Proyeksi Dividen Dua Saham Grup Lippo dengan Yield di Atas Obligasi Negara, Menarik atau Risiko?
Ada dua saham Grup Lippo yang berpotensi bagikan dividen dengan yield jauh di atas obligasi negara. Menarik atau nggak nih? simak ulasannya di sini
Mikirduit – Kami telah menghimpun 97 saham yang sudah rilis laporan keuangan full year 2025. Hasilnya, ada dua saham Grup Lippo ini masuk jajaran saham-saham yang berpotensi bagikan dividen dengan yield cukup tinggi di atas yield SBN 10 tahun di 6,59 persen. Tapi, bagaimana dengan prospek sahamnya, apakah harga sekarang masih menarik?
Highlight
- Dua saham Grup Lippo, yaitu LPIN dan LPPF, diproyeksikan memiliki dividend yield di atas yield SBN 10 tahun (6,59%), masing-masing sekitar 9,54% dan 11,08% berdasarkan kinerja 2025 dan asumsi payout ratio terbaru.
- Meski memiliki potensi dividen tinggi, LPIN menghadapi keterbatasan ruang pertumbuhan karena tidak memiliki rencana ekspansi signifikan dan likuiditas saham yang rendah.
- Sementara itu, LPPF menawarkan yield lebih tinggi tetapi menghadapi tekanan penurunan kinerja dan persaingan ritel yang ketat, serta memiliki risiko teknis pada struktur ekuitas jika dividen dibagikan terlalu agresif.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.
Grup Lippo memiliki beberapa saham dividen seperti, MLPT, LPIN, hingga LPPF. Meski, beberapa saham seperti MLPT dan LPIN tingkat likuiditasnya sangat rendah.
Lalu, siapa dua saham Grup Lippo yang diproyeksikan bagi dividen di atas yield SBN?
Saham LPIN
LPIN adalah emiten komponen otomotif milik Grup Lippo. Bisnisnya, memproduksi dan distribusi busi dengan merek dagang Champion.
Secara market share, LPIN bukan pemain utama. Ada NGK Busi Indonesia yang menguasai 45 peren market share-nya di after market.
Dari segi kinerja 2025, LPIN mencatatkan kenaikan pendapatan 7,75 persen menjadi Rp165 miliar sepanjang 2026. Namun, dari segi laba bersih mengalami penurunan sebesar 3,39 persen menjadi Rp33,04 miliar.
Tekanan kinerja LPIN berasal dari penurunan bagian atas laba bersih perusahaan asosiasi sebesar 36 persen menjadi Rp11,24 miliar. Entitas asosiasi terkait adalah PT Walsin Lippo Industries yang memproduksi kawat baja galbani, aluminium rod, kabel konduktor, dan kabel tembaga. Walsin memang tengah mengalami penurunan pendapatan sebesar 0,6 persen.
Salah satu kekurangan dari LPIN adalah, emiten ini belum ada rencana ekspansi yang signifikan. Dalam rencana kerjanya di 2026, perseroan hanya berencana mempertahankan penjualan, efisiensi, hingga memperkuat distribusi. Sehingga dari sisi ruang pertumbuhan cenderung terbatas.
Meski begitu, LPIN salah satu yang rutin bagi dividen sejak 2021. Dengan mengasumsikan dividend payout ratio sebesar 55 persen (angka dalam 2 tahun terakhir), LPIN berpotensi bagikan dividen Rp42 per saham dengan tingkat dividend yield per 6 Maret 2026 sekitar 9,54 persen.

Saham LPPF
Saham LPPF adalah emiten di sektor perdagangan ritel dengan brand Matahari Department Store. Dengan segmen market sapu jagad (terutama kalangan menengah) ini, LPPF cenderung sangat sensitif dengan perkembangan daya beli masyarakat.
Untuk mendongkrak pertumbuhan kinerja, LPPF juga sudah meluncurkan beberapa gerai baru seperti SUKO, ZES, dan MU+Ku.
Namun, upaya penambahan brand dengan harapan bisa menangkap pasar segmen menengah atas yang tidak terlalu sensitif dengan daya beli masih belum membuahkan hasil.
Hingga akhir 2025, LPPF mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 9,6 persen menjadi Rp5,78 triliun. Lalu, dari segi laba bersih turun 12,36 persen menjadi Rp725 miliar.
Adapun, untuk rencana 2026 LPPF, perseroan memiliki beberapa rencana seperti:
Pertama, mempertajam koleksi brand eksklusif dan trial and eror untuk menyempurnakan product-market fit.
Kedua, memperluas MU+KU yang menjadi Matahari tipe yang lebih premium di mal-mal strategis dengan potensi traffic tinggi.
Ketiga, mempercepat ekspansi gerai mono-brand seperti SUKO (yang logonya mirip Uniqlo) di area-area tertentu.
Keempat, melanjutkan renovasi gerai Matahari terpilih.
Menariknya, jumlah gerai LPPF cenderung meningkat pada 2025 menjadi 143 gerai dibandingkan dengan 142 gerai pada periode sama tahun sebelumnya. Meski begitu, ada beberapa reposisi gerai seperti, di Sumatra mengalami penurunan gerai sebesar 7 persen menjadi 26 gerai. Lalu, di Kalimantan, Sulawei, dan Maluku turun 3,84 persen menjadi 25 gerai. Namun, di Jawa bertambah 4,8 persen menjadi 86 gerai.
Adapun, dengan realisasi kinerja 2025, kami ekspektasikan dividen payout ratio tertinggi sebesar 65 persen. Dengan begitu, tingkat dividen per saham menjadi Rp208 per saham. Jika dihitung dengan harga saham per 6 Maret 2026, tingkat yield-nya sekitar 11,08 persen.
Di sisi lain, manajemen mengungkapkan akan usul pembagian dividen Rp250 per saham yang berarti payout ratio hingga 77 persen. Jika dividen Rp250 per saham, potensi yield LPPF menjadi 13,2 persen.
Kesimpulan
Apakah kedua saham ini menarik untuk investing?
Biasanya, kami memberikan beberapa pertimbangan untuk pilihan saham-saham investing.
Pertama, secara bisnis apakah masih atraktif dengan ruang pertumbuhan tinggi? meski dividen besar, tapi bisnis sudah matang artinya kurang menarik juga untuk dividend investing. Soalnya, ada risiko tren penurunan kinerja karena faktor siklus hingga tidak ada ekspansi yang menjadi faktor pertumbuhan kinerja hingga berdampak ke pertumbuhan dividen.
Kedua, secara likuiditas, apakah saham tersebut bisa mengakomodir kebutuhan modal besar (di atas Rp100 juta untuk sekali keluar). Tujuannya, jika dana dibutuhkan dan ingin take profit tidak perlu proses yang lama secara bertahap karena faktor likuiditas.
Ketiga, valuasinya sudah semurah apa. Untuk indikator valuasi murah bisa menggunakan PE atau PBV band dikombinasikan perbandingan sektoral yang juga mempertimbangkan skala bisnis.
Dari ketiga poin ini, untuk LPIN tidak lolos di poin pertama dan kedua. Untuk poin ketiga secara valuasi historis masih di bawah rata-rata 5 tahun, serta cukup murah di sektornya meski skala bisnisnya juga memang jauh lebih kecil.
Sementara itu, LPPF tidak lolos di poin 1. Poin 1 terkait ruang ekspansi masih terbatas dengan kondisi persaingan yang cukup ketat secara offline maupun Online untuk segmen terbesarnya. Satu-satunya prospek bisa mendorong gerai high-end untuk netralisir risiko daya beli. Tapi ritel di high-end juga sudah punya persaingan yang sengit.
Sementara itu, poin 3 cukup netral (tidak diskon banget, tapi nggak terlalu mahal). Valuasi LPPF masih lebih murah dibandingkan dengan RALS secara PE. Namun, volatilitas LPPF naik cukup kencang dalam jangka pendek dari Rp1.600 ke Rp1.900 per saham. Hal itu membuat PE band historisnya di atas Mean 3 tahun.
Selain itu, jika pengendali nekat menggunakan saldo laba ditahan untuk dividen, bisa berisiko membuat ekuitas LPPF kembali negatif yang membuatnya masuk papan notasi khusus.
Pasalnya, di struktur LPPF ada tambahan modal disetor negatif Rp3,63 triliun. Tambahan modal disetor negatif itu hasil dari aksi merger dengan PT Meadow Indonesia pada 30 September 2011. Dalam proses merger ada selisih antara harga pengalihan yang dibayar dengan nilai buku senilai Rp3,76 triliun. Sehingga tertulis negatif di tambahan modal disetor dalam pos ekuitas.
Namun, ini hanya catatan teknis akuntansi saja. Hal itu yang menjadi risiko teknis bagi LPPF.
Mau Dapat Pilihan dan Analisis Saham Investing Mikirsaham Serta Proyeksi Dividen Seluruh Saham di IDX?
Join Mikirsaham dan dapatkan benefitnya:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
- Event online bulanan
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private
Langsung langganan sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa, Cek KODE PROMO-nya sesuai dengan plan yang kamu butuhkan dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
