Saham Batu Bara Tersengat Qatar Stop Produksi LNG Sementara, Ini Pilihan Sahamnya
Harga batu bara terbang lebih dari 8 persen sehari menembus US$ 128 per ton. Alhasil, saham AADI, ITMG, PTBA, dkk langsung loncat. Kira-kira gimana prospek selanjutnya? saham mana yang paling menarik dilirik?
Mikirduit - Lonjakan harga batu bara lebih dari 8% ke atas US$128 per ton langsung memicu reli pada saham AADI, ITMG, PTBA, dan lainnya. Dengan momentum ini, bagaimana outlook sektornya? Saham mana yang paling menarik untuk dikoleksi?
Highlight
- Harga batu bara reli menembus US$ 128 per ton karena prospek permintaan naik sebagai substitusi gas, sementara pasokan turun banyak akibat pemerintah Indonesia memangkas produksi signifikan.
- Harga saham batu bara di RI seperti AADI, PTBA, INDY, dkk sudah naik signifikan sejak awal tahun.
- Masih menarik diperhatikan saham batu bara yang rutin bagi dividen dengan yield ciamik tiap tahun.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini..
Harga Batu bara Terbang
Harga batu bara melonjak lebih dari 8 persen dalam sehari hingga menembus US$128 per ton. Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran pasokan yang makin ketat serta meningkatnya permintaan sebagai substitusi gas.

Sejak awal tahun, harga batu bara memang sudah merangkak naik seiring rencana pemerintah Indonesia memangkas produksi secara signifikan.
Sentimen makin menguat setelah tensi perang antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran memicu gangguan pada sektor energi global.
Melansir Al Jazeera, perusahaan energi milik negara Qatar, QatarEnergy, menghentikan produksi liquefied natural gas (LNG) setelah fasilitasnya di Ras Laffan Industrial City dan Mesaieed Industrial City diserang drone. Serangan tersebut juga menyasar tangki air pembangkit listrik. Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini.
Akibat penghentian produksi oleh produsen LNG terbesar dunia tersebut, harga gas acuan di Belanda dan Inggris melonjak hampir 50%, sementara harga LNG acuan Asia naik sekitar 39%.
Di waktu yang sama, Arab Saudi turut melaporkan upaya serangan drone ke kilang minyak Ras Tanura Refinery. Serangan berhasil digagalkan, namun sempat memicu kebakaran kecil dan membuat beberapa unit kilang dihentikan sementara.
Gangguan pasokan gas global ini memperkuat prospek kenaikan permintaan batu bara dalam jangka pendek sebagai sumber energi alternatif.
Saham Batu bara Ikutan Reli
Dari lantai bursa, sejumlah saham batu bara ikut merespon positif kenaikan harga komoditas.
Saham AADI memimpin dengan kenaikan 16,48 persen dalam sepekan dan sudah menguat 49,46 persen sejak awal tahun. PTBA juga mencatat reli signifikan 13,51 persen dalam seminggu dan naik 27,27 persen secara year to date.
INDY bahkan masih menjadi yang paling tinggi secara YTD dengan kenaikan 80,80%, meskipun pada perdagangan harian terakhir sempat terkoreksi.
ITMG, GEMS, DOID, dan BSSR juga menunjukkan tren penguatan mingguan, mencerminkan respons pasar terhadap sentimen kenaikan harga komoditas.
Sementara itu, yang masih tertinggal ada saham UNTR, BUMI, dan CUAN yang mencatat pelemahan dalam periode satu minggu atau sejak awal tahun. Berikut rinciannya:
Status RKAB Batu bara 2026
Dari tabel sebelumnya terlihat bahwa mayoritas saham batu bara telah mengalami reli seiring kenaikan harga komoditasnya. Namun, ada catatan penting yang perlu diperhatikan.
Tahun ini industri menghadapi pemangkasan pasokan yang cukup signifikan, sehingga kenaikan harga batu bara belum tentu mampu sepenuhnya mengompensasi penurunan volume produksi.
Berdasarkan pembaruan RKAB terbaru, sebagian besar perusahaan telah melewati evaluasi tahap kedua.
Hasilnya menunjukkan variasi pemangkasan kuota produksi antara 40% hingga 70% dari pengajuan awal, bahkan dalam beberapa kasus mencapai 80%.
Direktur Jenderal Minerba menyampaikan bahwa meskipun keputusan pemangkasan telah ditetapkan, perusahaan tambang masih memiliki kesempatan untuk mengajukan evaluasi ulang atau revisi. Pengajuan tersebut dapat didukung dengan data cadangan terkini serta kontrak penjualan riil sebagai bahan pertimbangan.
Bagi perusahaan yang RKAB-nya belum resmi terbit hingga saat ini, pemerintah memberikan relaksasi operasional hingga 31 Maret 2026. Hal ini bertujuan agar kegiatan produksi dan pemenuhan kebutuhan domestik (DMO) tidak terhenti total selama proses administrasi final diselesaikan
Namun, ada 8 tambang yang dinilai masih di zona aman, alias tidak terpangkas produksinya karena dinilai punya kontribusi besar untuk pendapatan dan ketahanan energi nasional. Dari sejumlah tambang itu, 54 emiten yang terkait yaitu BUMI, AADI, INDY, PTBA dan HRUM.
Di luar lima emiten itu, kemungkinan besar masih akan mengalami tekanan pemangkasan volume produksi signifikan, terutama yang cadangan-nya sudah tinggal sedikit seperti BSSR.

Pilihan Saham Batu bara
Oleh karena itu, ketika mayoritas harga saham batu bara sudah pada reli, bisa dipertimbangkan take profit sebagian, dan bisa sisakan beberapa yang masih ada prospek dividen yield ciamik.
Sebelumnya pada 12 Januari 2026 lalu, kami sempat mengulas ada tiga emiten batu bara menarik yang potensial memberikan dividen ciamik, mereka adalah AADI, PTBA, dan ITMG.
Meskipun harga-nya sekarang sudah naik tinggi, tetapi bisa dicermati lagi ketika nanti ada koreksi normal lagi.
Pertama, saham AADI saat ini berada di kisaran Rp10.000 per saham. Dengan proyeksi EPS 2025 sebesar Rp1.652 dan asumsi payout ratio 30%, estimasi dividen per saham (DPS) sekitar Rp495. Pada harga tersebut, potensi dividend yield berada di kisaran 4,9%.
Kedua, saham PTBA yang diperdagangkan mendekati Rp3.000 per saham diproyeksikan mencetak EPS sebesar Rp161,34. Dengan asumsi payout ratio 75%, potensi dividen sekitar Rp121 per saham, sehingga dividend yield berada di kisaran 4,0%.
Ketiga, saham ITMG di level Rp24.000 memiliki estimasi DPS Rp1.515 dengan asumsi payout ratio 60%. Secara teoritis, potensi dividend yield sekitar 6,3%.
Namun, karena sebelumnya telah membagikan dividen interim Rp738 per saham pada November 2025, sisa dividen final diperkirakan sekitar Rp777–Rp778 per saham, setara yield sekitar 3,2% pada harga saat ini. Posisi kas yang solid masih membuka ruang payout lebih tinggi.

Kesimpulan
Saham batu bara memang kembali menarik seiring lonjakan harga komoditasnya.
Namun, karena mayoritas saham sudah mengalami kenaikan cukup signifikan, ruang kenaikan jangka pendek menjadi lebih terbatas dan risiko koreksi teknikal juga meningkat.
Bagi investor yang sudah memiliki posisi, strategi yang bisa dipertimbangkan adalah melakukan take profit sebagian dengan mencermati area resistance terdekat, sambil tetap menjaga sebagian posisi untuk mengantisipasi potensi kenaikan lanjutan jika harga batu bara bertahan tinggi.
Sementara itu, untuk emiten yang masih menawarkan prospek dividen menarik serta memiliki fundamental dan arus kas yang solid, strategi hold masih relevan, khususnya bagi investor yang berorientasi pada income.
Adapun bagi investor yang belum memiliki posisi, sebaiknya lebih selektif dan menunggu momentum koreksi sehat sebelum melakukan akumulasi.
Kami Sudah Buatkan Prospek 25 saham Batu Bara Sejak Akhir 2025, Dapatkan Insight Lebih Awal dengan Join Mikirsaham
Kamu bisa mendapatkan insightnya dengan join Mikirsaham Pro.
Benefit Mikirsaham Pro:
- Stockpick investing (dividend, value, growth, contrarian) yang di-update setiap bulan
- Stockpicking swing trade mingguan (khusus member mikirsaham elite jika kuota masih tersedia)
- Insight saham terkini serta action-nya
- IPO dan Corporate Action Digest
- Event online bulanan
- Grup Diskusi Saham
Langsung langganan sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa, Cek KODE PROMO-nya sesuai dengan plan yang kamu butuhkan dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

