Indeks Sektor Industri Paling Jeblok di IDX, Berikut Saham yang masih Bisa Dilirik

Sektor energi menjadi yang terpuruk paling parah di sepanjang 2026. Lalu,apakah ada saham yang menarik di sektor tersebut?

saham sektor industri

Mikirduit – Sektor industri menjadi sektor yang mengalami penurunan terdalam sepanjang 2026 berjalan (hingga 20 Februari 2026). Lalu, apakah ada saham yang menarik dilirik di sektor ini?

Highlight

  • Sektor industri mengalami tekanan terdalam di awal 2026, namun saham HEXA tetap menarik karena potensi dividend yield tinggi mencapai 10,9% meskipun menghadapi persaingan ketat dari merek alat berat asal Tiongkok.
  • Rencana akuisisi saham BLUE oleh Dragonmine Mining memicu spekulasi masuknya aset tambang nikel yang terafiliasi dengan jaringan investor Tiongkok, walaupun harga sahamnya saat ini sudah sangat tinggi dan berisiko untuk dikejar.
  • Penurunan kinerja sektor industri didominasi oleh koreksi saham-saham yang sempat populer pada 2025, sehingga investor disarankan lebih selektif dalam memilih emiten dengan fundamental kuat dan momentum yang jelas.
  • Pilih paket berlangganan Mikirsaham sesuai dengan karakter dan kebutuhanmu sekarang juga, dengan klik di sini

Jika melihat komposisi sektor industrial IDX, penekan kinerja indeks tersebut sepanjang tahun berjalan adalah penurunan yang terjadi di beberapa saham booming pada 2025 kemarin. Misalnya, 10 saham yang mengalami penurunan terdalam antara lain, IMPC, PADA, IKAI, PIPA, ARKA, BHIT, NTBK, LABA, JTPE, dan KOBX. Dari 10 saham itu, IMPC, PADA, PIPA, NTBK, dan LABA menjadi beberapa saham booming di sektor ini.

Sementara itu, sepanjang 2026, saham jumbo sektor industri seperti ASII juga mengalami penurunan sebesar 3,3 persen. Namun, dengan posisi harga sekarang dan potensi prospek, serta volatilitas harga sahamnya, kami menilai agak riskan untuk investasi.

Lalu, apa saja saham industri yang bisa dilirik karena valuasi sudah murah hingga punya momentum? 

Kami akan bagi jadi beberapa jenis saham industri yang dibahas, yakni:

  • Saham yang sudah murah dan fundamental menarik
  • Saham yang punya momentum booming

Saham HEXA, Bertaruh Pemulihan Kinerja di Tengah Gempuran Alat Berat China

HEXA menjadi salah satu saham yang memperjual-belikan alat berat yang utamanya bermerek Hitachi. Persaingan ketat dengan UNTR yang menjual merek Komatsu dan Grup Trakindo CATL. Selain itu, persaingan ketat lagi dari alat berat China seperti Sany dan XCMG.

Manajemen HEXA mengakui persaingan dengan banyaknya produk dari China yang memberikan kemudahan fasilitas kredit ke pelanggan. Perseroan juga akan melakukan beberapa untuk mengantisipasi risiko tersebut dengan bekerja sama dengan manufaktur produsen agar produk yang dijual bisa lebih kompetitif dari segi harga dan kualitas tetap terjaga.

Menurut klaim manajemen, penjualan produk utama perseroan di Mid-size Ekskavator, mini Ekskavator, dan Wheel Loader di 2025  naik signifikan (terutama hingga Juni 2025), sekitar 147 persen dibandingkan dengan periode sama 147 persen. Total yang terjual sekitar 2.900 unit. Hal itu didorong oleh adanya Proyek Strategis Nasional di sektor pangan dan energi.

Adapun, boomingnya sektor perkebunan tidak menjadi sentimen cukup kuat bagi HEXA. Manajemen menyebutkan, di sektor perkebunan memiliki persaingan yang lebih ketat.

Sementara itu, HEXA memiliki eksposure yang lumayan di sektor pertambangan. Hal itu terlihat saat adanya kenaikan pendapatan yang signifikan pada 2022-2023 pasca booming harga komoditas karena perang Rusia-Ukraina. Namun, setelahnya mulai kembali melambat, meski kinerja full year 2025 mencatatkan hasil pendapatan rata-rata kuartalan yang selalu lebih baik dari 2024. Pendapatan HEXA berpotensi naik 8,6 persen menjadi Rp9 triliun pada FY 2025 yang berakhir di Maret 2026 (tahun buku HEXA)

Namun, catatannya, dari segi laba bersih justru malah tetap tertekan. Dengan ekspektasi kami ada penurunan sekitar 6,4 persen menjadi Rp462 miliar. Penekan laba bersih HEXA terjadi di kuartal III/2025 yang secara year on year turun 40 persen menjadi Rp95 miliar. Padahal, biasanya penjualan HEXA tembus Rp100 miliar dalam 3 bulan di periode tersebut.

Meski begitu, manajemen masih menargetkan laba bersih senilai 34,9 juta dolar AS yang jika dikonversi ke rupiah saat ini sekitar Rp570 miliar. Jika mencapai realisasi target manajemen, kinerja laba bersih HEXA berpotensi tumbuh 31 persen.

Namun, untuk mencapai itu, HEXA harus mampu mencatatkan laba bersih lebih dari Rp200 miliar (yang mana level ini terakhir bisa dicapai saat booming komoditas di 2023).

Dengan begitu, bagaimana potensi dividen HEXA? 

Dengan menggunakan asumsi payout ratio sama seperti tahun lalu di 73 persen, Jika menggunakan proyeksi laba bersih kami dengan asumsi EPS menjadi Rp555 per saham, berarti potensi dividen di September atau Oktober 2026 sekitar Rp405 per saham. Berarti tingkat dividend yield sekitar 8,9 persen.

Jika sesuai proyeksi manajemen dengan asumsi EPS di Rp678 per saham, berarti dividen sekitar 495 per saham. Jika dihitung dengan harga saat ini (23 Februari 2026), tingkat dividend yield bisa mencapai 10,9 persen.

Teka-teki Dragonmine Mining di Saham BLUE yang Harganya Sudah Tinggi

Saham BLUE yang dikenal sebagai salah satu saham dividen yang tidak terlalu likuid tiba-tiba mengumumkan perusahaan akan diakuisisi oleh Dragonmine Mining Ltd, yang dari namanya ada aroma perusahaan tambang sejak November 2025.

Teranyar, pengendali BLUE saat ini sudah melakukan CSPA dengan Dragonmine Mining yang artinya proses akuisisi tinggal menunggu berbagai persyaratan termasuk pembayaran kedua belah pihak.

Namun, belum jelas siapa sebenarnya di balik Dragonmine Mining yang mengakuisisi BLUE tersebut. Jika merujuk ke Direktur Dragonmine Mining Dua Shangmeng, sosok ini disebut ada afiliasi dengan PT Wana Kencana Mineral (WKM). Hal ini tertulis dari artikel Jejak Perebutan Nikel dan Kriminalisasi Warga di Halmahera Timur dari Mongabay pada 28 November 2025

Du Shangmeng disebut jadi salah satu yang membawa modal investasi China ke Wana Kencana Mineral, yang mengelola tambang nikel seluas 24.700 hektar hingga 2036 di Halmahera Timur. Menurut kabar, produksi bijih nikel perusahaan itu sekitar 65.000 wet metrik ton per tahun.

Du Shangmeng, disebut membawa Huacai (Hongkong Ltd) sebagai pemegang saham signifikan di perusahaan tersebut. Jika didalami lebih jauh, Huacai ini ada keterkaitan dengan Huayou Cobalt.

Jika merujuk kesepakatan sudah mencapai tahap CSPA, berarti selanjtunya momentum yang ditunggu:

  • Resmi transaksi pembayaran dan Dragonmine mining menjadi pemegang saham BLUE
  • Mandatory tender offer setelah beberapa bulan pasca transaksi. jika dihitung harga rata-rata tertinggi 90 hari sebelum 5 November 2025 (saat pengumuman pertama kali) di Rp476 per saham, jika harga transaksi di bawah Rp476 berarti harga MTO adalah Rp476.
  • Pemindahan aset dengan right issue atau berbagai strategi lainnya

Catatannya, kalau melihat karakter Dua Shangmeng ini lebih ke pihak ketiga yang mencarikan investor. Sehingga belum tentu yang dimasukkan adalah aset Huacai tersebut (meski korelasinya bisa cukup kuat).  

Posisi saham BLUE saat ini juga udah cukup tinggi menyentuh harga Rp6.000-an per saham. Tingkat risiko sudah cukup tinggi untuk mengejar harga. Serta, ketidakpastian belum tentu barang Huayou (anak usaha terkait) yang dioper ke sini juga.

Namun, mengingat masih banyaknya ketidakpastian di saham BLUE, serta volatilitas yang sudah terlalu tinggi, kami menyarankan wait and see hingga ada konsolidasi harga dan beberapa data yang lebih pasti terlebih dulu.

Lalu, Apa 2 Saham Industri yang Menarik Saat Indeks Sektoralnya Jeblok?

Join Mikirsaham sekarang dengan benefitnya mencakup:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
  • Event online bulanan
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private

Untuk detail kamu bisa baca lebih detail terkait benefit dengan klik di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini