5 Saham dengan Debt to Equity Ratio Tertinggi Selain WIKA dkk

Risiko terbesar investasi saham adalah ketika perusahaan bermasalah dengan utang hingga disuspensi dan bisnis merugi. SImak 5 saham dengan tingkat debt to equity ratio tertinggi selain WIKA dan kawan-kawan

5 Saham dengan Debt to Equity Ratio Tertinggi Selain WIKA dkk

Mikirduit – Pelajaran dari BUMN karya adalah investor harus teliti untuk masuk ke saham yang punya utang lebih tinggi berkali-kali lipat dari ekuitasnya. Masalahnya, saham yang punya utang besar bukan cuma BUMN karya, berikut 5 saham dengan tingkat debt to equity ratio terbesar di BEI per 15 Desember 2023. 

Cerita BUMN karya mengajarkan kita, jika ingin masuk ke saham yang booming tapi punya utang tinggi. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan: 

  • Apakah dari utang itu, si perusahaan mampu mendorong pertumbuhan laba bersih atau pendapatannya. Jika iya, berarti kualitas utangnya bagus
  • Porsi utang lebih banyak di jangka pendek atau panjang, jika lebih banyak dijangka pendek terutama obligasi, coba cek kondisi cashflow dan ekuitasnya, aman nggak? 

Dari dua indikator itu saja, kita bisa meredam potensi risiko jika ingin masuk ke saham yang utangnya banyak. Walaupun, harus memantau secara rutin juga ya takutnya ada perubahan fundamental secara mendadak. 

7 Saham yang Tidak Utang ke Bank Hingga Obligasi, Freedom Banget
Trauma beli saham yang kena PKPU seperti SRIL? kalau begitu lebih baca ini 7 saham yang nggak mungkin kena PKPU karena nggak punya utang bank.

Nasib Saham WIKA (DER 4,52 kali)

Setelah WSKT, Kini WIKA seperti lagi di ujung tanduk. WIKA tidak mendapatkan persetujuan dari 4 hasil rapat umum obligasi dan sukuk dari total 8. Secara total, ada sekitar Rp3,27 triliun obligasi dan sukuk yang tidak menemukan kata sepakat dengan pemegangnya. 

PEFINDO pun sampai menurunkan peringkat utang WIKA menjadi idCCC dengan kategori credit watch dengan implikasi negatif karena ada surat utang yang tidak mendapatkan persetujuan kesepakatan dalam rapat umum sukuk perseroan. 

Peringkat ini menjadi tanda kalau WIKA ada potensi mencatatkan gagal bayar salah satu ada beberapa utangnya dalam jangka dekat. 

WIKA sendiri lagi proses masuknya penyertaan modal negara (PMN) dengan skema right issue senilai Rp6 triliun. Uang itu pun baru bisa cair pada kuartal I/2024. Padahal, WIKA punya utang sukuk yang jatuh tempo pada 18 Desember 2023. Sayangnya, dalam rapat sukuk itu, salah satu yang tidak mendapatkan persetujuan dari pemegangnya. 

Namun, WIKA tetap akan memperpanjang tenor sukuk tersebut dengan skema yang belum tahu, apakah yang diperpanjang hanya untuk yang setuju, sedangkan yang tidak tetap lanjut. Jika menggunakan skema itu, WIKA pun tetap kesulitan melakukan pembayaran karena tidak ada cashflow yang cukup untuk bayar utang sukuknya. 

Kerumitan masalah utang ini bisa berdampak saham WIKA kena suspensi, meski sudah mengutarakan niat right issue untuk disuntikkan PMN oleh negara. 

Nah, ini kan saham BUMN karya, kira-kira saham apa lagi yang redflag terkait utangnya?

Alasan Saham BUMN Karya Sangat Tidak Menarik
Siapa yang masih ngelirik saham BUMN Karya? ini WIKA lagi banyak ngadain rapat umum pemegang obligasi untuk proses restrukturisasi. Kalau menurut kami, saham BUMN karya ini sangat berisiko banget, begini alasannya

Saham LPPF (284 kali)

Sebenarnya, dalam kasus LPPF ini bukan utangnya yang tinggi, tapi ekuitasnya yang susut. Jadi, ekuitas LPPF hingga kuartal III/2023 hanya tersisa Rp3,51 miliar dibandingkan dengan Rp580 miliar pada periode sama sebelumnya. Manajemen LPPF berdalih, ekuitas perseroan susut karena efek dari merger dengan Meadow Indonesia pada 2011 silam. Hal itu membuat modal disetor LPPF menjadi negatif, meski perseroan memiliki saldo laba yang tidak dicadangkan senilai Rp3,33 triliun. 

Meski begitu, secara bisnis, kondisi LPPF juga lagi tertekan setelah laba bersihnya turun hampir setengahnya menjadi Rp630 miliar dibandingkan dengan Rp1,05 triliun pada periode sama tahun lalu. Dari sisi arus kas operasional, LPPF juga masih cukup tebal senilai Rp1 triliun, sedangkan dari sisi utang, LPPF juga cuma punya sekitar Rp1 triliun. Hanya saja, Debt ti equity ratio LPPF naik menjadi 285 kali gara-gara ekuitas secara keseluruhannya susut. 

Walaupun memang terlihat fundamental LPPF terlepas dari penurunan ekuitas masih oke, tapi tetap saja dengan risiko bisnis ritel offline yang masih lesu, kami pikir masuk ke LPPF saat ini berisiko tinggi juga. Soalnya, kita pun tidak memiliki informasi kuat apa hubungannya aksi merger di 2011 hingga membuat modal disetor mereka negatif di 2023. 

Memahami Lapkeu Saham DMAS dan LPPF, Jeblok Tapi Beda Nasib?
Saham LPPF dan DMAS sama-sama mencatatkan penurunan laba bersih, tapi nasibnya beda lho. Mana saham yang nasibnya lebih baik dan buruk?

Saham CLAY (121 kali)

Saham CLAY beroperasi di sektor perhotelan yang sempat mencatatkan ekuitas negatif pada 2022 dan kini sudah positif, meski hanya Rp1,9 miliar. Kasusnya hampir sama seperti LPPF, gara-gara ekuitas susut membuat tingkat debt to equity ratio-nya menjadi sangat tinggi. 

Bedanya, kalau LPPF masih punya dana tunai di ekuitasnya hasil pencadangan laba bersih, sedangkan untuk CLAY benar-benar defisit karena perseroan merugi saat pandemi Covid-19. Untungnya, sampai 2023 CLAY mulai mencatatkan laba bersih yang positif. 

Perseroan mencatatkan laba bersih Rp3,51 miliar dibandingkan dengan rugi Rp32,12 miliar pada periode sama tahun sebelumnya. Kenaikan laba bersih itu didorong oleh aktivitas masyarakat untuk liburan mulai meningkat lagi di tahun ini. 

Namun, CLAY juga lagi mengurus restrukturisasi utang-utangnya. Sejauh ini, CLAY punya utang sekitar RP257 miliar dengan Rp26,4 miliar dalam bentuk jangka pendek. 

Untuk utang jangka pendeknya aman sih, apalagi kondisi arus kas operasional perseroan masih positif Rp34 miliar juga. 

Dengan kondisi yang belum stabil itu, sangat berisiko untuk masuk ke saham tersebut.

Saham ATIC (77,42 kali)

Berbeda dari dua kasus sebelumnya, di mana tingkat DER melejit karena adanya penurunan ekuitas, ATIC memang mencatatkan tingkat utang yang cukup tinggi. 

Total debt to equity ratio ATIC sebesar 6,58 kali. Total utang berbunganya mencapai Rp1,35 triliun dengan nominal ekuitas hanya RP205 miliar. Risikonya makin besar karena mayoritas utang senilai Rp1,28 triliun itu sifatnya jangka pendek. 

Kondisi itu membuat ATIC cukup terbebani dari keuangan. Meski laba bruto senilai Rp847 miliar, tapi beban bunganya mencapai Rp118 miliar. Akhirnya, laba bersih perseroan tinggal Rp66 miliar. 

Masalahnya, dari kas operasional, kondisi perseroan saat ini negatif Rp578 miliar. 

Secara fundamental, masuk ke saham ATIC ini punya risiko kredit yang cukup tinggi. Apalagi, jika ada kejadian tidak terduga yang bisa membuat cashflow terhambat seperti pandemi Covid-19 silam.

Di luar itu, ATIC juga lagi berencana merestrukturisasi perusahaannya dengan melakukan divestasi. Perseroan berencana melepas cucu usahanya bernama PT Equine Global kepada IBM. DI mana, kondisi Equine Global saat ini pun lagi merugi. 

Ekspektasi nilai transaksi kemungkinan sekitar Rp195 miliar yang bisa meringankan beban perseroan serta menambah arus kas dalam jangka pendek.

Saham DAYA (25,41 kali)

Saham DAYA adalah emiten yang memiliki bisnis ritel kecantikan dengan brand Watson. Tingkat debt to equity ratio (DER) DAYA menjadi yang tertinggi karena adanya penurunan ekuitas akibat akumulasi kerugian. Hal ini seperti dalam kasus saham CLAY. 

Total utang berbunga DAYA sebenarnya hanya Rp156 miliar, tapi tingkat ekuitasnya turun Rp6,13 miliar. Penurunan ekuitas berpotensi berlanjut karena saham ini masih mencatatkan kerugian. Hingga kuartal III/2023, tingkat kerugiannya sekitar Rp29,16 miliar. 

Dengan kondisi ini sangat riskan untuk masuk ke saham DAYA jangka menengah, bahkan jangka pendek sekalipun. Pasalnya, total utang perseroan senilai RP156 miliar itu dalam bentuk jangka pendek dengan kondisi perusahaan merugi dan cashflow negatif.

Saham JAWA (24,47 kali)

Saham JAWA bergerak di bidang sektor pertanian mulai dari karet, kopi, teh, dan kelapa sawit. Dalam kasus JAWA, debt to equity ratio-nya tinggi disebabkan oleh dua faktor, utangnya besar dan kondisi ekuitasnya susut akibat rugi. 

Total utang berbunga JAWA mencapai Rp2,03 triliun, sedangkan ekuitasnya hanya Rp83,32 miliar. Sehingga totak debt to equity rationya menjadi 24,46 kali. 

Ditambah, pada 2023, pendapatan JAWA turun karena faktor cuaca. Rugi bersihnya pun makin tinggi menjadi Rp244 miliar dibandingkan dengan Rp177 miliar pada periode sama tahun lalu. 

Kondisi utang JAWA pun cukup kronis hingga perseroan melakukan private placement senilai Rp1,24 triliun untuk konversi utang menjadi saham. Meski begitu, tidak ada perubahan yang signifikan terhadap pengendali. Soalnya, yang masuk cukup besar adalah pengendalinya saat ini, yakni PT Sarana Agro Investama. 

Dengan kondisi itu, porsi pemegang saham publik terdilusi menjadi 4,65 persen dibandingkan dengan 19,99 persen pada periode sebelumnya. 

Untungnya, minjem uangnya dengan pengendali sendiri ya. Coba pihak ketiga, runyam tuh. Namun, dengan kondisi begini, jangan coba-coba masuk ke saham JAWA untuk jangka menengah ya. 

Kesimpulan

Dari kasus 5 saham dengan debt to equity ratio (DER) tinggi itu, kami mencatatkan beberapa kesimpulan atau penyebab kenapa DER tinggi: 

  • Ada anomali penurunan ekuitas seperti yang terjadi di LPPF. Posisi ini agak abu-abu dengan struktur fundamental masih oke hanya bisnisnya kurang bertumbuh. Namun, penyebabnya yang sangat anomali dan tidak jelas jadi risiko masuk. Artinya, tingkat ketidakpastian di saham tersebut sangat tinggi.
  • Ada penurunan ekuitas akibat akumulasi kerugian. Sehingga tingkat utang yang masih wajar menjadi terlihat besar jika dilihat dari sisi DER-nya. Meski begitu, risiko masuk ke saham ini sangat tinggi karena kondisi kinerja perseroan merugi banyak hingga membuat ekuitasnya susut. Akhirnya, ada risiko juga untuk mengalami gagal bayar jika tidak melakukan restrukturisasi dengan tepat. 
  • Tingkat utang tinggi dan kondisi rugi. Ini kondisi yang sangat buruk. Saat utang tinggi dan kondisi merugi membuat DER naik sangat tinggi. Jelas, kondisi saham ini lebih baik di-skip meski tiba-tiba ada yang goreng. 

Nah, dari ulasan 5 saham dengan tingkat DER tertinggi ini. Ada yang pernah kamu hold sahamnya?

Mau dapat guideline saham dividen 2024?

Pas banget, Mikirduit baru saja meluncurkan Zinebook #Mikirdividen yang berisi review 20 saham dividen yang cocok untuk investasi jangka panjang lama banget.

Kalau kamu beli #Mikirdividen edisi pertama ini, kamu bisa mendapatkan:

  • Update review laporan keuangan hingga full year 2023 dalam bentuk rilis Mikirdividen edisi per kuartalan
  • Perencanaan investasi untuk masuk ke saham dividen
  • Grup Whatsapp support untuk tanya jawab materi Mikirdividen
  • Siap mendapatkan dividen sebelum diumumkan (kami sudah buatkan estimasinya)

 Yuk langsung join Mikirdividen DISKON LANGSUNG Rp100.000 cuma sampai 31 Desember 2023 klik di sini ya

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini