5 Saham Big Caps Anjlok Lebih dari 50 Persen, Sudah Murah?

Investasi saham jangka panjang pasti cuan? eits jangan jumawa dulu, ini ada 5 saham big caps yang 10 tahun terakhir harga sahamnya malah turun di atas 50 persen. Kok bisa ya?

5 Saham Big Caps Anjlok Lebih dari 50 Persen, Sudah Murah?

Mikirduit – Investasi saham dikenal sebagai instrumen yang cocok untuk jangka panjang. Namun, ada saham dengan market cap di atas Rp25 triiliun, yang selama 10 tahun terakhir harga sahamnya malah turun lebih dari 50 persen. Duh kalau begitu bukan cuan malah boncos. Kami akan ungkap penyebabnya dan bagaimana untuk menghindarinya. 

Saham PGAS

Ternyata, ada saham yang turunnya sangat dalam selama 10 tahun terakhir, bahkan lebih besar daripada BUMI, yakni adalah PGAS. Saham PGAS mencatatkan penurunan sebesar 74 persen dalam 10 tahun terakhir. 

💡
Penurunan 10 tahun terakhir berarti mulai 2013 di mana sebenarnya saham BUMI sudah anjlok lebih dalam sejak 2008. Jadi, bukan berarti saham ini lebih buruk dari BUMI. 

Jika melihat penurunan harga saham PGAS sebenarnya selaras dengan penurunan laba bersihnya sejak 2012. Sejak saat itu, PGAS belum mampu mencatatkan laba bersih setinggi periode 2012 lagi. 

Kinerja laba bersih PGAS pernah tumbuh agresif dalam lima tahun. Dari laba bersih senilai 74 juta dolar AS pada 2008 hingga sempat tembus 891 juta dolar AS pada 2012. Namun, setelah itu laba bersih PGAS terus turun hingga per 2022 senilai 326 juta dolar AS. 

Laba bersih PGAS yang stagnan juga ada kaitannya dengan drama distribusi gas ke industri. Di mana, harga jual gas cenderung dibatasi demi bisa menjaga kinerja industri. Serta, banyak permainan bisnis dalam distribusi gas yang membuat margin PGAS menjadi kecil.

Kinerja PGAS per kuartal III/2023, laba bersihnya pun kembali balik arah turun sebesar 32 persen menjadi 208 juta dolar AS. 

Kami pun menilai saham PGAS saat ini lebih cocok untuk trading jangka pendek dengan mengambil fluktuasi harganya ketimbang jangka panjang. Alasannya, secara prospek bisnis gas masih memiliki margin yang tipis.

Saham BUMI

Saham BUMI pernah menduduki level tertinggi di dunia persahaman Indonesia. Bahkan, BUMI ini bisa dibilang saham sejuta umat. Sampai akhirnya runtuh karena masalah transaksi repo dan dijadikan jaminan utang oleh BNBR. Gara-gara itu, saham BUMI runtuh dari level tertingginya di Rp8.000 per saham hingga sempat menjadi Rp50 per saham. Untuk pergerakan harga saham BUMI sepanjang 10 tahun terakhir sudah turun sebesar 71 persen.

BUMI yang bisa dibilang perusahaan tambang batu bara terbesar harus tersandung kasus REPO BNBR. Jadi, BNBR ngutang dengan jaminan saham BUMI. Di mana, akhirnya BNBR tidak bisa membayar utang tersebut, bahkan jika menjual 35 persen kepemilikannya di BUMI. 

Detail cerita tentang BUMI pernah kami ulas secara lengkap di sini: Penyebab BUMI yang Dari Sejuta Umat Jadi Kisah Horor Pasar Saham Indonesia

Saham HMSP

Saham HMSP telah mencatatkan penurunan sebesar 63 persen dalam 10 tahun terakhir. Penurunan saham HMSP itu selaras dengan tren kinerja keuangannya yang cenderung turun. Kinerja pendapatan saham HMSP sudah mulai menunjukkan perlambatan sejak 2015, dan mulai mencatatkan penurunan pada 2019. 

Penurunan itu disebabkan oleh kenaikan tarif cukai rokok yang cukup agresif sepanjang 10 tahun terakhir. Jika dihitung, rata-rata kenaikan cukai rokok dalam 10 tahun terakhir mencapai 9,7 persen per tahun. Sejak pemerintahan Joko Widodo, rata-rata kenaikan cukai rokok juga lebih agresif dari 8 persen per tahun menjadi 10 persen per tahun. Bahkan, pada 2020 kenaikan cukai rokok sempat 23 persen sebagai akumulasi tidak ada kenaikan cukai rokok pada 2019.

Secara umum, industri rokok memang akan terus tertekan karena industrinya akan terus tertekan oleh kenaikan cukai rokok. Untuk itu, kami pun tidak menyarankan untuk masuk ke HMSP dalam jangka panjang. Saham ini lebih cocok untuk swing trading. Meski, saham ini bagikan dividen, tapi tingkat dividennya berpotensi turun seiring dengan tekanan terhadap daya beli produknya karena kenaikan cukai tersebut. 

Salah satu kunci HMSP untuk bisa lepas dari tekanan kinerja keuangan adalah mencari potensi bisnis lainnya. Kami melihat HMSP punya bisnis SRC, yang awalnya seperti CSR untuk mendukung komunitas pedagang kelontong. Namun, bisnis SRC ini mulai berkompetisi juga dengan BUKA, yang memiliki mitra Bukalapak. GGRM pun juga punya bisnis serupa.

Namun, tampaknya itu belum dijadikan bisnis utama untuk HMSP. Perusahaan rokok itu masih mencoba mengolah produk rokoknya menjadi lebih baik lagi, seperti inovasi rokok tanpa asap yang tampaknya sejauh ini belum terlalu sukses. Tapi, kita bisa lihat bagaimana kontribusi ekspor produk tersebut ke Jepang, di mana peminatnya cukup besar di sana. 

Saham EXCL

Fakta menarik lainnya, ternyata EXCL menjadi salah satu saham yang dalam 10 tahun terakhir malah mencatatkan penurunan yang dalam sebesar 60,16 persen. Kenapa begitu?

Penurunan harga saham EXCL itu juga selaras dengan tren kinerja keuangan selama 10 tahun terakhir yang cenderung turun. Hal itu disebabkan oleh persaingan operator telekomunikasi yang sempat tidak sehat hingga membuat beberapa operator telekomunikasi merugi. Untuk itu, pemerintah merekomendasikan untuk operator telekomunikasi melakukan konsolidasi merger dan akuisisi untuk membuat industri yang lebih sehat.

Tekanan kinerja EXCL jika dilihat dalam tren jangka panjang terlihat dari posisi laba bersih hingga 2022 belum bisa menggapai pencapaian tertinggi di 2010-2011 di mana saat itu laba bersih perseroan tembus Rp2,8 triliun. Sampai kuartal III/2023, laba bersih EXCL masih lanjut naik sebesar 3 persen menjadi Rp1 triliun. 

Di sisi lain, konsolidasi EXCL dengan AXIS belum menjadikan emiten operator seluler ini bisa tumbuh lebih cepat. Untuk itu, jika EXCL jadi konsolidasi dengan FREN bisa membuat pertumbuhan kinerja keuangan saham ini sedikit terhambat lagi karena ada proses konsolidasi yang bisa memakan waktu lama.

Mitos FREN Merger dengan EXCL Kembali Muncul, Jadi Kenyataan?
Lagi-lagi kisah mitos saham FREN merger dengan EXCL kembali mengemuka. Kira-kira gimana ya prospeknya? beneran jadi gak nih?

Namun, EXCL punya katalis positif dari segi integrasi bisnis dengan provider internet rumah untuk membuat produk konvergensi yang diperkuat setelah akuisisi LINK. Kira-kira, apakah itu bisa mendorong kembali saham EXCL ke peforma lebih tinggi dari 10 tahun lalu?

Saham SMGR

Saham SMGR menjadi saham kelima yang mencatatkan penurunan sebesar 56 persen dalam 10 tahun terakhir. Kasus saham SMGR ini agak mirip dengan EXCL, yakni disebabkan tekanan industrinya. 

Jadi, pada medio 2014-2016 sempat terjadi oversupply semen dan perang harga dengan produk semen dari China. Hal itu membuat SMGR maupun kompetitornya INTP tidak bisa melakukan kenaikan produksi yang lebih besar lagi. Pasalnya, pasar sudah dipenuhi oleh produk semen, sedangkan permintaan tengah melambat. 

Di situ, terlihat kinerja pendapatan SMGR pada periode tersebut stagnan di Rp26 triliun. Bahkan, kompetitornya INTP membagikan dividen lebih dari 100 persen laba bersih karena tidak bisa ekspansi bisnis juga.

Setelah itu, 2017-2019, permintaan semen sudah mulai pulih lagi, terutama didorong oleh proyek infrastruktur. Belum lagi SMGR juga konsolidasi dengan semen Holcim (SMCB). Sayangnya, tren kinerja positif itu dihambat oleh pandemi Covid-19 hingga harga batu bara yang meroket pada 2022 sehingga kinerja saham semen lanjut tertatih-tatih hingga saat ini. 

Kesimpulan

Sebelum memberikan gambaran secara umum dari 5 saham ini, kami ingin memberikan sebuah kesimpulan jika kita beli saham yang berfundamental bagus dan rutin dividen tetap bisa rugi jika beli di harga mahal. Untuk itu, sangat penting kita membeli saham untuk jangka panjang di harga yang murah.

Selain itu, kita perlu juga menganalisis kondisi industri saham yang ingin dibeli, jika ingin investasi jangka panjang. Alasannya, karena dengan mengetahui kondisi industri, kita bisa mengetahui prospek jangka panjang dan posisi harga saat ini sudah murah atau belum.

Adapun, dari kelima saham yang sudah turun lebih dari 50 persen dalam 10 tahun terakhir itu, kami menilai hanya EXCL yang punya potensi bangkit lebih cepat. Dengan catatan, harus ada segera kepastian apakah konsolidasi merger dengan FREN atau tidak. Jika ada aksi merger dengan FREN, pemulihan kinerja EXCL membutuhkan waktu yang lebih lama lagi. 

Selain EXCL, kami melihat SMGR ini juga menarik dengan catatan proyek IKN dilanjutkan hingga selesai. Apalagi, jika suku bunga turun, gairah konstruksi properti maupun pembangunan gedung lainnya akan semakin menggeliat. Tinggal bagaimana strategi SMGR bisa menjaga produknya menjadi andalan dalam setiap proyek tersebut. 

Untuk PGAS dan HMSP, kinerja keuangannya sulit untuk bangkit karena tabrakan terhadap kebijakan pemerintah. Hal itu membuat margin PGAS berpotensi tergerus dan konsumen HMSP beralih ke rokok yang lebih murah. 

Lalu, BUMI sendiri kini sudah mulai lebih sehat, tapi risiko masa lalu membuat saham ini belum teruji untuk investasi jangka panjang. Dari kelima saham itu, mana yang menarik kamu koleksi?

Mau dapat guideline saham dividen 2024?

Pas banget, Mikirduit baru saja meluncurkan Zinebook #Mikirdividen yang berisi review 20 saham dividen yang cocok untuk investasi jangka panjang lama banget.

Kalau kamu beli #Mikirdividen edisi pertama ini, kamu bisa mendapatkan:

  • Update review laporan keuangan hingga full year 2023 dalam bentuk rilis Mikirdividen edisi per kuartalan
  • Perencanaan investasi untuk masuk ke saham dividen
  • Grup Whatsapp support untuk tanya jawab materi Mikirdividen
  • Siap mendapatkan dividen sebelum diumumkan (kami sudah buatkan estimasinya)

Tertarik? langsung saja beli Zinebook #Mikirdividen dengan klik di sini