5 Saham yang Berpotensi Bagi Yield Besar, Begini Peluang dan Risikonya

Koreksi pasar membuka peluang berburu dividen dari DMAS, BBRI, BMRI, HMSP, dan UNVR. Simak proyeksi yield, risiko bisnis, serta strategi beli agar tidak terjebak dividend trap.

Share
saham dividen

Mikirduit - Koreksi pasar saham bisa menjadi momentum untuk berburu saham dengan potensi dividen tinggi.

Key Takeaways

  • Koreksi pasar membuka peluang berburu dividen. DMAS, BBRI, BMRI, HMSP, dan UNVR menawarkan potensi dividend yield sekitar 10 persen lebih
  • Jangan hanya mengejar yield jumbo. Cek kemampuan laba dan arus kas, konsistensi pembayaran dividen, serta prospek bisnis agar kita tidak terjebak dividend trap.
  • Susun strategi beli dan keluar. Lakukan akumulasi bertahap di area beli yang menarik, evaluasi fundamental secara berkala, dan pertimbangkan take profit sebagian jika capital gain sudah setara dengan estimasi akumulasi dividen beberapa tahun ke depan.
  • Cek pilihan saham investasi dengan perhitungan yang jelas antara peluang dan risiko, join Mikirsaham dengan klik link di sini

Ketika harga saham turun, dividend yield berpeluang meningkat sehingga kita bisa mendapatkan potensi imbal hasil yang lebih besar dengan modal yang relatif lebih kecil.

Namun, memilih saham dividen tifak cukup hanya dengan melihat yield yang jumbo. Kita juga perlu mempertimbangkan kemampuan perusahaan membagikan dividen supaya di akhir tidak kena dividend trap. 

Lantas, saham apa saja yang menarik untuk dilirik di tengah koreksi pasar kali ini? 

Berikut lima saham dengan potensi dividen menarik, beserta strategi membeli dan hal-hal yang perlu diantisipasi investor sebelum berburu dividen.

Ramai Buyback Saham, Bisa Jadi Penopang IHSG?
BBCA, DSSA, BREN, dan sejumlah emiten menyiapkan buyback di tengah tekanan IHSG. Seberapa besar aksi ini bisa meredam penurunan, dan apa yang perlu dicermati investor?

Saham DMAS 

Pertama, ada saham PT Puridelta Lestari Tbk. (DMAS) yang sudah ada agenda mau tebar dividendinterim Rp29 per saham. Dengan harga saham terkini di Rp204, cuan dividen yang potensial didapatkan bisa mencapai 14,22 persen. 

Pembayaran dijadwalkan pada 13 November 2026, dengan cum date di pasar reguler pada 28 Oktober 2026. 

Dividen itu diambil hampir 94 persen dari laba yang dihasilkan perusahaan sampai September 2026. Menariknya, kinerja DMAS pada sepanjang periode itu sangat ciamik. 

Laba bersih terbang 284 persen secara tahunan (YoY) menjadi Rp1,49 triliun, didukung pendapatan melejit 3,4 kali lipat menjadi Rp2,56 triliun. 

Pertumbuhan masif ini didorong oleh tingginya penjualan lahan industri, terutama permintaan yang sangat masif dari sektor data center. 

Sebagai catatan, DMAS itu sudah dari lama terkenal royal bagi dividen. Pada 2024 bahkan pernah mencatat dividend payout ratio (DPR) sampai 105 persen, artinya seluruh laba di tahun tersebut, masih ditambah sebagian cash-nya dibagikan ke investor. 

Pada 2025, mereka juga bagi dividen sampai 99 persen dari laba. Berlanjut pada tahun ini, dividen interim yang sudah ada di jadwal rasanya juga sudah besar alokasinya sampai 94 persen. 

Tapi itu belum berakhir, karena pada tahun depan masih ada dividen final yang akan dinantikan dari hasil laba di sisa tahun ini. Biasanya, sekitar bulan Juni atau Juli baru dibagikan.

Catatannya, DMAS memiliki bisnis kawasan industri yang menjual tanah. Sehingga penjualan jumbo di semester I/2026 belum tentu akan simetris dengan semester II/2026. Lalu, mengejar saham DMAS setelah pengumuman dividen interim membuat harga sahamnya sudah cukup tinggi.

Tantangannya, dividen DMAS berpotensi berfluktuasi jika kinerja keuangan perseroan tidak bisa mencatatkan pertumbuhan setara dengan high base di 2026. Hal itu terjadi pada 2024-2025 ketika dividen DMAS mengalami dari Rp29 per saham pada 2024 lalu turun menjadi Rp16,5 per saham pada 2025.

Saham BBRI 

Berikutnya ada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI). Sebagai bank pelat merah, bank satu ini memang royal bagi dividen. Dalam lima tahun terakhir rata-rata payout ratio yang dibagi ke investor bisa mencapai 85 persen. 

Yang terakhir kali, bahkan lebih jumbo sampai 92 persen untuk dividen tahun buku 2025. Untuk alokasi dari laba tahun ini kami menilai lebih konservatif karena ada himbauan dari OJK untuk bank mengalokasi lebih sedikit dividen demi pengembangan IT-nya. Menurut kami, hal itu cukup masuk akal seiring perkembangan teknologi yang menuntut digitalisasi perbankan lebih masif. 

Meski begitu, prospek dividen BBRI juga masih menarik, karena seiring dengan harga sahamnya yang sudah turun dalam dari awal tahun hampir 24 persen. Yield yang diharapkan juga semakin tinggi. 

Kami memproyeksi dari potensi EPS tahun ini sekitar 404,07 dan payout ratio 80 persen, akan menghasilkan dividen sebesar Rp323,26 per saham. Jika dibagi harga saham terkini di Rp2.770, potensi mendapatkan cuan sebesar 11,67 persen. 

Biasanya BBRI ini juga bagi dividen setahun dua kali. Untuk interim dulu perkiraan dibagikan awal tahun kisaran bulan Januari-Februari, sementara yang final baru dibagikan sekitar bulan Mei-April.

Catatannya, BBRI ada risiko dari segi tren kenaikan suku bunga dan segmen kredit UMKM jika ekonomi mengalami perlambatan.

Belum lagi, bobot BBRI yang cukup besar di MSCI Global Standard bisa membuat dampak jika pasar saham Indonesia jadi ke Standalone market, tekanan jual asing perseroan meningkat drastis.

Saham BMRI 

Ketiga ada saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dari bank pelat merah juga yang rajin bagi dividen. Prospek menarik dividen yang potensi dibagi tahun depan datang dari penurunan masif harga sahamnya hampir 30 persen sejak awal tahun. 

Penurunan harga mendongkrak dividen yield yang didapatkan semakin tinggi. Menariknya, laba BMRI juga masih tumbuh sampai paruh pertama tahun ini. 

BMRI tercatat meraih laba Rp30,4 triliun pada semester I/2026, tumbuh 24,4 persen dalam setahun. EPS tahun ini diproyeksikan mencapai 651,69. 

Terkait payout ratio tahun lalu berkisar 70 persen, kami menggunakan asumsi lebih konservatif dari nilai itu di 65 persen, alasannya sama seperti BBRI sebelumnya. 

Dari nilai itu, potensi menghasilkan dividen per lembar di Rp423,60. Jika dibagi harga saham BMRI terkini di Rp3.650, potensial memberikan cuan dividen sebesar 11,61 persen. 

Namun, perlu dipahami, ini baru perkiraan dividen untuk setahun. Adapun BMRI sudah membagikan dividen interim dari sebagian laba tahun ini. 

Dividen interim sudah dibayarkan pada 2 Oktober 2026 sebesar Rp6,16 triliun atau setara Rp66 per lembar. 

Dividen final bisa diharapkan pada tahun depan, sisanya sekitar Rp357,60 per saham. Dengan asumsi harga saham yang sama, cuan dividen akan sedikit berkurang jadi 9,80 persen.

Dalam kasus BMRI ada beberapa yang menjadi perhatian:

  • Pemberian jaminan ke Grup Jhonlin dengan saham PT Pradiksi Gunatama Tbk. (PGUN) dan PT Jhonlin Agro Raya Tbk. (JARR)
  • Risiko pembiayaan program pemerintah seperti SPPG jika ada kendala pembayaran dan sebagainya
  • Posisi CAR BMRI yang sudah 17 persen, meski sudah ada perpetual bonds, tapi ada risiko payout ratio harus diturunkan. Ditambah dengan kebutuhan belanja modal untuk cybersecurity
  • Bobot saham BMRI di MSCI Global Standard yang cukup besar sehingga jika ada potensi ke standalone, BMRI bisa terdampak outflow cukup signifikan.

Saham HMSP 

Selanjutnya ada saham PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) yang terkenal royal bagi dividen. Rata-rata payout ratio dalam lima tahun terakhir nyaris 100 persen. Pada 2021 dan 2024 pernah lebih dari 100 persen karena ditambah akumulasi laba yang dihasilkan tahun sebelumnya. 

Untuk dividen yang potensial dibagi tahun depan dari hasil laba tahun buku 2026 menurut kami masih akan potensial, mengingat rencana pemerintah yang tidak akan menuntut kenaikan cukai dalam tiga tahun membuat laba HMSP tumbuh cukup baik. 

Sampai semester I/2026, HMSP menghasilkan laba Rp4,2 triliun, melonjak 97 persen secara tahunan (YoY). EPS diproyeksikan bisa mencapai 72,12 pada tahun ini. 

Dengan asumsi DPR konservatif di 90 persen saja, DPS diproyeksikan bisa per saham. Nominal ini tetap naik dibandingkan dividen tahun buku 2025 dan 2024. 

Adapun, kalau dibandingkan dengan harga saham terkini di Rp615 per saham, cuan dividen yang dihasilkan bisa mencapai 10,5 persen. 

Perlu dipantau juga, untuk pembagian dividen HMSP ini biasanya langsung final alias sekali setahun, biasanya dibagi sekitar bulan Mei atau Juni.

Catatannya, jangan jadikan HMSP sebagai investasi. Alasannya, secara bisnis, HMSP dalam kondisi yang tertekan terkait kebijakan cukai. Ruang pertumbuhannya cenderung terbatas karena ruang eksposure marketing juga dibatasi.

S&P 500 and Gold ETFs: Can Recovery Take a Decade?
S&P 500 and gold ETFs are often seen as reliable long-term growth assets, but history shows they can stall for more than a decade. We tested dollar-cost averaging through past sideways markets to see how investors would have fared, and what it means for buying near a peak today.

Saham UNVR 

Terakhir ada saham PT Unilever Tbk. (UNVR) yang tiap tahun juga royal bagi dividen. Komitmen bagi dividen jumbo dengan alokasi 90 - 100 persen itu rasanya sudah jadi tradisi sejak era 2000-an, dan kemungkinan bisa berlanjut sampai tahun depan. 

Menurut kami, dalam waktu dekat ini dividen interim bisa diharapkan terlebih dahulu, biasanya dibagi sekitar bulan Desember. Sementara untuk finalnya masih akan dibagi tahun depan sekitar bulan Juni atau Juli. 

Kalau melihat dari hasil laba yang diraup sepanjang semester I/2026 sebesar Rp2,97 triliun, melejit 37,7 persen dalam setahun. Proyeksi EPS pada tahun ini bisa mencapai 155,69. 

Jika kami mengasumsikan DPR konservatif di 90 persen. Dividen per lembar diperkirakan mencapai Rp140,12 per saham, kalau dibagi harga saham terkini di Rp1.315 akan menghasilkan cuan sekitar 10,19 persen. 

Saham UNVR sejak awal tahun ini sudah kehilangan hampir separuh nilainya, jika semakin turun potensi dividen yield juga bisa semakin tinggi. 

Perlu dicatat lagi, karena biasanya UNVR bagi dividen dua kali setahun. Maka potensi keuntungan itu juga dibagi dalam dua tahap. 

Ada juga rumor menarik yang patut dipantau di UNVR ini. Beberapa waktu lalu, santer terdengar mereka mau divestasi Buavita dan Kecap Bango. Sejauh ini, perusahan masih belum ada hilal mau jualan bisnisnya lagi. 

Namun, jika suatu saat ini terjadi potensi pembagian dividen spesial juga menarik untuk diperhatikan. 

Karena sejarahnya UNVR seusai divestasi hampir selalu dibagikan jadi dividen ke investor, contohnya yang baru saja selesai adalah hasil dari jualan bisnis es krim dan sariwangi menghasilkan Rp4,6 triliun yang mengakumulsai dividen total Rp201 per saham untuk tahun buku 2025 dan sudah selesai dibayar pada 30 Juni 2026 lalu.

Catatannya, hati-hati untuk UNVR karena dividen dalam 2 tahun terakhir ada kontribusi spin-off dan divestasi aset. Lalu, pertumbuhan kinerja UNVR di 2026 juga ada dorongan dari spin off aset es krim. Jika di 2027, UNVR mampu menjaga pertumbuhan dari core bisnis yang tersisa, mungkin perlu dipertimbangkan untuk jangka menengah. Namun, jika kinerja 2027 kembali tertekan, itu menjadi pertanda risiko dari fundamental bisnis perseroan.

Strategi Beli Saham Dividen dan Menghindari Dividen Trap

Berburu saham dividen bukan sekadar mencari emiten dengan yield tertinggi, tetapi juga menentukan strategi masuk dan keluar yang sesuai.

Kita perlu punya rencana sejak awal, mulai dari alokasi modal, target harga beli, hingga kondisi yang membuat kita perlu mengubah keputusan investasi.

1. Tentukan target alokasi modal sejak awal

Sebelum membeli saham, tentukan berapa modal yang ingin dialokasikan untuk setiap emiten. Kita bisa membaginya berdasarkan potensi dividen, kualitas fundamental, dan risiko bisnis. Misalnya, saham perbankan seperti BBRI, dan BMRI bisa menjadi bagian dari portofolio dividen, sedangkan DMAS, HMSP, dan UNVR dapat digunakan untuk menambah diversifikasi lintas sektor.

Kita tidak harus langsung menentukan seluruh modal sejak awal. Jika masih ingin menunggu harga yang lebih menarik, tetapkan target alokasi terlebih dahulu, kemudian realisasikan pembelian secara bertahap.

2. Manfaatkan strategi cicil bertahap

Jika menggunakan strategi dollar cost averaging (DCA), kita bisa membeli saham secara rutin setiap bulan selama harganya masih berada dalam rentang buy area yang sudah ditentukan. Jika harga berada di luar rentang tersebut, kita bisa menunggu sambil mengevaluasi kembali valuasinya.

Sementara itu, jika menggunakan modal sekaligus atau lump sum, kita tetap bisa membagi pembelian menjadi beberapa tahap. Ketika harga masih turun tetapi fundamental perusahaan tetap terjaga, kita dapat melanjutkan akumulasi sesuai rencana. Namun, penurunan harga bukan alasan otomatis untuk terus membeli jika prospek bisnis mulai memburuk.

Strategi ini bisa diterapkan pada kelima saham, tetapi pertimbangannya perlu disesuaikan. 

Untuk DMAS, misalnya, kita perlu lebih berhati-hati ketika harga sudah bergerak atraktif menjelang cum date dividen. Untuk BBRI, BBNI, dan BMRI, kita perlu memantau kualitas kredit dan profitabilitas. Sementara pada HMSP dan UNVR, perkembangan penjualan, margin, serta kemampuan mempertahankan laba menjadi faktor penting.

3. Tentukan target keuntungan dan rencana keluar

Saham dividen tetap bisa memberikan keuntungan dari kenaikan harga. Karena itu, kita perlu menentukan sejak awal kapan akan mempertahankan posisi dan kapan akan merealisasikan keuntungan.

Salah satu pendekatan yang bisa digunakan adalah membandingkan capital gain dengan akumulasi dividend yield yang diperkirakan selama beberapa tahun. 

Misalnya, jika yield tahunan suatu saham diperkirakan 10 persen, sementara harga saham naik 50 persen, kenaikan harga tersebut setara dengan lima kali yield tahunan secara sederhana.

Jika harga naik sangat cepat dan keuntungan modal sudah setara dengan estimasi dividen lima sampai sepuluh tahun, kita bisa mempertimbangkan take profit sebagian. Dana hasil penjualan dapat disimpan terlebih dahulu atau digunakan untuk membeli kembali ketika valuasi dan harga saham kembali menarik.

Namun, perbandingan ini hanya alat bantu, bukan aturan wajib. Kita tetap perlu mempertimbangkan prospek pertumbuhan perusahaan, pajak, biaya transaksi, dan kemungkinan kenaikan dividen di masa depan. 

Jangan sampai kita menjual saham berkualitas terlalu cepat hanya karena harga sudah naik.

4. Evaluasi fundamental, bukan hanya pergerakan harga

Kondisi utama yang membuat kita perlu meninjau ulang investasi adalah perubahan fundamental perusahaan. Misalnya, laba terus turun, arus kas melemah, utang meningkat, kualitas aset memburuk, atau manajemen mengurangi proyeksi pembagian dividen.

Jika perubahan tersebut membuat alasan awal kita membeli saham tidak lagi relevan, kita perlu mengevaluasi posisi dan mempertimbangkan pengurangan kepemilikan atau keluar dari investasi. Ini lebih penting daripada sekadar memasang batas cut loss berdasarkan persentase penurunan harga.

Untuk DMAS, kita perlu memastikan lonjakan laba dari penjualan lahan dapat dipahami dalam konteks keberlanjutan bisnisnya. Untuk bank, kita perlu memantau kualitas kredit dan kecukupan modal. Sementara untuk HMSP dan UNVR, kita perlu melihat apakah laba dan arus kas cukup kuat untuk menopang kebijakan dividen yang royal.

5. Jika modal sudah teralokasi penuh, jangan memaksakan pembelian tambahan

Ketika seluruh alokasi modal sudah digunakan, kita tidak perlu terus membeli hanya karena harga saham turun. Kita bisa menunggu perkembangan kinerja perusahaan, menerima dividen jika memang dibagikan, dan mengevaluasi kembali posisi secara berkala.

Jika harga saham naik hingga capital gain setara dengan estimasi akumulasi dividen lima sampai sepuluh tahun, kita bisa meninjau peluang merealisasikan sebagian keuntungan. Sebaliknya, jika harga turun tetapi fundamental masih sehat, kita dapat mempertahankan posisi sesuai tujuan investasi tanpa harus menambah modal di luar rencana.

Dengan strategi ini, kita tidak perlu selalu aktif bertransaksi. Fokusnya adalah membeli pada valuasi yang masuk akal, menjaga disiplin alokasi modal, dan memastikan keputusan tetap sejalan dengan fundamental perusahaan.

6. Waspadai dividend trap dan jangan menganggap dividen sebagai keuntungan pasti

Dividend yield tinggi tidak selalu berarti saham sedang murah. Yield bisa meningkat karena harga turun akibat kekhawatiran pasar terhadap laba atau potensi pemangkasan dividen. Karena itu, kita perlu mengecek kemampuan perusahaan menghasilkan laba dan arus kas, serta memastikan dividen yang dibagikan berkelanjutan.

Kita juga perlu membedakan dividen yang sudah diumumkan dengan yang masih berupa proyeksi. Pada DMAS, misalnya, dividen interim Rp29 per saham sudah diumumkan, sedangkan dividen final masih bergantung pada kinerja dan keputusan perusahaan. Begitu pula proyeksi dividen BBRI, BBNI, BMRI, HMSP, dan UNVR yang masih bisa berubah.

Terakhir, jangan membeli saham hanya demi mengejar cum date. Harga berpotensi terkoreksi setelah ex date, sehingga dividen yang diterima belum tentu menutup kerugian harga. 

Kita perlu mempertimbangkan total return dan menetapkan target keuntungan sejak awal. Jika capital gain sudah setara dengan estimasi akumulasi dividen beberapa tahun ke depan, kita bisa mempertimbangkan take profit sebagian, tanpa mengabaikan prospek fundamental perusahaan.

Mau Dapat Insight Saham hingga Action-nya Sesuai dengan Kebutuhan?

Join Mikirsaham sekarang dan dapatkan benefit:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Event Online Rutin bulanan
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

Investasi Crypto di PINTU sekarang