Deretan Saham Bank Menengah dengan Free Float Tipis, Berpotensi Delisting Semua?

Lima saham bank menghadapi tuntutan kenaikan free float. Simak rencana rights issue BRIS, rumor delisting BNGA, serta opsi BDMN, BTPN, dan BNLI beserta risikonya.

Share
saham keuangan

Mikirduit - Otoritas bursa mendorong kenaikan minimum free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen secara bertahap dengan deadline bertahap per Maret 2027 harus sudah mencapai 12,5 persen. Dari sini, ada beberapa saham bank menengah yang belum memenuhinya, lalu bagaimana prospeknya, apakah akan ada yang delisting atau ada strategi lainnya?

Key Takeaways

  • Ada dua tahun efektif tenggat waktu pemenuhan free float untuk saham bank kelas menengah. 
  • BRIS sudah tetapkan mau rights issue jumbo, BNGA mau menyerah alias delisting, sisanya masih mencermati arah pasar. 
  • Ada beberapa opsi untuk meningkatkan free float, mulai dari pelepasan saham pengendali, rights issue, hingga private placement.
  • Cek pilihan saham investasi dengan perhitungan yang jelas antara peluang dan risiko, join Mikirsaham dengan klik link di sini

Aturan ini menjadi perhatian, utamanya kami memantau saham bank menengah seperti PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA), PT Bank Danamon Tbk. (BDMN), PT Bank Tabungan Pensiun Nasional Tbk. (BTPN), PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS), dan PT Bank Permata Tbk. (BNLI). Lantas, kapan tenggat pemenuhannya dan apa saja opsi aksi korporasi yang bisa ditempuh masing-masing emiten?

Jadwal Pemenuhan Free Float 15 Persen

BEI menetapkan masa transisi untuk meningkatkan minimum free float menjadi 15 persen. Tenggat pemenuhan dibedakan berdasarkan kapitalisasi pasar dan besaran free float awal emiten.

Berdasarkan aturan tersebut, ada lima bank kelas menengah yang menjadi perhatian kami, mereka adalah BNGA, BDMN, BTPN, BRIS, dan BNLI. 

Semuanya punya free float di bawah 12,5 persen, yang artinya punya tenggat pemenuhan jadi 15 persen sampai 31 Maret 2028. Waktu efektifnya hanya sekitar 2 tahun dari saat ini. 

Menurut pantauan kami, dengan waktu yang bisa dibilang jangka pendek ini opsi utama untuk mendongkrak free float adalah aksi korporasi strategis, tetapi ada juga yang memilih menyerah mau delisting. Mari kita ulas satu per satu langkah dan prospek mereka hadapi aturan baru ini: 

BNGA Dirumorkan Buka Opsi Delisting 

menjadi salah satu emiten bank yang menghadapi tantangan besar dalam memenuhi aturan free float baru BEI. Per September 2026, porsi saham publik BNGA tercatat sebesar 7,50 persen, sedangkan CIMB Group menguasai sekitar 91,5 persen saham perusahaan.

Alih-alih langsung melepas saham ke publik, CIMB Group justru membuka opsi voluntary delisting atau keluar dari bursa. Opsi ini masih dalam tahap awal dan memerlukan pembahasan lebih lanjut dengan regulator.

Salah satu pertimbangan CIMB Group adalah menjaga keberlanjutan kontribusi dividen BNGA terhadap grup. Induk usaha juga menilai BNGA masih memiliki potensi bisnis jangka panjang, terutama di segmen wealth management, perbankan korporasi, nasabah affluent, dan perbankan syariah.

Namun, delisting bukan keputusan final. Jika BNGA tetap mempertahankan status perusahaan terbuka. Apalagi, sehari setelah rumor tersebut CIMB Group membantah terkait kabar tersebut.

BRIS Umumkan Rencana Right Issue, Harga Pelaksanaan Berpotensi di Bawah Harga Pasar?

Berikutnya ada BRIS yang punya rencana aksi korporasi yang lebih konkret dibandingkan beberapa bank lainnya. BRIS menyiapkan rights issue dengan menerbitkan maksimal 6,8 miliar saham Seri B.

Aksi korporasi ini ditujukan untuk memperkuat pendanaan pembiayaan sekaligus membantu memenuhi ketentuan free float BEI. BRIS menargetkan pelaksanaannya rampung pada kuartal I 2027.

Rencana tersebut dijadwalkan untuk dimintakan persetujuan dalam RUPS Luar Biasa pada 6 November 2026. Karena itu, jumlah final saham baru, harga pelaksanaan, struktur transaksi, serta partisipasi pemegang saham utama masih perlu menunggu keputusan dan dokumen resmi perusahaan.

Rights issue ini menjadi penting karena dapat memberikan dua manfaat sekaligus, yakni memperkuat permodalan BRIS dan berpotensi memperbesar porsi saham publik. 

Namun, peningkatan free float akan bergantung pada siapa yang menyerap saham baru dan bagaimana pemegang saham pengendali berpartisipasi. Jika tujuannya untuk memperkuat free float, ada potensi bank-bank himbara yang menjadi pemegang saham tidak akan melaksanakan hak saham barunya.

Sementara itu, harga pelaksanaan seharusnya di bawah harga pasar agar bisa menarik minat investor publik sehingga tujuan meningkatkan free float bisa tercapai.

BDMN Sempat Dirumorkan Delisting, tapi Belum Ada Keputusan

BDMN sempat dirumorkan delisting setelah mencatatkan kenaikan harga saham yang agresif di April 2026. Namun, memang tidak ada pengumuman resmi hanya asumsi pelaku pasar.

Setelah diakuisisi MUFG, BDMN memang hanya memiliki free float kecil hanya 7,53 persen. Dalam waktu efektif sekitar lima bulan atau tepatnya sampai 31 Maret 2027,perusahaan harus bisa mendongkraknya jadi 12,5 persen.

Mayoritas saham BDMN ini dikuasai oleh MUFG, grup keuangan asal Jepang sampai 92 persen. Supaya free float naik, pengendali ini harus bisa merelakan sedikit porsinya ke publik. Hal ini perlu dipantau secara berkala langkah mereka berjualan bagaimana. Namun, dalam jangka pendek ini untuk dapat lima persen lebih free float tambahan, dibutuhkan aksi korporasi yang bisa cepat eksekusi, contohnya rights issue atau private placement ke beberapa pihak hingga bisa dianggap free float. 

Meski begitu, sampai saat ini manajemen masih menyatakan perlu mencermati langkah yang diperlukan untuk penuhi ketentuan baru BEI itu. Skema aksi korporasi yang dipilih jadi masih belum pasti.

💡
Diskon Spesial Investing Pro untuk Pembaca Mikirduit, agar analisis saham langsung menggunakan tools paling lengkap, Langganan sekarang dengan klik di sini

Dengan kemungkinan seperti ini, opsi mau delisting seperti BNGA pun bisa saja diambil, jika dinilai pasar tidak kondusif untuk melakukan aksi korporasi menambah free float. 

Di sisi lain, BDMN juga tengah membahas integrasi operasional dengan cabang MUFG Bank Ltd. di Indonesia. 

Meski isu integrasi dan free float sama-sama berkaitan dengan struktur bisnis serta kepemilikan, keduanya tidak otomatis merupakan satu agenda yang sama. OJK sebelumnya juga menegaskan bahwa proses integrasi Danamon dan MUFG tidak terkait langsung dengan persoalan free float.

5 Saham Dividen Yield Tinggi dan Cara Hindari Dividend Trap
Koreksi pasar membuka peluang berburu dividen dari DMAS, BBRI, BMRI, HMSP, dan UNVR. Simak proyeksi yield, risiko bisnis, serta strategi beli agar tidak terjebak dividend trap.

BPTN Masuk Saham Terkonsentrasi Tinggi 

Setelah dikendalikan Sumitomo, BTPN juga memiliki free float kecil sebesar 7,87 persen. Struktur kepemilikannya masih terkonsentrasi pada pemegang saham tertentu, sehingga penambahan porsi saham publik menjadi hal yang perlu dicermati.

Salah satu indikatornya terlihat dari pengumuman mengenai High Shareholding Concentration (HSC) BEI. Berdasarkan data per 30 Juni 2026, konsentrasi kepemilikan saham BTPN mencapai 99,78 persen. 

Status HSC tidak otomatis menunjukkan pelanggaran aturan. Namun, menunjukkan risiko volatilitas harga lebih tinggi dan likuiditas yang tipis. 

Untuk memenuhi ketentuan free float, BTPN kemungkinan akan mempertimbangkan pelepasan sebagian saham pengendali kepada publik atau mekanisme penerbitan saham baru jika sesuai dengan kebutuhan dan regulasi. 

Hal ini perlu dipantau dalam jangka waktu dekat ini, karena BTPN setidaknya harus mencapai free float 12,5 persen dulu pada 31 Maret 2027 dan 15 persen pada 31 Maret 2028.

BNLI Ada Potensi Shareholder Jual Saham di Pasar 

Terakhir ada BNLI yang punya free float 9,97 persen. Butuh kisaran 2,5 persen lagi untuk capai target minimal 12,5 persen pada 31 Maret 2027. 

Menurut kami, untuk memenuhi aturan itu dengan tenggat waktu lima bulan harusnya masih memungkinkan untuk pengendali atau pemegang saham mayoritas jualan di pasar reguler maupun nego secara bertahap. 

Adapun pertanyaan dari manajemen, mengutip Kontan, Direktur Utama Permata Bank Meliza M. Rusli menyampaikan bahwa perusahaan masih mengkaji sejumlah opsi aksi korporasi untuk memenuhi aturan free float. 

Mekanisme yang dipilih akan mempertimbangkan kondisi pasar, kebutuhan modal, serta kepentingan seluruh pemegang saham.

Artinya, belum ada kepastian apakah BNLI akan melakukan secondary offering, menerbitkan saham baru, atau memilih mekanisme lainnya. Manajemen juga menyatakan bahwa dampak terhadap struktur kepemilikan, termasuk porsi pemegang saham pengendali, akan bergantung pada opsi yang nantinya diputuskan.

Bagi kita, fokus utamanya adalah menunggu pengumuman resmi mengenai skema yang akan dipilih. Setiap opsi memiliki dampak berbeda terhadap jumlah saham beredar, kepemilikan pengendali, dan likuiditas perdagangan BNLI.

Kesimpulan

Pemenuhan aturan free float menjadi pekerjaan rumah bagi lima saham bank menengah, terutama karena tenggatnya semakin dekat. BNGA memilih membuka opsi delisting, sementara BRIS menyiapkan rights issue jumbo yang berpotensi menambah saham publik sekaligus memperkuat modal.

Di sisi lain, BDMN dan BTPN masih jauh memenuhi target minimal 12,5 persen hanya dalam waktu lima bulan, butuh aksi korporasi strategis yang dilakukan. 

Sementara BNLI masih ada kemungkinan menjual secara bertahap saham dari pengendali atau pemilik mayoritas di pasar reguler atau nego karena hanya butuh 2,53 persen untuk penuhi target minimal dulu, sebelum menaikkan lagi ke 15 persen pada 2028. 

Bagi kita, aturan ini bisa menjadi katalis perubahan struktur kepemilikan dan likuiditas saham. 

Namun, jangan hanya mengandalkan potensi kenaikan free float. Perhatikan juga kepastian aksi korporasi, risiko dilusi, prospek bisnis, serta valuasi masing-masing bank sebelum mengambil keputusan investasi.

Mau Dapat Insight Saham hingga Action-nya Sesuai dengan Kebutuhan?

Join Mikirsaham sekarang dan dapatkan benefit:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Event Online Rutin bulanan
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

Investasi Crypto di PINTU sekarang