Sudah Jago Saham, masih Perlu Investasi di Reksa dana?

Siapa yang merasa sudah jago saham dan mikir nggak perlu lagi produk seperti reksa dana? oke saya akan jelasin apakah masih perlu atau tidaknya di sini.

Sudah Jago Saham, masih Perlu Investasi di Reksa dana?

Mikir Duit – Investasi reksa dana menjadi salah satu pilihan terbaik untuk diversifikasi. Saya pun masih hold beberapa investasi di reksa dana saham dan pasar uang. Pertanyaannya, kenapa saya yang sudah paham saham masih mau investasi di reksa dana? Memang bagaimana cara kerja investasi reksa dana?

Jika kemarin kita membongkar fakta apakah benar investasi reksa dana sudah mulai ditinggalkan? kini saya akan menceritakan alasan kuat kenapa masih investasi di reksa dana.

BACA JUGA: Narasi Media Mainstream Bilang Investasi Reksa dana Mulai Ditinggalkan, Padahal Begini Fakta Sesungguhnya

Sudah Paham Saham masih Wajib Punya Investasi di Reksa dana?

Reksa dana memang jadi salah satu instrumen yang cocok untuk pemula. Soalnya, dengan investasi di reksa dana, ibaratnya kita menitipkan uang kepada expertise dalam pengelolaan keuangan. Artinya, kita tidak perlu pusing memikirkan analisis saham yang bagus apa saja, atau aset alokasi harus bagaimana?

Sebelum membahas keuntungannya, saya akan beberkan beberapa kelemahan dari investasi di reksa dana:

Pertama, ketika saham yang jadi portofolio reksa dana membagikan dividen, kita sebagai salah satu pemilik secara tidak langsung tidak akan mendapatkan uangnya langsung secara tunai. Melainkan diakumulasikan ke seluruh dana kelolaan produk reksa dana tersebut. Jadi, kita nggak berasa mendapatkan dividen secara langsung. Ini lebih ke perasaan saja sih, secara keuntungan harusnya beda-beda tipis.

Kedua, reksa dana memang fleksibel dari segi pencairan uang, tetapi tidak fleksibel dalam mengatur dana investasi. Jadi, ketika pasar saham sedang turun, kita hanya bisa mempercayakan semuanya kepada manajer investasi, yang pastinya adalah profesional di bidang keuangan.

Lalu, kenapa masih menempatkan dana di reksa dana? kenapa tidak langsung ke saham, obligasi negara seperti fixed rate atau SBN ritel, dan deposito?

Jawabannya, untuk diversifikasi strategi!. Apa maksudnya?

Diversifikasi Strategi Investasi Bersama Reksa dana

Di balik kelemahan reksa dana, ada beberapa keuntungan reksa dana dibandingkan dengan investasi langsung.

Pertama, kita bisa menjangkau instrumen investasi yang tidak bisa dijangkau oleh investor ritel dengan modal terbatas. Misalnya, fixed rate minimal Rp100 juta, dengan kita investasi di reksa dana yang punya penempatan dana di sana, kita sudah bisa mendapatkannya dengan modal Rp100.000.

Begitu juga dengan strategi money management dan diversifikasi dalam investasi saham. Dengan di reksa dana, kita akan memilliki strategi money management yang lebih baik karena modalnya besar. Jadi, manajer investasi akan bisa mengatur persentase investasi di berbagai instrumen investasi.

Kedua, kita tidak perlu pusing mengatur portofolio investasi yang cocok dengan kondisi tertentu, seperti saat ini ketika suku bunga tinggi, apa instrumen yang cocok. Kita bisa percayakan sepenuhnya kepada manajer investasi, meski bukan berarti akan terhindar dari risiko seperti fluktuasi harga saham ya.

Nah, dari pengalaman saya, reksa dana adalah aset investasi yang jangka simpanannya sudah terukur. Jadi, seperti reksa dana pasar uang cocok banget buat kita yang ingin gunakan uangnya dalam kurang dari setahun. Kenapa? soalnya risiko paling rendah, sehingga hampir tidak mungkin reksa dana pasar uang negatif.

Di sisi lain, reksa dana saham itu minimal harus hold 5 tahun. Setelah itu, kamu akan merasakan bagaimana stabilitas nilai investasi reksa dana saham, meski pasar sahamnya gonjang-ganjing. Kecuali dalam kasus tertentu ada reksa dana yang mayoritasnya dimiliki institusi, ketika institusi itu menarik dana, maka dana kelolaan reksa dana turun drastis. Hal itu berpotensi menggerus keuntungan investasi reksa dana kita juga.

Dalam kasus reksa dana saham, menurut saya kita perlu investasi ke sana meski sudah paham saham. Alasannya, seperti kelebihan reksa dana nomor pertama, manajer investasi punya modal lebih besar untuk mengatur investasi saham kemana saja di reksa dana tersebut dibandingkan dengan kita yang ritel.

Saya ada investasi reksa dana saham sejak 2017, awal-awalnya rugi, apalagi ketika pandemi Covid-19 di 2020. Namun, setelah itu mau pasar saham naik atau turun, trennya konsisten naik. Pasalnya, saya sudah pegang di harga reksa dana per unit di posisi rendah. Sehingga, ketika dana kelolaan terus naik dan sedikit tergerus karena fluktuasi market, hal itu tidak terasa kepada keuntungan reksa dana saham saya.

Selain itu, investasi di reksa dana saham juga jadi diversifikasi strategi. Seperti, mindset saya terjebak di saham itu-itu saja seperti saham bank besar, PT Selamat Sempurna Tbk. (SMSM), PT Astra International Tbk. (ASII), dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP). Lalu, jika kita serahkan ke reksa dana saham, strategi investasi akan lebih beragam. Para manajer investasi berpotensi mengambil peluang, yang mungkin kita tidak akan ambil.

Kesimpulan

Menurut saya, investasi reksa dana masih cukup penting, apapun jenis reksa dananya. Misalnya, dalam konsep strategi saya, reksa dana pasar uang adalah tempat dana darurat. Lalu, reksa dana saham adalah tempat untuk diversifikasi strategi investasi saham.

Apalagi, saya juga bekerja yang membuat tidak bisa fokus penuh di pasar saham setiap harinya. Dengan investasi di reksa dana, kita bisa biarkan para manajer investasi yang bekerja mengatur portofolio kita agar bisa untung.

Namun, saya sendiri tetap nabung saham perlahan dari modal kecil dengan strategi sendiri. Dengan begitu, harapannya saya juga bisa memiliki manajemen risiko yang lebih kuat.

Nah, kalau kamu diversifikasi aset investasinya kemana saja nih?