Bitcoin Berpotensi Fake Rebound Jika Bertahan di atas 90.000 USD? Holder BTC Wajib Baca Ini!
Setelah terjun ke level US$ 80.000, akhirnya BTC sudah mulai rebound ke atas US$ 90.000. Pertanyaan berikutnya, apakah BTC bisa menuju US$ 100.000 lagi atau malah bikin low baru ke US$ 75.000?
Mikirduit – Menjelang akhir November 2025, Bitcoin (BTC) akhirnya mampu pulih dan menembus kembali level US$90.000. Namun, apakah momentum ini cukup kuat untuk mendorong BTC menuju US$100.000? Atau justru pergerakan ini hanya menjadi jeda sebelum penurunan lebih dalam?
Highlight
- Sampai akhir tahun ini BTC diproyeksikan masih bisa naik ke atas US$ 100.000 didorong peluang cut rate the Fed sudah mencapai >80 persen.
- Namun, untuk jangka menengah BTC masih waspada bisa masuk down trend lagi.
- Walau begitu, penurunan bisa jadi peluang untuk buy-the-dip karena prospek jangka panjang BTC bisa tembus All Time High lagi.
Siap-siap Momen Kritis BTC Diuji : Siap Lanjut Naik atau Koreksi Lagi?
Dalam dua pekan sebelum November berakhir, BTC sempat turun tajam ke level US$80.600, menandai level terendah tujuh bulan. Namun, BTC akhirnya rebound lagi ke atas US$ 90.000, bahkan pada Jumat pagi (28/11/2025) sempat ke atas US$ 93.000 yang merupakan level tertinggi mingguan, sekaligus mendekati batas hijau untuk menutup candle setahun.
Level US$93.000 kini menjadi titik krusial. Penutupan November di atas level ini akan menjadi sinyal kuat bagi peluang berlanjutnya bullish di akhir tahun.
Kami melihat ada beberapa faktor yang bisa mendorong BTC untuk melanjutkan penguatan memasuki Desember, mulai dari peluang pemangkasan suku bunga The Fed yang semakin tinggi, sentimen pasar yang keluar dari extreme fear, sampai likuiditas baru yang mulai masuk lagi.
Pertama, menurut data CME FedWatch Tool per 29 November 2025, peluang The Fed memangkas suku bunga pada Desember sudah mencapai 86,42%. Artinya, pasar hampir yakin The Fed bakal kembali melonggarkan kebijakan moneternya. Sejauh ini, Fed Funds Rate (FFR) sudah dua kali diturunkan hingga berada di kisaran 3,75%–4,00%.
Padahal, dalam pidato sebelumnya, Jerome Powell sempat menunjukkan keragu-raguan terkait perlunya pemangkasan lanjutan. Jika pada Desember The Fed benar-benar kembali menurunkan suku bunga, itu akan menjadi pemangkasan ketiga secara beruntun, sekaligus mengonfirmasi ekspektasi banyak analis bahwa fase pelonggaran memang sedang berjalan.

Sumber : CME FedWatch Tool, 29 November 2025
Kedua, rebound BTC ke atas US$90.000 akhirnya membawa pasar keluar dari fase extreme fear. Pada awal November, indeks fear and greed sempat jatuh ke level 10, menunjukkan kepanikan ekstrem.
Namun, seiring pemulihan harga, indeks mulai naik dan keluar dari zona ketakutan. Ini penting, karena:
- saat extreme fear, investor cenderung menjual dengan panik,
- begitu ketakutan mereda, tekanan jual berkurang,
- permintaan kembali stabil dan ruang pemulihan harga terbuka lebar.

Ketiga, likuiditas akhirnya masuk lagi. Dalam dua pekan terakhir ketika koreksi tajam terjadi di Bitcoin. Binance justru menunjukkan dominasi luar biasa. Menurut data CryptoQuant, saat total spot volume crypto turun ke US$65 miliar dan futures volume ke US$170 miliar, Binance sendiri masih mencetak US$25 miliar di spot dan US$62 miliar di futures, jauh mengungguli bursa lainnya.
Sementara itu, dari keseluruhan pasar funding rates menunjukkan posisi long sudah mulai mendominasi di atas harga US$ 90.000, mengindikasikan harapan harga untuk lanjut naik.

Menariknya lagi, cadangan stablecoin Binance baru saja mencetak rekor tertinggi baru di US$51,1 miliar. Lonjakan ini menandakan dua hal sekaligus: aliran dana fresh masih masuk ke ekosistem crypto, dan kepercayaan investor terhadap Binance tetap sangat kuat meski pasar sedang mengalami tekanan.
Sebagai catatan, likuiditas adalah bahan bakar utama pergerakan Bitcoin. Selama pusat likuiditas seperti Binance terus tumbuh, peluang rebound BTC tetap terbuka, meski volatilitas jangka pendek bisa tetap tinggi.
Singkatnya, dalam jangka pendek BTC masih punya peluang untuk melanjutkan kenaikan. Momen krusial yang perlu dipantau adalah level US$93.000, yang menjadi kunci apakah momentum bullish bisa berlanjut atau justru tertahan.
Waspada Pattern Distribusi “Head n Shoulder”
Kalau dalam jangka pendek BTC masih punya peluang untuk naik, maka dalam jangka menengah kami justru tetap berada dalam mode waspada.
Alasannya, pola distribusi mulai terlihat terbentuk di chart, yang bisa menjadi sinyal bahwa kenaikan ini belum sepenuhnya aman.
Jika BTC benar berhasil menembus kembali level di atas US$100.000, setidaknya hingga akhir tahun, maka ada kemungkinan besar pola head and shoulders mulai terbentuk. Pola ini dikenal sebagai tanda distribusi atau puncak siklus jangka menengah, di mana pasar mulai menunjukkan gejala kelelahan setelah reli panjang.
Pada skenario tersebut, kenaikan menuju 100K lebih terlihat sebagai retest resistance besar ketimbang awal dari tren bull baru. Jika pola ini terkonfirmasi, tekanan jual bisa meningkat dan membuka peluang koreksi lebih dalam di awal 2026. Kombinasi faktor teknikal dan kondisi makro yang masih belum sepenuhnya kondusif membuat pasar harus tetap berhati-hati meski jangka pendek terlihat positif.
Dengan kata lain, rebound ke 90K dan potensi menuju 100K memang menarik, tetapi landscape jangka menengah belum benar-benar bersih dari risiko. Sentimen sudah mulai membaik, likuiditas menguat, dan peluang rate cut masih mendukung, namun arah besar BTC akan sangat ditentukan oleh apakah pasar mampu menjaga struktur harga yang sehat tanpa membentuk distribusi besar.

Prospek Jangka Panjang BTC Tembus ATH Lagi
Namun, untuk jangka panjang kami tetap meyakini BTC sebagai instrumen yang masih bisa mencapai level All Time High-nya kembali. Tapi kira-kira kapan bisa diuji? Jawabannya, kita check pada siklus dan sentimen apa saja yang bakal mempengaruhi.
Bitcoin dikenal punya siklus empat tahunan yang berkaitan erat dengan halving, yaitu proses ketika reward untuk para penambang dipangkas setengah. Karena suplai baru yang masuk ke pasar jadi menurun, harga Bitcoin biasanya terdorong naik, selama permintaannya tidak ikut melemah.

Kalau kita flashback ke tiga siklus sebelumnya, polanya terlihat cukup jelas. Pada siklus 2012–2013, halving memicu lonjakan besar dari sekitar US$12 hingga tembus US$1.100, sebelum akhirnya BTC koreksi dalam hingga sekitar 85%.
Lalu siklus 2016–2017 menghadirkan reli menuju US$20.000 dan jatuh ke US$3.200 pada 2018. Siklus 2020–2021 bahkan jauh lebih spektakuler: Bitcoin meroket ke US$69.000 dan kemudian ambles ke US$15.500 pada 2022.
Jika disederhanakan, ada tiga pola utama dari ketiga siklus tersebut:
- Puncak harga biasanya terjadi 12–18 bulan setelah halving.
- Semakin agresif reli yang terbentuk, semakin tajam pula koreksinya, umumnya 70–85% dari puncak.
- Altcoin bergerak lebih liar daripada BTC, tapi momentumnya sering terlambat menyusul.
Secara teori, puncak untuk halving 2024 seharusnya muncul di antara 2025 hingga 2026. Tapi sekarang, memasuki akhir 2025, tanda-tandanya memang sudah mulai terlihat nyata.

Usai halving kemarin, Bitcoin sempat melesat dari area US$70.000 hingga menyentuh sekitar US$125.000, mencetak rekor baru. Tapi memasuki kuartal terakhir, harga gagal mempertahankan level tersebut dan perlahan turun ke kisaran US$90.000. Struktur pasar mulai menunjukkan perilaku distribusi, biasanya menjadi sinyal bahwa fase reli mendekati ujungnya.
Dengan tren lower high yang mulai terbentuk, arus jual dari institusi meningkat, dan volatilitas yang menurun, semakin besar kemungkinan bahwa puncak BTC untuk siklus ini memang sudah lewat di zona US$120.000–125.000. Artinya, sekarang kita memasuki fase pasar yang umumnya bergerak menuju pencarian titik bottom baru.
Kalau pola historis kembali bekerja, penurunan dalam beberapa kuartal mendatang bukanlah skenario yang aneh. Level US$75.000 bisa jadi area penting berikutnya, atau bahkan lebih rendah bila kondisi makro menambah tekanan.
Pada akhirnya, meski di jangka pendek Bitcoin masih bisa memantul dan menguji kembali area psikologis US$100.000, gambaran siklus besar menunjukkan bahwa reli utama kemungkinan sudah selesai, dan pasar sedang bersiap menuju fase pembentukan fondasi baru untuk siklus selanjutnya
Selain halving, sentimen pasar juga sangat mempengaruhi BTC. Pada 2026, kita akan menghadapi beberapa hal seperti likuiditas global, dinamika politik, dan siklus bisnis di Amerika Serikat (AS).
Beberapa faktor itu diantaranya, berakhirnya kebijakan ketat oleh The Fed, pemilihan midterm AS, ekonomi yang sengaja didorong bullish untuk kepentingan politik, hingga berakhirnya masa jabatan Jerome Powell pada Mei 2026 yang kemungkinan digantikan oleh figur pro kebijakan loggar.
Sejauh ini, Kevin Hasset dinominasikan jadi kandidat paling potensial menggantikan powell dengan peluang 54%.

Membahas lagi soal potensi berakhirnya kebijakan ketat the Fed, ini juga ada hubungannya dengan prospek perubahan aturan Supplementary Leverage Ratio (SLR) yang digadang bisa membuka kembali aliran likuiditas ke pasar.
SLR pada dasarnya adalah safety belt perbankan, rasio ini memastikan bank tidak kelewat agresif menambah aset dengan utang. Berbeda dengan rasio berbasis risiko (seperti CAR) yang bisa “terlihat aman”, SLR langsung menunjukkan apakah modal bank cukup untuk menopang total aset tanpa kecuali, including Treasury yang risikonya hampir nol.
Ketika pembahasan pengetatan SLR muncul, pasar sering menafsirkannya sebagai sinyal bahwa regulator ingin menjaga stabilitas sistem.
Dampaknya, likuiditas di pasar obligasi cenderung menurun sehingga memunculkan ekspektasi bahwa The Fed perlu kembali melonggarkan kebijakan.
Ekspektasi pelonggaran inilah yang memicu risk-on sentiment dan membuat aset seperti Bitcoin ikut diuntungkan. Alhasil, meski SLR terdengar teknis, perubahan aturan ini bisa menjadi katalis positif bagi kripto melalui sentimen likuiditas dan spekulasi stimulus baru.
Kesimpulannya…
Dalam jangka pendek, Bitcoin masih punya peluang naik dan menembus US$93.000 akan menjadi sinyal penting menuju US$100.000. Sentimen membaik, likuiditas meningkat, dan peluang rate cut The Fed mendukung kenaikan.
Namun, untuk jangka menengah, risiko distribusi tetap besar. Struktur harga menunjukkan tanda pola head and shoulder, dan secara historis puncak siklus halving kemungkinan sudah tercapai.
Dalam jangka panjang, BTC tetap punya peluang menembus ATH baru, tetapi pasar tampaknya sedang memasuki fase pembentukan fondasi sebelum siklus bullish berikutnya terbentuk.
