Pelajaran Penting Asuransi dari Kecelakaan Kapal di Baltimore

Kecelakaan kapal hebat di Baltimore membuat kita belajar pentingnya punya asuransi sesuai dengan kebutuhan. Gimana maksudnya? baca penjelasan lengkap di sini

Pelajaran Penting Asuransi dari Kecelakaan Kapal di Baltimore

Mikirduit – Kejadian kapal kargon asal Singapura yang menabrak jembatan Baltimore hingga ambruk menjadi pelajaran seberapa penting asuransi tersebut. Memang apa hubungannya dengan kejadian tersebut?

Jadi, kecelakaan kapal yang menabrak jembatan Baltimore itu diperkirakan bisa membuat klaim asuransi terbesar sepanjang sejarah hingga Rp63 triliun. Soalnya, kapal itu akan menerima tuntutan dari AS. Dengan adanya asuransi pelayaran, bisa jadi semua itu akan di-cover oleh pihak asuransi. 

Jika angka klaim asuransi kecelakaan Baltimore itu mencapai Rp63 triliun, berarti bisa melewati rekor bencana kapal pesial mewah Costa Concordia yang tenggelam di perairan Italia pada 2012 silam. 

Dari sini banyak pertanyaannya, apakah perusahaan asuransi bakal rugi dengan kondisi begini? 

Sebenarnya, bisnis asuransi itu ya menghadapi risiko yang tidak terduga. Jika kesepakatan polis pelayaran kapal yang menabrak Baltimore juga menjamin hal nggak terduga seperti menabrak jembatan, berarti akan di-cover. 

Nilainya besar, apakah perusahaan asuransi bakal bangkrut? 

Logikanya begini, peluang risiko terjadi kerugian besar seperti kecelakaan Baltimore ini berapa tahun sekali sih? dari total itu berapa jumlah premi yang telah dikumpulkan oleh perusahaan asuransi, serta seberapa besar keuntungan dari pengeembangan dana premitersebut. 

Sehingga, dengan kata lain, ketika ada risiko besar seperti ini, perusahaan asuransi harusnya tetap bisa bayar klaim, dengan catatan kondisinya tetap sehat dan pengelolaan asetnya juga bagus. 

Pertanyaannya pun di balik, jika beli asuransi, tapi tidak terjadi risiko, berarti nasabah rugi dong?

Ya nggak juga, justru bersyukur karena tidak perlu menghadapi risiko. Apalagi, biaya premi biasanya lebih rendah daripada uang pertanggungan manfaat yang diberikan asuransi. 

Bisa dibilang, membeli asuransi sama dengan persiapan menghadapi potensi pengeluaran akibat risiko yang tidak terduga, dengan biaya yang fix. 

Bayangkan, jika kapal yang menabrak Baltimore tidak memiliki asuransi. Mereka bisa kena tuntuan puluhan triliun rupiah dan bisa membuat perusahaannya pailit karena kesulitan likuiditas cashflow. 

Namun, dengan mengeluarkan biaya premi yang terukur, mereka bisa menghindari risiko terburuk. Meski, risiko terburuk itu belum tentu terjadi.

Persepsi Asuransi Cuma Mau Menerima Premi, Tapi Ribet Kalau Mau Klaim

Salah satu persepsi di masyarakat adalah perusahaan asuransi suka ribet ketika mau klaim manfaat. Sebenarnya, ini biasanya terjadi di asuransi jiwa. Soalnya, kalau asuransi kesehatan sudah ada sistem cashless dan verifikasi kejadian risiko bisa lebih mudah. 

Ada 4 faktor kenapa perusahaan asuransi harus verifikasi penyelidikan sebuah risiko sebelum membayar klaim sehingga kesannya jadi ribet. 4 Faktor ini pun bisa membuat manfaat asuransimu batal. 

Pertama, secara tidak sengaja, lupa memberikan informasi material ke pihak asuransi yang berkaitan dengan risiko. Seperti, ternyata punya historis sakit parah yang pernah dialami di masa lalu. Namun, karena sudah lama, jadi nasabah lupa menyampaikan kepada pihak asuransi secara tidak sengaja. 

Kedua, menyembunyikan informasi material terkait risiko secara sengaja. Alasannya, jika diungkap takut dikenakan premi yang mahal. 

Ketiga, informasi yang diberikan keliru secara tidak sengaja. Jadi, ada kesalahan penyampaian oleh nasabah, serta intepretasi dari pihak asuransi. 

Keempat, informasi yang diberikan dibuat salah secara sengaja untuk melakukan penipuan. 

Untuk poin keempat pernah kejadian di Bekasi, ketika ada pria yang pura-pura meninggal demi mendapatkan uang pertanggungan Rp3 miliar dari pihak asuransi pada 2022.

Deretan hal itu yang membuat pihak asuransi perlu menyelidiki berbagai risiko yang terjadi, apakah benar sesuai polis dan manfaat hingga apakah risiko yang terjadi benar-benar tidak terduga atau malah disengaja. 

Walaupun, ketika pihak asuransi yang melakukan kesalahan pengelolaan dana hingga potensi fraud, nasabah tidak bisa menuntut secara tegas semua dikembalikan. Ini menjadi fakta ironi karena posisi nasabah memang selalu lebih lemah. 

Misalnya, dalam kasus Asuransi Bumiputera yang ada masalah dalam manajemen perusahaan. Akhirnya korban asuransi Bumiputera kesulitan dalam mencairkan klaim polisnya. Bahkan, nilai manfaatnya dipaksa jadi turun dengan iming-iming akan dicairkan. 

Begitu juga dalam kasus Jiwasraya, di mana ada produk yang bernama JS Plan, produk saving plan yang menawarkan tingkat keuntungan sebesar 9-13 persen. Masalahnya, produk saving plan ini memiliki karakter setiap kerugian investasi, yang menanggung adalah perusahaan asuransinya bukan nasabah. 

Alhasil, ketika kinerja investasi tidak sesuai harapan membuat masalah terhadap likuiditas perusahaan asuransi terkait. Nasabah pun terpaksa menerima asuransi tidak sesuai manfaat di awal. 

Kesalahan terbesar dari produk itu adalah menawarkan keuntungan bebas risiko yang terlalu besar dan tidak logis. Coba bayangkan, di mana simpan aset dapat cuan 9-13 persen per tahun tanpa risiko? bisa di obligasi korporasi, itu pun yang rating-nya rendah sehingga risiko gagal bayar tetap ada.

Update Nasib Asuransi Bumiputera, Jiwasraya, Wanartha Life, dan Kresna Life
Siapa yang termasuk korban dari polis nyangkut asuransi Bumiputera, Jiwasraya, Wanaartha Life, dan Kresna Life. Cek cerita lengkapnya di sini.

Kesimpulan

Jadi, asuransi itu penting gak sih? jawabannya penting jika sesuai dengan kebutuhanmu. Misalnya, dalam kasus tabrakan kapal di Baltimore tersebut, si pembeli asuransi sudah tahu ada risiko tidak terduga dalam perjalanan kapal. Sehingga, dari pada nombok bayar risiko yang tidak terduga seberapa besarnya, mending ambil biaya fix dengan bayar premi asuransi. 

Namun, untuk masyarakat ritel banyak yang kena jebakan betmen penawaran asuransi unitlink yang punya plan investasi. Mereka bukannya dijelaskan manfaat asuransi lebih detail dan sesuai kebutuhannya atau tidak, tapi malah dijanjikan keuntungan yang manis. 

Untuk itu, kebijakan asuransi unit link juga diubah oleh OJK agar lebih bisa mengakomodir risiko bagi nasabah. Nama produknya pun diubah menajdi PAYDI. 

Nah, kamu saat ini lagi merasa butuh asuransi apa nih?