4 Faktor Risiko yang Bisa Akhiri Rekor IHSG Naik 7 Bulan Tanpa Henti, Siap Konsolidasi?
IHSG bergerak volatil setelah menyentuh rekor 9000, bahkan sempat tiba-tiba turun 2% lebih dalam sekejap. Disinyalir karena kekhawatir tensi geopolitik yang memanas sampai risiko pelebaran defisit APBN 2026, akankah IHSG masih bisa bertahan atau ngerem dulu?
Mikirduit - IHSG bergerak volatil dalam dua hari terakhir, bahkan sempat sekejap turun 2% lebih. Pasar menilai ini karena risiko geopolitik yang makin memanas, rebalancing MSCI, ditambah di dalam negeri isu defisit APBN melebar juga menjadi perhatian. Kira-kira IHSG masih mampu bertahan atau bakal ngerem dulu?
Highlight
- IHSG pada kemarin Senin (12/1/2026) sempat terjun lebih dari 2% sebelumnya akhirnya koreksi mulai menyempit sampai akhir sesi.
- Volatilitas IHSG pada Selasa (13/1/2026) juga masih berlanjut, banyak saham konglo menjadi beban.
- Risiko dari sisi makro juga menjadi perhatian pasar di tengah penantian rilis data inflasi AS, tensi geopolitik AS-Venezuela-Iran, drama Powell-Trump, rebalancing MSCI, sampai dari dalam negeri soal defisit APBN.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.
Petaka 14.20 WIB, IHSG sekejap terjun 2 persen
Perdagangan pasar setiap sesi kedua akhir-akhir ini menjadi sangat volatil. Pada Senin kemarin (12/1/2026), IHSG sempat terjun lebih dari 2 persen dalam waktu singkat pada pukul 14.20 sampai 14.35 WIB, ini membuat indeks tertekan ke posisi terendah di 8.715,41. Setelah itu, koreksi IHSG mulai menyempit dengan penutupan terkoreksi 0,58 persen.
Berlanjut pada perdagangan Selasa hari ini (13/1/2026), volatilitas IHSG juga tampak lebih kencang di sesi kedua. Sekitar pukul 13.30 WIB, berselang beberapa menit setelah market buka, IHSG langsung turun hampir 1 persen, tiga puluh menit kemudian IHSG bangkit hijau lagi ke atas 8900, tetapi 15 menit kemudian IHSG jatuh lagi.

Kekhawatiran Risiko Makro
Seiring dengan volatilitas yang meningkat, dari sisi makro ternyata ada beberapa hal yang memicu kekhawatiran pasar baik itu dari global maupun nasional. Kami mencatat setidaknya ada empat hal besar sebagai berikut :
Trump Berulah Lagi
Pekan kedua Januari 2026 menjadi pekan penuh drama gara-gara Presiden AS, Donald Trump.
Setelah pekan lalu AS menyerang Venezuela dan mengklaim akan mengontrol produksi minyak negara itu dan memasarkan minyaknya secara global. Awal pekan ini, Trump malah menyebut dirinya sebagai “Presiden Sementara” Venezuela.
Tak berhenti sampai situ, Trump juga mengancam intervensi militer Iran sampai memberi ultimatum berbagai negara yang kerja sama dengan negara ini dikenai tarif 25 persen oleh AS.
Belum lagi, Trump juga mengatakan AS harus membayar triliunan dolar kalau Mahkamah Agung memutuskan tarif yang dikenakan dia itu ilegal. Kabarnya, keputusan pengadilan akan keluar paling cepat Rabu ini.
Drama Trump dan Powell juga masih berlanjut. Pemerintah AS diketahui mengeluarkan subpoena dan ancaman tuduhan pidana terhadap Powell terkait kesaksiannya ke Kongres tentang renovasi gedung The Fed.
Di sisi lain, Powell menolak “tekanan” itu dan menyatakan akan mempertahankan independensi The Fed sebagai lembaga pengatur moneter, bukan alat politik.
Menanti Rilis Inflasi AS
Kedua, penantian pasar soal data inflasi AS juga cukup penting diperhatikan dan sering kali menjelang rilisnya, volatilitas pasar cenderung meningkat.
Inflasi AS yang rilis awal tahun akan menjadi penentu atau gambaran terkait ekspektasi suku bunga ke depan. Terutama pada tahun lalu ada faktor teknis yang membayangi yaitu goverment shutdown, sebagian data ekonomi jadi tertunda atau kurang.
Karena itu, data inflasi AS yang bakal rilis pekan ini dipandang sebagai “reset point” bagi pasar untuk membaca ulang tren harga di AS. Apakah tekanan inflasi benar-benar sudah jinak dan konsisten turun, atau justru masih menyisakan risiko yang membuat The Fed harus menahan penurunan suku bunga lebih lama.

Menanti Rebalancing MSCI
Ketiga, ada rebalancing MSCI edisi Februari 2026. Aksi kocok ulang ini cukup menyorot perhatian pasar karena banyak saham konglo yang merasa kejar target likuiditas dan harga saham untuk bisa masuk indeks populer ini.
Namun, kita juga harus memahami kalau aksi kocok ulang itu selain menambah saham baru, sebaliknya bisa mengeluarkan saham tertentu atau mengurangi porsi.
Jadi, kita patut mengantisipasi jika ada tekanan dana keluar dari pelaku pasar yang mau mengamankan posisi-nya dulu, sebelum nanti kena risiko outflow lebih banyak gara-gara MSCI. Sebagai informasi saja, berikut ada 10 saham dengan komposisi terbesar yang dipegang MSCI:

Adapun, MSCI dijadwalkan mengumumkan hasil peninjauan indeks pada 10 Februari 2026, dengan tanggal efektif rebalancing pada 1 Maret 2026.
Biasanya, menjelang hari efektif tersebut, terutama pada sesi akhir perdagangan sehari sebelumnya, pergerakan pasar cenderung lebih tajam. Saham yang dikeluarkan dari indeks kerap mengalami tekanan mendadak, sementara saham yang masuk berpotensi mencatatkan kenaikan seiring penyesuaian portofolio investor institusional.
Risiko Defisit APBN 2026 Melebar dan Reformasi Fiskal Agresif
Terakhir, risiko juga datang dari sisi fiskal, seiring defisit APBN yang diproyeksikan berpotensi melebar pada tahun ini. Sebagai konteks, defisit APBN 2025 telah mencapai 2,92 persen terhadap PDB, level tertinggi dalam hampir dua dekade terakhir.
Citigroup memperkirakan defisit APBN pada 2026 akan meningkat hingga 3,5 persen terhadap PDB. Angka ini melampaui batas maksimal defisit yang diatur undang-undang sebesar 3 persen, sekaligus berlawanan dengan proyeksi pemerintah yang menargetkan penurunan defisit ke kisaran 2,7 persen.
Melebarnya defisit tersebut terutama dipicu oleh belanja pemerintah yang tetap agresif, khususnya untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta kebutuhan anggaran tambahan untuk rekonstruksi pasca banjir di Aceh dan Sumatera. Dalam kondisi ini, pasar menanti langkah kebijakan yang lebih realistis dari pemerintah, apakah dengan merevisi aturan batas defisit atau melakukan pengetatan belanja, terutama pada pos-pos yang dinilai kurang efisien.
Lebih jauh, Citigroup memproyeksikan bahwa jika tren ini berlanjut, rasio utang pemerintah berpotensi meningkat hingga 42 persen terhadap PDB pada 2029, dari sekitar 39 persen pada 2025.
Di sisi lain, arah kebijakan fiskal yang semakin agresif juga menjadi sorotan pasar, terutama terkait efektivitasnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
Di bawah kepemimpinan Menteri Keuangan yang baru, Purbaya, kebijakan fiskal cenderung diarahkan ke upaya pro-pertumbuhan. Hal ini tercermin dari rencana penempatan dana pemerintah senilai Rp200 triliun di bank-bank BUMN, keputusan untuk menahan kenaikan cukai rokok pada 2026, serta perpanjangan insentif diskon PPN untuk properti hunian baru siap huni hingga 2027.
Meski belum final, pemerintah juga tengah mengkaji kemungkinan penurunan tarif PPN sebagai bagian dari strategi menjaga daya beli masyarakat dan menopang momentum pertumbuhan ekonomi.
Jangan Lupa, Lihat Big Picture
Membaca faktor-faktor di atas, rasanya berita makro awal tahun terkesan banyak yang negatif sampai berpengaruh ke volatilitas IHSG akhir-akhir ini.
Tapi jangan lupakan big picture atau view yang lebih besar, IHSG selalu ditutup hijau selama enam bulan berturut-turut pada 2025. Kalau Januari kembali di zona positif, akan mengakumulasi tujuh bulan hijau terus.

Di fase seperti ini, koreksi atau pergerakan yang lebih volatil justru tergolong sehat, karena memberi ruang bagi pasar untuk mengonsolidasikan kenaikan yang sudah terjadi.
Berita makro yang cenderung kurang mendukung menjadi sinyal agar investor mulai bersikap lebih hati-hati, meskipun IHSG masih berada di posisi tinggi.
Fokus sebaiknya diarahkan pada pengelolaan risiko dan pemilihan saham yang lebih selektif, bukan sekadar mengejar reli lanjutan. Dengan pendekatan yang lebih disiplin, peluang tetap ada, tetapi tanpa harus mengorbankan kehati-hatian di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.
Intinya, kita boleh saja khawatir terhadap risiko makro, tetapi tidak perlu langsung panik ketika IHSG sempat terjun lebih dari 2 persen. Pergerakan seperti ini masih tergolong wajar dalam dinamika pasar, apalagi setelah indeks mencetak rekor dan membutuhkan fase penyesuaian.
Volatilitas pada dasarnya akan selalu hadir, ibarat teman yang setia menemani perjalanan di market.
Yang terpenting adalah bagaimana menyikapinya dengan kepala dingin. Alih-alih bereaksi berlebihan, investor justru perlu memanfaatkan volatilitas sebagai momentum untuk menata ulang strategi, memperbaiki positioning, dan lebih selektif dalam mengambil peluang.
Dengan disiplin dan perspektif jangka menengah, fluktuasi jangka pendek tidak harus menjadi sumber kepanikan, melainkan bagian dari proses pasar yang normal.
Dapatkan Insight Saham hingga Diskusi serta Konsultasi Bersama hampir 1.000 Investor Lainnya di Mikirsaham
Yuk join dengan Mikirsaham sekarang untuk bisa dapatkan benefit ini semua:
- Stockpick investing (dividend, value, growth, contrarian) yang di-update setiap bulan (terbarunya akan diseleksi terbaik maksimal 5 masing-masing strategi dengan analisis yang komprehensif)
- Stock Ideas (memberikan gambaran besar saham-saham yang menarik, tapi tidak termasuk stockpick)
- Stockpicking swing trade mingguan (khusus member mikirsaham elite jika kuota masih tersedia)
- Insight saham terkini serta action-nya
- Update porto founder
- IPO dan Corporate Action Digest
- Event online bulanan
- Grup Diskusi Saham
Join ke Member Mikirsaham Pro sekarang juga dengan klik link di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
