Penyebab Harga Saham PACK Jadi Cuma Rp200-an per Saham, Siapa yang Kaget?
Siapa yang kaget melihat saham PACK turun jadi Rp200-an per saham? Meski ARA, tapi holder di atas Rp2.000 per saham pasti terkejut. Kami ulas penyebab dan cara bisa menyelamatkan aset-nya
Mikirduit – Saham PACK memasuki periode ex-date dari right issue-OWK-nya pada 12 Januari 2026. Lalu, siapa yang terkejut tiba-tiba posisi saham PACK-nya mengalami penurunan harga saham yang signifikan. Apa yang bisa dilakukan dalam kondisi ini?
Highlight
- Penurunan tajam harga saham PACK ke Rp200-an pada 12 Januari 2026 bukan karena sentimen negatif, melainkan akibat penyesuaian harga teoritis ex-date right issue OWK dengan rasio jumbo 5:102 di harga pelaksanaan Rp100.
- Eksekusi right issue OWK PACK dapat secara signifikan menurunkan harga rata-rata kepemilikan dan bahkan mengubah floating loss menjadi floating profit, tetapi membutuhkan tambahan modal yang besar.
- Risiko terbesar pada right issue jumbo adalah tidak menyiapkan dana untuk eksekusi saham baru, karena dilusi besar dapat membuat peluang kenaikan harga kembali ke level lama membutuhkan waktu yang sangat panjang.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.
Jadi, apa yang terjadi dengan saham PACK yang membuatnya turun ke Rp200-an per saham, tapi dianggap tetap ARA di perdagangan 12 Januari 2026?
Ingat, PACK lagi proses right issue dengan skema obligasi wajib konversi (OWK) sebanyak-banyaknya 32,58 miliar unit. Nantinya, 1 OWK itu akan setara dengan 1 hak saham baru dengan harga pelaksanaan Rp100 per saham. Jadi, dalam transaksi ini, PACK akan mengumpulkan Rp3,25 triliun. Nantinya, obligasi wajib konversi bisa langsung dikonversi setelah 1 hari pasca penerbitan hingga 21 Januari 2027.
Dalam proses ini, rasio right issue OWK PACK adalah 5:102. Rasio yang sangat jumbo. Artinya jika punya 5 saham PACK, kamu akan mendapatkan 102 hak right issue OWK tersebut.
Lalu, dalam proses transaksi aksi korporasi ini, 12 Januari 2026 menjadi periode ex-date, yang mana berarti jumlah lembar saham baru di harga Rp100 per saham sudah diterbitkan. Sehingga menciptakan yang namanya harga teoritis. (harga pasar yang disesuaikan karena adanya jumlah lembar saham baru dengan harga di bawah pasar).
Dalam keterangan di IDX per 9 Januari 2026, PACK mengumumkan harga teoritisnya menjadi Rp248 per saham. Dari mana angka itu berasal?
Angka itu dihitung dengan mengalikan harga saham pada 9 Januari 2026 di Rp3.280 per saham dikali dengan 5 (angka rasio saham lama dalam right issue OWK perseroan). Lalu, ditambah dengan Rp100 (harga pelaksanaan right issue) dikali dengan 102 (rasio saham baru yang didapatkan). Lalu, hasilnya dibagi dengan jumlah rasio right issue (5 ditambah 102). Sehingga hasilnya Rp248 per saham.
Angka Rp248 per saham itu menjadi harga pembukaan pasar di 12 Januari 2026 sebagai periode ex-date right issue OWK-nya.
Lalu, dengan kondisi floating loss yang cukup besar di saham PACK, apa yang harus dilakukan?
Hal yang Bisa Dilakukan Jika Masih Punya PACK dan Mengalami Floating Loss Jumbo
Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan eksekusi right issue-OWK-nya di harga Rp100 per saham. Dengan melakukan konversi atau melaksanakan right issue-OWK PACK, harga rata-rata akan mengalami penyesuaian harga teoritis sesuai dengan harga rata-rata sebelumnya. Sehingga posisi-nya tidak akan rugi signifikan atau malah bisa menjadi floating profit.
Namun, berhubung rasio right issue OWK-nya cukup besar, berarti modal yang dibutuhkan untuk eksekusinya juga cukup besar. Untuk itu, kami akan membuat 3 simulasi harga rata-rata sebelum ex-date, yakni Rp4.100 (high price), Rp2.500 (medium price). Rp1.700 (low price) dengan asumsi kepemilikan 100 lot.
Pertama, harga Rp4.100 per saham (high price) dengan asumsi kepemilikan 100 lot. Modal beli sekitar Rp41 juta, dengan total kebutuhan eksekusi saham baru sekitar Rp20,4 juta. Hasilnya, harga rata-rata menjadi Rp286 per saham. Dengan harga ARA per 12 Januari 2026 di Rp272 per saham, tingkat floating loss menjadi 5,2 persen.
Kedua, harga Rp2.500 per saham (medium price) dengan asumsi kepemilikan 100 lot. Modal beli sekitar Rp25 juta, dengan total kebutuhan eksekusi saham baru sekitar Rp20,4 juta. Hasilnya, harga rata-rata menjadi Rp212 per saham. Dengan harga ARA per 12 Januari 2026 di Rp272 per saham, tingkat floating profit menjadi 28,21 persen.
Ketiga, harga Rp1.700 per saham (low price) dengan asumsi kepemilikan 100 lot. Modal beli sekitar Rp17 juta, dengan total kebutuhan eksekusi saham baru sekitar Rp20,4 juta. Hasilnya, harga rata-rata menjadi Rp174 per saham. Dengan harga ARA per 12 Januari 2026 di Rp272 per saham, tingkat floating profit menjadi 55,64 persen.
Pertanyaannya, bagaimana jika tidak memiliki modal untuk eksekusi saham barunya? ini menjadi risiko terbesar ketika sudah punya saham yang mau right issue jumbo, tapi tidak menyiapkan modal untuk eksekusi saham barunya. Pasalnya, dengan dilusi yang signifikan termasuk terkait harga teoritis, hal itu membuat risiko kerugian besar.
Apakah PACK bisa kembali ke Rp2.000-a per saham dari harga saat ini? peluang naik tetap ada, tapi ada risiko dengan jumlah supply saham baru yang sangat besar, untuk naik ke harga atas lagi membutuhkan momentum dan waktu yang cukup lama.
Contoh sederhana ketika PYFA right issue jumbo dan harga sahamnya sempat mencapai Rp1.000 per saham, tiba-tiba harga saham turun ke Rp100 per saham, dalam perjalanan hampir 2 tahun pasca right issue, harga saham PYFA belum mencapai ke Rp1.000 per saham lagi. Sehingga, jika tidak eksekusi saham baru menjadi risiko peluang kenaikan yang membutuhkan waktu lama.
Untuk itu, jika mau mengejar saham yang mau right issue jumbo bisa diatur alokasi modal dengan cara masuk bertahap, misalnya masuk tahap 1 setengah dari rencana alokasi. Sehingga nantinya, jika ada data right issue jumbo bisa ikut eksekusi dan tidak terkena dampak dilusi jumbo-nya.

Daya Tarik Saham Corporate Action
Saham aksi korporasi memang kerap memberikan potensi fluktuasi harga saham yang menarik banget. Namun, dalam proses aksi korporasinya bisa ada hal-hal tidak terduga atau sudah terduga tapi tidak disiapkan antisipasinya, salah satunya faktor penyesuaian harga teoritis karena right issue jumbo tersebut.
Sehingga ketika mengejar saham corporate action, jangan fokus mengejar harga atau beli sebelum naik, tanpa mempersiapkan rencana money management, termasuk alokasi modal untuk eksekusi right issue-nya.
Pasalnya, risiko di saham bukan hanya naik-turun, tapi juga ada faktor likuiditas dan faktor corporate action yang harus disiapkan antisipasinya.
Dapatkan Insight Saham hingga Diskusi serta Konsultasi Bersama hampir 1.000 Investor Lainnya di Mikirsaham
Yuk join dengan Mikirsaham sekarang untuk bisa dapatkan benefit ini semua:
- Stockpick investing (dividend, value, growth, contrarian) yang di-update setiap bulan (terbarunya akan diseleksi terbaik maksimal 5 masing-masing strategi dengan analisis yang komprehensif)
- Stock Ideas (memberikan gambaran besar saham-saham yang menarik, tapi tidak termasuk stockpick)
- Stockpicking swing trade mingguan (khusus member mikirsaham elite jika kuota masih tersedia)
- Insight saham terkini serta action-nya
- Update porto founder
- IPO dan Corporate Action Digest
- Event online bulanan
- Grup Diskusi Saham
Join ke Member Mikirsaham Pro sekarang juga dengan klik link di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
