Peluang dan Risiko Saham OILS, Si Pengolah Kelapa yang Terdorong Naik Sentimen Perang
Saham OILS yang notabene-nya bukan saham migas malah tiba-tiba ikut naik di-euforia saham migas. Lalu, bagaimana prospek dan risiko saham OILS ini?
Mikirduit – Salah satu saham growth investing Mikirduit di 2026 meroket selaras dengan sentimen perang. Padahal, bisnisnya bukan migas, lah kok bisa?
Highlight
- OILS dipilih sebagai saham growth investing 2026 karena market cap-nya masih kecil dengan rencana ekspansi agresif (JV PT Indosena Perkasa Refineries, diversifikasi santan, dan perluasan ekspor) yang berpotensi mendorong lonjakan kinerja dan harga saham, meski berisiko tinggi dan volatil.
- Kenaikan OILS saat sentimen perang lebih dipengaruhi persepsi dan momentum pasar, padahal fundamental bisnisnya adalah pengolahan minyak kelapa tanpa substitusi langsung, namun kini valuasinya sudah keluar dari area buy akibat lonjakan harga sementara.
- Risiko utama OILS berasal dari margin tipis karena fokus pengolahan, potensi kenaikan harga bahan baku kelapa dan riwayat kebakaran pabrik, serta ancaman sekaligus peluang dari hilirisasi kelapa nasional yang bisa memicu persaingan bahan baku namun juga membuka peluang investasi strategis.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.
Saham ini adalah OILS, salah satu pilihan saham growth investing mikirsaham. Untuk growth investing mikirsaham 2026, kami menggunakan pendekatan berbeda. Awalnya, kami mencoba bermain aman dengan mencari saham-saham growth dengan skala market cap secondliner besar hingga tinggi. Namun, kelemahannya meski kinerja terus bertumbuh, tapi volatilitas saham-nya cukup rendah.
Untuk itu, dengan memberikan keterangan ini adalah saham-saham high risk dan high volatility, kami memilih saham-saham yang punya prospek pertumbuhan agresif dengan skala market cap masih kecil. Sehingga ruang pertumbuhannya bisa selaras dengan potensi kenaikan harga saham. Meski, risikonya penurunan juga bisa signifikan.
Menariknya, saham OILS yang merupakan produsen pengolah minyak kelapa ini malah naik saat ada sentimen perang. Banyak yang bertanya-tanya, ini salah persepsi karena namanya OILS atau bagaimana ya?
Namun, gara-gara harganya sudah naik tinggi karena sentimen sementara, akhirnya belum bisa dicicil karena sudah keluar area BUY kami juga.
Tapi, di luar posisinya yang jadi kurang menarik dilirik karena valuasi tinggi, apa saja momennya yang membuat kami memilihnya jadi saham growth investing?
Peluang Saham OILS
Kami memasukkan saham OILS sebagai saham growth investing karena melihat peluang pertumbuhannya yang cukup besar dalam beberapa tahun ke depan, dengan skala market cap yang cukup kecil. Sehingga jika kinerjanya tumbuh dengan baik bisa mengerek potensi kenaikan harga yang signifikan.
Beberapa rencana ekspansi OILS yang berpotensi mulai terasa atau baru berjalan:
Pertama, mulai beroperasinya perusahaan patungan dengan Sena Mill Refineries Export (Private), yakni di PT Indosena Perkasa Refineries. Dalam perusahaan patungan ini 51 persen saham dipegang oleh OILS, sedangkan 49 persen dipegang oleh Sena Mills Refineries Export.
Dalam JV ini, nantinya bisa menggenjot bisnis pengolahan dan pemasaran produk OIL. Apalagi, Sena Mills Refineries adalah salah satu produsen minyak kelapa terkemuka di Asia Selatan.
Sejauh ini (hingga kuartal III/2025), Sena Mills tercatat sebagai klien dari OILS dengan porsi terbesar.
Bisnis JV Sena Mills ini sudah mulai berjalan, kami menilai efeknya bisa optimal terasa di 2026.
Kedua, pembentukan PT Indo Kelapa Perkasa untuk produksi santan. Pembentukan anak usaha ini disebut untuk diversifikasi produksi dan efisiensi dari hulu ke hilir. Kami belum mendapatkan detail kapan anak usaha bisnis santan ini mulai beroperasi, tapi jika sudah juga bisa menjadi pendongkrak kinerja perseroan.
Ketiga, rencana perluasan ekspor. Porsi ekspor minyak kelapa OILS bisa dibilang 50:50 (dan cenderung fluktuatif). Menurut manajemen, ekspor dilakukan secara dinamis untuk persaingan harga lokal dan luar. Sehingga pihaknya memilih lebih fleksibel yang bisa memberikan keuntungan kepada perusahaan.
Dari keterangan yang tersedia, target ekspor OILS antara lain Srilanka, Bangladesh, Pakistan, Filipina, Jepang, Thailand, Turki, Tunisia, Malaysia, dan Madagaskar.
Perseroan juga berupaya membuka pasar ekspor baru ke China, Vietnam, serta meningkatkan eksposur di Thailand dan Indonesia.
Kelebihan dari produk OILS adalah, minyak kelapa tidak memiliki produk penggantinya. Sehingga tidak ada persaingan harga dengan komoditas pesaing misalnya, CPO bersaing dengan kedelai, kanola, dan bunga matahari.

Risiko Saham OILS
Ada beberapa risiko secara teknis dan sentimen untuk saham OILS:
Pertama, OILS hanya fokus di pengolahan yang membuat margin keuntungannya sangat tipis. Lalu, dengan hanya fokus di pengolahan, OILS juga bisa terdampak jika ada kenaikan harga bahan bakunya, yakni kelapa.
Kedua, Selain itu, jika ada masalah kebakaran pabrik pada 2022 dan 2024 kembali terulang bisa menjadi tekanan jangka pendek untuk harga saham dan kinerja perseroan dalam 1 periode. (Kami cukup concern kebakaran yang terjadi di 2022 dan 2024 bisa terulang dan jadi risiko untuk saham OILS)
Ketiga, rencana hilirisasi kelapa dari pemerintah. Ini bisa jadi pedang bermata dua bagi OILS.
Pemerintah Indonesia empat mengumumkan wacana hilirisasi kelapa secara nasional. Bahkan, investor China disebut siap membangun hilirisasi kelapa, salah satunya Zhejiang FreeNow Food, produsen turunan kelapa terbesar di China. Perusahaan tersebut berinvestasi Rp1,6 triliun untuk bangun pabrik hilirisasi kelapa di Morowali.
Bukannya akan menjadi ancaman bagi OILS?
Bisa jadi dua sisi. Dari risiko ada karena ada kehadiran pabrik kelapa jumbo di Sulawesi (konon kapasitasnya bisa 500 juta butir kelapa per tahun yang diestimasikan setara 750.000 ton, ini angka yang sangat jumbo) mengingat pabrik OILS skala kapasitasnya hanya 90.000 - 99.000 ton per tahun (asumi hari operasional 300-330 hari).
Ditambah ada risiko kelangkaan bahan baku kelapa (yang mana harganya bisa naik). Apalagi, OILS tidak memiliki kebun.
Namun, jika industri hilirisasi kelapa berkembang, ada potensi OILS dilirik investor sebagai salah satu emiten yang sudah memiliki bisnis berjalan (serta pemasarannya). Bukan tidak mungkin nantinya dapat investor untuk ekspansi OILS membangun lahan perkebunan kelapa sendiri. Meski, dalam ekspansi perkebunan kelapa bisa butuh waktu 10 tahunan hingga masuk periode produktif optimal. (seperti tanaman sawit butuh waktu lama)
Mau Dapat Analisis Lengkap Hingga Strategi Saham Growth Investing Mikirsaham?
Join Mikirsaham sekarang dengan benefitnya mencakup:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
- Event online bulanan
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private
Langsung langganan sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa, Cek KODE PROMO-nya sesuai dengan plan yang kamu butuhkan dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
