Saham Portofolio-nya Naik, Begini Prospek SRTG

Saham ADRO, AADI, MDKA sudah manggung dari awal tahun potensi membawa berkah bagi saham SRTG. Kira-kira gimana prospeknya? masih menarik dilirik?

saham SRTG

Mikirduit -  Saham SRTG masih jauh tertinggal dari beberapa saham bluechip di portofolionya (ADRO, AADI, MDKA) yang sudah terbang sejak awal tahun. Lantas, bagaimana prospeknya? masih menarik dilirik saham-nya?  

Highlight

  • Saham di portofolio grup Saratoga manggung lagi, seharusnya ini bisa jadi katalis yang mendongkrak saham SRTG ikutan naik. 
  • Laba SRTG pada kuartal IV/2025 diprediksi moncer, membalikan kerugian pada kuartal sebelumnya. 
  • Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.

Saham di Portofolio SRTG Manggung Lagi 

Kami mulai melirik saham SRTG untuk prospek jangka menengah karena saham bluechip di portofolio-nya sudah manggung sejak awal tahun.

Kami menarik data sejak 2 Januari - 24 Februari 2026, beberapa saham dalam porto SRTG yang terbang ada MDKA sampai 68 persen, ADRO-AADI kisaran 30 persen, dan ada saham growth AGII yang melonjak paling moncer di atas 100 persen dari awal tahun. 

Sementara itu, saham SRTG dari awal tahun baru naik kisaran 15 persen. Secara teknikal, saham perusahaan investasi ini baru saja keluar dari downtrend  yang terjadi selama enam bulanan dan kini sedang mencoba sideways dulu sebagai pondasi akumulasi untuk kembali uptrend

Sebagai catatan, SRTG itu merupakan perusahaan Private Equity yang bersifat aktif, artinya perseroan tidak hanya sekadar investasi, tapi juga mengembangkan bisnisnya. Mereka membagi perusahaan yang disuntik investasi menjadi dua macam yaitu bluechip dan growth focused sebagai berikut : 

Data diambil dari company presentation terbaru, Januari 2025

Selain capital gain sejumlah saham di porto SRTG yang moncer, katalis selanjutnya masih datang dari dividen. 

Yang kemungkinan paling cepat tercermin di laporan keuangan ada dividen dari AADI karena baru dicairkan November tahun lalu sebanyak Rp538,08 per lembar. 

Selanjutnya yang akan tercermin pada laporan kuartal pertama tahun ini ada dari ADRO yang sudah menggulirkan dividen interim sebanyak Rp145 per lembar. 

Karena itu baru interim, artinya ADRO masih potensial memberikan dividen final lagi, perkiraan di pertengahan tahun.

Terakhir, ada dari dividen MPMX yang tiap tahun terkenal royal bagi dividen. Kalau di emiten ini, SRTG mejnadi pengendali dengan kepemilikan 57 persen, artinya nanti dividen yang akan didapatkan paling optimal. 

Kami menghitung dengan asumsi konservatif kalau dividen per lembar yang dibagikan bisa Rp100 saja, dari posisi harga terkini di Rp1025, yield yang dihasilkan sudah 10 persenan. 

Namun, sebagai dividen MPMX secara historis paling cepat baru dibagikan Mei, jadi kemungkinan besar baru terasa di kinerja keuangan kuartal II/2026 mendatang.

Oleh karena itu, kombinasi dari capital gain mayoritas saham bluechip di sektor komoditas yang moncer dari awal tahun ditambah dividen yang bisa didapatkan tiap kuartal bisa menjadi katalis bagi pertumbuhan pendapatan yang eksponensial bagi SRTG pada 2026, apalagi ada low based effect pada kuartal III/2025 yang mencatatkan kerugian investasi. 

Pekerjaan Rumah, Profitabilitas Melambat 

Di sisi lain, kami menilai masih ada PR yang dihadapi SRTG dari kinerja keuangan 2025 yang dinilai masih akan melambat. karena tekanan kinerja pada kuartal-kuartal sebelum-nya. 

Jika melihat data per segmen per 30 September 2025:

  • Blue Chip mencatat rugi sekitar Rp3,0 triliun (vs laba Rp6,8 triliun di 9M24). Ini menunjukkan koreksi valuasi pada portofolio listed menjadi kontributor utama tekanan laba.
  • Teknologi Digital masih mencatat rugi Rp296 miliar (vs rugi Rp164 miliar di 9M24), mencerminkan volatilitas sektor growth/tech.
  • Growth Focused justru mencatat laba Rp206 miliar (vs rugi tipis Rp10 miliar di 9M24).
  • Lain-lain menghasilkan laba Rp198 miliar (vs Rp24 miliar di 9M24).

Secara total, sampai September 2025, SRTG membukukan rugi sekitar Rp2,9 triliun, berbalik dari laba Rp6,6 triliun di periode yang sama tahun lalu. 

Namun perlu dicatat, struktur pendapatan SRTG berasal dari dua komponen utama yaitu capital gain/loss investasi dan dividen. 

Penghasilan dari investasi saham bersifat unrealized (di atas kertas) sampai benar-benar direalisasikan. Jadi, sebenarnya pertumbuhan laba bersih SRTG kurang relevan dijadikan tolok ukur utama performa fundamental.

Struktur Modal dan Utang 

Penting untuk melihat struktur modal dan utangnya, karena ini bisa dijadikan untuk menambah dana kelolaan yang bisa digunakan untuk investasi lebih banyak ke depan. 

Dari sisi leverage, posisi SRTG tergolong sangat konservatif. Total utang dalam beberapa tahun terakhir sudah jauh menurun dibanding periode sebelumnya. 

Net debt terakhir hanya berada di kisaran ratusan miliar rupiah, sementara nilai portofolio investasi mencapai puluhan triliun rupiah. Rasio loan to value tercatat di bawah 1 persen, level yang sangat rendah untuk perusahaan investasi.

Dengan struktur seperti ini, SRTG sebenarnya masih memiliki ruang yang sangat besar apabila ingin melakukan optimalisasi neraca.

13 Saham Ajukan Right Issue, Simak Hal Pentingnya Di Sini
Semarak right issue masih semarak pada 2026. Paling baru ada BAJA, ELPI, MPPA, dan JGLE ikut meramaikan, menyusul beberapa yang sudah ada jadwalnya akan kami rekap jadi satu. Kira-kira bagaimana prospeknya?

Artinya, apabila manajemen melihat peluang investasi yang menarik, perusahaan masih punya fleksibilitas untuk menambah pembiayaan tanpa langsung membebani struktur keuangan secara agresif.

Profil jatuh tempo utang juga relatif aman karena tersebar hingga beberapa tahun ke depan dan tidak menunjukkan tekanan pembayaran besar dalam waktu dekat. Kondisi ini membuat risiko likuiditas relatif terjaga dan memberikan keleluasaan bagi manajemen untuk fokus pada strategi ekspansi portofolio.

Terlihat juga dari sisi valuasi SRTG masih menarik tercermin dari gap antara harga saham terkini di Rp1820 masih jauh dari NAV (Net Aset Value) sesungguhnya yang berada di atas Rp4000 per lembar. 

Namun di luar kinerja internal perusahaan, tantangan eksternal tetap perlu diperhatikan.

Saat ini pasar domestik masih berada dalam fase pemulihan pasca MSCI crash. Setidaknya hingga Mei 2026, pelaku pasar masih menanti kepastian terkait keputusan MSCI, apakah status Indonesia akan diturunkan atau tetap dipertahankan.

Ketidakpastian tersebut membuat risiko arus keluar dana asing masih membayangi.

Meski demikian, tekanan terhadap saham sektor komoditas diperkirakan tidak akan terlalu berat selama faktor makro tetap mendukung dan harga komoditas bertahan di level yang solid.

Yang perlu diantisipasi justru potensi aksi ambil untung dalam jangka pendek, terutama pada saham-saham yang sudah mencatatkan kenaikan signifikan sejak awal tahun. Volatilitas jangka pendek masih mungkin terjadi, meski secara fundamental sektor ini masih memiliki penopang yang cukup kuat.

Kami Sudah Siapkan Strategi dengan Dua Momentum Terdekat SRTG di Mikirsaham

Join mikirsaham dan dapatkan benefit:

  • Stock Idea Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stock Idea mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stock Idea trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
  • Event online bulanan
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private

Untuk detail kamu bisa baca lebih detail terkait benefit dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini