet metrik ton. Selain itu, MBMA juga punya sumber daya (yang belum tentu semuanya jadi cadangan) nikel hingga 1 miliar ton.

Dengan melihat dari konsensus analis, MBMA menjadi salah satu saham nikel yang berpotensi mencatatkan pertumbuhan kinerja paling agresif sepanjang 2026. Laba bersih per saham MBMA diperkirakan naik 396 persen menjadi Rp25 per saham pada 2026. Pertumbuhan itu cukup agresif mengingat pertumbuhan laba bersih per saham MBMA di 2025 sekitar 50,9 persen menjadi Rp5 per saham.

Saham ESSA

Terakhir dari grup Boy Thohir yang kami nilai menarik adalah PT Essa Industries Indonesia Tbk (ESSA). Emiten ini dikenal sebagai pure ammonia play, karena sekitar 85–90 persen  pendapatannya berasal dari bisnis amonia, sementara kontribusi LPG relatif kecil di kisaran 10–15 persen . Dengan struktur bisnis seperti ini, kinerja ESSA sangat sensitif terhadap pergerakan harga amonia global.

Dalam beberapa bulan terakhir, sentimen terhadap ESSA ikut membaik seiring reli harga amonia. Harga rata-rata amonia versi Fertecon tercatat melonjak ke kisaran US$420 per ton pada Oktober 2025, naik belasan persen dibanding rata-rata kuartal III-2025. Kenaikan ini dipicu oleh sejumlah gangguan pasokan global, mulai dari penghentian produksi tak terencana di pabrik besar Timur Tengah hingga kendala pasokan gas di kawasan Karibia. Kondisi tersebut membuat pasokan amonia cenderung lebih ketat sejak paruh kedua 2025.

Meski begitu, sepanjang Januari–September 2025 kinerja ESSA masih sempat tertekan. Pendapatan tercatat US$200,35 juta, turun sekitar 13 persen  yoy, seiring lemahnya harga amonia pada paruh pertama tahun. Laba bersih pun ikut terkoreksi menjadi US$21,3 juta, turun sekitar 36 persen  yoy. Namun tekanan ini lebih bersifat siklikal ketimbang mencerminkan pelemahan struktural bisnis.

Memasuki semester II-2025, kondisi operasional ESSA mulai membaik. Setelah menyelesaikan pemeliharaan di sisi hulu, pabrik amonia milik PT Panca Amara Utama (PAU) kembali beroperasi normal dengan tingkat utilisasi yang sangat kuat, bahkan mencapai di atas 110 persen  sepanjang sembilan bulan 2025. Dengan kapasitas terpasang sekitar 700.000 ton per tahun, stabilnya operasi menjadi fondasi penting bagi pemulihan kinerja.

Dari sisi strategi jangka menengah–panjang, ESSA juga mulai memantapkan arah bisnis rendah karbon. Perusahaan tengah menyiapkan proyek blue ammonia berkapasitas 200.000 ton yang ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal I-2028, serta proyek carbon capture and storage (CCS) sebesar 1 juta ton per tahun yang ditargetkan rampung pada kuartal IV-2028. 

Di saat yang sama, ESSA telah melunasi seluruh pinjamannya hingga kuartal III-2025, sehingga neraca keuangan menjadi lebih bersih dan fleksibel untuk mendanai ekspansi, termasuk ke bisnis Sustainable Aviation Fuel (SAF) dan amonia rendah karbon.

Untuk jangka pendek, prospek ESSA di kuartal IV-2025 dinilai relatif stabil hingga positif. Produksi amonia diperkirakan tetap kuat dengan utilisasi berpotensi di atas 115 persen . Dengan asumsi harga jual rata-rata di kisaran US$400 per ton, laba bersih kuartal IV-2025 diproyeksikan berada di rentang US$16–19 juta, tergantung realisasi volume dan penyelesaian pengiriman yang sempat tertunda sebelumnya.

Meski demikian, sejumlah risiko tetap perlu dicermati, mulai dari potensi kenaikan harga gas domestik, volatilitas harga amonia global, hingga fluktuasi nilai tukar rupiah mengingat eksposur ESSA terhadap dolar AS. Namun secara keseluruhan, dengan karakter bisnis yang sangat terkonsentrasi di amonia, arah harga komoditas ini akan menjadi kunci utama kinerja ESSA ke depan.

Gimana, kalian tertarik masuk ke saham grup Boy Thohir yang mana? 

Dapatkan Insight Saham hingga Diskusi serta Konsultasi Bersama hampir 1.000 Investor Lainnya di Mikirsaham

Yuk join dengan Mikirsaham sekarang untuk bisa dapatkan benefit ini semua:

  • Stockpick investing (dividend, value, growth, contrarian) yang di-update setiap bulan (terbarunya akan diseleksi terbaik maksimal 5 masing-masing strategi dengan analisis yang komprehensif)
  • Stock Ideas (memberikan gambaran besar saham-saham yang menarik, tapi tidak termasuk stockpick)
  • Stockpicking swing trade mingguan (khusus member mikirsaham elite jika kuota masih tersedia)
  • Insight saham terkini serta action-nya
  • Update porto founder
  • IPO dan Corporate Action Digest
  • Event online bulanan
  • Grup Diskusi Saham

Join ke Member Mikirsaham Pro sekarang juga dengan klik link di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini