8 Saham Terbitkan Obligasi Hingga Rp8,64 triliun, Begini Prospek dan Risiko untuk Emiten Terkait

Ada 8 saham menerbitkan obligasi dengan total Rp11,45 triliun seperti, BUMI, BWPT, SMAR, INET, RMKE, TBIG, ENRG, dan PNBN. Lalu, apa impact dari penerbitan obligasi tersebut terhadap prospek kinerja masing-masing emiten?

saham yang menerbitkan obligasi

Mikirduit – Ada sekitar 8 saham yang menerbitkan obligasi sepanjang 1,5 bulan pertama di 2026. Total nilai emisi mencapai Rp8,64 triliun. Lalu, apa efek dari penerbitan obligasi ini ke emiten terkait?

Highlight

  • Peningkatan Emisi Obligasi 2026: Nilai penerbitan obligasi pada awal tahun 2026 melonjak drastis hingga mencapai 75% dari total emisi sepanjang tahun 2025, yang menunjukkan tingginya ketergantungan emiten pada pendanaan utang untuk ekspansi maupun efisiensi.
  • Efek Positif Refinancing pada ICR: Emiten yang menggunakan dana obligasi untuk refinancing utang lama, seperti TBIG, BUMI, dan SMAR, berhasil memperbaiki rasio kemampuan membayar bunga (Interest Coverage Ratio) berkat beban bunga yang lebih rendah.
  • Risiko Ekspansi dan Kredibilitas Rating: Penggunaan dana untuk ekspansi meningkatkan risiko likuiditas jika tidak dibarengi pertumbuhan laba yang cepat, sementara pemilihan lembaga pemeringkat terbukti turut memengaruhi tinggi rendahnya kupon yang harus dibayar emiten.
  • Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini

Menariknya, total nilai obligasi yang diterbitkan di awal 2026 ini sudah setara 75 persen total nilai obligasi sepanjang 2025 yang mencapai Rp11,45 triliun.

Adapun, ke-8 saham yang menerbitkan obligasi antara lain:

  • BWPT senilai Rp98 miliar
  • TBIG senilai Rp1,26 triliun
  • BUMI senilai Rp612 miliar
  • SMAR senilai Rp1,2 triliun
  • ENRG senilai Rp1,15 triliun
  • INET senilai Rp1 triliun
  • PNBN senilai Rp2,71 triliun
  • RMKE senilai Rp600 miliar

Pertanyaannya, apa impact dari penerbitan obligasi emiten itu?

Dampak Penerbitan Obligasi ke Kinerja Emiten

Untuk memahami dampak penerbitan obligasi, kita harus memahami apa tujuan dari emiten tersebut dengan dana dari obligasi. Ada beberapa tujuan utama, seperti untuk ekspansi bisnis, refinancing utang sebelumnya, hingga pendanaan untuk anak usaha. 

Jika tujuan untuk ekspansi, perlu diperhitungkan bagaimana dampaknya ke rasio debt to equity ratio dan interest coverage ratio setelah penerbitan obligasi. Sementara itu, untuk refinancing bisa membandingkan apakah tingkat kupon saat ini lebih rendah atau tidak dibandingkan dengan kupon atau bunga utang yang lama. Jika tingkat kupon saat ini lebih rendah bisa menjadi sentimen bagus karena tingkat margin keuntungan bisa menjadi lebih baik akibat penurunan jumlah cicilan.

Sehingga sebenarnya korelasi antara penerbitan obligasi dengan harga saham tidak selalu positif (karena menerbitkan obligasi, harga saham menjadi naik). Namun, jika dari penerbitan obligasi ini, emiten terkait punya ruang bertumbuh, mungkin bisa jadi menarik.

Lalu, bagaimana dampak dari kinerja ke-8 emiten yang menerbitkan obligasi ini?

Jika melihat penggunaan dana, ada 3 saham yang menerbitkan obligasi untuk refinancing, yakni TBIG, BUMI, dan SMAR, sedangkan sisanya untuk pengembangan bisnis termasuk memberikan pinjaman ke anak usaha (serta modal kerja) seperti, BWPT, ENRG, INET, PNBN, dan RMKE.

Menariknya, dari saham-saham yang refinancing mencatatkan tingkat interest coverage rasio yang makin tebal (atau makin oke). Misalnya, TBIG memiliki tingkat interest coverage rasio (ICR) 2,09 kali sebelum penerbitan obligasi, setelah penerbitan tingkat ICR naik (artinya positif) menjadi 2,16 kali.

Begitu juga dengan BUMI yang ICR awal 5,11 kali, sedangkan simulasi setelah penerbitan obligasi dan menggunakan seluruh dananya menjadi 5,25 kali. SMAR dengan ICR awal 2,82 kali, setelah asumsi penerbitan obligasi menjadi 2,84 kali.

Artinya, refinancing yang dilakukan mampu menurunkan beban bunga pinjaman menjadi lebih rendah.

Meski dari segi DER tetap mencatatkan kenaikan (berarti jumlah utang meningkat). Pasalnya, total nilai obligasi yang diterbitkan lebih tinggi daripada jumlah utang yang dibayarkan.

Sementara itu, saham-saham yang menerbitkan obligasi untuk ekspansi atau modal kerja mencatatkan penurunan tingkat ICR. Dari catatan kami, yang paling signifikan ada di INET dari 57,58 kali menjadi 0,25 kali (di bawah 1 kali yang cenderung jadi tanda risiko).

Namun, untuk INET ada alasan kenapa ICR TTM asumsi 2025 turun signifikan karena dana obligasi digunakan untuk ekspansi bisnis yang harapannya bisa jadi pendapatan di masa depan.

Tantangannya, kalau ekspansi yang dilakukan tidak mencatatkan kinerja sesuai ekspektasi bisa berisiko untuk obligasi maupun prospek bisnis INET. Dengan ICR TTM 2025 di 0,25 kali, berarti kalau tidak ada revenue yang optimal, perseroan tidak bisa bayar cicilan dalam 1 tahun ke depan.

Meski, dalam posisi INET mereka baru saja right issue jumbo, sehingga dari segi DER masih cukup aman dari 0,03 kali hanya naik menjadi 0,28 kali.

Sementara itu, RMKE juga penurunan ICR yang signifikan dari 9,72 kali jadi cuma 3,92 kali. Namun, untuk RMKE dari segi risiko masih aman karena ICR-nya di atas 3 kali. Jika revenue dari ekspansi anak usahanya molor pun dia masih bisa bayar cicilan 3 tahun ke depan dari hasil laba usahanya sebelum ada pendapatan dari rencana ekspansi.

Untuk PNBN, kami tidak mengulas lebih jauh karena bagi bank penerbitan obligasi adalah salah satu menghimpun dana dengan cara non-konvensional (seperti menghimpun dana masyarakat di tabungan yang dianggap strategi lebih konvensional). Sehingga penerbitan obligasi dengan tujuan untuk ekspansi kredit bukan sebuah hal besar bagi emiten bank. Biasanya, faktor kebutuhan tambahan likuiditas hingga mencari dana yang lebih murah.

Jika melihat tingkat LDR PNBN per September 2025 tidak ada masalah likuiditas. Sehingga kemungkinannya penghimpunan dana dengan obligasi ini bisa jadi lebih murah dari segi akumulasi effort dan bunga yang harus dibayarkan dibandingkan dengan tabungan normal.

Obligasi PNBN memberikan tingkat kupon 5,9 persen sampai 6,15 persen (yang secara bersih bisa langsung menghimpun dana besar hingga Rp2,71 triliun).

Kesimpulan

Obligasi memang jadi salah satu opsi pendanaan yang dari segi biaya cukup murah (apalagi, jika dibandingkan right issue, yang mana pengendali harus keluar modal atau porsi kepemilikannya terdilusi). Namun, dampaknya adalah jika rencana ekspansi dari dana obligasi tidak berjalan lancar, emiten terkait harus punya strategi atau persiapan bantalan risiko untuk menutup cicilan bayar kupon hingga potensi refinancing lagi.

Sementara itu, untuk emiten yang menerbitkan obligasi dengan tingkat kupon lebih rendah dari utang sebelumnya justru menarik. Alasannya, mereka bisa memperbaiki tingkat margin bunga bersihnya. Namun, tetap saja, penerbitan obligasi tidak bisa jadi satu sentimen utama untuk menilai sebuah saham ya.

Catatan Nasib 3 Saham Bakrie, Nyangkuters Wajib Baca Ini
Trio Saham Bakrie x Salim Bangkit Lagi, Gimana Prospeknya?

Lalu, dari obligasi ini, kita bisa melihat risiko emiten di mata investor. Obligasi yang memberikan bunga lebih tinggi dari rata-rata, berarti di mata investor, bisnis emiten itu memiliki risiko tersendiri.

Sebenarnya, hal ini bisa dilihat dari beberapa hal seperti:

  • Tingkat bunga, rata-rata yang moderat sekitar 5-7 persen per tahun seperti TBIG, SMAR, BUMI, dan PNBN. Namun, ada juga yang 8-10 persen seperti BWPT, ENRG, INET, dan RMKE.
  • Peringkat kredit juga mempengaruhi tingkat bunga. Misalnya, Untuk yang A cuma satu itu sudah termasuk high grade kredit tapi yang paling rendah di levelnya. Sehingga jika dilihat rata-rata yang cuma ada A tunggal punya kupon lebih besar dibandingkan dengan AA. Untuk AA kasta kedua tertinggi di level high grade.
  • Lembaga pemeringkat disebut juga mempengaruhi tingkat kupon. Hal ini terjadi di INET yang kupon obligasinya mencapai 9-10,25 persen. Padahal, peringkat-nya A. Tapi masih kalah dari BWPT yang kupon obligasinya 8,25 persen - 9,75 persen dengan peringkat A-. Perbedaannya, BWPT menggunakan peringkat dari Pefindo, sedangkan INET dari Kredit Rating Indonesia yang baru dapat izin di 2022.

Dengan begitu, bagi investor yang mau hold lama saham-saham terkait bisa menjadikan penerbitan obligasi ini untuk re-valuasi prospek emiten terkait dari rencana penggunaan dana hingga efek ke rasio solvabilitas seperti DER dan ICR. Sebagai manajemen risiko kredit emiten tersebut.

Dapatkan Insight Saham hingga Diskusi serta Konsultasi Bersama hampir 1.000 Investor Lainnya di Mikirsaham

Yuk join dengan Mikirsaham sekarang untuk bisa dapatkan benefit ini semua:

  • Stockpick investing (dividend, value, growth, contrarian) yang di-update setiap bulan (terbarunya akan diseleksi terbaik maksimal 5 masing-masing strategi dengan analisis yang komprehensif)
  • Stock Ideas (memberikan gambaran besar saham-saham yang menarik, tapi tidak termasuk stockpick)
  • Stockpicking swing trade mingguan (khusus member mikirsaham elite jika kuota masih tersedia)
  • Insight saham terkini serta action-nya
  • Update porto founder
  • IPO dan Corporate Action Digest
  • Event online bulanan
  • Grup Diskusi Saham

Join ke Member Mikirsaham Pro sekarang juga dengan klik link di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini