Bertaruh Pemulihan Saham ITMG di Tengah Revisi RKAB yang Bikin Operasional Lesu

Saham ITMG diproyeksikan bisa mencatatkan kinerja keuangan yang mulai positif di 2026. Meski, ada hadangan revisi RKAB membuat operasional di Q1 tidak optimal. Jadi, gimana prospek dan risiko ITMG?

saham ITMG

Mikirduit -- Saham ITMG sempat bangkit dari area sideways Rp21.000 - Rp22.000 per saham menjadi tembus Rp25.000 dalam waktu singkat setelah harga batu bara melonjak ke 138 dolar AS per ton. Faktor yang disebabkan sentimen Qatar menghentikan produksi LNG itu bersifat sementara, kini harga batu bara dan saham-saham terkait konsolidasi. Tapi, bagaimana prospek saham ITMG secara keseluruhan? Berikut peluang dan risikonya

Highlight

  • Kinerja ITMG berpeluang pulih pada 2026 dengan proyeksi laba bersih naik 8,55 persen seiring indikasi bottoming laba dan potensi tambahan produksi dari tambang PT Nusa Persada Resources yang ditargetkan mulai berkontribusi.
  • Tekanan laba sebelumnya dipicu penurunan pendapatan di sejumlah anak usaha dan pasar utama seperti Indonesia, China, dan Jepang, meski ada pertumbuhan signifikan di India, Taiwan, Bangladesh, Korea Selatan, hingga Vietnam.
  • Risiko utama ITMG berasal dari penipisan cadangan di beberapa tambang besar serta potensi gangguan jangka pendek akibat revisi RKAB yang membatasi produksi, meski total cadangan konsolidasi masih cukup untuk sekitar 16 tahun dengan asumsi produksi stabil.
  • Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.

Saham ITMG menjadi salah satu pilihan saham strategi contrarian Mikirduit. Pasalnya, ITMG mencatatkan tren penurunan laba bersih pasca booming batu bara di 2022 (mengalami normalisasi kinerja karena penurunan harga batu bara) dengan penurunan harga yang juga cukup signifikan (sempat sideways di bawah Rp21.000 - Rp22.000). Dengan berbagai pertimbangan itu (sebelum terjadinya perang AS-Iran), kami menjadikan ITMG sebagai pilihan saham dengan strategi contrarian. Jadi, harapannya ada pemulihan kinerja keuangan yang membuat saham ini memiliki daya tarik lebih tinggi dibandingkan dengan sebelumnya.

ITMG diproyeksikan bisa mengakhiri penurunan laba bersih pada 2026 dengan proyeksi bisa mencatatkan laba bersih senilai Rp3,4 triliun dibandingkan dengan Rp3,14 triliun pada periode sama tahun sebelumnya. Lalu, bagaimana peluang dan risiko saham ITMG?

Tekanan laba bersih ITMG lebih didorong oleh penurunan pendapatan sebesar 18,37 persen menjadi 1,88 miliar dolar AS, dengan kondisi penurunan beban operasional maupun pokok tidak lebih besar dari penurunan pendapatan. Hasilnya tekanan ke laba bersih menjadi cukup besar.

Jika dilihat secara rinci, tekanan pendapatan ITMG didorong dari anak usaha IMM, TCM, JBG, dan BEK, dengan kondisi pendapatan JBG yang turun 91 persen menjadi 2,6 juta dolar AS. Sementara itu, ketiga anak usaha lainnya rata-rata mencatatkan penurunan di 20-29 persen. 

Hanya anak usaha GPK dan TI yang mencatatkan kenaikan pendapatan masing-masing 113 persen dan 35 persen, serta batu bara lainnya sebesar 32 persen. Namun, catatannya, meski TI dan segmen batu bara lainnya mencatatkan kenaikan pendapatan lebih dari 30 persen, sayangnya kinerja laba sebelum pajaknya malah merugi. TI rugi 753.000 dolar AS, sedangkan batu bara lainnya 5,38 juta dolar AS.

Secara segmen geografis, tekanan kinerja penjualan ITMG disebabkan adanya penurunan pendapatan di beberapa negara seperti Indonesia (domestik) turun 25 persen menjadi 339 juta dolar AS, China turun 25 persen menjadi 562 juta dolar AS, dan Jepang turun 20 persen menjadi 458 juta dolar AS.

Namun, ITMG mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan signifikan di beberapa negara seperti: 

  • India naik 71 persen menjadi 170 juta dolar AS, 
  • Taiwan naik 93 persen menjadi 69 juta dolar AS, 
  • Bangladesh naik 58 persen menjadi 49 juta dolar AS
  • Korea Selatan naik 208 persen menjadi 48 juta dolar AS
  • Eropa kembali mencatatkan kontribusi penjualan senilai 23,4 juta dolar AS
  • Vietnam mencatatkan kenaikan 260 persen menjadi 10,33 juta dolar AS

Peluang Saham ITMG

Salah satu poin menarik adalah proyeksi penurunan laba bersih ITMG yang sudah mulai bottom dan siap pulih. Dari konsensus analis, laba bersih ITMG diproyeksikan naik 8,55 persen menjadi Rp3.022 per saham pada 2026. Meski, pertumbuhan 2027 berpotensi lebih lambat di 1,76 persen menjadi Rp3,075 per saham (kecuali ada kenaikan harga batu bara yang signifikan).

Apalagi, tambang PT Nusa Persada Resources yang memiliki cadangan 77 juta ton berpotensi akan produksi dengan target awal 1 juta ton per tahun pada 2026. Sebelumnya, tambang Nusa Persada Resources ITMG itu diproyeksikan mulai produksi pada semester II/2025.

Kehadiran NPR diharapkan bisa menggantikan tambang PT Jorong Baturama Greston an PT Tepian Indah Sukses yang cadangannya sudah menipis masing-masing 2 juta ton dan 3 juta ton. Kondisi kontribusi pendapatan JBG juga turun dalam hingga 91 persen menjadi tersisa 2,6 juta dolar AS, sedangkan TI masih mencatatkan kenaikan pendapatan menjadi 24 juta dolar AS. Secara total pendapatan TI juga tidak terlalu signifikan.

Di sisi lain, bukan tidak mungkin ITMG membuat kejutan untuk menambah porsi di saham NICE atau akuisisi perusahaan tambang nikel lainnya. Manajemen mengungkapkan investasi di NICE menjadi langkah awal untuk mempelajari lebih dalam bisnis sektor nikel tersebut.

Saham Batu Bara Tersengat Qatar Stop Produksi LNG Sementara, Ini Pilihan Sahamnya
Harga batu bara terbang lebih dari 8 persen sehari menembus US$ 128 per ton. Alhasil, saham AADI, ITMG, PTBA, dkk langsung loncat. Kira-kira gimana prospek selanjutnya? saham mana yang paling menarik dilirik?

Risiko Saham ITMG

Salah satu yang dikhawatirkan dari ITMG adalah terkait cadangan. Ada beberapa tambang jumbo ITMG yang cadangannya sudah mulai menipis. 

Sebenarnya, dengan mengakumulasikan seluruh cadangan batu bara ITMG, perseroan memiliki total cadangan 353 juta ton yang cukup besar. Jika dengan asumsi rata-rata produksi dijaga di 22 juta ton per tahun, berarti life of mine-nya masih 16 tahun ke depan.

Beberapa tambang yang berpotensi cadangannya menipis (kecuali ada hasil eksplorasi baru) antara lain Jorong Baturama Greston, Indah Tepian Sukse, dan PT Indominco Mandiri. Baturama dan Tepian menyisakan cadangan 2-3 juta ton, sedangkan Indominco Mandiri menyisakan cadangan 35 juta ton dengan masa berlaku IUP hingga Maret 2028. isanya, rata-rata kontrak berakhir di 2033 - 2041.

Sehingga jika timeframe kita mengejar booming saham coal yang terjadi dalam 1-2 tahun ke depan, sebenarnya risiko cadangan ini belum jadi soal. Kecuali ada faktor-faktor tertentu yang mengubah prospek lanskap bisnis utama ITMG.

Selain itu, isu secara sektoral juga menjadi sorotan. Perusahaan tambang batu bara masih melakukan revisi RKAB. Dalam proses revisi sehingga aktivitas tambang hanya bisa dilakukan maksimal 25 persen saja. Hal ini kami nilai menjadi alamat risiko untuk jangka pendek bagi kinerja keuangan saham-saham tambang batu bara termasuk ITMG sepanjang kuartal I/2026. 

Lalu, bagaimana strategi untuk saham ITMG?

Kami Juga Sudah Ulas 5 Saham Contrarian Investing Mikirsaham yang Bisa Diakses di Mikirsaham

Join Mikirsaham dan dapatkan benefitnya:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
  • Event online bulanan
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private

Langsung langganan sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa, Cek KODE PROMO-nya sesuai dengan plan yang kamu butuhkan dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini