Rumor Harga Pertamax Naik di 1 April 2026, Begini Efeknya ke Kinerja Pasar Saham
Lagi heboh soal isu kenaikan harga BBM mulai April 2026, kejadian ini bikin de javu 2022 lalu waktu perang Rusia-Ukraina, dampaknya merembet ke sektor konsumer-transportasi. Akankah pola yang sama akan terulang saat ini?
Mikirduit - Isu kenaikan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax pada April 2026 kembali memicu kekhawatiran pasar, mengingat kemiripannya dengan kondisi tahun 2022 saat perang Rusia–Ukraina mendorong lonjakan harga energi global.
Sebelumnya, sebagai catatan, harga BBM non-subsidi seperti Pertamax dan kawan-kawan memang sudah ada formula yang mengikuti harga acuan pasar dan juga fluktuasi kurs rupiah. Pergerakan harga saham BBM non-subsidi itu akan diupdate setiap awal bulan sehingga memang rutin mengalami kenaikan maupun penurunan.
Kami coba reminder kejadian kenaikan harga minyak dan BBM non subsidi saat perang Ukraina-Rusia, IHSG tidak terlalu kena efek signifikan tetapi sektor konsumer sampai transportasi kena dampak akibat kenaikan biaya operasional dan tekanan daya beli.
Kira-kira seberapa parah dulu dampaknya, apakah pola yang sama akan terulang di masa kini?
Key Takeaways
- Harga BBM non subsidi seperti pertamax dirumorkan akan naik puluhan persen mulai April 2026.
- Dalam lima tahun, kenaikan BBM subsidi hanya terjadi pada September 2022, sementara Pertamax mengalami kenaikan dan penurunan beberapa kali.
- Pelaku pasar mengantisipasi dampaknya bisa menjalar sampai sektor riil terutama ke sektor konsumer dan transportasi.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.
Harga BBM Dari Tahun ke Tahun dan Efeknya
Untuk BBM bersubsidi, dalam lima tahun terakhir kenaikan signifikan hanya terjadi satu kali, yaitu pada 3 September 2022.
Saat itu, pemerintah menaikkan harga Pertalite dari Rp7.650 menjadi Rp10.000 per liter, serta Solar subsidi dari Rp5.150 menjadi Rp6.800 per liter.
Perlu dicatat, sebelum kenaikan tersebut, harga BBM subsidi relatif tidak berubah sejak 2018.
Setelah penyesuaian pada 2022, harga BBM bersubsidi seperti Biosolar dan Pertalite kembali stabil, masing-masing di Rp6.800 dan Rp10.000 per liter hingga saat ini.


Beralih ke pergerakan BBM non-subsidi, selama lima tahun terakhir cenderung lebih dinamis karena mengikuti pergerakan harga minyak dunia.
Salah satu momen kenaikan yang paling kencang terjadi pada April 2022, ketika harga Pertamax naik dari Rp9.000 menjadi sekitar Rp12.500–13.000 per liter, seiring lonjakan harga minyak global pasca invasi Rusia ke Ukraina.
Kenaikan berlanjut pada September 2022, di mana Pertamax kembali naik menjadi Rp14.500 per liter bersamaan dengan penyesuaian harga BBM subsidi. Setelah itu, harga BBM non-subsidi mengalami fluktuasi naik turun dengan penyesuaian yang relatif rutin setiap beberapa bulan.


Dari tren harga BBM dalam lima tahun di atas, baik untuk subsidi dan non subsidi bisa dibilang yang paling kencang terjadi pada 2022 silam.
Untuk BBM non subsidi dulu yang naik kencang lebih dulu pada April 2022 dari Rp9000 ke Rp12.500 per liter, IHSG justru terpantau stabil, hijau tipis 0,10 persen.
Kenaikan harga BBM non subsidi seperti Pertamax dinilai tidak terlalu berpengaruh ke pasar secara keseluruhan ini sebenarnya cukup masuk akal karena Pertamax mayoritas dipakai segmen menengah atas yang daya beli-nya dianggap masih terjaga.
Lebih menarik lagi, pasca kenaikan signifikan harga BBM subsidi pada 3 September 2022. IHSG malah menghijau sebesar 0,76 persen ke level 7.231. Investor asing bahkan mencatat net inflow sebesar Rp1,51 triliun dalam sehari.
Hal terebut terjadi karena pelaku pasar membaca kenaikan BBM bukan sebagai sentimen negatif yang sempit, tapi sebagai sinyal bahwa pemerintah mulai mengurangi beban subsidi APBN yang saat itu sudah mencapai Rp502 triliun.
Siapa yang Untung Dan Buntung?
Masih soal kenaikan harga BBM pada 2022 silam. Memang secara keseluruhan pasar, dampaknya tidak terlalu signifikan, tetapi akan berbeda dampaknya ke masing-masing sektor, di satu sisi akan ada yang dirungikan, tetapi ada juga yang diuntungkan.
Saham yang Diuntungkan
Tentu saja dari sektor energi, pada hari pertama setelah harga BBM subsidi dinaikkan pada 5 September 2022, indeks sektoral energi melejit 3,83 persen. Sektor ini meliputi saham-saham yang bergerak di bidang minyak, gas, batu bara, dan penunjang-nya.
Saham BUMI dan MEDC memimpin kenaikan lebih dari 10 persen sehari, HRUM mengikuti 7,42 persen, ADRO 6,61 persen, ITMG 5,13 persen, PTBA 4,46 persen, dan AKRA 3,91 persen pada hari itu itu.
Sebagai catatan juga, pada 2022 silam harga komoditas bergerak naik signifikan, terutama batu bara global yang mencetak ATH karena Rusia menghentikan pasokan gas ke Eropa, menembus ke atas US$ 400 per ton.
Saham yang Cenderung Dirugikan
Pertama, Transportasi & Logistik menjadi sektor yang paling kena dampak langsung. Dengan biaya operasional yang lebih tinggi, margin keuntungan emiten sektor ini berpotensi tergerus apabila tidak segera melakukan penyesuaian tarif kepada pelanggan.
Dua hari pasca kenaikan harga BBM subsidi September 2022 silam, saham emiten transportasi legend, BIRD ambrol lebih dari 3%.
Saham emiten logistik, ASSA juga sempat ambrol 5% lebih pada hari Senin (5/3/2026), tetapi berhasil rebound belasan persen keesokan harinya.
Kasus yang paling kompleks di sektor ini adalah GOTO. Akibat harga BBM naik, tarif ojek online juga resmi naik, efektif per 11 September 2022. Manajemen juga langsung menyesuaikan tarif GoRide, GoCar, GoFood, GoSend, serta GoMart.
Namun dampaknya bersifat dua arah. Kenaikan tarif ojol berpotensi memperbesar margin dan memberi efek positif bagi mitra driver maupun kinerja GOTO, tetapi sisi lain kenaikan tarif bisa mengurangi volume penumpang karena konsumen bisa beralih ke kendaraan umum atau kendaraan pribadi.
Sebagai catatan juga, GOTO saat itu masih menanggung beban berat sebagai emiten baru yang baru IPO April 2022 dan belum mencatat laba, sehingga sentimen kenaikan BBM memperberat tekanan psikologis pada sahamnya.
Kedua, sektor konsumer juga ikut tertekan oleh sentimen kenaikan harga BBM. Salah satu dampak utamanya adalah meningkatnya inflasi yang pada akhirnya menggerus daya beli masyarakat.
Ketika harga BBM naik dan diikuti kenaikan harga pangan serta kebutuhan rumah tangga, sementara pendapatan tidak ikut meningkat, konsumen cenderung menjadi lebih selektif dalam berbelanja.
Sebagian mulai mengurangi konsumsi, sementara sebagian lainnya beralih ke alternatif yang lebih murah.
Dalam kondisi ini, kelompok yang paling terdampak biasanya adalah kelas menengah. Mereka tidak mendapat bantuan seperti kelompok bawah, namun juga tidak memiliki bantalan finansial sebesar kelompok atas. Akibatnya, tekanan terasa baik di sisi konsumen maupun emiten yang menyasar segmen ini.
Adapun saham konsumer yang terpantau koreksi pada 5 September 2022 lalu seperti UNVR turun 0,44 persen, INDF koreksi 0,39 persen, sementara MYOR lebih dalam minus 1,61 persen.

Viral Harga BBM Non Subsidi Mau Naik Lagi
Kembali ke masa kini, baru-baru ini lagi ramai soal isu kenaikan harga BBM non subsidi, gak tanggung-tanggung kenaikannya bisa sampai 40 persen lebih, di mana Pertamax bisa jadi Rp17.000-an per liter.
Namun, perlu dicatat ini masih rumor dan baru estimasi dari berbagai sumber yang kami dapatkan. Artinya, kami masih menunggu kepastian dari Pertamina secara langsung. Namun, angka ini masih rumor, kita perlu tunggu realitanya hingga 1 April 2026.
Di sisi lain, berita yang lebih pasti saat ini adalah akan ada penetapan kuota harian untuk BBM bersubsidi.
BPH Migas resmi menerbitkan Keputusan Kepala BPH Migas Nomor 024/KOM/BPH.DBBM/2026 yang ditetapkan 30 Maret 2026 dan berlaku efektif mulai 1 April 2026.
Rincian kuota hariannya:
Pertalite (RON 90): Kendaraan roda empat, baik pribadi maupun angkutan umum, hanya diperbolehkan mengisi maksimal 50 liter per hari. Ketentuan ini juga berlaku bagi kendaraan layanan publik seperti ambulans, mobil jenazah, dan mobil pemadam kebakaran.
Solar Subsidi: Kendaraan roda empat dibatasi 50 liter per hari, angkutan umum roda empat diperbolehkan hingga 80 liter per hari, dan kendaraan roda enam atau lebih batas maksimalnya 200 liter per hari.
Jika pembelian melebihi kuota harian, kelebihannya tidak dihitung sebagai BBM subsidi, selisih harganya dibebankan ke konsumen menggunakan skema BBM nonsubsidi.
Selain itu, setiap petugas SPBU kini wajib mencatat nomor polisi kendaraan setiap kali melakukan pengisian BBM subsidi.
Sejauh ini, respon pasar masih cenderung stabil, meskipun tren IHSG masih turun. Namun, ketidakpastian soal harga BBM juga masih membayangi pasar mengingat harga minyak mentah dunia rasanya menolak turun dari US$ 100 per barel, seiring tensi geopolitik masih panas di Timur Tengah.
Menurut kalian gimana, apakah sektor-sektor dari transportasi-konsumer akan bergerak loyo lagi seperti 2022 silam? atau masih bisa bertahan?
Butuh Insight, Pilihan Saham serta Analisis Peluang dan Risiko, dan Konsultasi dengan Ahlinya?
Kamu bisa dapatkan semuanya di Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
- Event online bulanan
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
