Rugi Jumbo Saham TOBA di 2025, Begini Proyeksi Kinerja-nya di 2026
Saham TOBA mengalami kerugian signifikan sepanjang 2025. Salah satu penyebabnya adalah penjualan diskon dua PLTU-nya. Namun, secara operasional bisnis utama, kinerja TOBA juga lagi merugi. Lalu, bagaimana prospek ke depannya?
Mikirduit – Saham TOBA mengalami kerugian signifikan di sepanjang 2025. Faktor penyebabnya adanya divestasi dua PLTU dengan nilai transaksi harga diskon sehingga ada kerugian cukup besar. Tapi, apakah secara bisnis utamanya TOBA masih laba atau tetap rugi? Berikut penjelasan dan prospek saham TOBA di 2026.
Key Takeaways
- Kerugian besar TOBA pada 2025 bukan hanya disebabkan rugi divestasi dua PLTU hampir 96,86 juta dolar AS, tetapi juga karena bisnis operasional inti sudah merugi dengan rugi usaha sekitar 44,95 juta dolar AS meski tanpa faktor divestasi.
- Tekanan kinerja TOBA datang dari turunnya pendapatan di hampir semua segmen utama, lonjakan beban pokok terutama di bisnis pengelolaan limbah, kenaikan beban umum dan administrasi, serta beban keuangan yang melonjak lebih dari dua kali lipat.
- Peluang turnaround TOBA pada 2026 bergantung pada pemulihan bisnis batu bara, normalisasi laba segmen pembangkit listrik setelah efek divestasi hilang, dan keberhasilan menekan rugi bisnis baru seperti pengelolaan limbah serta kendaraan listrik.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.
Kinerja saham TOBA sepanjang 2025 lagi dalam tekanan. Perseroan mencatatkan kerugian sekitar 162,26 juta dolar AS dibandingkan dengan untung 25,35 juta dolar AS.
Ada beberapa faktor penyebab kerugian TOBA:
Pertama, pendapatan mengalami penurunan 5,16 persen menjadi 365 juta dolar AS. Tekanan pendapatan TOBA terjadi hampir dari seluruh segmen bisnis kecuali manajemen limbah.
Tiga bisnis utama perseroan yang menopang kinerja mengalami penurunan. Seperti, pertambangan batu bara mencatatkan penurunan pendapatan 59 persen, perdagangan batu bara mencatatkan penurunan 18,56 persen, dan pembangkit listrik turun 76 persen. Hanya, pendapatan manajemen limbah yang naik 1084 persen menjadi Rp155 miliar. Itu pun karena catatan baru akuisisi SEMBPcorp Singapura pada awal tahun.
Kedua, saat pendapatan turun, beban pokok pendapatan malah naik 8 persen. Masalahnya, kenaikan beban pokok pendapatan terjadi di satu-satunya segmen yang mencatatkan kenaikan pendapatan, yakni manajemen pengelolaan limbah. Segmen tersebut mencatatkan kenaikan beban pokok pendapatan 1.757 persen menjadi 130 juta dolar AS. Angka itu menjadi beban pokok terbesar di seluruh segmen bisnis TOBA.
Ketiga, Ditambah beban umum dan administrasi mencatatkan kenaikan 76 persen menjadi 69 juta dolar AS. Ekspektasi kami, kenaikan beban umum dan administrasi ini juga ada efek dari pasca akuisisi SEMBcorp tersebut.
Keempat, ada catatan kerugian atas divestasi entitas anak senilai 96,86 juta dolar AS. Jadi, TOBA memang baru divestasi dua anak usahanya, yakni Minahasa Cahaya Lestari dijual 14,66 juta dolar AS dengan kerugian divestasi 50,98 juta dolar AS. Lalu, PT Gorontalo Listrik Perdana dijual 34 juta dolar AS dengan tingkat kerugian divestasi 45,89 juta dolar AS.
Kelima, ada kenaikan beban keuangan sebesar 108 persen menjadi 25,95 juta dolar AS.
Nah, dari kelima fakta ini menggambarkan kalau kerugian kinerja TOBA bukan hanya dari aksi divestasi pembangkit listrik saja. Namun, secara operasional juga merugi. Toh, laba/rugi usaha TOBA yang mengecualikan kerugian divestasi juga sudah merugi 44,95 juta dolar AS.
Apalagi, kinerja laba TOBA secara teknis masih didukung oleh bisnis lamanya terkait batu bara. Sayangnya, pada 2025, bisnis pertambangan batu bara malah merugi 30,69 juta dolar AS, sedangkan bisnis perdagangan batu bara mencatatkan laba 2,38 juta dolar AS.
Di sisi lain, bisnis baru TOBA seperti manajemen pengolahan limbah dan lainnya (termasuk kendaraan listrik) masih merugi total 35 juta dolar AS.

Peluang Perbaikan Kinerja TOBA di 2026
Kami menilai ada beberapa potensi peluang perbaikan kinerja TOBA seperti:
Pertama, perbaikan pendapatan di segmen pertambangan dan perdagangan batu bara jika harga rata-rata batu bara di 2026 lebih tinggi dibandingkan dengan 2025.
Kedua, normalisasi laba rugi di segmen pembangkit listrik. Pada 2025, segmen ini mencatatkan kerugian 96,46 juta dolar AS karena faktor kerugian divestasi anak usaha yang mencapai 96,86 juta dolar AS. Jika mengecualikan faktor itu, laba dari pembangkit listrik masih bisa sekitar 10,39 juta dolar AS.
Ketiga, jika TOBA mampu menekan kerugian di segmen pengelolaan limbah dan lainnya menjadi lebih rendah.
Apabila ketiga faktor itu berjalan sesuai rencana, kinerja TOBA di 2026 bisa mencatatkan turnaround menjadi laba lagi.
Jika ketiga faktor itu berjalan, ada peluang TOBA mencatatkan laba bersih sekitar 1-5 juta dolar AS di 2026. (bahkan bisa lebih jika ada pemulihan di bisnis batu bara-nya)
Tiga Aksi Korporasi yang Dilakukan TOBA Sepanjang 2026
TOBA memiliki dua aksi korporasi yang sudah dijalankan sepanjang 2026.
Pertama, penerbitan obligasi berkelanjutan I tahap II di awal 2026 senilai Rp500 miliar.
Mayoritas dana obligasi itu senilai Rp400 miliar digunakan untuk melunasi Obligasi I Tahun 2023 seri A senilai Rp400,93 miliar dengan tingkat bunga 8,8 persen. Lalu, sisa dananya digunakan untuk:
- Rp46,39 miliar untuk setoran modal ke PT Trisensa Mineral Utama untuk bisnis pertambangan batu bara.
- Kedua, sisanya digunakan untuk modal kerja perseroan.
Dari obligasi ini, meski tingkat bunga obligasi untuk refinancing lebih rendah, tapi ada potensi menambah jumlah beban keuangan TOBA senilai Rp6,11 miliar (dengan asumsi tingkat beban bunga sama seperti 2025).
Kedua, TOBA juga masih di fase buyback pada 24 Desember 2025 - 24 Maret 2026. Sebelumnya, TOBA buyback dengan rencana modal disiapkan senilai Rp586 miliar dengan total lembar saham paling banyak 825,74 juta lembar.
Dari asumsi kasar buyback TOBA dari maksimal modal dan jumlah lembar saham, ada asumsi harga maksimal di Rp710. Tapi, jika harga lebih rendah, bukan tidak mungkin perseroan melakukan buyback.
Catatannya lagi, dana buyback yang direncanakan juga tidak harus dihabiskan. Biasanya hanya 10-20 persen dari dana yang digunakan, terutama untuk saham yang likuiditas terbatas.
Ketiga, rencana right issue yang sudah sampai tahap rilis prospektus awal. Artinya akan masuk momentum persetujuan RUPSLB hingga rilis prospektus lengkapnya.
Lalu, Bagaimana Saham TOBA Setelah Berencana Right Issue?
Kami sudah memberikan rincian dan proyeksi serta strategi untuk saham TOBA di Mikirsaham.com . Join Mikirsaham sekarang dan dapatkan benefit:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
- Event online bulanan
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
