Saham BUMI Terbang Tinggi, Dejavu Masa Lalu atau Menjadi Momentum Baru?
Baru dua hari perdagangan di 2026, saham BUMI melonjak hampir 30% dan mendekati level tertinggi sejak 2017. Didorong target masuk MSCI serta ekspansi emas–bauksit, pasar bertanya: momentum baru atau sekadar pengulangan siklus lama?
Mikirduit - Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terbang lagi hampir mendekati level tertinggi sejak 2017 lalu, kabarnya karena mengejar target masuk indeks MSCI, ditambah ekspansi-nya ke emas-bauksit. Akankah ini jadi game changer BUMI atau manage ekspektasi dulu?
Highlight
- Saham BUMI pernah dibawa terbang ke harga 500-an pada 2017 lalu, tetapi tiga tahun berselang saham-nya kembali “membumi” alias balik gocap lagi.
- Saat ini saham BUMI akhirnya bangkit lagi dan mulai mendekati level 500.
- Story ekspansi ke segmen emas-bauksit dan mengejar masuk indeks MSCI Februari 2026 menjadi motor penguatan saham BUMI.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.
Jejak Saham BUMI: Dari Euphoria Sampai Bikin Trauma
“Saham BUMI pasti membumi.” Julukan ini bukan muncul tanpa alasan. Pada akhir Januari 2017, saham BUMI sempat dibawa terbang ke level Rp500-an.
Namun, reli tersebut tidak bertahan lama. Kurang dari tiga tahun kemudian, harga sahamnya kembali ambyar hingga gocap alias Rp50-an dan bertahan di level tersebut hampir sepanjang 2020.
Lonjakan 2017 kala itu banyak dipicu sentimen restrukturisasi utang. Kenaikan harga saham BUMI kala itu juga didorong dari aksi right issue jumbo pada Juli 2017. Kala itu, BUMI menargetkan right issue dengan menerbitkan 28,75 miliar lembar senilai Rp26,62 triliun. Lalu, BUMI juga menerbitka obligasi wajib konversi senilai Rp8,45 triliun.
Harga pelaksanaan HMETD seri A senilai Rp926 per saham, sedangkan HMETD obligasi wajib konversi senilai Rp1 per unit. Dari dua aksi korporasi tersebut, BUMI juga terselamatkan dari PKPU. Alhasil, harga saham BUMI yang lagi di Rp50 per saham pun langsung ngebut hingga Rp515 per saham
Namun, di balik euforia pasar, fondasi fundamental BUMI masih rapuh. Beban utang besar, dilusi berulang akibat aksi korporasi, serta kondisi ekuitas yang masih negatif membuat reli tersebut kehilangan tenaga.
Kalau ditelusuri dari 2013-2016 minus ekuitas terus membengkak, dari Rp3,69 triliun menggelembung jadi Rp37,41 triliiun. Paling bengkak, minus ekuitas pernah sampai Rp40,07 triliun pada 2015. Artinya, secara neraca, BUMI belum benar-benar pulih saat harga sahamnya terbang tinggi.
Ketika harga batu bara kembali melemah dan restrukturisasi belum sepenuhnya tercermin pada laba dan arus kas, kepercayaan pasar pun menguap. Pandemi Covid-19 pada 2020 menjadi pukulan terakhir yang menahan saham BUMI di zona bawah cukup lama.
Ini jadi pelajaran penting : kalau reli berdasarkan ekspektasi, tetapi realita atau fundamental tidak bisa mengikuti, akhir-nya kenaikan harga saham itu umur-nya pendek.
Tiga Fase Perjalanan Bisnis BUMI
Untuk memahami posisi BUMI saat ini, perjalanannya bisa dibagi ke dalam tiga fase besar.
Pertama, fase ekspansi agresif (1997–2008).
Setelah diakuisisi pada 1997, BUMI bertransformasi dari perusahaan hotel menjadi raksasa sumber daya alam. Akuisisi Arutmin dan KPC menjadikan BUMI “kerajaan” batu bara dengan cadangan besar dan jaringan ekspor global. Namun, ekspansi ini dibangun dengan leverage tinggi, yang menjadi bom waktu di kemudian hari.
Kedua, fase krisis dan deleveraging (2009–2020).
Krisis global 2008, isu repo yang berkaitan dengan pemilik, pelepasan sebagian aset ke Tata Power, serta aksi korporasi berulang menekan struktur permodalan. Fase inilah yang menjelaskan mengapa reli 2017 gagal berlanjut. Pasar belajar bahwa aset besar tanpa neraca sehat tidak otomatis menciptakan nilai bagi pemegang saham.
Ketiga, fase reset dan reposisi bisnis (2021–sekarang).
Di fase ini, BUMI mulai menata ulang bisnisnya. Batu bara tetap menjadi mesin kas, sementara mineral, melalui BRMS, diposisikan sebagai sumber pertumbuhan jangka panjang. Narasi BUMI bergeser dari sekadar saham batu bara siklikal menjadi holding sumber daya alam.
BUMI Bangkit Lagi: Awal Fase Baru?
Memasuki tahun 2026, baru dua hari perdagangan pasar berlangsung, tetapi saham BUMI sudah terbang nyaris 30 persen.
Per 5 Januari 2026 sampai pukul 10.50 WIB, harga saham BUMI berhasil menyentuh Rp472 per saham, makin dekat sama level tertinggi 2017 lalu yang pernah ke harga 500-an.
Setidaknya kami melihat ada dua katalis pendorong saham BUMI :
Pertama, isu masuk indeks MSCI Februari 2026.
BUMI diramal bisa naik kelas masuk MSCI Indonesia Global Standard Index, menyusul anak usahanya, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), lebih dulu resmi masuk indeks tersebut pada review November 2025.
Saat ini, BUMI masih tercatat sebagai konstituen MSCI Indonesia Small Cap Index dan MSCI Investable Market Index (IMI). Sebagai catatan, rebalancing indeks MSCI dilakukan empat kali dalam setahun, yakni pada Februari, Mei, Agustus, dan November.
Peluang BUMI masuk MSCI Indonesia Global Standard Index juga sangat dipengaruhi oleh faktor free float, bukan hanya harga saham dan likuiditas. Berdasarkan data MSCI per 6 Juni 2025, free float BUMI tercatat di level 28,28 persen. Dengan asumsi ini, ambang batas harga saham untuk bisa masuk MSCI berada di sekitar Rp305 per saham (dengan asumsi kurs USD/IDR 16.675).
Namun, skenarionya bisa berubah signifikan apabila MSCI memperbarui perhitungan free float menggunakan data terbaru dari IDX/KSEI, yang menunjukkan free float BUMI sudah meningkat ke sekitar 33,81 persen. Dengan free float yang lebih besar tersebut, harga minimum yang dibutuhkan untuk memenuhi kriteria MSCI turun menjadi sekitar Rp275 per saham.
Artinya, kenaikan free float justru memperlebar peluang BUMI untuk masuk MSCI, bahkan tanpa harus mempertahankan harga terlalu tinggi.
Di sisi lain, ada yang menarik jelang potensi kenaikan kelas saham BUMI di indeks MSCI seiring terjadi-nya dinamika kepemilikan asing.
Pemegang saham asing Chengdong Investment Corp tercatat melakukan divestasi bertahap sepanjang Desember 2025.
Berdasarkan keterbukaan informasi ke BEI pada 26 Desember 2025, Chengdong melepas sekitar 3,71 miliar saham BUMI melalui transaksi pasar reguler, sehingga kepemilikannya turun dari 6,99 persen menjadi 5,99 persen. Divestasi ini berlangsung hampir sepanjang Desember, dengan harga penjualan di kisaran Rp238 hingga Rp388 per saham, dan secara eksplisit dilakukan dengan tujuan divestment.
Namun, di saat sebagian investor asing melepas saham, aliran dana asing justru tetap masuk. Beberapa nama besar tercatat melakukan pembelian, antara lain BlackRock yang membeli 8,85 juta saham pada 22 Desember 2025, Dimensional Fund Advisors yang memborong 55,44 juta saham pada 19 Desember 2025, serta Vanguard yang mencatat transaksi terbesar dengan pembelian 60,08 juta saham pada 30 November 2025. Sementara itu, kepemilikan UBS tercatat masih berada di kisaran 6,90 persen.
Kombinasi antara potensi masuk MSCI Global Standard dan masuknya dana institusi global membuat pasar mulai memproyeksikan ruang kenaikan lanjutan.

Kedua, ekspansi ke emas dan bauksit, termasuk rencana akuisisi baru.
BUMI bukan lagi pure play batu bara, posisi-nya kini sudah jadi bisnis mineral yang terdiversifikasi.
Salah satu bukti nyatanya adalah langkah BUMI dalam mengakuisisi mayoritas saham perusahaan tambang emas di luar negeri. Pada akhir 2025, perseroan telah menyelesaikan akuisisi mayoritas saham Jubilee Metals Limited (JML), sebuah perusahaan tambang emas yang berlokasi di Australia. Transaksi ini mencapai 64,98 persen kepemilikan BUMI atas JML, menjadi salah satu pijakan awal BUMI di segmen emas global.
