4 Saham Ini Punya Prospek dari Tambang Emas Baru!

Ada empat emiten yang diketahui punya tambang emas baru, diantaranya UNTR, INDY, BRMS, dan EMAS, kira-kira gimana prospeknya? siapa paling menarik saham-nya?

saham EMAS

Mikirduit -  Kami mencatat empat emiten yang memiliki tambang emas baru, rencana produksi ada yang sudah mulai tahun ini, ada juga yang masih 1-2 tahun mendatang. Kira-kira gimana prospeknya? 

Highlight: 

  • Harga emas naik lagi ke atas US$ 5000 menjadi sentimen positif saham-saham di sektor logam mulia. 
  • UNTR, INDY, BRMS, dan EMAS diketahui punya tambang emas baru. 
  • UNTR masih terkendala drama tambang Martabe, sampai saat ini operasi masih dihentikan sementara. 
  • Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.

Harga Emas Manggung Lagi

Kami mulai dulu dengan membahas harga komoditas emas yang terpantau sudah naik lagi, bahkan sudah kembali ke atas US$ 5000/oz. 

Kalau ditarik sejak akhir bulan lalu, di mana harga emas terjun ke level US$ 4.400/oz sampai saat ini, artinya sudah ada pemulihan lebih dari 16 persen. Mencapai level tertinggi dalam waktut tiga pekan. 

Ada beberapa faktor yang membuat harga emas cepat pulih setelah jatuh dalam. 

Pertama, indeks dolar AS (DXY) masih terus melemah. 

Selama setahun terakhir, DXY sudah turun lebih dari 8% ke level 97.  Bagi emas, ini jadi satu hal yang positif karena dengan dolar AS yang melemah, maka logam mulia akan dinilai lebih terjangkau dibeli dengan mata uang lain. 

Kedua, permintaan sebagai aset safe-haven naik

Permintaan emas sebagai aset safe haven juga sedang naik seiring tensi geopolitik yang makin panas tahun ini. 

Pada awal tahun saja, Amerika Serikat (AS) sudah membuat huru-hara dengan menyerang Venezuela bahkan sampai mengklaim mau mengelola minyak mereka. 

Memasuki Februari, beralih ke hubungan AS-Iran yang makin panas, bahkan kabar perang sudah terdengar bisa meledak dalam hitungan hari sampai minggu, kalau diplomasi gagal. 

Di luar isu geopolitik tersebut, kabar positif justru datang dari meredanya tensi perang dagang. Mahkamah Agung menyatakan bahwa kebijakan tarif yang sebelumnya diberlakukan oleh Donald Trump dinilai ilegal, sehingga memicu optimisme pasar.

Meski demikian, Trump dikabarkan tetap mencari jalur yang dinilai sah secara hukum dengan mengumumkan rencana penurunan tarif secara merata menjadi 10 persen. Namun, khusus untuk Indonesia, yang sehari sebelumnya telah menyepakati tarif 19 persen, perkembangan ini menjadi hal yang perlu dikomunikasikan dan dikaji kembali.

Ketiga, bank sentral dunia masih borong emas.

Di tengah risiko perang yang meningkat, ini membuat pelaku pasar sampai bank-bank sentral masih memborong emas (seperti Tiongkok, Polandia, Brazil, dll). 

Selain itu, faktor de-dolarisasi dan posisi DXY yang dinilai murah juga mendorong bank sentral mengumpulkan emas sebagai langkah diversifikasi cadangan devisa dari aset berbasis dolar AS. 

Menurut data World Gold Council, selama periode Januari-September 2025, China menjadi pembeli emas terbesar di dunia sebanyak 590,9 ton. Disusul India sebanyak 462,3 ton, dan AS sendiri 109,3 ton. Berikut deretan negara lain yang sudah mengakumulasi emas: 

Saham Emas di Indonesia 

Seiring dengan penguatan harga emas, sentimen positif juga tak terelakkan merambat ke lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), khususnya pada saham-saham yang memiliki eksposur bisnis di sektor logam mulia.

Mayoritas saham emas seperti terlihat pada grafik di bawah ini sudah bergerak ciamik. Kenaikan rata-rata sudah double digit, bahkan ada yang menembus lebih dari 50 persen sejak awal tahun. 

Kalau melihat dari grafik itu, tersisa tiga yang geraknya masih ketinggalan, yaitu saham UNTR, PSAB, dan BRMS. 

Namun, yang menariknya, dua dari tiga saham yang ketinggalan itu, yaitu UNTR dan BRMS dalam prospek bisnisnya, diketahui punya tambang baru yang bisa mulai operasi dalam beberapa tahun mendatang. 

Selain dua itu, ada beberapa emiten lain yang diketahui punya baru, termasuk tambahan emiten lagi yang merambah ke bisnis emas, berikut kita ulas satu-satu: 

Saham UNTR 

Pertama ada UNTR yang baru saja pada Februari 2026 ini resmi akuisisi Tambang Doup dari PSAB, melalui anak usahanya PT Danusa Tambang Nusantara (DTN) senilai US$ 540 juta atau sekitar Rp8,85 triliun. 

Dengan begitu, UNTR resmi menjadi penguasa tambang Doup melalui anak usaha itu dengan kepemilikan saham 99 persen. 

Manajemen PSAB menjelaskan bahwa pelepasan tambang Doup yang berlokasi di Kotabunan, Sulawesi Utara, dilakukan karena proyek tersebut masih berada dalam tahap konstruksi dan membutuhkan investasi yang cukup besar.

Dalam hal ini, posisi UNTR dinilai lebih ideal untuk mengambil alih proyek tersebut. Dengan kas yang terbilang jumbo, UNTR memiliki kapasitas pendanaan yang lebih kuat sehingga kebutuhan belanja modal (capital expenditure) untuk pengembangan tambang dapat dipenuhi dengan lebih leluasa.

Manajemen menargetkan produksi bisa dimulai pada 2028 mendatang, artinya masih butuh waktu untuk bisa terealisasi di laporan keuangan saat ini. 

Kalau menghitung dari kapasitas, perlu diakui masih jauh lebih banyak tambang emas Martabe, yang sayangnya saat ini masih dihentikan operasionalnya akibat drama perizinan yang belum selesai. Berikut perbandingan-nya: 

Dalam jangka panjang, akuisisi tambang Doup ini bisa jadi satu poin plus untuk peningkatan kapasitas produksi emas, tetapi untuk jangka pendek ini selama tambang Martabe belum ada kejelasan izin, UNTR akan rugi opportunity cost yang hilang di momen harga emas saat ini sedang tinggi-tinggi-nya. 

Kami memperkirakan dalam kondisi normal, dengan asumsi segmen usaha lain tumbuh stagnan, hilangnya operasional tambang Martabe sejak awal Desember tahun lalu berpotensi memangkas laba tahunan UNTR hingga sekitar 5% pada 2026.

Sebagai gambaran, hingga September 2025 tambang Martabe masih menjadi tulang punggung segmen emas UNTR dengan kontribusi sekitar 95,5% dari total penjualan emas, atau setara 170 ribu ounce. 

Tingginya ketergantungan terhadap Martabe inilah yang memicu kekhawatiran pasar, terutama di tengah tren harga emas yang terus mencetak rekor baru.

Secara operasional, dalam situasi normal Martabe mampu memproduksi sekitar 19.000 ounce emas per bulan. Angka tersebut mengimplikasikan kontribusi laba sekitar Rp433 miliar per bulan, atau kurang lebih Rp5,2 triliun per tahun. 

Namun, sejak penghentian sementara operasi pada 6 Desember 2025, yang kini diikuti kabar pencabutan izin, potensi kontribusi tersebut terancam hilang apabila penghentian berlangsung berkepanjangan.

Meski demikian, UNTR masih memiliki satu tambang emas lain di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang dikelola JSR. Kendati tetap memberikan kontribusi, volumenya relatif lebih kecil, yakni sekitar 30–40 ribu ounce per tahun, sehingga belum mampu sepenuhnya menggantikan peran Martabe.

Di sisi lain, UNTR juga merambah ke segmen nikel, baru-baru ini mereka telah mendirikan anak usaha baru bernama PT Nusantara industri Nikel Lestari sebagai bagian hilirisasi nikel. 

Melalui DTN, UNTR memiliki entitas, PT Stargate Pasific Resources (SPR) yang mengelola tambang nikel di Konawe, Sulawesi Tenggara. Update terbaru, saat ini tengah di bangun smelter RKEF (Rotary Kiln Electric Furnace) dengna target produksi Nickel Pig Iron (NPI) pada 2027 mendatang. 

Selain itu, UNTR masih punya 20 persen saham perusahaan nikel asal Australia, Nickel Industries Limited (NIC). Perusahaan ini mengoperasikan smelter HPAL di Morowali yang targetnya bisa produksi bahan untuk baterai EV pada kuartal pertama tahun ini. 

Apabila pengembangan bisnis nikel ini mulai menghasilkan laba pada kuartal II tahun ini, kami memproyeksikan potensi kenaikan laba yang cukup signifikan, didorong oleh efek basis rendah (low base effect).

Hal ini mengingat pada triwulan I/2026 UNTR akan menghadapi tekanan akibat hilangnya kontribusi laba dari tambang Martabe. Dengan demikian, tambahan kontribusi dari segmen nikel berpotensi menjadi penopang kinerja pada periode-periode berikutnya, sebelum akhirnya akan mendapat tambahan laba dari tambang Doup kalau sudah jalan di tahun-tahun mendatang.

Guideline untuk Investor Ritel Saat Menghadapi Saham yang Mau Right Issue
Jika ada saham yang right issue, banyak yang berekspektasi tinggi. Apalagi jika right issue jumbo. Padahal, ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar kamu nggak boncos jika tidak ada dana buat tebus saham barunya.

Saham EMAS

Beralih ke emiten lainnya, ada saham EMAS yang merupakan anak usaha MDKA. 

EMAS resmi melakukan first gold pour atau penuangan emas perdana di Tambang Emas Pani, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo pada 14 Februari 2026.

Penuangan perdana ini menghasilkan doré bullion, yang menandai dimulainya tahap produksi emas komersial di Pani.

Pada fase awal operasi, Tambang Emas Pani menggunakan metode heap leach dengan target produksi sekitar 110.000–115.000 ounces emas pada tahun pertama operasi.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan target awal sebesar 80.000 ounces untuk 2026, menunjukkan optimisme terhadap performa awal tambang.

Tambang Pani dikelola sebagai tambang terbuka (open pit) dengan:

  • Cadangan Bijih (Ore Reserve): ±4,8 juta ounces emas
  • Sumber Daya Mineral (Mineral Resource): >7 juta ounces emas

Seiring dimulainya produksi heap leach, EMAS juga mempercepat pengembangan fasilitas Carbon-In-Leach (CIL).

Beberapa percepatan penting:

  • Pekerjaan earthwork CIL sudah dimulai sejak awal 2026 (lebih cepat dari rencana 2027).
  • Fasilitas CIL berkapasitas 12 juta ton bijih per tahun kini ditargetkan rampung pada 2028. 
  • Sebelumnya, rencana awal:
    • Tahap I: 7 juta ton (2029)
    • Ekspansi ke 12 juta ton (2032)

Dengan percepatan ini, EMAS menargetkan produksi bisa mencapai sekitar 500.000 ounces emas per tahun pada 2029, lebih cepat tiga tahun dari proyeksi awal 2032.

Jika terealisasi, ini akan mengubah skala bisnis EMAS secara signifikan. Menggunakan asumsi harga emas bertahan di kisaran US$ 5000/oz, hanya dari satu tambang Pani dalam setahun bisa menyumbang laba kisaran US$ 300 juta atau sekitar Rp5,5 triliun. 

Saham INDY 

Selanjutnya ada INDY yang mulai ikut merambah bisnis emas. Emiten ini memiliki proyek Awak Mas Gold Project di Sulawesi Selatan yang saat ini masih dalam tahap konstruksi dan pengembangan.

Proyek ini dikelola oleh anak usahanya, PT Masmindo Dwi Area, dan menjadi salah satu pilar utama transformasi bisnis INDY.

Per awal 2026, proyek Awak Mas telah memasuki tahap konstruksi lanjutan (Engineering, Procurement, and Construction/EPC) dengan progres fisik mencapai sekitar 43% per akhir 2025. Tambang ini memiliki luas konsesi 14.390 hektare, dengan Kontrak Karya (CoW) yang berlaku hingga 2050 dan dapat diperpanjang sampai 2070.

Secara sumber daya, Awak Mas memiliki cadangan sekitar 1,51 juta ounces emas, dengan estimasi produksi awal 100.000–120.000 ounces per tahun (beberapa proyeksi menyebutkan potensi hingga 150.000 ounces per tahun). Uji coba produksi (trial production) ditargetkan pada akhir 2026, dengan produksi komersial awal pada 2027.

Total investasi proyek diperkirakan mencapai US$426 juta, mencakup pembangunan fasilitas pengolahan dan infrastruktur pendukung. Untuk operasional penambangan, INDY menunjuk Macmahon Holdings Limited sebagai kontraktor jasa pertambangan dengan durasi kontrak tujuh tahun.

Dari sisi strategis, Awak Mas diharapkan menjadi game changer bagi portofolio INDY. Perseroan menargetkan sekitar 50% pendapatan berasal dari sektor non-batu bara pada 2028, dengan emas menjadi salah satu kontributor utama. Jika harga emas bertahan tinggi, di kisaran US$5000/oz pada 2026, maka segmen emas berpotensi menjadi sumber EBITDA baru yang signifikan.

Meski pada tahap awal kontribusinya kemungkinan belum langsung mendominasi laba bersih, mengingat skala bisnis batu bara INDY masih besar, kehadiran Awak Mas akan memperkuat struktur pendapatan jangka panjang dan secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap batu bara.

Saham BRMS

Terakhir ada BRMS, yang saat ini berada dalam fase transisi penting dari penambangan terbuka (open pit) menuju tambang bawah tanah (underground) di area Poboya, Palu, Sulawesi Tengah. 

Proyek utama yang dikelola melalui anak usaha, PT Citra Palu Minerals (CPM), telah menjalankan operasi open pit dan produksi tetap berjalan normal meskipun sempat muncul isu penyegelan area konsesi, yang kemudian diklarifikasi oleh manajemen sebagai area pembukaan lahan ilegal, bukan fasilitas produksi aktif perusahaan, sehingga kegiatan tambang terbuka di Poboya tetap berjalan tanpa gangguan.

BRMS kini tengah menyelesaikan peningkatan kapasitas fasilitas pengolahan dari 500 ton menjadi 2.000 ton bijih per hari dengan target rampung pada Oktober 2026, yang akan menopang target produksi sekitar 80.000 ounces emas di 2026 dibandingkan ±70.000 ounces di 2025.

Komponen terpenting dari transformasi ini adalah pengembangan tambang bawah tanah yang diharapkan dapat mulai beroperasi pada semester II–2027, dengan kadar bijih emas yang jauh lebih tinggi dibandingkan open pit. 

Metode underground mining ini diperkirakan akan memproduksi emas dengan kadar antara 3,5–4,9 gram per ton, sehingga dapat meningkatkan volume dan margin produksi BRMS pada akhir 2027 atau awal 2028. 

Selain itu, BRMS juga memiliki proyek Gorontalo Minerals yang sedang mengejar eksplorasi besar di Bone Bolango dengan potensi cadangan emas dan tembaga, namun kontribusinya ke laba masih akan terlihat di jangka menengah. 

Secara keseluruhan, BRMS menawarkan profil pertumbuhan produksi yang kuat di 2026–2028, dengan ekspansi kapasitas pengolahan dan fase underground sebagai katalis utama, di tengah sensitivitas yang tinggi terhadap harga emas global.

Kesimpulan

Dari empat emiten yang punya prospek tambang emas baru itu kalau diurutkan dari yang paling agresif ekspansinya ada:

  • BRMS → Paling agresif terhadap kenaikan harga emas. Leverage laba paling tinggi berkat ekspansi pabrik dan transisi ke tambang bawah tanah berkadar tinggi. Potensi lonjakan profit paling besar, tapi juga paling sensitif terhadap risiko operasional dan harga emas.
  • EMAS → Agresif dengan skala lebih besar. Produksi Pani sudah berjalan dan percepatan CIL membuat kapasitas bisa melonjak dalam beberapa tahun ke depan. Kombinasi growth dan scale yang kuat.
  • INDY → Moderat. Awak Mas menjadi bagian strategi diversifikasi non-batu bara. Dampak laba bertahap mulai 2027, tidak seagresif BRMS atau EMAS.
  • UNTR → Paling defensif dari sisi emas. Saat ini tertekan isu Martabe dan Doup masih jangka panjang, sementara fokus ekspansi lebih agresif ke nikel.

Mikirduit Lagi Ada Diskon Rp200.000 sampai Rp1 juta untuk Join Mikirsaham Nih!

Benefitnya mencakup:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
  • Event online bulanan
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private

Untuk detail kamu bisa baca lebih detail terkait benefit dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini