5 Faktor yang Bikin Saham IBM Crash 25 Persen dalam Sehari, Hingga Jadi Alarm Risiko Bubble AI Pecah
Saham IBM bikin kaget pada 14 Juli 2026 setelah harga saham turun 25 persen. Ternyata ini 5 fakta dan sampai dianggap jadi gambaran jika ekspansi AI tidak menghasilkan pendapatan sesuai ekspektasi.
Mikirduit – Penurunan saham IBM hingga 25 persen pada perdagangan 14 Juli 2026 disebut menjadi peringatan pertama terkait booming AI. Apa yang sebenarnya terjadi?
Penurunan saham IBM terjadi setelah manajemen IBM merilis perkiraan kinerja kuartal II/2026 yang jauh di bawah ekspektasi pasar.
Jadi, manajemen IBM memperkirakan pendapatan sekitar 17,2 miliar dolar AS di bawah ekspektasi pasar yang sebesar 17,9 miliar dolar AS. Lalu, pertumbuhan laba bersih per saham sebesar 2,27 dolar AS per saham lebih rendah dari ekspektasi analis sekitar 3,01 dolar AS per saham.
Hasilnya, IBM mengalami penurunan harian terburuk sejak market crash Black Monday 1987. Nilai pasar IBM pun turun 67 miliar - 70 miliar dolar AS dalam satu malam.
Lalu, kenapa kondisi kinerja keuangan IBM ini disebut jadi gambaran risiko sektor AI?
5 Fakta yang Bikin Kinerja Kuartal II/2026 IBM di Bawah Ekspektasi Pasar
Manajemen mengungkapkan laba bersih per saham IBM di kuartal II/2026 lebih rendah 25 persen dari konsensus. Alasan dari manajemen ini yang bikin risiko bubble AI pecah bisa terealisasi.
Pertama, salah satu penyebab kinerja IBM di kuartal II/2026 di bawah ekspektasi adalah karena pelanggan IBM mengalihkan anggaran ke perangkat keras untuk infrastruktur AI.
Jadi, klien IBM lebih fokus mempercepat pembelian server, memory chip, storage, dan infrastruktur yang pasokannya makin terbatas. Sehingga anggaran yang harusnya masuk ke software, layanan konsultasi, hingga mainframe IBM dialihkan untuk pembelian Hardware tersebut.
CEO IBM Arvind Krishna mengakui pihaknya sudah memperkirakan risiko gangguan Supply chain tersebut. Namun, realita yang terjadi ternyata lebih besar dari antisipasi yang sudah disiapkan karena perubahan prioritas belanja modal pelanggan tersebut.
Kedua, bisnis segmen infrastruktur dan mainframe IBM melemah. Dalam proyeksinya, segmen infrastruktur IBM mengalami penurunan sebesar 7 persen. Segmen ini mencakup bisnis mainframe unggulan, yakni IBM Z yang banyak digunakan bank, perusahaan asuransi, dan korporasi besar untuk proses transaksi penting.
Mainframe dari IBM adalah komputer berukuran sangat besar dengan peforma super tinggi yang dirancang untuk menangani jutaan hingga miliaran transaksi dan perhitungan secara real time.
Tekanan dari bisnis segmen infrastruktur ini jelas pukulan telak bagi IBM. Pasalnya, dari bisnis segmen infrastruktur ini bisa mendorong pendapatan segmen lainnya seperti, software, maintenance, layanan pendukung, update kapasitas, hingga konsultasi dan integrasi.
Sehingga pelemahan penjualan mainframe bisa memberikan efek berantai terhadap pendapatan software dan layanan perseroan.
Ketiga, IBM Z17 Sepi Peminat. Sebelumnya, IBM mengharapkan dengan peluncuran IBM Z17 bisa menjadi pendorong bisnis segmen infrastruktur perseroan. Sayangnya, hasil kuartal II/2026 menunjukkan kalau momentum peluncurannya tidak menghasilkan kontribusi pendapatan sesuai ekspektasi.
Dari laporan MarketWatch, IBM memperkirakan fase peluncuran Z17 mulai mencapai tahap akhir pada kuartal II/2026. Namun, perubahan anggaran belanja klien ke server, storage, dan memory membuat permintaan terhadap sistem mainframe IBM itu tidak sesuai ekspektasi.
Keempat, Pertumbuhan bisnis software IBM juga lambat. Pendapatan bisnis software IBM hanya tumbuh 5 persen yang posisinya berada di bawah ekspektasi pasar.
Hal ini cukup mengecewakan karena narasi investasi IBM selama beberapa tahun terakhir adalah transformasi dari perusahaan Hardware lama menjadi perusahaan software, hybrid cloud, dan AI dengan pendapatan berulang yang lebih stabil.
Walaupun, ada satu hal yang masih positif, yakni pendapatan dari bisnis Red Hat masih tumbuh 11 persen. Hal itu menunjukkan bisnis open-source dan hybrid cloud IBM masih belum kehilangan momentum.
Kelima, manajemen IBM melirik potensi bisnis cybersecurity yang membuat proyek non-cybersecurity ditunda. Hal itu terjadi selaras dengan risiko ancaman serangan siber berbasis AI yang membuat banyak perusahaan mengubah prioritas anggaran.
Tren ini disebut membuat IBM tertekan dari dua arah, anggaran Hardware berpindah ke server, memory, dan storage. Lalu, anggaran software juga berpindah ke cybersecurity.
Mau mulai investasi saham AS? Kamu bisa pilih gunakan 5 aplikasi ini:
- XTB Indonesia bisa mendapatkan bonus maksimal 25 Dolar AS, daftar dengan kode MIKIRDUIT dari link ini
- Pluang bisa berpeluang mendapatkan hadiah hingga Rp1 juta dengan klik link ini
- Ajaib dapatkan hadiah jika join dengan klik link ini
- Nanovest dapatkan bonus Rp40.000 jika join dengan klik link ini
- Gotrade Indonesia berkesempatan untuk dapat hadiah 120 dolar AS dengan klik link ini

Apakah IBM Terdisrupsi AI?
Jawabannya, IBM bisa dibilang tidak terdisrupsi AI. Bahkan, IBM memiliki bisnis related AI seperti, Watsonx, Red hat, hybrid cloud, konsultas AI, dan ekosistem mainframe yang cukup penting bagi korporasi dan sudah adaptif dengan teknologi AI.
Masalahnya adalah adanya aktivitas panic buying terkait infrastruktur AI yang membuat saham-saham seperti IBM mengalami gangguan kinerja. Hal itu justru menguntungkan para produsen Hardware infrastruktur AI seperti NVDA.
Namun, patut dipahami, IBM juga sempat tertekan pada Februari 2025 setelah Anthropic memperkenalkan kemampuan AI yang diklaim dapat membantu modernisasi aplikasi COBOL.
COBOL adalah aplikasi yang banyak digunakan pada mainframe lama. Masalahnya, kalau Anthropic bisa membantu modernisasi itu dan mempermudah perusahaan memigrasikan aplikasi dari sistem legacy, ada kekhawatiran ketergantungan pelanggan terhadap mainframe dan layanan IBM bisa berkurang.
Dampak Risiko AI dari Drama IBM
Hal yang terjadi di IBM bisa saja terjadi dengan saham-saham related-AI lainnya jika nantinya ekspansi infrastruktur AI dengan biaya tinggi ternyata tidak menghasilkan pendapatan yang sepadan. Pasalnya, dengan biaya tinggi termasuk kenaikan harga infrastruktur AI, berarti potensi untuk balik modal bisa makin lama.
Menaikkan harga produk layanan AI yang menggunakan harga infrastruktur yang selangit juga bukan solusi jika kondisi ekonomi melambat.
Apalagi, jika merujuk ke data Morgan Stanley, ada proyeksi penerbitan utang global yang berkaitan dengan pembangunan AI akan melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi tembus 570 miliar dolar AS sepanjang 2026.
Lonjakan ini terjadi karena banyak perusahaan teknologi besar semakin membutuhkan pendanaan eksternal untuk membangun data center, membeli chip, server, jaringan, dan infrastruktur kelistrikan dalam skala masif.
Untuk realisasinya, sampai 31 Mei 2026, sudah ada penerbitan surat utang untuk kebutuhan AI mencapai 236 miliar dolar AS. Angka ini 4 kali lipat lebih besar dari periode yang sama pada Mei 2025.
Tingkat utang didorong oleh empat hyperscaler, yakni GOOG, AMZN, MSFT, dan META, yang diperkirakan menghabiskan 700 miliar dolar AS pada 2026. Lalu, belanja modal ini diperkirakan naik tembus 1 triliun dolar AS pada 2027.

Bayangkan, jika ternyata aksi ekspansi jumbo itu tidak menghasilkan pendapatan yang sepadan. Lalu, para perusahaan teknologi itu mulai tertatih-tatih dalam membayar utang.
hal ini akan berkaitan dengan prospek ekonomi secara global. Pasalnya, konversi dari ekspansi AI ini akan berhubungan dengan kesiapan perusahaan untuk mengoptimalkannya sehingga ekspansi benar-benar menjadi pendapatan nyata.
Jadi, hal kecil yang terjadi di IBM hanya goncangan awal yang bisa menjadi besar jika hal serupa terjadi dalam ekspansi AI yang skala jumbo dan mempengaruhi kemampuan bayar utang.
Namun, ini baru hanya perkiraan yang sangat jauh dari realita alias belum tentu terjadi. Hanya menjadi kewaspadaan kita jika saat ini lagi mencatatkan keuntungan di saham related AI, jangan lupa untuk taking profit ya.
Mau Dapat Insight Saham dari Market Indonesia hingga Amerika Hanya Mulai dari Rp80.000 per bulan?
Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham Indonesia dan Amerika mulai dari Rp80.000 per bulan :
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

