Paling Cepat Pulih Sejak IHSG Trading Halt, Begini Prospek Saham Big Bank Jelang Musim Dividen
Saham bank big caps kompak pulih dengan cepat sejak IHSG trading halt pada Januari akhir lalu. Prospek perbaikan transparansi bursa dan investasi yang mengalir dari Danantara, Dapen, Asuransi, sampai BJPS TK. Mampukah mendorong saham big bank lanjut naik lagi?
Mikirduit - Saham perbankan big caps menunjukkan pemulihan paling cepat setelah terjerembab ketika IHSG trading halt akhir Januari 2026 lalu. Lantas, bagaimana prospeknya dan bisa sampai berapa target harga-nya?
Highlight
- Saham bank big caps pulih dengan cepat sejak IHSG terperosok sampai kena trading halt dua kali akhir bulan lalu.
- Sejauh ini pergerakan saham big caps cenderung konsolidasi dan sedang uji resistance.
- Saham bank tahun ini diharapkan mendapatkan katalis positif dari prospek perbaikan transparansi bursa dan harapan lebih banyak inflow dari Danantara, Dapen, BPJS TK, sampai perusahaan Asuransi.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.
Pemulihan Saham Big Banks Setelah Momen Kritis IHSG
Saham perbankan big caps kompak pulih dengan cepat setelah terjerembab cukup dalam ketika IHSG mengalami trading halt dua kali pada akhir bulan lalu (28-29 Januari 2026).
Pada 28 Januari 2026, semua saham big bank (BBCA, BBRI, BBNI, BMRI) terjun bersamaan dan masih lanjut sampai hari berikutnya pada sesi pertama perdagangan.
Kalau diakumulasi saat itu, saham BMRI ambles paling parah sampai 18 persen, saham BBCA terpangkas 14 persen, saham BBRI koreksi 13 persen, dan saham BBNI turun 10 persen.
Menariknya, koreksi tajam itu kemudian mulai pulih pada sesi kedua 29 Januari lalu, candle harian akhirnya mampu ditutup hijau.
Selang beberapa hari setelah itu saham bank big caps masih melanjutkan penguatan dan sampai pada perdagangan 3 Februari 2026 kami mencermati semua-nya sedang kompak menguji resistance.
Dalam jangka pendek berikut area resistance yang patut dicermati:
- BBRI : 3870
- BBNI : 4620
- BMRI : 5025
- BBCA : 7900
Selama level resistance itu belum bisa ditembus, kami menilai pergerakan harga saham big bank dalam jangka pendek masih akan terkonsolidasi, sementara jika berhasil breakout dari resistance, harga saham berpotensi berubah arah tren menjadi naik.

Prospek Perbaikan Transparansi Bursa ke Saham Big Bank
Perbaikan transparasi bursa kini menjadi harapan baru bagi pemulihan kinerja pasar modal RI yang lebih baik dan memiliki positif di pasar global.
Sebagaimana kita tahu, pada akhir Januari lalu, MSCI memberi ultimatum ke regulator terkait transparansi data, karenajika tidak ditindaklanjutin pasar saham RI berisiko turun kasta ke Frontier Market, dana asing bisa menguap sekitar Rp150 triliun.
Menanggapi itu, regulator pun mulai berbenah, seperti melakukan konferensi pers pada pekan lalu yang mengumumkan delapan langkah reformasi berkelanjutan, berikut rincian-nya:
Langkah paling awal sudah mulai dilakukan pada Senin (2/2/2026), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan perwakilan lainnya telah menggelar pertemuan dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk membahas masalah yang menjadi perhatian MSCI terkait pasar modal Indonesia, khususnya soal transparansi data investor dan likuiditas pasar modal.
Meeting diketahui berjalan postitif dan konstruktif, saat ini MSCI memfokuskan pada dua isu utama yaitu transparansi kepemilikan saham dan likuiditas pasar.
Terkait transparansi, regulator menyebutkan akan membuka data pemegang saham lebih detail, bukan hanya di atas 5 persen, tetapi sampai 1 persen.
Klasifikasi investor di KSEI juga akan diperinci dari 9 tipe jadi 27 sub-tipe, supaya beneficial ownership lebih jelas.
Lalu terkait likuiditas, regulator mengajukan proposal kenaikan minimum free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen, meski begitu penerapaan ini membutuhkan waktu, tidak bisa langsung dipukul rata.
Menanggapi hal itu, MSCI terbuka dan kooperatif, bahkan siap memberikan guidance teknis soal metodologi penilaian. Jadi, ke depan masih akan ada pembahasan lanjutan di level teknis, serta OJK berkomitmen memberikan update progress-nya ke publik secara rutin.
Perbaikan transparansi dan likuditias kini menjadi perhatian nyata yang harapannya membawa ekosistem pasar modal RI lebih sehat.
Berhubungan soal likuditas, pemerintah baru-baru ini memberikan kelonggaran limit investasi terhadap big fund lokal, seperti Dapen dan Asuransi menjadi 20%.
Danantara juga tidak kalah ikutan sudah mulai mengalirkan dana investasi sejak Desember lalu melalui manajer investasi. Kabarnya, Danantara akan masuk ke IHSG selama enam bulan depan, dengan catatan mereka akan masuk ke saham-saham perusahaan yang memiliki cash flow positif, likuiditas baik, dan fundamental solid.
Sejumlah big fund itu kemudian menjadi harapan bisa mendorong penguatan harga saham big bank lebih lanjut, mengingat fundamental bank big caps dinilai masih solid, prospek dividen menarik, likuiditas baik, dan ruang ekspansi tahun ini seharusnya akan lebih baik dibandingkan tahun lalu.
Forecast Kinerja FY25 dan Dividen Big Bank
Membahas soal dividen, dengan penurunan yang terjadi beberapa hari lalu tentunya membuat yield menjadi semakin atraktif. Hal ini menutup risiko penurunan yield akibat profitabilitas yang cenderung melemah tahun lalu.
Proyeksi kinerja menunjukkan BMRI berpotensi membukukan laba tahun 2025 sebesar Rp52,51 triliun, atau terkoreksi sekitar 6,45 persen secara tahunan (yoy). Tekanan serupa juga diperkirakan berlanjut ke BBRI, dengan laba yang diproyeksikan melemah sekitar 6,71 persen menjadi Rp56,11 triliun.
Sementara itu, BBNI juga diperkirakan menghadapi penurunan kinerja, dengan laba yang diproyeksikan turun 5,13 persen menjadi Rp20,26 triliun.
Sementara itu, BBCA sudah lebih dulu merilis kinerja keuangan tahun 2025. Bank ini mencatatkan laba bersih sekitar Rp57,5 triliun, tumbuh sekitar 4,9 persen secara tahunan.
Dengan menyesuaikan harga saham per 3 Februari 2026, simulasi prospek dividen menunjukkan bahwa BBNI masih menawarkan potensi yield tertinggi, dengan asumsi dividen sekitar 350 dari harga 4.620 sehingga menghasilkan estimasi yield sekitar 7,58 persen.
Di posisi berikutnya ada BMRI, yang dengan asumsi dividen sisa 300 dari harga 4.840 memberikan yield sekitar 6,20 persen.
Sementara itu, BBRI, setelah membagikan dividen interim 137 dan diasumsikan final konservatif 200, mencatat estimasi yield sekitar 5,21 persen dari harga 3.840.
Adapun BBCA berada di posisi paling rendah, dengan asumsi total dividen 200 dari harga 7.575 sehingga menghasilkan estimasi yield sekitar 2,64 persen. Secara ringkas, berdasarkan harga terkini dan asumsi dividen, urutan potensi yield sisa dividen masih dipimpin BBNI, disusul BMRI, BBRI, dan BBCA.
Porsi Saham Big Bank di MSCI
Namun, masih ada catatan juga, saham big bank saat ini memang punya prospek menarik, tetapi jangan lupakan dengan porsi-nya yang besar di MSCI, mengingat masih sampai Mei 2026 perkembangan proses transparansi bursa berjalan dalam jangka pendek.
Terlihat sebagtai berikut saham BBCA, BBRI, dan BMRI secara berurutan menempati tiga teratas sebagai saham dengan porsi terbesar di MSCI Large Cap Indonesia, sementara BBNI berada di posisi ke-delapan dengan porsi 2,87 persen.

Dengan porsi yang besar itu, kami mengantisipasi risiko outflow asing masih membayangi terutama pada Februari ini biasanya tidak hanya MSCI yang seharusnya rebalancing, ada beberpaa indeks lain seperti FTSE.
Selain itu, setelah MSCI memberi ultimatum terkait free float, institusi global lain seperti Goldman Sach, UBS, dan Nomura sama-sama menurunkan rating saham Indonesia saat ini. Hal ini tentu bisa menjadi risiko dana asing keluar lebih dulu, setidaknya dalam jangka pendek.
Risiko lain yang patut diantisipasi ada dari proyeksi pelemahan kinerja sepanjang 2025 yang seharusnya akan rilis sebentar lagi, belum lagi pada tanggal 5 Februari 2026 akan rilis perkembangan pertumbuhan ekonomi RI.
Jika ekonomi tidak tumbuh bagus dan kinerja bank juga melemah tidak sesuai ekspektasi, ini bisa memicu tekanan jual lagi.
Jadi, gimana menurut kalian? strategi masuk di saham bank untuk incar dividen dulu atau tetap setia keep hold jangka panjang?
Dapatkan Insight Saham hingga Diskusi serta Konsultasi Bersama hampir 1.000 Investor Lainnya di Mikirsaham
Yuk join dengan Mikirsaham sekarang untuk bisa dapatkan benefit ini semua:
- Stockpick investing (dividend, value, growth, contrarian) yang di-update setiap bulan (terbarunya akan diseleksi terbaik maksimal 5 masing-masing strategi dengan analisis yang komprehensif)
- Stock Ideas (memberikan gambaran besar saham-saham yang menarik, tapi tidak termasuk stockpick)
- Stockpicking swing trade mingguan (khusus member mikirsaham elite jika kuota masih tersedia)
- Insight saham terkini serta action-nya
- Update porto founder
- IPO dan Corporate Action Digest
- Event online bulanan
- Grup Diskusi Saham
Join ke Member Mikirsaham Pro sekarang juga dengan klik link di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini