4 Perubahan Strategi Investasi Saham Warren Buffett

Dunia saham itu sangat dinamis dan fleksibel hingga seorang Buffett sudah 4 kali mengubah strategi investasinya. Kira-kira apa saja dan kenapa berubah? simak penjelasannya

4 Perubahan Strategi Investasi Saham Warren Buffett

Mikirduit – Strategi investasi itu bersifat fleksibel mengikuti perkembangan zaman hingga kebutuhan pribadi. Untuk memahaminya, kami akan mengulas transformasi strategi investasi Warren Buffett dari masih usia 11 tahun hingga saat ini. 

Kami membagi tahapan strategi investasi saham Buffett dari pertama kali beli saham, perkenalan dengan Benjamin Graham, perkenalan dengan Charlie Munger, dan masuk era teknologi.

Saham Pertama Warren Buffett

Warren Buffett pertama kali investasi saham pada 1941 pada usia 11 tahun. Buffett mengenal saham karena ayahnya, Howard Buffett juga seorang pialang saham. 

Saham pertama yang dibeli Warren Buffett pada usia 11 tahun adalah Cities Service. Tidak ada cerita detail kenapa BUffett memilih saham tersebut. 

Beberapa cerita menyebutkan, Buffett menginvestasikan uang senilai 114 dolar AS untuk mendapatkan 3 lembar saham Cities Service di harga 38 dolar AS per saham. Pada awal investasinya, Buffett sempat merasakan floating loss setelah saham Cities Services turun ke 27 dolar AS per saham. 

Namun, Buffett tetap hold saham tersebut hingga akhirnya dia menjual saham tersebut saat harganya naik ke 40 dolar AS per saham. Artinya, Buffett mencatatkan keuntungan sebesar 5,2 persen dengan total nominal 6 dolar AS. Namun, setelah Buffett jual saham tersebut, ternyata saham tersebut langsung meroket tinggi hingga sempat ke 200 dolar AS per saham. 

Artinya, saat itu Buffett cuma melakukan transaksi saham iseng di saham yang menurutnya secara subjektif menarik, tanpa ada perencanaan investasi. Buktinya, setelah mengalami floating loss, Buffett langsung jual sahamnya setelah naik sesaat. Ada psikologis khawatir uangnya merugi, meski dari situ dia belajar kalau dalam investasi itu butuh perencanaan dan kesabaran. 

Pertemuan dengan Benjamin Graham

Warren Buffett bertemu dengan Benjamin Graham pada 1950 setelah dia ditolak oleh Harvard Business School. Dia pun mendaftar di Columbia University. Di sini, Buffett mulai mengenal strategi value investing dan analisis saham secara kuantitatif dari angka di laporan keuangan serta rasio keuangan dan valuasi relatif. 

Dari pertemuan dengan Graham itu, Buffett mulai membuat strategi investasi yang cenderung trading jangka menengah, yang dinamakan Cigar Butt. Strategi ini dianalogikan seperti seseorang yang mengambil hisapan rokok terakhir dari tempat sampah. Artinya, ada saham yang punya nilai aset yang bis untuk dilikuidasi setelah kewajiban obligasi dan utang bank terbayarkan lebih tinggi dari market cap-nya. 

Dalam strategi ini, Buffett menggunakan metriks Net Current Aset Value per Share (NCAVPS). Hasilnya, saham yang punya NCAVPS lebih besar dibandingkan dengan harga sahamnya, berarti menarik untuk dilirik. Apalagi, jika posisi harga dibandingkan NCAVPS di bawah 1 kali, bisa dibilang saham tersebut murah. 

Rata-rata saham yang diburu oleh Warren Buffett dengan Cigar Butt adalah perusahaan kecil yang punya masalah bisnis, serta hanya rendah seperti di saham penny di bawah 1 dolar AS. Untuk itu, Buffett menggunakan strategi ini dengan harapan jika ada rencana likuidasi yang nilainya bakal lebih tinggi dari harga saham, berarti ada potensi harga saham naik mendekati harga aset likuidasi setelah kewajiban utang dan obligasi tersebut. 

Strategi ini dijalankan Buffett pada 1957 - 1968. Selama periode itu, Buffett via Buffett Partnership Ltd. mendapatkan keuntungan rata-rata sebesar 31 persen per tahun. Namun, setelah 1969, Buffett tidak menggunakan strategi cigar butt. Alasannya,strategi Cigar butt tidak begitu cocok untuk modal besar karena saham yang diburu rata-rata market cap kecil.

3 Saham Cigar Butt ala Warren Buffett di Indonesia, Menarik?
Salah satu strategi investasi saham Buffett pada tahap awal adalah Cigar Butt, atau memburu sampah puntung rokok untuk menikmati terakhir kalinya. Kira-kira bagaimana strategi ini dan apa saja saham di Indonesia yang cocok dengan strategi ini?

Pertemuan dengan Charlie Munger

Buffett bertemu dengan Charlie Munger pertama kali pada 1959. Saat itu, Buffett dan Charlie Munger sering berdiskusi tentang saham, meski filosofi investasi keduanya berbeda. 

Kala itu, Buffett masih menjadi value investing garis keras, sedangkan Charlie Munger seorang growth investing yang tidak mempermasalahkan membeli saham di harga wajar asal prospek bisnis bagus ke depannya. 

Di sini, Munger beberapa kali menyarankan Buffett untuk mengganti strategi investasi dari cigar butt menjadi saham yang punya prospek pertumbuhan bisnis yang bagus dan berkelanjutan. 

"Beberapa bisnis layak dibayar sedikit lebih mahal untuk mendapatkan keuntungan jangka panjang," ujar Munger yang cenderung menilai saham dari kualitas bisnisnya dibandingkan dengan angka-angka keuangan.

Setelah Buffett tidak lagi menggunakan Cigar Butt pada 1969, dia mengombinasikan value investing dengan growth investing. Sampai Buffett pernah mengatakan kalau filosofi investasinya 85 persen Ben Graham dan 15 persen Philip Fisher (Bapak Growth Investing). 

Di sini, Buffett tidak hanya beli saham berdasarkan angka dan metriks keuangan, tapi juga data kualitatif seperti prospek bisnis hingga tercipta istilah Economic Moat, salah satu kelebihan saham yang sulit ditiru kompetitornya. 

Buffett Era Teknologi

Buffett menjadi salah satu investor saham terkemuka yang masih menggunakan pola pemikiran investasi sederhana, yakni membeli saham yang kita pahami. Sementara itu, dia kurang memahami teknologi sehingga cenderung menjauhi saham tersebut. 

Filosofinya itu menyelamatkannya dari risiko bubble dotcom pada 2000. Sebelumnya, Buffett menekankan dia menyukai saham yang bisnisnya tidak terlalu banyak berubah cenderung tradisional dibandingkan bisnis dotcom saat booming internet di 1990-an. "Aku lebih memilih bertaruh pada hal sederhana dibandingkan yang rumit dan kurang dipahami," ujarnya dalam pertemuan tahunan Berkshire Hathaway 1996. 

Bahkan, ketika saham dotcom makin menggila pada 1999, Buffett tetap menolak masuk ke saham tersebut. Pasalnya, banyak saham internet yang posisinya masih merugi. 

12 tahun setelah bubble dotcom pecah atau pada 2011, Buffett mengumumkan berinvestasi di IBM, saham produsen komputer yang berkaitan dengan teknologi. Berkshire Hathaway berinvestasi di sana hampir 11 miliar dolar AS. Alasannya masuk IBM, setelah melihat laporan keuangannya, Buffett menilai prospek perusahaan tersebut menarik dan bisa dilihat secara berbeda. 

IBM sendiri dinilai bukan saham teknologi yang mengkhayal melainkan menjual perangkat yang dibutuhkan untuk bekerja dan sebagainya. IBM dinilai lebih mudah dipahami dibandingkan dengan Google, termasuk Apple. "Meski kedua perusahaan itu (Google dan Apple) adalah perusahaan luar biasa, tapi saya tidak ingin berinvestasi di kedua saham tersebut," ujarnya. 

Namun, Buffett sempat galau dan merasa aksi beli saham IBM pada 2011 dianggap sebuah kesalahan setelah harganya turun signifikan pada 2015.

Meski begitu,kegagalan Buffett di IBM tidak membuatnya trauma masuk ke saham yang relate dengan teknologi. Buffett mulai berinvestasi di saham Apple pada 2017 dengan nilai 19 miliar dolar AS. Kala itu, Buffett menekankan kalau Apple bukanlah saham teknologi. 

Sampai kuartal I/2024, Apple menjadi portofolio Berkshire Hathway terbesar senilai 135,4 miliar dolar AS.  

Kesimpulan

Dunia saham itu sangat dinamis dan fleksibel. Sehingga investor juga bisa dengan fleksibel mengubah strategi-nya sesuai kebutuhan dan kondisi. Misalnya, dalam kasus Buffett, dia tidak lagi menggunakan strategi Cigar Butt bukan saja karena pertemuan dengan Munger,tapi juga strategi itu kurang cocok dengan posisi modal-nya yang semakin besar. 

Begitu juga dengan tren saham teknologi, saat tren saham teknologi mulai mendominasi pasar saham, Buffett suka tidak suka harus memberikan perhatian pada saham sektor tersebut. Setidaknya, sektor teknologi yang masih terjangkau dalam logikanya, yakni perangkat keras. 

Nah, kalau kamu sudah berapa kali mengubah strategi investasi untuk bisa mengoptimalkan cuan-mu?

Mau Tahu Strategi Investasi Saham Dividen untuk Jangka Panjang yang Paling Oke?

Yuk join Mikirdividen sekarang juga, kamu akan mendapatkan semua benefit di bawah ini:

  • Update review laporan keuangan saham dividen fundamental bagus hingga full year 2024 dalam bentuk rilis Mikirdividen edisi per kuartalan
  • Perencanaan investasi untuk masuk ke saham dividen
  • Grup Whatsapp support untuk tanya jawab materi Mikirdividen
  • Publikasi eksklusif bulanan untuk update saham mikirdividen dan kondisi market
  • Event online bulanan

Tertarik? langsung saja beli Zinebook #Mikirdividen dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini