13 Saham Ajukan Right Issue, Simak Hal Pentingnya Di Sini

Semarak right issue masih semarak pada 2026. Paling baru ada BAJA, ELPI, MPPA, dan JGLE ikut meramaikan, menyusul beberapa yang sudah ada jadwalnya akan kami rekap jadi satu. Kira-kira bagaimana prospeknya?

saham right issue

Mikirduit -  Right issue masih ramai tahun ini. Kami mengumpulkan 13 perusahaan yang sudah mengumumkan aksi korporasi ini, bukan sekadar rumor. Lalu, bagaimana perkembangan dan update terbarunya?

Highlight: 

  • Ada 13 emiten yang sudah resmi mau mengumumkan right issue tahun ini.
  • Paling baru ada BAJA, ELPI, YOII, dan MPPA.
  • Sebagian sudah ada yang dapat restu dan tinggal menunggu pernyataan efektif OJK untuk selesai melaksanakan rights
  • Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.

Update Right Issue Lagi di 2026 

Sebelumnya, pada 22 Desember 2025, kami telah mengulas 10 emiten yang berencana menggelar right issue pada 2026. Sebagian memang masih sebatas rumor saat itu, namun mayoritas sudah menyampaikan pengumuman resmi, bahkan ada yang telah memperoleh persetujuan pemegang saham melalui RUPS.

Belakangan, sejumlah nama baru kembali bermunculan dengan rencana aksi serupa. Karena itu, kami melakukan pembaruan untuk merangkum perkembangan terkininya.

Kali ini kami memberikan update khusus untuk 13 perusahaan yang sudah ada pengumuman resmi mau right issue, bukan sekadar rumor, berikut ringkasannya untuk mencermati update terbaru:

Saham IRSX 

Pertama, ada yang jadwalnya paling dekat yaitu PT Folago Global Nusantara Tbk (iRSX), menargetkan pernyataan efektif dari OJK pada 25 Februari 2026 untuk melaksanakan rights issue senilai maksimal Rp3,72 triliun.

Perseroan akan menerbitkan hingga 12,39 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp300 per saham dan rasio 1:2, di mana setiap 1 saham lama memberikan hak atas 2 HMETD.

Apabila seluruh saham baru terserap, dana yang dihimpun berpotensi mencapai sekitar Rp3,7 triliun. Namun, pemegang saham yang tidak mengeksekusi haknya berisiko terdilusi hingga sekitar 66,67% setelah aksi korporasi rampung.

Dana hasil rights issue mayoritas akan digunakan untuk ekspansi ekosistem entertainment dan digital, meliputi:

  • Inkubasi kreator
  • Produksi konten dan film
  • Penyelenggaraan event berskala besar

Alokasi terbesar diarahkan ke:

  • PT Folago Karya Indonesia untuk akuisisi hak komersial jangka panjang artis dan influencer
  • PT Folago Digital Media untuk pengembangan bisnis event dan jaringan kreator
  • PT Folago Picture Indonesia untuk produksi film dan konten

Adapun, jadwal Penting Rights Issue IRSX

  • Cum date (pasar reguler & negosiasi): 5 Maret 2026
  • Ex date: 6 Maret 2026
  • Distribusi HMETD: 10 Maret 2026
  • Pencatatan HMETD di BEI: 11 Maret 2026
  • Periode pelaksanaan HMETD: 11–17 Maret 2026
  • Penyerahan saham hasil HMETD: 13–26 Maret 2026
  • Batas akhir pembayaran saham tambahan: 25 Maret 2026
  • Penjatahan saham tambahan: 26 Maret 2026
  • Pengembalian dana (jika ada): 26 Maret 2026
Peluang dan Risiko IRSX Masuk Bisnis Entertainment dengan Modal Rp3,7 triliun
IRSX jadi sorotan karena salah satu saham yang dibackdoor listing pada 2025. Lalu, bagaimana prospek IRSX setelah diakuisisi nantinya dan masuk ke bisnis entertainment?

Saham BUVA 

PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), emiten properti dan perhotelan milik Happy Hapsoro, kembali bersiap menggelar aksi korporasi melalui penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau right issue.

Langkah ini ditujukan untuk memperkuat modal kerja sekaligus mendukung ekspansi bisnis perhotelan, termasuk pengembangan aset dan peningkatan kinerja operasional pascapandemi.

Aksi ini akan menjadi right issue kedua bagi BUVA. Sebelumnya, pada akhir 2025 perseroan sukses menghimpun dana sekitar Rp604 miliar melalui penerbitan 4,03 miliar saham baru. Dana tersebut digunakan untuk mendanai akuisisi aset milik PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), yakni PT Bukit Permai Properti.

Pada rencana terbaru ini, BUVA berpotensi menerbitkan saham baru sebanyak-banyaknya 50 miliar lembar. Jumlah tersebut setara 203,11 persen dari total saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh, yang saat ini mencapai 24,61 miliar lembar. Artinya, ini sangat jumbo. 

Rasio right issue nanti kemungkinan bisa 1:2 dan kalau ditotal saham BUVA yang beredar nantinya bisa mencapai 75 miliar lembar. 

Hingga kini, perseroan belum merinci lebih lanjut struktur maupun penggunaan dana hasil right issue tersebut. 

Pasar masih menunggu kejelasan setelah rencana ini dibahas dalam RUPSLB yang dijadwalkan pada 26 Februari 2026 untuk memperoleh persetujuan pemegang saham. Mengingat jadwal ini sudah semakin dekat, biasanya volatilitas harga saham akan relatif kencang. 

BUVA Mau Right Issue Jilid II, Bakal Jadi Game Changer atau Strategi Bertahan Hidup?
BUVA akan melakukan right issue jumbo dengan pengeluaran saham baru lebih dari dua kali porsi saham beredar saat ini. Apakah menarik untuk lirik atau ini hanya right issue untuk bertahan hidup?

Saham BNBR 

PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR juga berencana menggelar rights issue 90 miliar lembar saham. Pengeluaran saham baru seri E tersebut dibanderol dengan nilai nominal Rp12 per saham.

Ppenerbitan saham baru ini diambil dari saham portepel yang akna digunakan untuk optimalisasi struktur pendanaan Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) yang tahun lalu telah diakuisisi oleh anak usaha perseroan yaitu PT Bakrie Toll Indonesia (BTI).

Adapun rights issue ini untuk mendukung modal kerja, pengembangan usaha perseroan, dan CCT, pembayaran kewajiban perseroan dan/atau anak usaha kepada kreditur, serta untuk modal kerja perseroan dan/atau anak usaha.

Seluruh rangkaian transaksi itu, akan dilaksanakan setelah mendapat restu investor yang bakal digelar pada RUPSLB 27 Februari 2026. 

Saham YOII 

PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII) turut menyiapkan aksi penambahan modal melalui skema rights issue sebagai langkah memperkuat struktur permodalan sekaligus mendukung kebutuhan modal kerja.

Perseroan berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 684.937.500 saham baru dengan nilai nominal Rp100 per saham yang akan dicatatkan di BEI. 

Rencana ini akan diajukan untuk memperoleh persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB yang dijadwalkan pada 3 Maret 2026. Dalam agenda tersebut juga akan dibahas perubahan Anggaran Dasar terkait peningkatan modal ditempatkan dan disetor.

Manajemen menyampaikan bahwa seluruh dana hasil rights issue, akan digunakan sepenuhnya untuk kebutuhan modal kerja. Langkah ini bertujuan memperbaiki struktur permodalan perseroan sekaligus memastikan kapasitas pendanaan yang lebih memadai guna mendukung kegiatan operasional sehari-hari.

Saham ELPI 

Selanjutnya ada emiten pelayaran, PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) yang siap-siap mau menggalang modal tambahan melalui right issue. 

Kabar ini juga baru saja berhembus di pasar sejak pekan lalu, rencananya mereka akan menerbitkan maksimal 2,04 miliar lembar saham baru dengan nilai nominal Rp100 per lembar saham, mewakili 27,39 persen dari modal yang ditempatkan perseroan. 

Menurut manajemen, dana right issue akan digunakan untuk likuiditas umum, belanja modal, dan modal kerja, termasuk usaha dan kegiatan dalam rangka diversifikasi, ekspansi dan investasi serta kegiatan penunjangnya. 

ELPI diketahui akan mengajukan aksi right issue ke OJK setelah rencana ini disetujui oleh pemegang saham pada RUPS yang akan dilaksanakan pada 9 Maret 2026, dengan ketentuan setelah disetujui nantinya sampai pernyataan efektif OJK tidak lebih dari 12 bulan. 

Saham MPPA 

PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) dijadwalkan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 30 Maret 2026 guna meminta persetujuan atas rencana penerbitan maksimal 24 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp50 per saham.

Berdasarkan perhitungan kami, kisaran harga pelaksanaan yang dinilai rasional berada di rentang Rp51 hingga Rp55 per saham. Dengan asumsi tersebut, potensi dana yang dapat dihimpun melalui right issue ini diperkirakan mencapai sekitar Rp1,2 triliun hingga Rp1,32 triliun.

Dana hasil aksi korporasi ini rencananya akan digunakan untuk transaksi afiliasi terkait pembelian enam aset yang akan diakuisisi MPPA. Berdasarkan nilai transaksi, total kebutuhan dana untuk akuisisi tersebut mencapai Rp780 miliar. Sementara itu, sisa dana dari right issue akan dialokasikan sebagai tambahan modal kerja perseroan.

Dengan skema tersebut, MPPA berpotensi memperoleh tambahan dana bersih untuk modal kerja di kisaran Rp444 miliar hingga Rp540 miliar.

Sebagai pemegang saham pengendali, MLPL akan bertindak sebagai pembeli siaga. MLPL berkomitmen mengeksekusi seluruh haknya serta menyerap porsi saham yang tidak diambil pemegang saham lain, dengan jumlah maksimal 7,56 miliar lembar. Jika dihitung secara keseluruhan, MLPL diperkirakan menyiapkan dana hingga Rp1 triliun untuk mendukung right issue ini. Dengan demikian, transaksi afiliasi yang dilakukan pada dasarnya hanya merupakan perputaran dana dalam lingkup grup usaha.

Dari sisi fundamental, langkah ini berpotensi memberikan dampak positif bagi MPPA yang saat ini masih mencatatkan ekuitas negatif sebesar Rp2,24 miliar. Dengan tambahan modal hingga sekitar Rp1 triliun, struktur permodalan perseroan berpeluang kembali mencatatkan ekuitas positif.

JGLE dan MPPA, Dua Saham Merugi yang Mau Right Issue, Begini Hitungan Prospeknya
Saat prospektus right issue rilis, saham JGLE yang ARB langsung ARA. Begitu juga dengan MPPA. Memang, apa menariknya right issue dua saham yang lagi merugi ini?

Saham BAJA

Berikutnya ada  PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA) yang baru mengumumkan rencana right issue pada Jumat pekan lalu (20/2/2026). 

Rencananya, right issue ini akan mengeluarkan saham baru sebanyak satu miliar lembar setara lebih dari setengah porsi modal yang ditempatkan. Nantinya, danan akan dari aksi ini akan digunakan untuk membayar utang dan tambahan modal kerja bagi perusahaan. 

Utang yang akan dilunasi tersebut berdenominasi dolar AS senilai US$20,6 juta atau setara Rp445,34 miliar kepada PT Sarana Steel. Pinjaman ini dikenai bunga 2% per tahun, dengan tenor yang telah beberapa kali diperpanjang dan terakhir jatuh tempo pada 3 Oktober 2026.

Secara rinci, pinjaman itu terdiri dari pokok utang sebesar Rp317,56 miliar dan bunga sebesar Rp127,77 miliar.

Menariknya, dalam rencana right issue kali ini sudah ada pembeli siaga (standby buyer), yakni Sarana Steel yang juga merupakan kreditur BAJA. Perusahaan tersebut menyatakan kesiapan menyerap saham baru hingga maksimal Rp317,57 miliar, angka yang setara dengan pokok utang BAJA.

Selain itu, pemegang saham pengendali BAJA, Ibnu Susanto, yang menggenggam 16,45% saham, juga menyatakan komitmennya untuk berpartisipasi dalam rights issue tersebut.

Hingga saat ini harga pelaksanaan rights issue memang belum ditetapkan. 

Namun, dengan asumsi kebutuhannya untuk bayar utang, maka dana yang diincar tidak bisa dibawah Rp500 miliar, berdasarkan asumsi ini harga pelaksanaan bisa sampai Rp500 per lembar, ini setara 2-3 kali harga saham BAJA saat ini di Rp168 per lembar. 

Sebagai informasi juga, market cap BAJA saat ini hanya di Rp299 miliar, dengan total saham yang beredar 1,8 miliar lembar. 

Aksi korporasi ini masih akan dibahas dalam RUPSLB untuk meminta restu pemegang saham pada 31 Maret 2026. 

Kalau disetujui, mereka akan menerbitkan ringkasan RUPSLB pada 2 April 2026 dan mendaftarkan rights issue ke OJK pada 11 Juni 2026. 

Perusahaan menargetkan, mereka akan menerima pernyataan efektif OJK pada 7 Agustus 2026. Biasanya setelah ini, tidak akan berlangsung lama sampai jadwal penebusan HMETD, jadi kami mengasumsikan paling cepat September/Oktober BAJA akan melakukan right issue. 

Saham JGLE

PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE) resmi mengumumkan rencana penambahan modal melalui skema Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu I (PMHMETD I) pada 20 Februari 2026 melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Perseroan akan meminta persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB yang dijadwalkan pada 31 Maret 2026. 

Melalui aksi rights issue ini, JGLE menargetkan perolehan dana sekitar Rp414 miliar, dengan menerbitkan 8.280.033.448 saham baru Seri B dengan harga pelaksanaan Rp 50 per saham.

Dana hasil penambahan modal tersebut akan digunakan untuk mengakuisisi 61,86 persen saham PT Jungleland Asia. 

Dengan transaksi ini, JGLE akan menguasai penuh operasional Jungleland Adventure Theme Park yang berlokasi di kawasan Sentul.

Kepemilikan mayoritas ini diharapkan dapat memperkuat kendali perseroan atas pengelolaan kawasan sekaligus membuka ruang optimalisasi pengembangan lahan di sekitarnya, sehingga potensi bisnis dapat dimaksimalkan secara terintegrasi.

Saham CBRE 

Berikutnya ada emiten pertambangan, CBRE juga berencana melakukan right issue pada tahun ini. 

Aksi korporasi ini sudah dapat restu pemegang saham pada 18 Desember lalu, jadi tinggal menunggu waktu saja di tahun ini bisa berlajalan agenda right issue. 

Melalui right issue, CBRE akan menerbitkan saham baru sebanyak 48 miliar lembar. Hasil dananya bakal digunakan untuk membayar sebagian utang kepada pihak ketiga, mendukung kebutuhan modal kerja, dan menambah armada operasional (Capex). 

Sebagian dana right issue juga akan dialokasikan untuk pelunasan utang melalui mekanisme konversi menjadi saham. 

Berdasarkan laporan keuangan interim per 31 Oktober 2025, terdapat empat perjanjian promissory note senilai total US$55 juta yang akan dikonversi, masing-masing kepada Hilong Shipping Holding Limited, Yafin Tandiono Tan, PT Saga Investama Sedaya, serta PT Superkrane Mitra Utama Tbk. Keempat kreditur tersebut telah menyampaikan pemberitahuan konversi pada 10 November 2025.

Saham PEGE

Berikutnya, ada PT Panca Global Kapital Tbk (PEGE) yang diketahui sudah mendapatkan restu pemegang saham sejak 24 Desember lalu. 

Dalam aksi ini, PEGE akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 944.472.352 saham baru dengan nilai nominal Rp100 per saham. Keputusan tersebut tertuang dalam ringkasan risalah RUPS yang disampaikan manajemen melalui keterbukaan informasi pada 29 Desember 2025.

Tak hanya saham baru, pemegang saham juga menyetujui penerbitan maksimal 944.472.352 Waran Seri II yang melekat pada saham hasil pelaksanaan HMETD. 

Setiap waran bernilai nominal Rp100 dan akan diberikan secara cuma-cuma kepada investor yang mengeksekusi haknya dalam rights issue tahap kedua ini.

Artinya, investor yang ikut serta dalam HMETD berhak mendapatkan waran gratis. 

Namun, bagi yang tidak menggunakan haknya, ada potensi dilusi kepemilikan hingga sekitar 25 persen. Bahkan, jika seluruh Waran Seri II nantinya dieksekusi oleh pembeli siaga, tingkat dilusi bisa melebar hingga sekitar 40 persen.

PEGE berencana menggunakan seluruh dana hasil rights issue untuk kebutuhan modal kerja serta tambahan penyertaan modal ke entitas anak. Tujuannya jelas, memperkuat lini usaha di masing-masing anak perusahaan agar lebih solid.

Sementara itu, dana tambahan yang berasal dari pelaksanaan Waran Seri II, jika nantinya ditebus oleh pemegang waran, juga akan diarahkan untuk modal kerja dan mempertebal permodalan entitas anak.

Guideline untuk Investor Ritel Saat Menghadapi Saham yang Mau Right Issue
Jika ada saham yang right issue, banyak yang berekspektasi tinggi. Apalagi jika right issue jumbo. Padahal, ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar kamu nggak boncos jika tidak ada dana buat tebus saham barunya.

Saham NINE 

PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE) juga sedang bersiap melakukan right issue untuk menggalang dana sebagai modal akuisisi aset tambang di Mongolia. 

Rencana rights issue ini sudah mendapatkan restu investor sejak 30 April 2025. Sayangnya, sampai saat ini belum mendapatkan pernyataan efektif OJK. 

Manajemen NINE menargetkan untuk mengajukan Pernyataan Pendaftaran rights issue ke OJK selambat-lambatnya pada kuartal dua tahun 2026, sebagai langkah awal sebelum bisa dieksekusi.

Melalui right issue,  NINE menargetkan perolehan dana sekitar Rp80 miliar melalui penerbitan maksimal 2,157 miliar saham baru. 

Rights issue perdana ini juga dipandang sebagai tahap awal masuknya Poh Group sebagai calon pengendali baru, yang telah menandatangani Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) untuk mengakuisisi mayoritas saham NINE. 

Ke depan, Poh Group berencana membawa masuk aset pertambangan melalui mekanisme inbreng sebagai bagian dari transformasi bisnis perseroan.

Saham TRON

Kemudian ada TRON yang diketahui sudah dapat restu melakukan right issue tahun depan berdasarkan hasil RUPS pada 25 Juni 2025 lalu. 

Rencananya, TRON akan menerbitkan hingga 383,7 juta saham baru, setara sekitar 11,5% dari modal ditempatkan & disetor. 

Nilai hak memesan efek yang disetujui diperkirakan mencapai Rp130 miliar hingga Rp150 miliar, yang akan digunakan melalui mekanisme rights issue. 

Aksi ini dimaksudkan untuk memperkuat struktur permodalan dan mendukung modal kerja.

Sejauh ini,  jadwal pasti pelaksanaan (periode perdagangan HMETD) belum diumumkan secara resmi karena masih menunggu pernyataan efektif dari OJK.

Saham RISE 

RISE juga diketahui bakal melakukan right issue pada tahun ini, rencana ini sudah disetujui pemegang saham dalam RUPSLB pada 27 November 2025 lalu. 

RISE juga masih dalam tahap menunggu pernyataan efektif OJK, jadi jadwal pasti untuk right issue belum diketahui. Namun, estimasi biasanya tidak akan lebih dari 12 bulan, kecuali ada peubahan tertentu dari perusahaan terkait arah bisnisnya. 

Adapun terkait rencana right issue, perusahaan akan menerbitan maksimal 1,33 miliar saham baru bernominal Rp100 per lembar. 

Dana yang dihasikan dari right issue itu nanti akan digunakan untuk ekspansi dan pengembangan proyek-proyek strategis seperti Tanrise City (Bandung & Sidoarjo), kawasan industri Banjarbaru, serta Resor Taman Dayu, sekaligus memperkuat basis pendapatan berulang (recurring income).

Mikirduit Lagi Ada Diskon Rp200.000 sampai Rp1 juta untuk Join Mikirsaham Nih!

Benefitnya mencakup:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
  • Event online bulanan
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private

Untuk detail kamu bisa baca lebih detail terkait benefit dengan klik di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini