GRAB Raih Laba Bersih, GOTO masih Pamer Adjusted EBITDA, Begini Update Terbaru Keduanya

Duo emiten ride hailing, GoTo dan Grab sudah merilis kinerja sepanjang 2025. Kira-kira hasilnya gimana? adakah update juga soal kabar merger mereka? 

saham GOTO dan Grab

Mikirduit - GoTo dan Grab sudah merilis laporan keuangan selama setahun lalu, hasilnya cukup kontras, yang satu sudah laba, satunya lagi masih defisit, kira-kira gimana prospeknya dan adakah update soal kabar merger mereka berdua? 

Key Takeaways
  • Grab mencatat kinerja sangat kuat pada 2025 dengan pendapatan tumbuh 20 persen, laba bersih sekitar Rp3,3 triliun, serta arus kas positif yang menandakan bisnisnya sudah masuk fase profitabilitas.
  • GoTo berhasil meningkatkan profitabilitas secara signifikan dengan lonjakan adjusted EBITDA 544 persen dan arus kas positif, namun secara akuntansi masih mencatat rugi operasional sekitar Rp378 miliar akibat kerugian di bisnis keuangan dan biaya korporasi.
  • Isu merger Grab dan GoTo hingga kini masih sebatas spekulasi karena belum ada notifikasi resmi ke regulator, sementara tantangan utama berasal dari persoalan valuasi, struktur kepemilikan saham, serta potensi pengawasan ketat dari regulator persaingan usaha.
  • Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.

Saham Grab 

Perlu dicatat dulu, saham Grab itu listing di NASDAQ. Jadi kinerja-nya, akan kami ulas dengan mengonversi nilai dolar AS menjadi rupiah dengan kurs Rp16.500 per dolar AS. 

Sepanjang 2025 lalu, Grab mencatat kinerja yang solid. Pendapatan perusahaan tumbuh 20 persen secara tahunan (YoY) menjadi 3,37 miliar dolar AS atau sekitar Rp55,6 triliun. Pertumbuhan ini didukung oleh peningkatan aktivitas layanan mobility dan deliveries di seluruh ekosistem Grab.

Dari sisi profitabilitas, Adjusted EBITDA Grab mencapai 500 juta dolar AS atau sekitar Rp8,25 triliun, melonjak 60 persen YoY. perseroan juga mampu mencatatkan laba bersih sekitar 200 juta dolar AS atau sekitar Rp3,3 triliun, berbalik dari posisi rugi pada tahun sebelumnya.

Untuk aktivitas platform, On-Demand GMV (nilai transaksi mobility dan delivery) meningkat 21 persen YoY menjadi 22,14 miliar dolar AS atau sekitar Rp365 triliun, dengan jumlah pengguna aktif bulanan rata-rata mencapai 47,2 juta pengguna, naik 14 persen dibanding tahun sebelumnya. Tercatat, Grab hanya merugi di bisnis keuangannya saja.

Dari sisi kas, Grab mencatat adjusted free cash flow positif 290 juta dolar AS atau sekitar Rp4,8 triliun, meningkat 78 persen YoY. Hal ini menunjukkan perbaikan efisiensi operasional serta kemampuan monetisasi platform yang semakin kuat. 

Secara keseluruhan, kinerja Grab menunjukkan kombinasi pertumbuhan pendapatan yang kuat, peningkatan profitabilitas, serta arus kas positif, yang memperkuat fondasi bisnis menuju ekspansi lebih lanjut pada 2026.

💡
Mau mulai investasi saham US dan berpeluang dapat saham GRAB? Join XTB sekarang juga dengan klik link ini serta gunakan kode MIKIRDUIT!

Saham GOTO 

Beralih ke GOTO, pada sepanjang 2025 lalu berhasil mencatat peningkatan profitabilitas. 

Pendapatan bersih grup meningkat 24 persen YoY menjadi Rp18,32 triliun, didorong oleh ekspansi ekosistem layanan serta peningkatan aktivitas pengguna.

Dari sisi profitabilitas, Adjusted EBITDA GoTo melonjak tajam menjadi Rp2,01 triliun, naik sekitar 544 persen YoY dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya Rp312 miliar. Pada kuartal IV saja, adjusted EBITDA mencapai Rp672 miliar, meningkat 106 persen YoY, menunjukkan peningkatan efisiensi operasional dan monetisasi platform.

