Harga Nikel Terbang 24% Sebulan, Saham NCKL-INCO Manggung Lagi!

Saham nikel terbang puluhan persen hanya dalam sebulan, mengikuti harga komoditas nikel di LME yang naik 24 persenmenembus US$ 18.000 per ton. Apakah saham nikel masih menarik dilirik atau wait and see dulu?

saham nikel

Mikirduit - Saham-saham nikel mulai manggung lagi, bahkan sudah bergerak puluhan persen dalam sebulan, menyusul harga nikel di LME yang berhasil tembus US$ 18.000 per ton. Apakah masih menarik untuk masuk di saham nikel atau wait and see dulu? 

Highlight
  • Harga nikel terbagn 24 persenhanya dalam sebulan menembus level US$ 18.000 per ton, setara level tertinggi dalam kurun waktu lebih dari 15 bulan. 
  • Indonesia dinilai menjadi penyebab harga naik karena akan mengurangi produksi sampai 34 persenpada tahun ini. 
  • Sederet saham nikel ikut naik 
  • Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini

Harga nikel dari akhir tahun lalu terus bergerak liar, hanya dalam hitungan hari memasuki awal 2026, harga nikel berhasil terbang dari level  US$ 14.000 per ton menembus US$ 18.000 per ton, kalau ditarik sebulan berhasil naik sekitar 24,15 persen. 

Harga nikel saat ini berada pada level tertinggi-nya selama lebih dari 15 bulan, padahal sebelumnya pada pertengahgan Desember 2025 harga nikel itu berada di posisi terendah dalam kurun waktu setahun lebih. 

Beberapa analis asing bahkan memproyeksi reli harga nikel akan berlanjut dalam jangka pendek menuju level US$ 20.000 per ton. 

Menurut kami ada empat hal yang membuat harga nikel ini terus naik, berikut kami ulas satu per satu : 

Indonesia Pangkas Produksi Nikel di 2026 

Pertama, Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dunia mulai memberi sinyal pengetatan pasokan sebagai upaya menopang harga. 

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengonfirmasi bahwa pemerintah tengah menyiapkan kebijakan pemangkasan produksi bijih nikel nasional pada 2026, meski belum merinci besaran pengurangannya. 

Menurut Bahlil, langkah ini bertujuan menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan nikel di pasar global agar harga tetap stabil.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Meidy Katrin Lengkey, menyampaikan pada pertengahan Desember 2025 bahwa pemerintah berencana menetapkan kuota produksi bijih nikel sekitar 250 juta ton dalam RKAB 2026. Angka ini turun sekitar 34 persen dibanding target RKAB 2025 yang mencapai 379 juta ton menjadi 250 juta ton, sebagai strategi untuk menahan tekanan penurunan harga nikel.

Dari sisi korporasi karena ada aturan tersebut, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mengumumkan bahwa hingga 2 Januari 2026, mereka belum mengantongi persetujuan RKAB 2026. Akibatnya, seluruh aktivitas operasional pertambangan di wilayah IUPK harus dihentikan sementara sampai izin tersebut resmi diterbitkan.

Konsensus Proyeksi Surplus, Tapi Stok Belum Nyata

Faktor kedua, yang menyebabkan harga nikel naik adalah realita di pasar ternyata mulai tidak sesuai dengan ekspektasi. 

International Nickel Study Group (INSG) misalnya, sempat memproyeksikan surplus produksi nikel sekitar 209.000 metrik ton. Namun surplus tersebut belum benar-benar tercermin pada stok fisik. 

Buktinya, stok nikel di London Metal Exchange (LME) yang hanya meningkat sekitar 93.000 ton dalam periode November 2024 hingga November 2025. 

Kemudian dalam riset S&P Global yang rilis pada 29 Desember 2025 lalu, pelaku pasar menyoroti sistem RKAB yang berkontribusi pada persepsi “oversupply” itu terlalu berlebihan. 

Industrial and Commercial Bank of China ikut menganggap bahwa RKAB dimanfaatkan oleh sebagian pelaku usaha untuk menimbun kuota secara spekulatif alih–alih memperbesar kapasitas produksi, sehingga menciptakan “paper surplus” yang hampir tidak mencerminkan kondisi pasar fisik yang sebenarnya.

Terlepas dari dinamika jangka pendek tersebut, S&P Global tetap melihat posisi Indonesia kian dominan dalam jangka panjang. Pangsa produksi nikel Indonesia diperkirakan meningkat dari 59,9 persen pada 2025 menjadi 74,1 persen pada 2035.

Menakar Peluang Saham Emas RI Dilirik Van Eck GDX di Maret 2026, Siapa Paling Potensial?
Seiring dengan kenaikan harga emas dunia, harga saham perusahaan emas di RI juga ikut terbang sejak tahun lalu. Sebagian dinilai bisa masuk ke ETF populer, Van Eck Gold Miner (DGX). Kira-kira siapa paling potensial?

Gangguan Musiman di Filipina 

Ketiga, pasar nikel juga dipengaruhi oleh gangguan musiman di Filipina, yang merupakan salah satu pemasok bijih nikel terbesar dunia. Setiap tahun, Filipina mengalami musim hujan yang cukup panjang, terutama pada paruh akhir hingga awal tahun. 

Curah hujan tinggi membatasi aktivitas tambang terbuka (open pit), menghambat penambangan, serta mengganggu logistik pengiriman bijih ke pelabuhan. Akibatnya, ekspor bijih nikel dari Filipina cenderung turun secara musiman, sehingga pasokan global berkurang dan menciptakan tekanan ke atas pada harga nikel, khususnya ketika pasokan dari negara lain juga sedang dibatasi.

Permintaan nikel untuk EV terus bertumbuh

Terakhir, faktor demand terhadap harga nikel juga masih mengikuti dari prospek pertumbuhan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang diperkirakan mencapai sekitar 15 persen-30 persen sampai 2030. 

Kurang dari lima tahun,  pasar memperkirakan permintaan nikel global untuk baterai EV bisa mencapai sekitar 1,4 juta metrik ton jika tren adopsi EV dan penggunaan baterai berenergi tinggi terus meningkat.

Melansir dari IRENA report, memperkirakan penjualan EV dunia akan terus tumbuh dua digit seiring dorongan transisi energi, kebijakan dekarbonisasi, serta penurunan biaya baterai. 

Nikel merupakan komponen kunci dalam baterai lithium-ion berbasis nickel-rich cathode (seperti NCM dan NCA) karena berperan meningkatkan kepadatan energi dan jarak tempuh kendaraan. Ketika penjualan EV tumbuh agresif, permintaan nikel untuk sektor baterai ikut meningkat secara signifikan.

Meski permintaan nikel dari EV diproyeksikan tumbuh kuat, ada faktor yang bisa memoderasi pertumbuhan ini, seperti pergeseran ke teknologi baterai alternatif (misalnya LFP yang lebih murah dan bebas nikel), serta fluktuasi penjualan EV di pasar tertentu. Namun dalam proyeksi dasar (baseline), pertumbuhan permintaan nikel tetap kuat seiring ekspansi EV global.

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini

Saham-saham nikel ikut manggung 

Berkat sentimen kenaikan harga nikel dunia yang terus naik, membuat saham-saham nikel merespon dengan kenaikan yang ciamik, bahkan ada yang mencetak Auto Reject Atas (ARA) baru-baru ini. 

Sebut saja ada saham PT PAM Minerals Tbk (NICL) pada perdagangan kemarin Selasa (6/1/2025) berhasil menyentuh ARA sampai 25 persen, disusul saham PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) yang kemarin ikut naik lebih dari 21 persen. 

Penguatan juga masih berlangsung sampai Rabu hari ini (7/1/2025), saham DKFT masih naik sekitar 3,65 persen. 

Selain itu, ada saham nikel lain seperti  PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang hari ini bergerak lebih moncer, masing-masing naik kisaran 9 persen - 13 persen. 

Adapun berikut pergerakan harga saham nikel dalam beberapa periode : 

Melihat pergerakan harga saham nikel yang sedang moncer memang wajar bikin kita tergiur untuk ikut masuk. Tapi tetap penting untuk menjaga strategi agar tidak terjebak FOMO.

Jika harga sudah naik signifikan sementara kita belum punya posisi, lebih bijak untuk menunggu. Dalam pasar saham, hampir selalu ada fase pullback atau koreksi sehat setelah reli kencang. Di momen itulah biasanya peluang masuk dengan harga yang lebih rasional muncul. Memaksakan beli saat harga sudah melonjak justru memperbesar potensi salah timing.

Saat harga sudah reli jauh, risk–reward ratio ikut menipis. Artinya, risiko koreksi yang kita hadapi jauh lebih besar dibandingkan potensi keuntungan tambahan yang tersisa. Dalam kondisi seperti ini, peluang “nyangkut di pucuk” lebih tinggi dibanding peluang cuan lanjutan yang optimal.

Strategi yang lebih aman adalah menunggu koreksi, atau masuk secara bertahap (scaling in) ketika harga mulai stabil di area yang lebih sehat. Dengan begitu, keputusan investasi tetap berbasis perhitungan, bukan emosi sesaat. Di pasar, kesabaran sering kali justru menjadi sumber keuntungan terbesar.

Dapatkan Insight Saham hingga Diskusi serta Konsultasi Bersama hampir 1.000 Investor Lainnya di Mikirsaham

Yuk join dengan Mikirsaham sekarang untuk bisa dapatkan benefit ini semua:

  • Stockpick investing (dividend, value, growth, contrarian) yang di-update setiap bulan (terbarunya akan diseleksi terbaik maksimal 5 masing-masing strategi dengan analisis yang komprehensif)
  • Stock Ideas (memberikan gambaran besar saham-saham yang menarik, tapi tidak termasuk stockpick)
  • Stockpicking swing trade mingguan (khusus member mikirsaham elite jika kuota masih tersedia)
  • Insight saham terkini serta action-nya
  • Update porto founder
  • IPO dan Corporate Action Digest
  • Event online bulanan
  • Grup Diskusi Saham

Join ke Member Mikirsaham Pro sekarang juga dengan klik link di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini