Peluang Saham Value Investing di Akhir Era Saham Konglo, Berikut Pilihannya

Kembali ke dasar, itu mungkin menjadi tema dari 2026. Setelah IHSG all time high berkali-kali ditopang saham booming, kini tekanan IHSG juga ada di saham booming. Untuk itu, strategi yang paling pas adalah dengan value investing. Begini pilihan sahamnya

saham value investing

Mikirduit – Pasar saham Indonesia mulai goyah setelah euforia all time high berkali-kali di 2025. Vonis MSCI dengan deretan downgrade dari Goldman Sach, UBS, Nomura, hingga Moody’s menjadi tekanan secara keseluruhan. Namun, tetap ada peluang di pasar saham Indonesia meski dalam tekanan seperti ini, salah satu strategi yang pas adalah value investing.

Highlight

  • Strategi Value Investing sebagai Penyelamat: Di tengah tekanan pasar akibat downgrade lembaga global pada awal 2026, strategi value investing pada saham sektor konsumer dan ritel yang berfundamental kokoh menjadi pilihan paling rasional untuk menghadapi volatilitas IHSG.
  • Potensi Rebound CLEO Melalui Ekspansi: Meskipun kinerja laba CLEO sempat terkontraksi akibat penundaan pembangunan pabrik, penyelesaian tiga fasilitas produksi baru di tahun 2026 diproyeksikan akan memicu pertumbuhan laba bersih hingga 60 persen.
  • SMDR sebagai Pilihan Properti Logistik yang Murah: Saham SMDR menawarkan daya tarik nilai berkat valuasi yang masih rendah dan potensi pendapatan tambahan dari Pelabuhan Patimban, meskipun investor harus tetap mencermati risiko geopolitik yang memengaruhi perdagangan global.
  • Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.

Jika melihat tekanan harga saham yang terjadi dalam sepanjang 2026, kamu akan melihat rata-rata saham yang tertekan adalah penopang IHSG di tahun lalu, yakni saham-saham booming dengan volatilitas tinggi dari Grup Prajogo Pangestu, Happy Hapsoro, hingga Bakrie. Namun, di luar itu, saham yang secara fundamental masih oke dan valuasinya masih wajar tidak mengalami tekanan yang signifikan.

Kami telah melakukan analisis terhadap seluruh saham di Indonesia per akhir Januari 2026 kemarin untuk melihat mana yang sudah diskon. Hasilnya, tingkat diskon belum signifikan, kecuali di beberapa saham bisnis ritel hingga consumer goods, tapi masih cukup menarik untuk mulai cicil.

Kami menggunakan beberapa indikator untuk mencari saham murah ini dari:

  • Valuasi PBV (untuk tambang, properti, banking, telekomunikasi, tekno, kapal) dan PE untuk consumer goods, ritel, dan industri) sudah berada di bawah PBV atau PE standard deviasi -1
  • Risiko utang dari segi Debt to equity ratio (DER) maupun interest coverage ratio (ICR) cukup rendah
  • Tingkat margin keuntungan di atas 5 persen
  • Dari segi rencana bisnis masih berencana ekspansi
  • Secara kinerja pendapatan masih mencatatkan kenaikan pendapatan atau laba bersih dari core bisnis yang positif

Dari data ini, kami menemukan 10 saham yang dinilai punya potensi upside optimal dalam 2 tahun ke depan dengan asumsi ada perbaikan kondisi ekonomi Indonesia serta sektoral-nya.

Berikut ulasan sahamnya:

Saham CLEO

Saham CLEO masih mencatatkan kenaikan pendapatan yang positif dengan pertumbuhan 5,83 persen menjadi Rp2,09 triliun. Pendorong pendapatan CLEO berasal dari segmen botol yang tumbuh 6,64 persen menjadi Rp1,15 triliun, serta segmen lainnya yang tumbuh 24,45 persen menjadi Rp43 miliar. Segmen lainnya ini adalah produk CLEO di luar air mineral dalam kemasan.

Meski pendapatan bertumbuh, CLEO mencatatkan kenaikan beban pokok pendapatan yang membuat laba kotor hanya tumbuh 3,31 persen menjadi Rp1,19 triliun. Jika dilihat tingkat margin keuntungan segmen bisnis-nya yang utama, yakni botol dan non-botol mengalami penurunan. Misalnya, botol turun menjadi 53,77 persen dibandingkan dengan 55,86 persen pada periode sama tahun sebelumnya, serta non-botol turun menjadi 61,85 persen dibandingkan dengan 62,49 persen pada periode sama tahun sebelumnya.

menariknya, margin keuntungan segmen lain-lain naik menjadi 51 persen dibandingkan dengan 45,58 persen pada periode sama tahun sebelumnya.

Tekanan terbesar CLEO datang dari beban penjualan yang naik 13,85 persen menjadi Rp662 miliar. Hal itu yang membuat laba usaha CLEO turun 8,59 persen. Serta menekan laba bersih turun sebesar 7,81 persen menjadi Rp305 miliar. 

Catatan penurunan laba bersih CLEO ini menjadi sorotan karena untuk pertama kalinya (jika berlanjut hingga full year 2025) sejak IPO. Rata-rata pertumbuhan kinerja keuangan saham CLEO biasanya selalu double digit. 

Problem: Kami menilai salah satu tekanan kinerja saham CLEO tidak sesuai ekspektasi disebabkan oleh pembangunan 3 pabrik yang molor. Jadi, sejak awal 2025, CLEO merencanakan penyelesaian 3 pabrik baru dengan belanja modal senilai Rp500 miliar. 3 Pabrik itu ada di daerah Pekanbaru, Pontianak, dan Palu.

Ekspektasinya, ketiga pabrik itu bisa rampung di sekitar kuartal III/2025 sehingga bisa menopang pertumbuhan penjualan perseroan di tahun ini. Namun, rencana tersebut mundur sehingga ketiga pabrik itu diharapkan rampung pada 2026. Dengan begitu CLEO bisa memiliki 35 pabrik yang membantu efisiensi operasional logistik dan pertumbuhan pendapatan di non-Jawa dan Bali.

Sayangnya, kami tidak mendapatkan penjelasan detail terkait perlambatan pembangunan ketiga pabrik tersebut. Namun, jika ketiga pabrik itu terealisasi bisa membantu pertumbuhan kinerja 2026 cukup menarik. 

Peluang: kami memperkirakan kinerja laba bersih CLEO pada full year 2025 truun 5,52 persen menjadi Rp18,31 per saham. Namun, jika tiga pabrik itu bisa optimal dan rampung di kuartal I/2026, pertumbuhan laba bersih CLEO di full year 2026 bisa tumbuh 60 persen menjadi Rp29,3 per saham.

Kami membuat perhitungan asumsi wajar dengan proyeksi laba bersih di 2026 dengan asumsi PE wajar di standard deviasi -1 5 tahun di 28,89 kali. Hasilnya, asumsi wajar kami ada di Rp846 per saham.

Risiko: jika ada faktor makro ekonomi yang bisa membuat pertumbuhan daya beli melambat, bisa mengganggu proyeksi laba bersih CLEO kami. Dengan asumsi tambahan 3 pabrik dan laba bersih per saham CLEO stagnan di Rp20 per saham, berarti risiko harga terburuk bisa ke Rp370 per saham.

Saham SMDR

Saham SMDR menjadi salah satu saham value investing karena kinerjanya sudah kembali bertumbuh dengan valuasi perseroan yang masih murah. SMDR juga menjadi emiten perkapalan yang paling lengkap.

Sampai kinerja kuartal III/2025, SMDR kembali mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan dari segi laba bersih sebesar 4,21 persen menjadi 43 juta dolar AS. Pendorong utama pertumbuhan laba bersih SMDR antara lain dari pendapatan yang naik 7,94 persen menjadi 571 juta dolar AS.

Secara umum, kinerja SMDR tertekan dari biaya beban pokok pendapatan yang naik sehingga laba kotor turun 1,32 persen menjadi 107 juta dolar AS. Posisi laba bersih SMDR tetap bisa tumbuh positif karena ada kenaikan bagian atas laba entitas asosiasi dan ventura bersama sebesar 77 persen menjadi 3,2 juta dolar AS. 

Problem: jika ada penurunan aktivitas pelabuhan pada 2026 akibat adanya rush transaksi perdagangan sebelum tarif Trump dikenakan bisa menjadi tantangan untuk saham SMDR

4 Langkah Strategi Saham Saat Banjir Aksi Buyback
Setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jeblok sampai trading halt dua kali, sederet emiten mulai menggulirkan buyback untuk meredam volatilitas. Siapa saja mereka?

Jika melihat rincian dari kinerja pendapatan SMDR lebih detail, pendapatan yang naik signifikan ada di jasa pelayaran dan keagenan yang naik 12,38 persen menjadi 465 juta dolar AS, sedangkan jasa logistik dan pelabuhan turun 5,69 persen menjadi 113 juta dolar AS. Lalu, segmen lain-lain mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,69 persen menjadi 43 juta dolar AS.

Peluang: SMDR berpotensi mendapatkan pendapatan tambahan dari segi bagian atas laba entitas asoiasi dan ventura bersama jika pelabuhan Patimban mulai beroperasi. Perseroan memiliki saham minoritas di pengelolaan pelabuhan tersebut.

Sisanya, kita berharap kondisi ekonomi global membaik sehingga bisa bertumbuh lebih agresif di semester II/2026 atau 2027.

Kami memproyeksikan SMDR bisa mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 5,99 persen menjadi Rp52,02 per saham pada 2025, serta pertumbuhan laba bersih 2026 sebesar 3,81 persen menjadi Rp54 per saham.

Dengan asumsi proyeksi tersebut, kami menilai harga wajar SMDR ada di Rp551 per saham dengan risk terburuk harga saham turun ke Rp290 per saham.

Risiko: jika ada faktor geopolitik yang mengganggu perdagangan global hingga mengganggu aktivitas ekonomi dan perdagangan yang berpengaruh terhadap kinerja perseroan.

Jika Ingin Tahu Analisis Detail 10 Saham Value Investing Mikirduit di 2026, Kamu Bisa Join Mikirsaham Pro Sekarang Juga

Yuk join dengan Mikirsaham sekarang untuk bisa dapatkan benefit ini semua:

  • Stockpick investing (dividend, value, growth, contrarian) yang di-update setiap bulan (terbarunya akan diseleksi terbaik maksimal 5 masing-masing strategi dengan analisis yang komprehensif)
  • Stock Ideas (memberikan gambaran besar saham-saham yang menarik, tapi tidak termasuk stockpick)
  • Stockpicking swing trade mingguan (khusus member mikirsaham elite jika kuota masih tersedia)
  • Insight saham terkini serta action-nya
  • Update porto founder
  • IPO dan Corporate Action Digest
  • Event online bulanan
  • Grup Diskusi Saham

Join ke Member Mikirsaham Pro sekarang juga dengan klik link di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini