Strategi Bertahan Hidup RALS Lewat Cuan Deposito dan SBN, Masih Menarik Dilirik?

Masa kejayaan RALS sebagai ritel konvensional mungkin sudah mulai meredup. Kini, perusahaan lebih tampak sebagai bisnis musiman yang bertahan lewat efisiensi dan penataan ulang operasional. Pertanyaannya, bagaimana prospeknya ke depan? Masih menarik untuk dilirik investor?

saham RALS

Mikirduit - Era bisnis ritel RALS yang mengejar pertumbuhan di mana toko baju ramai dan pembeli antri panjang di depan kasir tampaknya sudah usai. 

Saat ini, strategi bertahan dengan kas jumbo untuk mengoptimalkan efisiensi dan bisnis musiman lebih tepat disematkan untuk RALS. Kira-kira gimana prospeknya ke depan? masih menarik untuk dilirik investor? 

Highlight 
  • Optimalisasi efisiensi dan bisnis musiman menjadi fokus bisnis RALS saat ini. 
  • Lebih dari setengah keuntungan RALS dihasilkan dari cuan deposito dan sewa properti. 
  • Sudah saatnya RALS jadi cash cow ritel yang dilirik sebagai saham dividend investing. 
  • Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini

Masa kejayaan RALS bisa dibilang berada pada periode sebelum pandemi melanda industri ritel. 

Pada 2015–2019, perusahaan konsisten membukukan penjualan di atas Rp5 triliun. Namun pada 2020, badai pandemi menghantam keras. Omzet RALS langsung merosot hingga setengahnya menjadi Rp2,52 triliun.

Hingga kini, penjualan masih bergerak di kisaran Rp2–3 triliun per tahun, dan belum mampu kembali ke level pra-pandemi. 

Dengan kata lain, skala bisnis RALS saat ini hanya tinggal sekitar separuh dari posisinya satu dekade lalu. Perubahan lain juga semakin terlihat,  bisnis ritel RALS kini sangat mengandalkan momentum Lebaran untuk mendorong kinerja. Setelah pandemi, pola musiman ini makin menonjol.

Padahal, di masa lalu, tanpa event musiman sekalipun RALS masih mampu menjaga level omzet secara stabil, paling tidak di atas Rp1 triliun. 

Cuan Deposito dan Efisiensi Operasional Jadi Kunci Bertahan 

Lewat momentum Lebaran, bisnis ritel RALS kembali menunjukkan kondisi yang naik-turun—seperti mesin yang sering kehabisan bensin. Penjualan belum benar-benar pulih, sehingga kinerja perusahaan kini lebih banyak diselamatkan oleh dana yang ditempatkan di instrumen keuangan.

Per September 2025, RALS menempatkan Rp448,09 miliar dalam deposito berjangka tenor 3–6 bulan. Instrumen ini memberikan imbal hasil 5,00–6,00 persen untuk rupiah dan 3,80–5,00 persen untuk dolar AS.

investing

Selain itu, pos kas dan setara kas juga besar, mencapai Rp681,16 miliar, yang terdiri dari deposito berjangka dan on-call dengan tingkat bunga 2,10–7,00 persen (rupiah) serta 3,89 persen  (dolar AS).

Selain itu, RALS juga menempatkan dana di SBN Indonesia hingga Treasury Note total sekitar Rp837 miliar. Rentang suku bunga dari SBN ini berkisar 4,12 persen hingga 7,75 persen. Dengan asumsi rata-rata 6 persen berarti bisa mendapatkan pendapatan dari SBN sekitar Rp50 miliar.

Dari penempatan dana tersebut, RALS mencatat pendapatan keuangan Rp94,80 miliar hingga September 2025. Tak hanya itu, pendapatan sewa juga menyumbang Rp96,22 miliar. Jika digabung, kontribusi non-operasional ini hampir Rp200 miliar.

Bandingkan dengan laba bersih Rp272,97 miliar pada periode yang sama: Hampir tiga perempat laba RALS datang dari deposito, surat berharga, dan pendapatan sewa, bukan dari menjual barang.

Sementara itu, sisi efisiensi RALS juga menunjukkan perbaikan margin:

  • GPM: 50,52 persen → 53,64 persen
  • OPM: 9,78 persen → 12,23 persen
  • NPM: 11,96 persen → 14,53 persen

Selain margin yang membaik, RALS juga melakukan efisiensi persediaan. Inventory diturunkan menjadi Rp344,14 miliar, turun 28 persen dari Rp478,45 miliar setahun sebelumnya.

Ringkasnya, perusahaan menjual lebih sedikit barang, tetapi dengan profitabilitas yang lebih tebal dan cash flow yang lebih longgar.

Namun, ada tantangan struktural. Beban penyusutan aset hak guna (right-of-use assets) masih besar, Rp161,9 miliar pada 2024, mencerminkan komitmen sewa jangka panjang. Saat traffic toko menurun atau gerai ditutup sebelum kontrak selesai, muncul potensi impairment, ini jadi sinyal skala toko fisik mungkin terlalu besar dibandingkan demand sekarang. 

Itu juga yang jadi alasan sampai saat ini RALS sudah mengurangi empat gerai fisik dari awal tahun.

Melirik Peluang Beli 4 Saham yang Keluar MSCI dengan Harga Diskon
Ada 4 saham yang didepak dari indeks MSCI, yakni ICBP, KLBF, SMSM, dan ULTJ. Namun, hal itu bisa jadi peluang beli saham-saham tersebut dengan harga diskon. Lalu, mana yang paling menarik?

Sekarang, RALS menghadapi rasionalisasi toko tak hanya soal menutup gerai, tetapi bagaimana nanti menghadapi konsekuensi biaya akuntansi dan arus kas dari keputusan masa lalu, apalagi seperti yang diulas sebelumnya kalau RALS punya pendapatan dari sewa cukup besar. 

Secara keseluruhan, strategi bertahan RALS ini memiliki dua sisi. Positif-nya, neraca kelihatan kuat dan likuiditas melimpah. Negatifnya, saham RALS jadi mirip obligasi, karena return lebih banyak datang dari bunga deposito dibandingkan growth bisnis-nya. Kalau nanti strategi investasi kurang berhasil, pendapatan tentu bisa berkurang. 

Jadi apakah RALS masih menarik untuk dilirik investor? 

Kata “menarik dilirik” untuk RALS ini sekarang kita mengacu pada hal yang lebih realistis. Ketimbang mengejar growth penjualan kembali ke masa kejayaan-nya, itu sudah bukan era-nya, tetapi bagaimana RALS ini menjadi cash cow yang mempertahankan margin tinggi dan menjaga efisiensi operasional jaringan toko tetap produktif. 

Menariknya, dengan kas tebal RALS punya potensi sebagai saham dividen investing. Dari laba tahun lalu, RALS membagikan dividen Rp60 per lembar, yield setara 12,55 persen. Dua tahun sebelumnya, RALS konsisten berikan dividen Rp50 per lembar saham, kalau dirinci yield pada 2024 sebanyak 10,68 persen, 2023 sebanyak 8,13 persen. 

Artinya, tiga tahun ini RALS sudah memberikan cuan dividen yang ciamik. Kalau dari hasil laba tahun ini, komitmen payout ratio tetap tinggi maka kita bisa mengincar keuntungan dividen yang menarik. 

Asumsi konservatif kami, dari proyeksi EPS tahun ini sebesar 51, kami memproyeksi DPR lebih rendah sekitar 75 - 80 persen atau setara DPS di level 40, akan menghasilkan keuntungan dividen sekitar 9,09 persen dari harga saham di Rp440 per saham. 

Kesimpulannya, RALS masih menarik sebagai saham dividend investing berkat posisi kas yang kuat dan karakter bisnis yang cenderung menjadi cash cow. 

Namun, sejumlah tantangan tetap perlu diwaspadai. Ketergantungan pada pendapatan deposito dan sewa membuat risiko impairment atas aset hak guna tinggi, terutama jika trafik toko melemah atau gerai harus ditutup sebelum masa sewa berakhir.

Selain itu, kinerja yang semakin musiman, terutama bergantung pada momentum Lebaran, membuat pendapatan operasional kurang stabil. Tanpa pembaruan strategi atau sumber pertumbuhan baru, kontribusi non-operasional kemungkinan akan tetap mendominasi penopang laba.

Gimana, kalian masih tertarik lirik RALS atau wait and see dulu? 

Kalau mau mendapatkan insight saham sambil diskusi secara real time bersama founder Mikirduit, yuk join Mikirsaham

Kamu bisa mendapatkan insightnya dengan join Mikirsaham Pro.

Benefit Mikirsaham Pro:

  • Stockpick investing (dividend, value, growth, contrarian) yang di-update setiap bulan
  • Stockpicking swing trade mingguan (khusus member mikirsaham elite jika kuota masih tersedia)
  • Insight saham terkini serta action-nya
  • IPO dan Corporate Action Digest
  • Event online bulanan
  • Grup Diskusi Saham

Join ke Member Mikirsaham Pro sekarang juga dengan klik link di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini