Peluang dan Risiko IRSX Masuk Bisnis Entertainment dengan Modal Rp3,7 triliun
IRSX jadi sorotan karena salah satu saham yang dibackdoor listing pada 2025. Lalu, bagaimana prospek IRSX setelah diakuisisi nantinya dan masuk ke bisnis entertainment?
Mikirduit – IRSX mengumumkan rencana right issue dengan target dana Rp3 triliun. Dengan fokus ke bisnis entertainment, seberapa menarik saham IRSX tersebut?
Highlight
- IRSX berencana menghimpun dana Rp3 triliun lewat right issue untuk ekspansi agresif ke bisnis entertainment terintegrasi, dengan fokus utama pada manajemen kreator, event, production house, dan live commerce melalui ekosistem Folago.
- Meski potensi pendapatan terlihat besar, ekspansi besar-besaran IRSX berisiko menekan laba bersih karena bisnis entertainment memiliki hidden cost tinggi dan margin yang cenderung tipis, terutama saat kondisi ekonomi melemah.
- Pembanding emiten sejenis (DMMX, FILM, RAAM, FOLK, DYAN) menunjukkan bahwa hebohnya narasi entertainment sering tidak sejalan dengan profitabilitas, sehingga valuasi dan pergerakan saham IRSX ke depan sangat bergantung pada eksekusi bisnis dan peran pemilik saham.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.
Setelah diakuisisi oleh PT Matra Tri Abadi, IRSX langsung menjalankan aksi akuisisi perusahaan terafiliasi Baim Wong. Dalam paparan pada September 2025, IRSX memaparkan prospek bisnis baru yang akan dijalaninya.
Jadi, IRSX akan memiliki 10 layanan terkait di dunia Entertainment seperti:
Pertama, Digital Twin yang merupakan teknologi AI untuk mereplikasi manusia secara hampir sempurna dari suara, wajah, hingga gerakan. Nantinya, representasi AI itu akan diwujudkan dalam video, audio, foto, dan lainnya. Artinya, ini adalah layanan mengubah teks menjadi video, foto, dan suara.
Kedua, Avatar menawarkan pembuatan karakter unik dengan AI sehingga bisa menjadi identitas digital khusus. Misalnya, ada karakter AI memiliki akun Instagram atau membuat Avatar untuk kebutuhan bisnis.
Ketiga, Short Movie dan Production House yang merupakan kombinasi sutradara asal China dan Indonesia untuk membuat film pendek seperti Drama China.
Keempat, Aplikasi Digital yang menampilkan drama pendek, seperti Drama China. Ekspektasinya, perseroan berencana membeli 1.000 film dari China untuk isi konten tahap awal.
Kelima, Talent Management yang berfokus pengembangan talenta baru. Manajemen ekspektasi akan mengelola sekitar 3.000 talent.
Keenam, Periklanan, seperti agensi periklanan pada umumnya.
Ketujuh, Layar Lebar Production House, manajemen berencana memproduksi film layar lebar seperti FILM maupun RAAM.
Kedelapan, Folago MCN (Multi Channel Networking) menawarkan solusi komprehensif untuk mengoptimalkan kreator dan brand melalui live commerce yang interaktif, profesional, dan berdampak langsung terhadap penjualan.
Kesembilan, Folago Live Streaming yang menayangkan acara, serta pengalaman seperti konser dan lainnya secara langsung.
Kesepuluh, Folago Tiktok Go, memaksimalkan potensi kreator di Tiktok dengan strategi yang fokus kepada viralitas, kolaborasi, dan monetisasi yang relevan dengan kebutuhan audiens.
Jika mengacu ke penggunaan dana right issue dari total Rp3,7 triliun, kami menilai point utama yang dikejar oleh IRSX dalam jangka pendek ada di poin rencana kelima hingga kesembilan. Pasalnya untuk poin 1 dan 2 itu hanya menggunakan dana mini sekitar Rp4,8 miliar. Modal yang terhitung kecil untuk pengembangan bisnis tools terkait AI tersebut.
Berikut ini detail penggunaan dana right issue jumbo tersebut:
Pertama, Rp2,03 triliun digunakan untuk penyetoran ke anak usaha PT Folago Karya Indonesia, yang dulunya bernama PT Jaya Gemilang Wong yang memiliki bisnis konsultasi dan manajemen terkait artis. Anak usaha ini akan fokus dalam bisnis Multi Channel Networking untuk mendukung konten kreator di media sosial.
Dananya akan digunakan untuk seperti program inkubasi, serta akuisisi hak komersial jangka panjang atas kerja sama dengan artis, influencer, affiliator, pengelolaan, monetisasi hak komersial, termasuk konten, distribusi, endorsement, affiliate marketing dan lainnya.
Kedua, Rp818 miliar digunakan untuk penyetoran modal ke PT Folago Digital Media, sebelumnya bernama PT Tiger Wong Internasional. Dari total dana itu, senilai Rp713 miliar akan digunakan untuk promotor konser, Event, biaya fee talent, dan lainnya, Rp105 miliar untuk akuisisi pengembangan, pengelolaan jaringan kreator, termasuk program inkubasi dan akselerasi bagi konten kreator.
Ketiga, Rp517 miliar digunakan untuk penyetoran modal ke penyetoran ke anak usaha PT Folago Picture Indonesia yang digunakan modal kerja untuk biaya produksi dan distribusi konten
Keempat, Rp175 miliar digunakan untuk penyetoran modal ke anak usaha PT Digital Nata Karya yang Rp62 miliar untuk pengembangan sistem ticketing offline dan Online, sedangkan Rp113 miliar untuk pembelian produk digital dan PPOB
Kelima, Rp35 miliar digunakan untuk penyetoran ke anak usaha PT Folago Gaya Hidup modal kerja pemasaran hingga monetitsasi konten.
Keenam, Rp4,8 miliar digunakan untuk setoran ke anak usaha PT Folago Artificial Intelligent Commerce untuk pengembangan AI dalam mengelola konten, analisis data, dan optimalisasi monetisasi.
Ketujuh, Sisanya digunakan untuk modal kerja IRSX.
Dengan Ekspansi Bisnis Tersebut, Seberapa Cuan IRSX?
Kami menilai dengan modal ekspansi Rp3 triliun, ada risiko laba bersih yang diterima perseroan tidak semenarik modal yang dikeluarkan. Alasannya, IRSX masuk ke bisnis entertainment langsung dengan modal besar. Dari segi revenue berpotensi terlihat besar, tapi masalahnya akan muncul di bottom line.
Apalagi, model revenue dari bisnis entertainment ini punya korelasi kuat dengan tingkat pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat yang mempengaruhi persepsi ekspansi perusahaan. Jika kondisi ekonomi melambat, ada potensi upaya monetisasi menjadi lebih menantang.
Rata-rata bisnis entertainment memiliki hidden cost yang cukup besar. Sehingga beberapa emiten yang menggarap bisnis ini rentang mengalami kerugian jika terlalu ekspansif tanpa mengukur potensi margin keuntungan. Kami akan membandingkan beberapa saham terkait bisnis-bisnis IRSX seperti, DMMX, FILM, RAAM, FOLK, dan DYAN.
Nasib Saham DMMX, perusahaan periklanan dengan memiliki IP Super Hero Indonesia
DMMX merupakan penyedia layanan untuk marketing iklan yang juga berinvestasi ke bisnis Entertainment lewat investasi di PT Bumilangit Digital Mediatama dengan kepemilikan 50 persen pada 2021.
Meski, bisnis Bumilangit sebenarnya adalah mengelola kekayaan intelektual dari sekitar 1.100 karakter pahlawan Indonesia termasuk Gundala dan Sri Asih. Awalnya, bisnis DMMX ini jadi booming karena bersamaan dengan rilisnya film pahlawan super jadul tersebut. Teranyar, tahun ini akan rilis film si buta dari Gua Hantu pada 2026.
Dengan investasi di Bumilangit, DMMX bisa mengoptimalkan dengan bisnis-nya sebagai penyedia layanan platform ritel dan iklan digital.
Lalu, pada 2021-2022, pendapatan DMMX memang terbang masing-masing Rp1,15 triliun hingga Rp1,93 triliun. Namun, dari segi laba bersih, pada 2021 sempat naik Rp239 miliar, tapi pada 2022 hanya Rp6 miliar, meski dari segi pendapatan lebih besar.
Meski, penurunan laba bersih itu disebabkan oleh fluktuasi harga saham DIVA dan TFAS. DMMX ada investasi di kedua saham tersebut, yang mana pada 2022, harga sahamnya mengalami penurunan sehingga menekan kinerja DMMX.
Meski begitu, secara realita, bisnis utama DMMX juga mencatatkan penurunan laba usaha 50 persen saat pendapatan naik 68 persen. Hal itu disebabkan dari segi beban pokok pendapatan, beban umum, dan penjualan juga meningkat signifikan. Beban pokok naik 72 persen, sedangkan beban usaha naik 55 persen.
Dari periode puncak pada 2021-2022, harga saham DMMX juga sudah turun sekitar 89 persen.

Nasib Saham FILM, sebagai Production House Film dengan Bisnis Televisi
Saham FILM mungkin menjadi ekspektasi yang diharapkan bagi para holder IRSX karena harga sahamnya mampu terbang dari Rp1.000-an per saham hingga tembus Rp14.500 per saham. Bahkan, digadang-gadang masuk MSCI, meski kini peluangnya sudah tidak ada karena sudah terkena suspensi.
Ditambah, tren kinerja FILM juga lagi merugi sepanjang 2025, dan tren laba bersihnya terus mengalami penurunan sejak 2022. Meski, dari segi pendapatan mencatatkan naik-turun yang fluktuatif setiap tahunnya.
Jika dilihat dari sumber pendapatannya, kinerja FILM ditopang oleh bisnis production house filmnya. Dengan operating profit margin sekitar 22 persen. Namun, tekanan rugi FILM sepanjang 2025 datang dari bisnis NETV yang mengalami kerugian Rp109 miliar di kuartal III/2025.
Catatannya, FILM juga punya bisnis sewa bangunan, studio, dan sound mixing sebagai salah satu diversifikasi pendapatan dalam jangka pendek.
Nasib Saham RAAM, sebagai Production House Film dengan Bisnis Bioskop
Dari sisi harga saham, RAAM bergerak berbeda dari FILM. Jika FILM meroket ke atas, RAAM malah membumi sejak IPO pada 2023. Ditambah, RAAM juga mencatatkan tekanan kerugian sejak 2024 yang selaras dengan penurunan pendapatan.
Jika melihat kinerja RAAM per September 2025, tekanan kinerja terjadi karena adanya penurunan pendapatan, tapi beban pokok penjualan dan beban umum administrasi tetap naik. Sehingga menekan kondisi bottom line menjadi rugi bersih.
Berbeda dengan FILM, RAAM mendapatkan tekanan kinerja dari bisnis pembuatan film dan sinetron. Pendapatan dari aplikasi OTT dan Tv berbayar tidak mampu menutup kerugian segmen dari pembuatan film. Sementara itu pendapatan yang cukup signifikan datang dari bisnis bioskop perseroan yang diakumulasi dengan makanan dan minuman bisa bersaing dengan sumber pendapatan utama dari pembuatan film.
Nasib Saham VERN, sebagai skala Production House yang Lebih Kecil
Saham VERN bisa dibilang skala emiten production house film yang lebih kecil dari FILM dan RAAM. Hasilnya, kinerja VERN masih laba Rp8,48 miliar hingga kuartal III/2025. Meski begitu, laba bersihnya tergerus cukup signifikan sekitar 52 persen.
Dengan bisnis utama pembuatan sinetron, VERN memiliki tingkat margin keuntungan bersih sekitar 13 persen.
Nasib Saham FOLK, Bisnis Terkait Media Baru di Media Sosial
FOLK memiliki bisnis media commerce seperti Finfolk, R66 Media, hingga USS Networks dan Folkative, serta Omni-channel retail brand, dan IP serta komunitas. Hasilnya, kinerja bottom line FOLK sejak IPO hingga saat ini masih merugi. Bahkan, tren kinerja pendapatan pasca IPO malah cenderung menurun.
Jika dilihat dari segi kinerja per segmen bisnis, hampir seluruh bisnis FOLK mencatatkan kerugian, kecuali terkait penjualan sabun. kerugian terbesar dari aktivitas holding yang punya rugi Rp5,2 miliar tanpa ada pendapatan. Lalu, bisnis media baru-nya juga rugi Rp2,89 miliar.
Nasib Saham DYAN, Bisnis Terkait Manajemen Event
Saham DYAN menjadi salah satu emiten dengan bisnis manajemen Event yang ada di Indonesia. Meski, tidak membawa narasi Event yang juga mengandalkan live streaming dan lain-lain, tapi prospek bisnis dunia manajemen Event bisa tergambar di sini.
Kalau dilihat dari tren-nya bisnis DYAN ini nggak rugi, dan mampu meraih laba bersih. Tapi, tingkat net profit margin-nya cenderung tipis. Dari kinerja per kuartal III/2025, margin keuntungan bersih-nya sekitar 5 persen dari pendapatan RP947 miliar dan laba bersih Rp50 miliar.
Kesimpulan
Sebenarnya, jika melihat plan IRSX, potensi terbesar ada di bisnis Drama China, tapi ada risiko jika mengenakan skema seperti Drama China di aplikasi buatan mereka yang berbayar cukup tinggi, tingkat konversi keberlajutannya cukup rendah.
Sementara itu, bisnis manajemen konten kreator, production house, hingga event dinilai punya tingkat kehebohan yang cukup tinggi, tapi dari segi margin keuntungan kurang menarik. Apalagi, jika bisnis production house-nya baru mulai merintis dari awal. Sebagai gambaran, RAAM dan VERN cukup tertatih-tatih meski karena mayortias segmennya film sinetron. Tapi, jika mampu bikin film bioskop yang trending, mungkin bisa menolong margin keuntungan IRSX.
Sehingga perubahan bisnis IRSX ini memang menghebohkan, tapi ada potensi underlying bisnisnya tidak se-menghebohkan brandingnya nanti. Meski, kalau harga saham akan tergantung owner-nya juga ya.
Dengan Begitu, Bagaimana Strategi untuk Saham IRSX Jelang Right Issue di Maret 2026?
Yuk join dengan Mikirsaham sekarang untuk bisa dapatkan benefit ini semua:
- Stockpick investing (dividend, value, growth, contrarian) yang di-update setiap bulan (terbarunya akan diseleksi terbaik maksimal 5 masing-masing strategi dengan analisis yang komprehensif)
- Stock Ideas (memberikan gambaran besar saham-saham yang menarik, tapi tidak termasuk stockpick)
- Stockpicking swing trade mingguan (khusus member mikirsaham elite jika kuota masih tersedia)
- Insight saham terkini serta action-nya
- Update porto founder
- IPO dan Corporate Action Digest
- Event online bulanan
- Grup Diskusi Saham
Join ke Member Mikirsaham Pro sekarang juga dengan klik link di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
