Thomas Djiwandono Dipilih Jadi Deputi Gubernur BI, Pasar Waspada Rupiah - Emiten Berutang Dolar!
Setelah Thomas Djiwandono terpilih menjadi Deputi Bank Indonesia, pelaku pasar tampaknya masih khawatir terhadap pergerakan rupiah dan sejumlah emiten yang bisnisnya bergantung dolar AS, kira-kira ada emiten apa saja dan strategi bagaimana yang harus dilakukan investor?
Mikirduit - Thomas Djiwandono resmi terpilih menjadi Deputi Gubernur BI, hal ini memicu spekulasi pasar terhadap pergerakan rupiah yang melemah di hadapan dolar AS, dampaknya bisa menjalar ke perusahaan yang punya dominasi utang dolar maupun yang bisnis-nya impor, kira-kira siapa saja mereka?
Highlight
- Thomas Djiwandono resmi dipilih sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia pada 26 Januari 2026, mengalahkan dua kandidat lain yang merupakan pejabat karir BI.
- Spekulasi pelaku pasar masih khawatir rupiah akan lanjut melemah terhadap dolar AS.
- Sejumlah perusahaan yang memiliki dominasi utang dolar AS maupun impor akan cenderung tertekan.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.
Thomas Djiwandono Terpilih Jadi Deputi Gubernur BI
Rapat Paripurna DPR RI Ke-12 Masa Persidangan III Tahun Sidang 2025–2026 secara resmi menetapkan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia yang baru periode 2026-2031.
Saat ini Thomas masih menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan dan akan menggantikan Juda Agung yang mengundurkan diri sejak 13 Januari 2026. Penetapan tersebut dilakukan setelah Thomas mengikuti proses uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI DPR bersama dua pejabat karir BI, Solikin M Juhro dan Dicky Kartikoyono, pada Senin (26/1/2026). Usai disahkan dalam rapat paripurna, Thomas dijadwalkan menjalani pelantikan resmi di Mahkamah Agung.
Thomas Djiwandono lahir di Jakarta pada 7 Mei 1972. Ia merupakan putra mantan Gubernur Bank Indonesia Soedradjad Djiwandono, sekaligus keponakan Presiden Prabowo Subianto melalui ibunya, Biantiningsih Miderawati.
Ia juga tercatat sebagai cicit R.M. Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank BNI. Thomas menyelesaikan pendidikan sarjana sejarah di Haverford College, Pennsylvania, serta magister hubungan internasional dan ekonomi internasional di Johns Hopkins University.
Karirnya dimulai sebagai jurnalis pada 1993, sebelum beralih ke sektor keuangan sebagai analis di Whitlock NatWest Securities di Hong Kong. Pada 2006, ia bergabung dengan Arsari Group milik pamannya, Hashim Djojohadikusumo, dan menjabat sebagai Deputy CEO.
Di bidang politik, Thomas aktif di Partai Gerindra, pernah menjadi calon legislatif di Kalimantan Barat serta menjabat Bendahara Umum partai tersebut. Ia mengundurkan diri dari posisi bendahara pada Maret 2025 setelah 17 tahun menjabat, lalu keluar dari partai pada 31 Desember 2025.
Sebelumnya, Thomas dilantik sebagai Wakil Menteri Keuangan pada 18 Juli 2024 di era Presiden Joko Widodo, dan melanjutkan tugasnya di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Posisi Rupiah Terhadap Dolar AS
Setelah Thomas menjadi Deputi Gubernur baru BI, pasar masih berspekulasi terhadap kondisi rupiah yang dinilai masih bisa melemah terhadap dolar AS, apalagi baru-baru ini mata uang Garuda sudah sempat ke level paling buruk sepanjang masa.
Pada 20 Januari 2026, rupiah sempat menyentuh All Time Low secara intraday ke posisi Rp16.980/US$, di pasar NDF pada waktu itu, rupiah bahkan sempat dihargai lebih dari Rp17.000/US$.
Seminggu berlalu, terpantau pada 27 Januari 2026 kini gerak rupiah sudah berangsur normal ke posisi Rp16.775/US$ setelah BI menahan suku bunga acuan lagi di level 4,75 persen.
Meski begitu, dalam setahun terakhir rupiah cenderung melemah sekitar 3,75 persen. Padahal, indeks dolar AS (DXY) sudah melemah lebih dari 10 persen ke posisi 97 saat ini.
Dari posisi the greenback yang melemah, seharus-nya rupiah bisa lebih kuat. Tapi realita tidak semudah itu.
Penyebabnya, arus dana global saat ini bergerak sangat selektif. Pada tahap awal pelemahan dolar, investor cenderung hanya masuk ke negara-negara dengan fundamental eksternal solid dan disiplin fiskal yang diyakini kuat. Indonesia belum sepenuhnya dipersepsikan berada dalam kelompok tersebut.
Pasar valuta asing sangat peka terhadap kondisi fiskal. Dengan proyeksi defisit APBN 2025 sekitar 2,9% dari PDB, hampir menyentuh ambang batas hukum 3%. Rupiah dinilai memiliki risiko lebih tinggi.
Dalam periode dolar melemah, negara berkembang yang defisitnya melebar biasanya justru mendapat tekanan lebih dulu, sementara negara dengan surplus eksternal seperti Malaysia dan Thailand cenderung lebih cepat menikmati aliran modal masuk.
Intinya, Rupiah bukan kehilangan daya saing, tetapi belum memperoleh kepercayaan ekstra dari pasar global. Selama kepastian arah fiskal 2026 dan penguatan neraca eksternal belum benar-benar terlihat, Rupiah kemungkinan tetap tertinggal dalam siklus pelemahan dolar dunia.
Gambaran sederhananya begini, ketika negara dengan surplus ibarat rumah tangga yang penghasilannya lebih besar dari pengeluaran, modal datang dengan sendirinya. Sebaliknya, negara defisit seperti keluarga yang bergantung pada utang, harus terus meyakinkan pihak lain agar mau membiayai kebutuhannya.

Deretan Emiten yang Rugi Ketika Rupiah Melemah
Menilai pergerakan rupiah yang cenderung melemah terhadap dolar AS akibat posisi Indonesia yang masih rentan terhadap defisit APBN sampai spekulasi terhadap kekhawatiran independensi BI, dampaknya bisa menjalar ke sejumlah emiten, terutama yang punya utang berdenominasi dolar AS maupun yang bisnis-nya banyak impor.
Emiten yang bergantung impor biasanya ada di sektor consumer goods tertentu, farmasi, dan manufaktur dengan bahan baku impor. Pelemahan rupiah bisa menaikkan biaya yang bisa membuat margin tertekan.
Sektor perbankan juga bisa kena dampak, meskipun dampaknya netral secara fundamental. Hanya saja, dalam pergerakan saham jangka pendek bisa terjadi volatilitas yang kencang, mengingat porsi investor asing di saham bank masih banyak.
Adapun, kami mencatat ada beberapa emiten yang potensi semakin dirugikan jika rupiah semakin melemah di hadapan dolar AS:
INDF dan ICBP
INDF dan ICBP merupakan ibu dan anak, sehingga laporan keuangan memiliki kaitan satu sama lain.
ICBP memiliki utang obligasi jangka panjang menggunakan denominasi AS cukup besar, kalau dikalkulasi sampai September 2025 nilai-nya mencapai Rp45,6 triliun, setara 74,8 persen dari total liabilitas senilai Rp61,08 triliun.
Penulisan satuan mata uang di laporan keuangan ICBP juga dalam rupiah yang menunjukkan dominasi penjualan dari domestik. Simple-nya, ICBP jualan produk mie instan dan sejenisnya itu pakai rupiah, tapi dalam operasional-nya mereka butuh dolar AS untuk bayar utang.
Ditambah, ICBP yang merupakan produsen mie instan juga bergantung pada bahan baku gandum, di mana ini harus di impor dan harus menggunakan dolar AS.
Sebagai induk usaha, INDF ikut terdampak karena secara konsolidasi utang ICBP tercatat dalam neraca INDF. Dengan struktur seperti ini, risiko INDF dan ICBP pada dasarnya saling terkait, satu menghadapi masalah, yang lain ikut menanggung dampaknya.
MDLN
Berikutnya ada emiten properti MDLN yang punya utang dalam denominasi dolar AS.
Data sampai September 2025, MDLN punya utang obligasi senilai US$ 270,44 juta atau setara Rp4,51 triliun dan beban yang harus dibayar senilai US$ 7,07 juta setara Rp118,04 miliar. Kalau ditotal jumlah yang harus dibayar dalam USD senilai US$ 277,52 juta atau setara Rp4,62 triliun.
Pada periode yang sama total libilitas MDLN senilai Rp9,42 triliun, artinya utang dalam denomasi dolar AS itu sudah berkontribusi nyaris setengah-nya.
Dengan posisi rupiah yang semakin melemah, MDLN menghadapi risiko beban ongkos pinjaman yang semakin bengkak.
PWON
Ada emiten properti lagi PWON yang memiliik utang obligasi dalam dolar AS, sampai September nilainya mencapai US$ 114,04 juta. Kalau dirupiahkan dari kurs yang berlaku di laporan keuangan waktu itu di Rp16.680/US$ menjadi Rp1,91 triliun, setara 19,35 persen dari total liabilitas senilai Rp9,83 triliun.
Jatuh tempo-nya bervariasi ada yang harus dibayar Maret 2026 ini dan paling jauh pada 2030 mendatang. Bunga juga bervariasi dari 2 persen sampai 7,76 persen.
MDIY
Perusahaan ritel houseware, MDIY juga memiliki sensitif terhadap risiko mata uang, ini karena persediaan barang-nya mayoritas barang impor. Sampai September 2025, persentase pembelian impor mencapai 75.32%.
ACES
ACES juga memiliki bisnis yang mirip dengan MDIY, karena barang-barangnya stok baramg yang dijual itu melalui impor. Menurut laporan keuangan, persentase pembelian import untuk periode yang berakhir pada tanggal 30 September 2025 dan 30 September 2024 masing-masing sebesar 87.03% dan 81.89% dari jumlah pembelian
Perusahaan Farmasi (INAF, KAEF, PYFA)
Menurut Menteri Perindustrian RI (2025), sekitar 85 % kebutuhan bahan baku farmasi (terutama active pharmaceutical ingredients / APIs dan bahan lainnya) masih harus diimpor, terutama dari India dan China. Sedangkan 95 % produk obat jadi sudah diproduksi di dalam negeri.
Ketergantungan bahan baku impor di industri farmasi membuat emiten seperti KLBF, KAEF, INAF, PYFA berisiko mengalami kerugian kurs akibat beban yang dikeluarkan lebih banyak ketika rupiah melemah.
Kesimpulannya
Dalam jangka pendek, saat risiko fluktuasi rupiah masih tertekan terhadap dolar AS, strategi yang bisa dipertimbangkan adalah sebagai berikut:
Action di saham:
- Hindari saham-saham dengan eksposur utang denominasi dolar AS. Meski sudah melakukan hedging, tekanan dari pelemahan rupiah biasanya tetap berdampak ke kinerja.
- Hindari sementara saham yang terindikasi repo karena relatif sulit dideteksi sejak awal.
- Hindari saham yang sangat bergantung pada bahan baku impor.
Selain itu, siapkan porsi cash sesuai kemampuan (tidak perlu sampai all cash). Ini lebih ke langkah antisipasi dan manajemen risiko, bukan karena panik.
Dapatkan Insight Saham hingga Diskusi serta Konsultasi Bersama hampir 1.000 Investor Lainnya di Mikirsaham
Yuk join dengan Mikirsaham sekarang untuk bisa dapatkan benefit ini semua:
- Stockpick investing (dividend, value, growth, contrarian) yang di-update setiap bulan (terbarunya akan diseleksi terbaik maksimal 5 masing-masing strategi dengan analisis yang komprehensif)
- Stock Ideas (memberikan gambaran besar saham-saham yang menarik, tapi tidak termasuk stockpick)
- Stockpicking swing trade mingguan (khusus member mikirsaham elite jika kuota masih tersedia)
- Insight saham terkini serta action-nya
- Update porto founder
- IPO dan Corporate Action Digest
- Event online bulanan
- Grup Diskusi Saham
Join ke Member Mikirsaham Pro sekarang juga dengan klik link di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