Aktivitas transaksi di ekosistem GoTo juga tumbuh pesat. Group GTV mencapai Rp685,6 triliun, naik sekitar 32 persen YoY, sementara core GTV meningkat 49 persen YoY menjadi Rp399,8 triliun. Jumlah pengguna bertransaksi tahunan juga naik menjadi 66 juta pengguna, memperlihatkan semakin luasnya penetrasi layanan GoTo di pasar.

Kontributor utama pertumbuhan datang dari bisnis financial technology dan on-demand services. Unit fintech mencatat GTV Rp659,6 triliun dengan pendapatan Rp5,78 triliun, sementara bisnis on-demand services menghasilkan pendapatan Rp12,6 triliun dengan adjusted EBITDA Rp1,39 triliun.

Segmen on-demand service (alias Gojek) juga sudah mampu mencatatkan laba usaha positif senilai Rp888 miliar. Namun, secara keseluruhan, GOTO masih merugi karena ada catatan kerugian di bisnis keuangan senilai Rp396 miliar, serta biaya korporasi yang mencapai Rp1,4 triliun.

Dari sisi kas, perusahaan mencatat adjusted free cash flow positif sebesar Rp966 miliar sepanjang 2025, mencerminkan perbaikan kualitas arus kas dan disiplin dalam pengelolaan biaya operasional.

Namun demikian, secara laporan akuntansi GoTo masih mencatatkan kerugian operasional sekitar Rp378 miliar pada 2025, meskipun angka ini jauh membaik dibandingkan kerugian lebih dari Rp2 triliun pada tahun sebelumnya.

Gimana update merger mereka? 

Dari tahun lalu sebenarnya isu merger antara GOTO dan Grab sudah cukup ramai diperbincangkan di kalangan pelaku pasar. Namun sampai saat ini kepastiannya masih belum terlihat jelas.

Statusnya kini masih sebatas spekulasi strategis karena belum ada pengumuman resmi maupun keterbukaan informasi dari kedua perusahaan. 

Bahkan Komisi Pengawas Persaingan Usaha juga menyatakan belum menerima notifikasi merger dari pihak terkait, sehingga secara hukum proses tersebut belum dianggap berjalan.

“Belum, belum (ada notifikasi). Di media kan masih naik-turun terus, ya (kabar rencana merger). Di KPPU belum ada notifikasi, ya,” ungkap Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Eugenia Mardanugraha pada Senin (26/1/2026), dikutip dari Antara.

Narasi Mengurangi Impor Solar dengan B50 Muncul Lagi, Begini Prospek Saham CPO
Program B50 yang mengandalkan minyak sawit (CPO) digadang bakal menjadi solusi untuk ketahanan energi nasional kalau perang berkepanjangan. Beberapa emiten CPO juga sudah merilis laporan keuangan 2025, kira-kira siapa paling menarik dilirik?

Dari sisi manajemen GoTo, Direktur Utama Hans Patuwo sempat menyampaikan pada Januari 2026 bahwa merger bukan menjadi fokus utama perusahaan saat ini. 

GoTo disebut masih memprioritaskan peningkatan kinerja operasional dan mengejar target adjusted EBITDA sekitar Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun pada 2026. 

Meski demikian, manajemen juga menyatakan siap mengikuti arahan pemerintah jika nantinya ada kebijakan strategis terkait konsolidasi industri digital.

Beberapa faktor disebut menjadi hambatan utama dalam pembahasan merger ini. Salah satunya adalah persoalan valuasi serta struktur kepemilikan saham strategis di GoTo. 

Posisi Telkomsel yang memiliki sekitar 2 persen saham GoTo sering disebut sebagai salah satu titik sensitif karena saham tersebut dibeli pada valuasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan harga pasar saat ini. 

Jika dilepas di harga yang lebih rendah, ada potensi munculnya isu kerugian negara mengingat Telkomsel merupakan anak usaha dari Telkom Indonesia.

Selain itu, potensi merger juga akan menghadapi tantangan regulasi. Jika konsolidasi terjadi, gabungan Grab dan GoTo berpotensi menguasai pangsa pasar yang sangat besar di sektor ride hailing dan layanan pengantaran di Indonesia. Hal ini membuat pengawasan dari regulator persaingan usaha kemungkinan akan sangat ketat.

Di tengah berbagai spekulasi tersebut, pemerintah juga disebut ikut memantau perkembangan situasi. 

Beberapa rumor pasar menyebutkan kemungkinan keterlibatan Danantara sebagai investor atau pemegang golden share jika konsolidasi benar benar terjadi. Tujuannya untuk menjaga kepentingan nasional serta memastikan kedaulatan digital Indonesia tetap terjaga.

Meski begitu, saat ini belum ada keputusan resmi, jika nantinya terjadi merger, kami menilai ada potensi harga saham GOTO akan merangkak naik menuju Rp70 - Rp100 per saham, karena valuasi akan meningkat, biaya lebih efisien, serta berkurangnya persaingan di sektor ride hailing sampai layanan pesan-antar.

Irisan Pemegang Saham Antara GRAB dengan GOTO

Adapun, jika merger GRAB dan GOTO benar-benar terjadi dengan skema hanya ambil Gojek saja atau keseluruhan, hal itu akan melibatkan banyak pihak.

Misalnya GOTO dengan free float tembus 76,93 persen itu terdiri dari sekitar 20 investor dengan kepemilikan di atas 1 persen. Secara persentase, 20 investor dengan kepemilikan di atas 1 persen itu mencapai 48,78 persen.

Beberapa pemegang saham GOTO di atas 1 persen antara lain:

  • SVF SUbco (Singapore) Pte. Ltd sebesar 7,65 persen
  • Taobao China Holding Ltd. 7,43 persen
  • UBS AG Hong Kong 2,68 persen
  • Google Asia Pacific Pte.Ltd sekitar 2,48 persen
  • Tencent Mobility Ltd sekitar 2,48 persen
  • GOTO Peopleverse Fund sekitar 2,47 persen
  • Peak XV Partners Goto Investments Holding sekitar 2,47 persen
  • PT Saham Anak Bangsa sekitar 2,26 persen
  • Telkomsel sekitar 1,99 persen
  • Capret (SG) Pte. Ltd sekitar 1,98 persen
  • Saham ASII sekitar 1,56 persen
  • PEAK XV Partner Investment IV sekitar 1,53 persen
  • WP Investment VI.B.V sekitar 1,46 persen
  • Citibank Hong Kong S/A Bhinneka Holdings (22) Ltd sekitar 1,43 persen
  • Platinum Orchid B 2018 RSC Ltd sekitar 1,28 persen
  • PT Provident Capital Indonesia sekitar 1,25 persen
  • William Tanuwijaya sekitar 1,25 persen
  • Morgan Stanley sekitar 1,22 persen
  • CGS Internasional Securities Singapore sekitar 1,09 persen

Sementara itu, top 10 institusional holder saham GRAB antara lain:

  • UBER Tech sekitar 13,07 persen
  • SB Investment Advisers (UK) Ltd sekitar 9,8 persen
  • Softbank Vision Fund LP sekitar 9,8 persen
  • Toyota Motor Corporation sekitar 5,44 persen
  • MUFG Bank sekitar 3,49 persen
  • Blackrock Inc sekitar 3,16 persen
  • DiDi Global Inc. sekitar 2,97 persen
  • Tiger Global Management LLC ekitar 2,27 persen
  • Morgan Stanley Investment Management Inc. sekitar 1,87 persen
  • Invesco sekitar 1,84 persen

Dari sebagian list pemegang saham institusi di GOTO dan GRAB ini ada beberapa kesamaan seperti:

Pertama, GOTO dan GRAB sama-sama dimiliki oleh Softbank. GOTO dimiliki Softbank melalui SVF SUbco (Singapore) Pte. Ltd sebesar 7,65 persen, sedangkan Softbank Vision Fund LP memiliki saham Grab sekitar 9,8 persen.

Kedua, hubungan secara tidak langsung dari ASII yang menjadi pemegang saham GOTO adalah mitra strategis dari Toyota yang juga memegang saham Grab.

Ketiga, GOTO dan GRAB sama-sama dimiliki sebagian sahamnya oleh Tencent. Tercatat, Tencent Mobility Ltd memegang sekitar 2,48 persen saham GOTO, sedangkan melalui DIDI, Tencent juga punya kepemilikan di saham GRAB sekitar 2,97 persen. Apalagi, kalau dilihat perputaran kepemilikan ridehailing, UBER memegang saham Grab dan DIDI juga.

Dari sini, jika ada dorongan juga dari Danantara yang sempat bersemangat untuk mengarahkan ke merger akuisisi dengan Grab, bukan tidak mungkin hal itu terjadi.

Namun, belum ada kabar lebih pasti terkait rencana transaksi tersebut.

Mau Dapat Insight dan Idea Saham Investing hingga Trading dengan Strategi Sesuai Kebutuhanmu?

Kamu bisa dapatkan semuanya di Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
  • Event online bulanan
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini