3 Bank di Amerika Bangkrut, Gimana Nasib Uang Nasabahnya?

3 Bank di AS seperti Sillicon Valley Bank bangkrut. Kalau ada bank yang bangkrut begitu, gimana nasib nasabahnya ya?

3 Bank di Amerika Bangkrut, Gimana Nasib Uang Nasabahnya?

Mikir Duit – Tiga bank di Amerika Serikat, yakni Silvergate, Sillicon Valley Bank, dan Signature Bank disebut bangkrut. Dalam beberapa hari, pasar keuangan di Negeri Paman Sam langsung heboh. Namun, apa yang sebenarnya terjadi kepada nasabahnya jika sebuah bank bangkrut?

Dasarnya bisnis bank adalah menghimpun dana masyarakat dan menyalurkannya lagi dalam bentuk kredit. Dari situ, bank mendapatkan keuntungan dari selisih antara bunga kredit dengan bunga simpanan.

Di luar itu, bank mendapatkan pendapatan dari komisi lindung nilai kurs mata uang, hingga komisi transaksi antar bank. Beberapa bank di luar negeri juga bisa mendapatkan pendapatan dari peran sebagai penjamin emisi aksi korporasi seperti initial public offering (IPO), rights issue, dan penerbitan obligasi.

Dengan model bisnis yang ‘hampir’ pasti menguntungkan, bagaimana sebuah bank bisa bangkrut?

Penyebab utama bank bisa bangkrut adalah ketika sudah kehilangan kepercayaan dari nasabah. Hal itu bisa memicu rush money alias penarikan uang besar-besaran dari bank. Akhirnya, neraca keuangan berupa aset bank langsung berantakan. Padahal, aset bank seperti kredit yang bisa membuat bank tetap hidup dan mendulang cuan.

Lalu, apa yang terjadi dengan bank-bank di Amerika Serikat(AS) tersebut?

BACA JUGA: Begini Efek Kenaikan Suku Bunga yang Bikin Perusahaan Teknologi hingga Bank Penyalur Kredit ke Sana Kolaps

Tech dan Crypto Winter Bikin Bank di AS Merana?

Semuanya berawal dari Silvergate yang bangkrut pada 8 Maret 2023. Silvergate memutuskan untuk menghentikan operasinya setelah bank asal California, AS, itu sudah berjuang dari kekacauan salah satu nasabah terbesarnya, FTX dan Genesis.

Bahkan, Silvergate melaporkan pendapatannya turun 1 miliar dolar AS dalam satu kuartal setelah adanya penarikan uang dari nasabah senilai 8,1 miliar dolar AS.

Kejadian Silvergate seolah menular kepada Sillicon Valley Bank (SVB). Beberapa modal ventura pun langsung memperingatkan startup portofolionya untuk menarik uang dari bank tersebut tepat setelah kejadian Silvergate.

Hal itulah yang memicu rush money di SVB sehingga jadi bangkrut dalam waktu 2 hari.

Kejadian di Silvergate dan SVB itu pun menular kepada Signature Bank yang punya portofolio yang cukup besar di crypto.

Dari sini, muncul dua kekhawatiran. Pertama, banyak nasabah di bank yang punya portofolio crypto dan startup ikut panik dan melakukan rush money sehingga jumlah bank kolaps menjadi lebih banyak dan mengganggu sistem keuangan AS.

Kedua, bank-bank yang kolaps memiliki utang antar bank dengan bank lainnya. Sehingga, ketika mereka bangkrut berarti berpotensi membuat likuiditas bank yang dipinjamnya juga ikut bermasalah.

Jadi, Kenapa Jika Satu Bank Bangkrut Bisa Menular?

Untuk mengetahui itu, kita harus memahami dari mana asal likuiditas bank, aliran uang bank yang bisa disalurkan menjadi kredit dan berpotensi ditarik oleh nasabah.

Pertama, secara model bisnisnya, likuiditas bank berasal dari masyarakat lewat giro dan tabungan yang bunganya rendah dan deposito yang bunganya lebih tinggi.

Kedua, sumber likuiditas non-konvensional berasal dari penerbitan obligasi, medium terms note (MTN), hingga negotible certificate deposit (NCD). Obligasi cenderung memiliki masa pinjam yang panjang dari 3-10 tahun. Lalu, MTN jangka menengah maksimal 3 tahun, sedangkan NCD jangka pendek mulai 1 tahun.

Ketiga, pinjaman antar bank. Jadi, sesama bank juga kerap saling meminjam uang untuk memenuhi kebutuhan likuiditas dan kewajiban menempatkan uang di giro wajib minimum bank sentral.

Secara porsi, mayoritas likuiditas berasal dari masyarakat. Masalahnya, apa yang terjadi jika masyrakat melakukan rush money, sedangkan beberapa dana yang disimpan sedang disalurkan dalam bentu kredit?

Yaps, sebagian masyarakat bisa mendapatkan uangnya kembali. Namun, penarikan tidak bisa dilakukan langsung oleh seluruh nasabah karena bisa membuat bank kekurangan likuiditas. Likuiditas yang kering membuat bank tidak bisa menyalurkan uang untuk jadi kredit. Hasilnya, kinerja pendapatan bank juga bakal susut drastis.

Di sisi lain, Pemegang obligasi, MTN, dan NCD juga baru bisa menarik uangnya ketika masa periode pinjaman selesai. Jadi, sumber likuiditas yang ini cenderung aman dari risiko rush money.

Masalahnya, justru dari sumber ketiga, yakni pinjaman antar bank. Jika akibat rush money masyarakat membuat bank tidak bisa membayar kewajibannya kepada bank lain, efeknya bukan hanya kepada nasabah bank bermasalah. Namun, juga ke bank yang meminjamkan uang tersebut.

Hal inilah yang disebut dampak sistemik sistem keuangan. Sehingga, ada bank-bank yang disebut berdampak sistemik secara nasional hingga global. Ketika bank sistemik bermasalah, itu harus diselamatkan oleh bank sentral melalui bailout.

Seperti ketika krisis 1998, Bank Indonesia menyalurkan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang justru menjadi masalah dan disebut skandal keuangan terbesar di negeri ini.

Kalau Begitu, Gimana Nasib Nasabah Bank yang Bangkrut?

Mungkin, kamu yang pernah merasakan krisis moneter 1998 akan takut ketika mendengar bank bangkrut. Jelas, waktu itu gara-gara kurs rupiah melemah cukup dalam membuat kredit bermasalah tinggi dan bank mengalami kekeringan likuiditas. Akhirnya, ada beberapa bank yang terpaksa dilikuidasi.

Namun, itu cerita lama, waktu itu Indonesia belum memiliki Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Berbeda dengan saat ini, simpanan nasabah di bawah Rp2 miliar per bank dengan suku bunga maksimal sesuai LPS rate akan dijamin oleh LPS.  

Kok LPS baik banget mau jamin bayar simpanan masyarakat di bank jika banknya bangkrut? ya karena bank sudah rutin bayar premi asuransi ke LPS untuk membentuk pencadangan uang yang bisa dikeluarkan jika ada risiko bank bangkrut.

Artinya, selama simpanan kamu di bank sesuai dengan ketentuan LPS dan tercatat di bank, bukan nabung di bank melalui oknum bank yang nakal, simpanan akan aman.

Bagaimana jika simpanan bank kita di atas Rp2 miliar dan suku bunga di atas LPS rate?

Jawabannya, jika simpanan bank di atas Rp2 miliar, berarti yang ditanggung cuma Rp2 miliar, sedangkan sisanya tidak dijamin. Lalu, kalau suku bunga di atas LPS rate, berarti simpanan kita seluruhnya tidak dijamin LPS.

Namun, uang tidak dijamin LPS bukan berarti uang di bank tidak kembali. Uang masih bisa kembali asal bank masih punya likuiditas untuk membayar nasabah.

Kesimpulan

Menyimpan uang di bank memiliki banyak manfaat. Selain aman, juga ikut mendorong pertumbuhan ekonomi. Soalnya, uang yang kita simpan di bank akan digunakan untuk kredit ke bisnis hingga kartu kredit yang membantu perputaran ekonomi.

Namun, ketika menyimpan uang di bank, kita wajib memperhatikan berapa banyak tingkat bunga dan ketentuan LPS untuk meredam risiko bank bangkrut.

Memang seberapa besar risiko bank bisa bangkrut?

Sebenarnya, kebijakan bank saat ini sudah lebih ketat dibandingkan sebelum krisis 2008. Seperti, saat ini bank harus memenuhi ketentuan basel 3, termasuk minimal punya rasio kecukupan modal 8 persen. Jika di bawah itu, akan masuk pengawasan khusus.

Rasio kecukupan modal adalah perbandingan modal bank dibandingkan dengan aset tertimbang risiko, yakni kredit.  Semakin tinggi rasio kecukupan modal, berarti bantalan modal bank menghadapi risiko kredit macet semakin besar. Namun, besarnya rasio kecukupan modal berarti bank juga tidak terlalu efisien karena punya modal terlalu besar hanya sebagai bantalan risiko.

Dengan kebijakan manajemen risiko bank yang lebih ketat, seharusnya peluang krisis seperti 2008 kembali terulang sangat tipis. Kecuali, ada kejadian luar biasa yang membuat banyaknya rush money dan kredit bermasalah secara bersamaan.