51 Saham IDX Berstatus High Concentration Shareholder, Begini Dampak dan Action-nya

BEI memperbarui metode penilaian penentuan High Shareholding Concentration (HSC) alias saham yang punya konsentrasi tinggi dengan indikator baru, seiring dengan itu jumlah saham HSC bertambah totalnya jadi 51. Siapa saja mereka dan dampak saham masuk HSC gimana?

Share
saham shareholder high concentration

Mikirduit - Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Self-Regulatory Organization (SRO) memperbarui metode penentuan High Shareholding Concentration (HSC) dengan menambahkan indikator baru, yaitu price impact ratio

Aturan ini berlaku untuk saham-saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun.

Lewat pembaruan yang diumumkan pada Selasa kemarin (14/7/2026), BEI menjelaskan bahwa perubahan ini bertujuan meningkatkan transparansi pasar modal Indonesia sekaligus memberikan acuan yang lebih lengkap bagi investor dalam menilai karakteristik perdagangan suatu saham.

Dengan metodologi baru tersebut, saham berkapitalisasi besar tidak lagi dinilai hanya dari tingkat konsentrasi kepemilikan sahamnya. 

Kini, BEI juga mempertimbangkan price impact ratio, yaitu indikator yang mengukur seberapa besar pergerakan harga saham dibandingkan dengan aktivitas perdagangannya (velocity). 

Sementara itu, velocity dihitung berdasarkan perbandingan rata-rata volume transaksi dengan jumlah saham yang beredar di publik (free float).

BEI juga menyampaikan bahwa perhitungan menggunakan metodologi baru ini akan dilakukan secara berkala setiap tiga bulan sekali.

Seiring perubahan tersebut, jumlah saham yang masuk daftar HSC juga bertambah signifikan. Jika sebelumnya hanya belasan emiten, kini totalnya telah mencapai 51 saham, dengan hampir 40 emiten baru ditambahkan sejak awal Juli 2026. Berikut daftar lengkapnya: 

Dari daftar di atas terlihat jelas kepemilikan saham yang terkonsentrasi oleh pihak tertentu semuanya mencapai lebih dari 90 persen, menariknya mayoritas dari grup konglomerasi, tidak sedikit dari mereka yang hanya menyisakan kepemilikan ke retail itu kurang dari 1 persen saja. 

Lihat saja dari urutan teratas ada saham MPRO dengan kepemilikan retail atau free float yang asli hanya 0,01 persen, DCII berikutnya juga tipis hanya 0,04 persen.

Apa dampaknya kalau saham masuk HSC?

Perlu dicatat, saham HSC bukan berarti melanggar aturan dan tidak selalu buruk. HSC bisa dibilang informasi soal risiko likuiditas, tetapi tujuan regulator adalah meningkatkan transparansi dan kualitas pasar jangka panjang. 

Jadi, saham HSC bukan label hitam-putih, melainkan indikator yang harus dipakai bersama dalam analisis fundamental maupun teknikal.  Mari kita review beberapa saham HSC sebagai study case terkait karakter pergerakan harga sahamnya dan kinerja fundamentalnya. 

  • Likuiditas rendah: Sulit beli/jual volume besar tanpa memengaruhi harga signifikan (price impact tinggi). Spread bid-ask bisa melebar.
  • Volatilitas lebih tinggi: Harga mudah "liar" naik/turun tajam hanya karena volume kecil (bisa ARA/ARB beruntun, tapi juga koreksi dalam). Intinya, pergerakan harga saham akan jadi lebih volatile. 
  • Dikeluarkan dari indeks : bagi yang sebelumnya masuk beberapa indeks utama seperti LQ45, IDX30, IDX80, bahkan sampai MSCI dan FTSE. Saham HSC akan otomatis didepak, hal ini bisa memicu outflow lanjutan karena dana pasif yang mengikuti seperti reksadana akan kena jual paksa/forced selling
  • Bisa jadi sentimen negatif jangka pendek: Bisa ada tekanan jual, terutama dari institusi. Tapi ini transisional karena selama dua tahun ke depan, BEI mendorong emiten tambah free float via aksi korporasi.

Study Case Saham HSC 

Kami memilih tiga saham HSC sebagai bahan study case, diantaranya ada DSSA, BREN, dan DCII. Mari kita ulas satu per satu: 

Saham DSSA 

Pertama ada saham DSSA, perusahaan holding yang tengah bertransformasi bukan hanya di bisnis batu bara tetapi mulai beralih ke AI sebagai mesin pertumbuhan. 

Narasi dari ekspansi saham ini sangat menarik dalam beberapa tahun terakhir. Namun, risiko teknis sampai masuk ke saham HSC memang lebih mendominasi efeknya dari awal tahun. 

Saham ini sempat jatuh lebih dari 90 persen dan menyentuh level terendah di kisaran Rp480 per saham. Adapun, terkini sahamnya sudah mulai bangkit ke kisaran Rp800 per saham, setara Price to Earning Ratio (PER) di 27 kali dan Price to Book Value (PBV) di 4,83 kali. 

Valuasi saat ini sudah jauh lebih masuk akal dibandingkan saat saham ini sebelum stocksplit pernah ke atas Rp100ribu lebih setara PBV di atas 30 kali. 

saham DSSA

Secara teknikal gerak sahamnya sedang terkonsolidasi, volume juga cenderung tipis. RSI juga sudah masuk fase jenuh jual, biasanya setelah ini akan menarik diperhatikan untuk akumulasi. 

Namun, rasanya banyak yang masih wait and see, apalagi setelah saham ini dikeluarkan dari MSCI dan FTSE. Investor rasanya masih menunggu kondisi makro membaik untuk kembali risk-on. 

Dari sisi profitabilitas, laba bersih yang dicetak per kuartal I/2026 mencapai U$ 82,26 juta, setara Rp1,39 triliun, pertumbuhannya tipis hanya 2,18 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski begitu, narasi dari DSSA ini menurut kami masih menarik. Ekspansinya semakin gencar menyasar infrastruktur teknologi. Paling baru, DSSA menambah investasi di salah satu pemegang saham EXCL, yaitu  PT Bali Media Telekomunikasi (BMT) sebanyak Rp8,54 triliun. 

Memang, secara bisnis saat ini batu bara masih dominan melalui GEMS. Namun, arus kas dari bisnis itu direinvestasikan ke yang lain, seperti energi hijau (geothermal 480 MW), data center hyperscale SMX01, konektivitas fiber/5G melalui MoraRepublic dan XLSmart, serta aplikasi via DANA sebagai sumber data AI.

Pada 2030 mendatang, laba DSSA diproyeksi bisa naik lebih dari tiga kali lipat dari posisi 2025 lalu, dari US$230 juta menjadi US$752 juta. Top line juga diprediksi melejit dari US$2,79 miliar (2025) menjadi US$5,53 miliar (2030F). 

Margin bersih juga diramal bisa membaik signifikan karena bisnis baru (data center, geothermal, telecom) punya profitabilitas lebih tinggi dan stabil dibanding batu bara, dengan  EPS growth diperkirakan 28-31 persen per tahun.

BNII, BTPN, dan BDMN Sudah Jadi Induk Usaha, KB Financial Menyusul, Begini Efek ke Sahamnya
OJK resmi mengeluarkan aturan baru pada 2024. Aturan ini dinilai bisa mendorong lebih banyak aksi korporasi di sektor keuangan. Apa saja isi aturannya, dan emiten mana yang potensi terdampak?

Saham BREN 

Kedua, ada saham dari konglomerat Prajogo Pangestu, BREN yang ikut masuk kategori HSC. 

Sebenarnya kalau melihat dari sisi valuasi dulu, saham ini sejak awal tahun memang sudah sangat mahal. PER bisa sampai ratusan kali lipat. 

Value investor sangat menghindari saham yang valuasinya tidak masuk akal begini. Saham ini juga hitungannya baru IPO sejak akhir 2023 lalu, tapi sempat dalam tiga bulan pergerakannya setelah launching, kapitalisasi pasarnya mampu menyalip saham paling bernilai di bursa, BBCA. 

Kenaikan-nya waktu itu memang sangat tidak wajar. Sampai akhirnya, morning call MSCI di akhir Januari 2026 menjadi katalis dimulainya bubble saham konglo. Dan, akhirnya BEI menyematkan label HSC ke saham ini. 

Secara teknikal, saham BREN juga geraknya masih terkonsolidasi setelah terjun dalam lebih dari 60 persen dari awal tahun. 

Level support terdekat ada di 2530 sebagai acuan saham BREN masih bertahan di fase sideways. Jika ini tertembus risiko turun lebih dalam, bisa saja terjadi. 

saham BREN

Namun, kami menilai seharusnya di momen sekarang, risiko outflow saham BREN sudah kian terbatas. Saham juga ini sudah jelas dikeluarkan dari MSCI sejak akhir Mei lalu sejak ditetapkan kena HSC. 

Sementara itu, dari sisi fundamental, BREN termasuk emiten di grup Prajogo Pangestu yang mencetak kinerja profitabilitas cukup stabil. 

Pendapatan pada kuartal I/2026 tercatat tumbuh 12,4 persen YoY menjadi US$163 juta dan laba bersih meningkat 15,8 persen menjadi US$34,2 juta. 

Pertumbuhan ini terutama didorong oleh peningkatan efisiensi operasional pada aset panas bumi utama seperti Wayang Windu dan Salak, serta kontribusi tambahan dari peningkatan kapasitas pembangkit yang telah melalui proses retrofit.

Secara operasional, kinerja BREN mencerminkan karakter bisnis energi terbarukan yang cenderung stabil, didukung oleh kontrak jual beli listrik jangka panjang dengan skema harga tetap. 

Ke depan, BREN berfokus pada ekspansi kapasitas pembangkit panas bumi melalui pengembangan proyek binary plant, yaitu teknologi yang memungkinkan pemanfaatan sumber panas dengan suhu lebih rendah untuk menghasilkan listrik tambahan. 

Strategi ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas tanpa harus membuka lapangan baru, sehingga lebih efisien dari sisi biaya dan waktu. 

Perusahaan juga menargetkan kapasitas terpasang dapat melampaui 1 GW dalam beberapa tahun ke depan, memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain utama energi panas bumi di kawasan.

Selain itu, BREN mulai menjajaki diversifikasi ke energi terbarukan lain seperti pembangkit listrik tenaga bayu yang saat ini masih dalam tahap studi kelayakan.

Step by Step Memulai Investasi yang Tepat, Bukan Diawali dengan Pilih Aset Paling Cuan Ya
Banyak orang memulai investasi dengan mencari aset yang paling cuan. Padahal, dalam memulai investasi, hal terpenting adalah “Apa tujuanmu?” kami jelaskan detail strategi investasinya di sini

Saham DCII

Ketiga, ada saham yang masih terafiliasi dengan grup Salim dan Toto Sugiri, yaitu DCII. Saham ini baru saja disematkan label HSC pada Selasa kemarin, dengan persentase kepemilikan terkonsentrasi sampai 99,96 persen. 

Retail hanya disisakan kepemilikan tipis 0,04 persen saja. Ini bisa dibilang real free float yang bisa di jual belikan di pasar sangat kecil. 

Dari beberapa bulan lalu, rumor stock split DCII sudah mengudara di pasar, tetapi sampai saat ini belum juga ada hilalnya. Menurut kami, aksi korporasi ini paling relevan untuk DCII karena statusnya sebagai saham termahal di bursa, menunjukakn saham ini tidak terjangkau bagi beberapa kalangan investor. 

Dari harga terkni di Rp198.675 per saham, artinya investor butuh modal hampir Rp20 juta hanya untuk dapat porsi 1 lot. Itupun belum tentu dapat karena likuiditas tipis. 

saham DCII

Secara teknikal, saham ini juga cenderung sideways, sejak awal tahun juga masih di zona merah, tetapi lebih moderat dibandingkan dua study case sebelumnya.

Saat DCII dari awal tahun koreksinya tak sampai 10 persen. Ini juga senada dengan kinerja profitabilitas yang lagi tertekan, tercermin dari laba bersih kuartal I/2026 yang susut 9,81 persen menjadi Rp377,75 miliar, dari Rp418,84 miliar di kuartal I/2025. Laba per saham dasar juga menyusut dari Rp176 menjadi Rp158.

Padahal, pendapatan DCII ini masih tumbuh 10,93 persen yoy menjadi Rp858,1 miliar. Sayangnya, pertumbuhan top itu terkisi beban pokok pendapatan yang melambung sampai 47 persen yoy. 

Artinya, pertumbuhan bisnis masih ada, tetapi sebagian besar masih terserap oleh biaya operasional yang lebih tinggi.

Meski begitu, kami menilai situasi ini hanya jangka pendek. DCII ini punya model model bisnis dengan pendapatan berulang (recurring income) dan permintaan data center yang terus meningkat, terutama dari kebutuhan cloud dan AI. 

DCII masih agresif memperluas kapasitas data center untuk mengakomodasi tingginya permintaan layanan cloud dan AI. Saat ini, pusat data E2 Surabaya berkapasitas 9 MW dan JK6 Cibitung berkapasitas 36 MW telah beroperasi dan menjadi motor pertumbuhan perseroan.

Di sisi lain, DCII juga menyiapkan pengembangan kawasan data center hyperscale di Bintan sebagai proyek jangka panjang. Untuk mendukung ekspansi tersebut, perseroan telah mengamankan fasilitas kredit senilai Rp17 triliun dari BCA yang akan digunakan untuk pembangunan pusat data baru dan memenuhi kebutuhan kapasitas pelanggan.

💡
PROMO SPESIAL dari Investing Pro, DISKON 60% + 15% untuk pembaca Mikirduit. Dapatkan tools analisis saham dan mencari Idea hingga tools AI yang berbasis data lengkap dari Investing dengan Klik di sini

Kesimpulan

Label HSC bukanlah pelanggaran, tetapi menjadi satu warning bahwa saham itu tidak likuid dan volatile.

Oleh karena itu, strategi trading/investasi juga perlu lebih disiplin dan dalam mengatur money management juga perlu lebih ketat. Hal ini supaya mental kita tetap waras menghadapi risiko volatilitasnya. 

Di sisi lain, status HSC tidak selalu mencerminkan kualitas fundamental perusahaan.

Beberapa emiten yang masuk daftar HSC justru sedang agresif berekspansi dan memiliki prospek pertumbuhan yang menarik dalam beberapa tahun ke depan. Artinya, risiko teknikal dan fundamental bisa saja bergerak berlawanan.

Dalam jangka pendek, pasar kemungkinan masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan metodologi HSC yang baru. 

Selama proses tersebut, fase konsolidasi harga justru dapat menjadi peluang bagi investor yang memiliki pandangan jangka panjang untuk melakukan akumulasi secara bertahap.

Pada akhirnya, arah pergerakan saham-saham HSC juga akan dipengaruhi oleh kondisi makro. Saat ini suku bunga masih berada di level yang relatif tinggi, sementara investor masih menunggu bukti nyata perbaikan ekonomi dan fiskal domestik. 

Jika sentimen makro mulai membaik dan likuiditas kembali masuk ke pasar, bukan tidak mungkin saham-saham dengan fundamental kuat yang sempat tertekan dapat kembali menarik perhatian investor. 

Oleh karena itu, fokuslah memilih emiten dengan bisnis yang berkualitas, valuasi yang masuk akal, serta tetap menerapkan manajemen risiko yang disiplin.

Gimana, menurut kalian dari deretan saham HSC sudah ada yang menarik diakumulasi? 

Mau Dapat Insight Saham Apapun yang Kamu Tanya untuk Membantu Conviction hingga Action Mulai dari Rp50 ribu per Bulan?

Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Disclaimer: artikel di sini hanya memberikan insight dan edukasi terkait pasar modal, bukan rekomendasi jual-beli.
join mikirsaham sekarang