5 Saham dengan Growth Laba Tertinggi di 2023, Layak Koleksi?

Deretan saham ini punya pertumbuhan laba bersih per saham tertinggi sepanjang 2023. Beberapa pun diikuti kenaikan harga saham yang cukup signifikan. Kira-kira gimana ya prospeknya? layak koleksi?

5 Saham dengan Growth Laba Tertinggi di 2023, Layak Koleksi?

Mikirduit – Beberapa waktu lalu, kami sempat membuat konten tentang korelasi antara laba per saham yang mempengaruhi kinerja harga saham. Untuk itu, kami mencari 5 saham yang mencatatkan pertumbuhan laba per saham tertinggi sepanjang semester I/2023, bagaimana prospek harga sahamnya?

Berikut ini 5 saham yang mencatatkan pertumbuhan laba per saham paling tinggi sepanjang semester I/2023. Kira-kira, apakah sahamnya layak untuk dikoleksi?

1. PT Clipan Finance Tbk. (CFIN)

CFIN mencatatkan pertumbuhan laba per saham sebesar 6.420 persen menjadi Rp163 per saham dibandingkan dengan Rp2,5 per saham pada periode sebelumnya. Seiring dengan kenaikan laba per saham itu, harga saham CFIN sepanjang 2023 sudah naik sebesar 94 persen.

Lalu, apa yang membuat laba bersihnya meroket?

Salah satu yang mengerek pertumbuhan laba bersih, termasuk laba bersih per sahamnya adalah pendapatan lain-lain yang naik 290 persen menjadi Rp774 miliar dibandingkan dengan Rp198 miliar pada periode sama tahun lalu.

Lonjakan pendapatan lainnya itu didorong oleh pendapatan dari piutang yang sudah dihapus buku. Bagaimana maksudnya? jadi ada penyaluran pembiayaan CFIN yang macet dan sudah dihapusbukukan alias dihilangkan dari pencatatan. Namun, tiba-tiba mendapatkan pendapatan lagi dari sana.

Hal ini bisa terjadi lewat dua hal, pertama dari pembayaran kembali oleh debitur yang mengutang. Kedua, dari hasil penjualan agunan yang diberikan.

Namun, sifat pendapatan ini hanya sementara. Artinya, ketika pencatatan pendapatan dari piutang yang dihapusbukukan itu menghilang pada 2024, laba bersih CFIN akan kembali normal.

Nantinya, nilai pendapatan itu akan terefleksi di kuartal III/2023 di mana poin pendapatan lainnya ini tidak bertambah di kuartal ketiga.

Jadi, menurut kami, saham CFIN untuk saat ini hanya menarik untuk jangka pendek setidaknya sampai pemaparan laporan tahunan 2023 di awal 2024. Setelah itu, lebih baik take profit terlebih dulu. Soalnya, kinerja keuangan CFIN akan terkonsolidasi yang akan mempengaruhi pergerakan harga sahamnya juga.

2. PT Madusari Murni Indah Tbk. (MOLI)

MOLI, perusahaan produsen etanol, pupuk, dan karbon dioksida ini mencatatkan pertumbuhan laba bersih per saham sebesar 2.433 persen menjadi Rp21,79 per saham. Seiring dengan kenaikan laba bersih per sahamnya itu, harga saham MOLI juga sudah meroket sebesar 134,62 persen menjadi Rp488 per saham sampai 6 September 2023.

Lalu, apa yang membuat laba bersih per saham MOLI melesat? apakah adanya kenaikan permintaan etanol dari Pertamina untuk produksi bensin Pertamax Green?

Untuk permintaan etanol dari Pertamina, kami tidak mendapatkan datanya. Namun, tidak ada nama Pertamina sebagai pembeli yang berkontribusi lebih dari 10 persen pendapatan perseroan.

Di luar itu, kenaikan laba bersih MOLI bukan disebabkan oleh operasional bisnis yang meroket. Pendapatan perseroan justru turun 2 persen menjadi Rp696 miliar. Namun, berhubung penurunan beban pokok pendapatan yang lebih tinggi membuat laba kotor MOLI malah naik sebesar 11 persen menjadi Rp171 miliar.

Namun, kunci kinerja keuangan MOLI bukan di efisiensi tersebut, melainkan ada aksi penjualan aset senilai Rp53 miliar yang tercatat dalam pendapatan lain-lain. Hasilnya, laba bersih MOLI melejit 1.500 persen menjadi Rp45 miliar.

Artinya, kenaikan laba per saham MOLI hanya sementara akibat dari penjualan aset tersebut. Dengan kenaikan harga MOLI yang sudah sangat tinggi, sangat berisiko untuk nekat masuk ke saham tersebut.

Kecuali, tiba-tiba Pertamina meminta pasokan etanol dari MOLI sehingga pendapatannya bisa bangkit.

3. PT Garuda Metalindo Tbk. (BOLT)

Saham BOLT, produsen komponen otomotif ini, juga mencatatkan pertumbuhan laba bersih per saham sebesar 984 persen menjadi Rp27,87 per saham. Menariknya, meski laba bersih per sahamnya meroket, harga saham BOLT tidak naik signifikan. Saham BOLT naik 17,45 persen menjadi Rp875 per saham sepanjang 2023.

Apalagi, kalau lihat bid-offer saham BOLT per 6 September 2023, sangat amat tidak likuid. Jumlah bid cuma 15 lot, sedangkan sell sebesar 57 lot.

Di sisi lain, kenaikan laba bersih BOLT disebabkan oleh beberapa faktor seperti:

Kenaikan pendapatan sebesar 16,17 persen menjadi Rp765 miliar dibandingkan dengan Rp658 miliar pada periode sama tahun lalu.

Tingkat efisiensi di pos beban pokok pendapatan yang membuat gross profit margin naik signifikan menjadi 19,6 persen dibandingkan dengan 13 persen pada periode sama tahun lalu.

Adanya pendapatan dari penjualan aset yang naik 3.994 persen menjadi Rp1,08 miliar. Serta adanya kenaikan pendapatan lain-lain sebesar 43 persen menjadi Rp4,32 miliar.

Mungkin jika melihat dari kinerja saham BOLT, operasional bisnisnya juga berkontribusi besar terhadap pertumbuhan laba bersihnya tersebut. Namun, permasalahan saham BOLT ini adalah sangat tidak likuid. Ibaratnya, saham ini nunggu market maker yang mau menggerakkan agar bisa naik.

Meski, jika dilihat dari segi price to book value (PBV) masih terlihat murah di angka 2,6 kali atau di bawah rata-rata 5 tahunnya yang sebesar 2,78 kali. Namun, apa artinya saham murah jika tidak likuid kan?

4. PT Indonesia Paradise Property Tbk. (INPP)

INPP adalah induk usaha dari PT Plaza Indonesia Realty Tbk. (PLIN). Beberapa portofolio propertinya antara lain, Plaza Indonesia, Sahid Kuta Lifestyle Resort, 23 Paskal Shopping Center Bandung, Sheraton Bali Kuta Resort, Aloft Bali Kuta at Beachwalk, YELLO Kuta Beachwalkm Maison Aurelia Sanur, Harris Hotel Tuban, Grand Hyatt Jakarta, Keraton at The Plaza Jakarta, Harris Suites FX Sudirman, Harris  Hotel Tebet, Harris Hotel Batam Center, Harris Resort Waterfront Batam, POP! Hotel Sangaji, Plaza Indonesia, FX Sudirman, Beachwalk Shopping Center, 28 Paskal Shopping Center, Park23 Entertainment Center Bali, The Plaza Office  Tower.

Adapun, INPP mencatatkan pertumbuhan laba bersih per saham hingga semester I/2023 sebesar 864 persen menjadi Rp7,33 per saham. Sepanjang tahun ini, pergerakan harga saham INPP tidak naik signifikan, hanya tumbuh sebesar 15,79 persen.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kenaikan laba bersih per saham INPP tersebut seperti:

  • Pendapatan perseroan tumbuh 78 persen menjadi Rp537 miliar. Pendapatan itu ditopang oleh kenaikan pendapatan perhotelan sebesar 88,59 persen menjadi Rp207 miliar. Lalu, pendapatan dari segmen komersial yang tumbuh 25,72 persen menjadi Rp221 miliar, pendapatan dari penjualan properti sebesar 897 persen menjadi Rp102 miliar, dan pendapatan manajemen properti tumbuh 39 persen menjadi Rp6,12 miliar.
  • INPP juga mencatatkan keuntungan selisih kurs senilai Rp17,33 miliar dibandingkan dengan rugi Rp12,5 miliar pada  periode sama tahun lalu.
  • Perseroan mendapatakan kenaikan pendapatan dividen sebesar 6 persen senilai Rp77,85 miliar. Pendapatan dividen itu berasal dari PLIN.
  • Perseroan juga mendapatkan keuntungan dari realisasi penjualan investasi saham senilai RP2 miliar.
  • Hal itu semua mendongkrak laba bersih INPP tumbuh 868 persen menjadi Rp81,98 miliar.

Jadi apakah INPP juga menarik untuk dibeli?

Meski PBV INPP masih lebih murah sebesar 1,02 kali dibandingkan dengan rata-rata 5 tahunnya yang sebesar 1,27 kali. Namun, saham ini sangat tidak likuid. Sehingga cukup berisiko untuk memaksakan masuk, meski perseroan mencatatkan pertumbuhan bisnis operasional yang bagus.

5. PT Indo Komoditi Corpora Tbk. (INCF)

INCF adalah emiten yang bergerak di sektor perkebunan karet. Produksinya berupa produk karet, yakni SIR 20 dan dry jelutung. Sampai semester I/2023, perseroan mencatatkan pertumbuhan laba bersih per saham sebesar 325 persen menjadi Rp1,02 per saham. Namun, harga saham INCF sepanjang tahun ini malah turun 7,41 persen dan jatuh di level gocap.

Di sisi lain, meski pertumbuhan laba bersih INCF tembus 817 persen, tetapi dari sisi pendapatan malah turun 26 persen menjadi Rp133 miliar.

Adapun, faktor pendukung laba bersih INCF antara lain penurunan di seluruh beban operasionalnya. Seperti biaya pemasaran turun 27 persen menjadi Rp249 juta, biaya administrasi turun 28 persen menjadi Rp6,5 miliar, dan biaya keuangan turun 4 persen menjadi Rp13 miliar.

Lalu, apakah INCF punya prospek jangka panjang yang bagus? menurut kami agak berisiko karena bisnisnya adalah perkebunan karet di mana harga karet sangat berfluktuasi cukup tinggi. Hal itu terefleksi dari kinerja INCF.

Kesimpulan

Jadi, seperti dalam tulisan sebenarnya, pergerakan laba per saham terhadap harga saham akan berpengaruh jika itu adalah saham dengan kapitalisasi besar atau second liner yang likuid, sedangkan secondliner yang tidak likuid dan third liner butuh market maker untuk menggerakkan harga sahamnya.

Seperti dalam 5 saham dengan pertumbuhan laba bersih tertinggi ini, sebenarnya model bisnis seperti MOLI dan BOLT itu cukup menarik. Namun, ya saham-saham ini kurang begitu likuid. Bahkan, transaksi bid-offer harian BOLT sangat amat sedikit.

Di luar itu, kami ingin menunjukkan kalau laba per saham yang bagus juga bukan yang meroket, tapi yang pertumbuhannya stabil. Jika ada pergerakan laba per saham yang meroket berarti ada ketidakstabilan dalam laporan keuangan.

Ketidakstabilan ini maksudnya ada sumber pendapatan lain di luar operasional dari pendapatan yang udah dihapus buku, pendapatan lain-lain seperti penjualan aset, hingga adanya efisien seluruh biaya operasional.

Artinya, pertumbuhan laba bersih per saham ini sifatnya juga temporer. Jika kinerja kembali normalisasi ya laba bersih per sahamnya turun lagi. Jadi, ketika laba bersih per saham naik telah membuat saham secondliner tidak likuid serta third liner melejit. Siap-siap juga di tahun depannya ambruk balik ke harga normal lagi.