Selain itu, BUMI juga mencatatkan akuisisi hampir 100 persen saham Wolfram Limited (WFL), sebuah perusahaan tambang yang memproduksi emas dan tembaga di Australia, sebagai bagian dari upaya memperluas basis mineral non-batu bara. Kepemilikan ini diproyeksikan mencapai final 100 persen pada akhir 2025.
Tidak berhenti di sana, BUMI juga menandatangani term sheet untuk mengambil alih 45 persen saham PT Laman Mining, perusahaan tambang bauksit di Kalimantan Barat, senilai sekitar US$59,1 juta (± Rp985 miliar). Akuisisi ini mencerminkan dorongan BUMI untuk memperluas portofolio mineral industri hilir seperti aluminium/alumina, yang potensinya besar di tengah permintaan transformasi energi global.
Manajemen BUMI menyatakan bahwa rencana akuisisi lebih lanjut masih terbuka dalam 6–12 bulan ke depan, termasuk peluang target mineral lain, dan ini bukan sekadar lip service: perseroan sudah menyiapkan obligasi berkelanjutan senilai ratusan miliar rupiah untuk mendukung agenda akuisisi tersebut.
Strategi ini juga bagian dari target BUMI untuk menggeser komposisi pendapatan ke arah yang lebih seimbang: dari dominasi batu bara termal menjadi 50% non-batubara pada 2031.
Di sisi pendapatan, kontribusi segmen non-batubara saat ini masih di bawah 10 persen dari total, tetapi harapannya meningkat tajam seiring progres akuisisi emas, bauksit, dan logam lainnya.
Game Changer atau Dejavu?
Apakah ekspansi emas dan bauksit ini akan menjadi game changer seperti transformasi besar BUMI di akhir 1990-an? Atau justru mengulang pola lama, ekspansi cepat yang menanam risiko jangka panjang?
Jawabannya belum hitam-putih. Pasar kini dihadapkan pada dilema klasik BUMI: potensi besar versus trauma sejarah. Optimisme tetap ada, tetapi ekspektasi perlu dikelola.
BUMI hari ini terlihat lebih rapi dibanding satu dekade lalu. Namun, investor tetap perlu bertanya: apakah kali ini pertumbuhan dibangun di atas neraca yang sehat, atau sekadar euforia siklus baru?
Yang membedakan kondisi saat ini dengan reli 2017 lalu adalah kualitas neraca. Jika pada 2017 BUMI masih dibayangi ekuitas negatif dan struktur permodalan yang rapuh, kini situasinya berbalik signifikan.
Hingga September 2025, ekuitas BUMI telah mencapai sekitar Rp46,90 triliun, mencerminkan hasil panjang dari proses restrukturisasi dan perbaikan keuangan yang sebelumnya tak terlihat di siklus lama.
Perbaikan neraca ini memberi BUMI ruang yang lebih sehat untuk bertumbuh, baik melalui ekspansi maupun penguatan bisnis inti. Namun, harus diingat, perbaikan neraca BUMI dilakukan dengan cara kuasi reorganisasi bukan memperbaiki kondisi. Artinya, ekuitas negatif menjadi positif karena ada penghapusan catatan akutansi bukan memulihkan kondisi dari catatan masa lalu karena pertumbuhan bisnisnya.
Untuk itu, pasar tetap perlu mencermati konsistensi kinerja dan disiplin pendanaan ke depan, agar penguatan harga saham kali ini benar-benar merefleksikan nilai jangka panjang, bukan sekadar pengulangan euforia masa lalu.
Dapatkan Insight Saham hingga Diskusi serta Konsultasi Bersama hampir 1.000 Investor Lainnya di Mikirsaham
Yuk join dengan Mikirsaham sekarang untuk bisa dapatkan benefit ini semua:
- Stockpick investing (dividend, value, growth, contrarian) yang di-update setiap bulan (terbarunya akan diseleksi terbaik maksimal 5 masing-masing strategi dengan analisis yang komprehensif)
- Stock Ideas (memberikan gambaran besar saham-saham yang menarik, tapi tidak termasuk stockpick)
- Stockpicking swing trade mingguan (khusus member mikirsaham elite jika kuota masih tersedia)
- Insight saham terkini serta action-nya
- Update porto founder
- IPO dan Corporate Action Digest
- Event online bulanan
- Grup Diskusi Saham
Join ke Member Mikirsaham Pro sekarang juga dengan klik link di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
