Narasi Mengurangi Impor Solar dengan B50 Muncul Lagi, Begini Prospek Saham CPO
Program B50 yang mengandalkan minyak sawit (CPO) digadang bakal menjadi solusi untuk ketahanan energi nasional kalau perang berkepanjangan. Beberapa emiten CPO juga sudah merilis laporan keuangan 2025, kira-kira siapa paling menarik dilirik?
Mikirduit - Program B50 berbasis minyak sawit (CPO) digadang bisa memperkuat ketahanan energi jika konflik berkepanjangan. Di tengah itu, beberapa emiten CPO juga sudah merilis laporan keuangan 2025. Siapa yang paling menarik dilirik?
Key takeaways
- Program B50 digadang bakal dimulai tahun ini. Prospeknya bisa meningkatkan permintaan CPO, sekaligus sebagai solusi untuk ketahanan energi nasional di tengah perang berkepanjangan.
- Namun, mulai Maret ini emiten CPO juga menghadapi tantangan dari kebijakan kenaikan pungutan ekspor.
- Adapun sekitar 6 emiten CPO yang sudah merilis laporan keuangan sampai akhir 2025, diantaranya AALI, BWPT, LSIP, SIMP, SMAR, TLDN.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini..
Bea Ekspor CPO Naik Vs Program B50
Pemerintah resmi menaikkan pungutan ekspor minyak sawit mentah (CPO) dari 10persen menjadi 12,5persen yang mulai berlaku sejak 1 Maret 2026. Sementara itu, pungutan untuk sejumlah produk turunan sawit juga ikut naik menjadi sekitar 2,5persen.
Dana dari pungutan ini nantinya akan digunakan untuk memperkuat program biodiesel melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), terutama untuk mendukung subsidi biodiesel agar program ini bisa terus berjalan.
Bagi produsen sawit yang banyak menjual produknya ke pasar ekspor, kenaikan pungutan ini tentu bisa menekan margin karena biaya ekspor menjadi lebih tinggi.
Namun di sisi lain, pemerintah memang sedang berusaha memperkuat permintaan dalam negeri, agar industri sawit tidak terlalu bergantung pada pasar global.
Salah satu caranya adalah dengan mempercepat pengembangan program biofuel, termasuk rencana penerapan biodiesel B50, yaitu campuran 50 persen bahan bakar nabati berbasis sawit dengan 50 persen solar. Program ini merupakan kelanjutan dari kebijakan biodiesel sebelumnya yang sudah berkembang dari B20, B30 hingga B40.
Pemerintah menargetkan implementasi mandatori B50 bisa mulai berjalan penuh pada 2026. Tujuannya cukup ambisius, yaitu menghentikan impor solar sekaligus memperkuat kedaulatan energi nasional.
Jika kebijakan ini terealisasi, kebutuhan biodiesel domestik akan meningkat cukup besar. Produksi Fatty Acid Methyl Ester (FAME), bahan utama biodiesel, diperkirakan harus naik hingga lebih dari 19–20 juta kiloliter untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia bahkan mendorong percepatan pengembangan berbagai bahan bakar nabati, termasuk bioetanol E20 dan biodiesel B50, sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas energi nasional.
Jika implementasi B50 berjalan sesuai rencana, konsumsi minyak sawit di dalam negeri berpotensi meningkat signifikan karena biodiesel akan menyerap lebih banyak CPO sebagai bahan baku.
Hal ini menjadi semakin penting di tengah tantangan pasar ekspor, terutama dengan semakin ketatnya regulasi lingkungan dari beberapa negara tujuan ekspor seperti Uni Eropa.
Hitung-hitungan Ekonomi Program B50
Jika melihat dari sisi pasokan bahan baku, Indonesia sebenarnya menghadapi tantangan tersendiri.
Produksi CPO nasional menurut GAPKI pada 2025 diperkirakan berada di kisaran 48–50 juta ton dan cenderung stagnan dalam beberapa tahun terakhir. Sementara itu, implementasi biodiesel terus meningkatkan kebutuhan CPO domestik.
Sebagai gambaran, program B40 saat ini membutuhkan sekitar 15,6 juta kiloliter biodiesel, atau setara dengan konsumsi sekitar 14 juta ton CPO.
Jika pemerintah benar-benar menaikkan campuran menjadi B50, kebutuhan biodiesel diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 20,1 juta kiloliter, yang setara dengan 17,5–18 juta ton CPO.
Artinya, untuk naik dari B40 ke B50, Indonesia membutuhkan tambahan sekitar 3,5–4 juta ton CPO hanya untuk pasar domestik. Dengan produksi yang relatif stagnan, tambahan kebutuhan ini kemungkinan besar akan mengurangi volume ekspor CPO Indonesia.
Mana Lebih Murah: Solar Impor atau Biodiesel Sawit?
Jika dilihat dari sisi biaya, biodiesel sebenarnya masih lebih mahal dibandingkan solar berbasis minyak mentah.
Dengan asumsi harga minyak mentah per 10 Maret 2026 sekitar US$90 per barel dan harga CPO sekitar 4.375 ringgit per ton, biaya produksi biodiesel berbasis sawit diperkirakan mencapai sekitar Rp15.000–Rp16.500 per liter setelah memperhitungkan proses produksi dan distribusi.

Sebagai perbandingan, harga solar berbasis minyak mentah berada di kisaran Rp10.500–Rp11.500 per liter.
Artinya, terdapat selisih harga sekitar Rp4.000–Rp5.000 per liter yang harus ditutup melalui subsidi biodiesel yang berasal dari dana pungutan ekspor sawit yang dikelola BPDPKS.
Jika dilihat dari perspektif jangka pendek, impor solar sebenarnya masih lebih murah dibandingkan memproduksi biodiesel dari CPO.
Namun pemerintah tetap mendorong program biodiesel karena tujuannya tidak hanya soal harga, tetapi juga strategi jangka panjang.
Melalui program ini, Indonesia berusaha mengurangi ketergantungan impor energi, menjaga stabilitas harga CPO domestik, serta memastikan bahwa nilai tambah industri sawit tetap berputar di dalam negeri.

Tantangan Implementasi B50
Meski secara konsep B50 terlihat menarik, implementasinya juga tidak sepenuhnya mudah.
Salah satu tantangan utama adalah pendanaan subsidi biodiesel. Kenaikan pungutan ekspor sawit menjadi 12,5 persen pada Maret 2026 menjadi sinyal bahwa dana BPDPKS saat ini cukup terbebani bahkan untuk mendukung program B40.
Selain itu, produksi biodiesel juga membutuhkan metanol, yang sebagian besar masih harus diimpor.
Untuk implementasi B50, kebutuhan metanol diperkirakan mencapai sekitar 3,6 juta ton, sementara kapasitas produksi dalam negeri masih berada di kisaran 700 ribu ton.
Dari sisi teknis, uji jalan untuk kendaraan dan alat berat dengan campuran biodiesel 50 persen juga masih terus dilakukan. Campuran yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan risiko pada mesin, terutama pada kendaraan yang lebih lama.
Karena berbagai tantangan tersebut, ada kemungkinan pemerintah akan mengambil pendekatan bertahap, misalnya dengan menaikkan campuran biodiesel ke B45 terlebih dahulu sebelum menuju B50 secara penuh.
Jika implementasi dilakukan terlalu cepat tanpa peningkatan produksi CPO yang memadai, terdapat risiko pasokan domestik menjadi terlalu ketat. Kondisi ini dapat mendorong kenaikan harga minyak goreng dalam negeri serta mengurangi volume ekspor CPO Indonesia.
Battle Kinerja Keuangan Emiten CPO
Di tengah berbagai dinamika kebijakan tersebut, sejumlah emiten perkebunan sawit telah merilis laporan keuangan 2025, dengan mayoritas mencatatkan pertumbuhan laba dua digit.
Secara umum, kinerja ini mencerminkan pemulihan produksi setelah periode El Niño pada 2023–2024 yang sempat menekan produktivitas kebun akibat kekeringan.
Dari data di atas, salah satu emiten dengan kinerja paling menonjol adalah PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) yang mencatatkan laba sekitar Rp2,58 triliun, melonjak lebih dari 100 persen secara tahunan, dengan pendapatan mencapai Rp86,94 triliun.
Lonjakan ini didorong oleh kuatnya bisnis hilir seperti minyak goreng, oleokimia, dan produk turunan sawit yang memberikan margin lebih tinggi dibandingkan bisnis perkebunan.
Dengan luas kebun sekitar 137 ribu hektare serta rantai bisnis yang terintegrasi dari perkebunan hingga pengolahan, SMAR memiliki fleksibilitas dalam memanfaatkan peluang di berbagai segmen industri.
Dengan kapasitas hilirisasi yang besar, perusahaan ini juga dipandang sebagai salah satu yang paling diuntungkan jika permintaan biodiesel domestik meningkat melalui program B50.
Di sisi lain, PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) juga mencatatkan pertumbuhan yang cukup solid dengan laba sekitar Rp2,06 triliun, naik 33,42 persen YoY, serta pendapatan sekitar Rp21,05 triliun.
Sebagai bagian dari Indofood Group, SIMP memiliki model bisnis yang relatif terintegrasi dari perkebunan hingga pengolahan produk turunan sawit. Struktur bisnis ini membuat perusahaan lebih resilien terhadap fluktuasi harga komoditas karena memiliki sumber pendapatan dari berbagai segmen di rantai industri sawit.
Sementara itu, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) membukukan laba sekitar Rp1,47 triliun, naik 28,24 persen secara tahunan, dengan pendapatan mencapai Rp28,65 triliun. Dengan luas kebun sekitar 284.831 hektare, AALI menjadi salah satu perusahaan dengan skala perkebunan terbesar di Indonesia.
Meski mencatatkan pertumbuhan, perusahaan masih menghadapi tantangan terkait profil tanaman yang relatif lebih tua sehingga membutuhkan program replanting sekitar 4.000–5.000 hektare per tahun untuk menjaga produktivitas jangka panjang.
Dalam konteks kebijakan B50, AALI tetap berpotensi mendapat manfaat dari kenaikan harga CPO akibat peningkatan permintaan domestik, meskipun dampaknya kemungkinan tidak sebesar perusahaan yang memiliki integrasi bisnis hingga ke hilir.
PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) mencatatkan laba sekitar Rp1,88 triliun, meningkat 27,81 persen YoY, dengan pendapatan sekitar Rp5,51 triliun.
Perusahaan ini dikenal memiliki struktur keuangan yang kuat dengan posisi kas yang besar, namun pertumbuhan pendapatannya relatif lebih moderat dibanding beberapa emiten sawit lainnya.
LSIP mengelola sekitar 111.367 hektare kebun dan memiliki fokus pada pengembangan benih unggul melalui riset internal untuk meningkatkan produktivitas tanaman.
Jika harga CPO meningkat akibat implementasi B50, LSIP berpotensi memperoleh keuntungan dari struktur biaya yang efisien serta neraca keuangan yang solid.
Dari kelompok perusahaan yang lebih kecil, PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN) membukukan laba sekitar Rp1,10 triliun, tumbuh 34,03 persen secara tahunan, dengan pendapatan mencapai Rp5,42 triliun.
Perusahaan ini mengelola sekitar 60.500 hektare kebun yang terkonsentrasi di Kalimantan Timur. Konsentrasi geografis ini memang membawa risiko operasional tertentu, namun juga memberikan keunggulan berupa efisiensi logistik yang tinggi.
Dengan profil tanaman yang didominasi usia prima sekitar 12–14 tahun, produktivitas kebun TLDN sering kali berada di atas rata-rata industri. Dari sisi strategi, perusahaan juga tengah menyelesaikan pembangunan Kernel Crushing Plant serta mengembangkan proyek energi terbarukan melalui biogas (Bio-CNG).
Sementara itu, PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) mencatatkan laba sekitar Rp361,72 miliar, naik 39,01persen YoY, dengan pendapatan sekitar Rp5,76 triliun. Kinerja ini mencerminkan perbaikan operasional perusahaan yang masih berada dalam fase turnaround setelah beberapa tahun melakukan restrukturisasi bisnis dan perbaikan struktur modal.
Secara konsesi perusahaan memiliki lahan yang luas, namun area tertanam yang produktif berada di kisaran 110 ribu hektare. Ke depan, kinerja BWPT cukup sensitif terhadap pergerakan harga CPO sehingga peningkatan permintaan domestik melalui program B50 berpotensi memberikan dukungan terhadap margin perusahaan.
Kesimpulan
Program biodiesel B50 berpotensi menjadi salah satu katalis penting bagi industri sawit ke depan. Jika implementasinya benar-benar berjalan, permintaan CPO domestik diperkirakan akan meningkat signifikan karena kebutuhan bahan baku biodiesel yang lebih besar.
Hal ini dapat membantu menjaga stabilitas harga CPO, terutama di tengah tantangan pasar ekspor yang semakin ketat akibat regulasi lingkungan dari beberapa negara tujuan ekspor.
Namun di sisi lain, implementasi B50 juga tidak lepas dari berbagai tantangan, mulai dari kebutuhan subsidi biodiesel yang cukup besar, ketergantungan pada impor metanol, hingga kesiapan infrastruktur dan kendaraan untuk menggunakan campuran biodiesel yang lebih tinggi.
Dengan kondisi tersebut, implementasi kebijakan ini kemungkinan besar akan dilakukan secara bertahap.
Dari sisi emiten, dampak kebijakan B50 juga tidak akan merata. Perusahaan yang memiliki integrasi bisnis hingga ke hilir, seperti pengolahan produk turunan sawit atau biodiesel, cenderung memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh manfaat dari peningkatan permintaan domestik.
Dalam hal ini, emiten seperti SMAR dan SIMP terlihat memiliki posisi yang relatif lebih kuat karena memiliki rantai bisnis yang lebih terintegrasi.
Sementara itu, emiten yang lebih fokus pada bisnis perkebunan seperti AALI dan LSIP tetap dapat menikmati kenaikan harga CPO jika permintaan meningkat, meskipun dampak langsungnya kemungkinan tidak sebesar perusahaan yang memiliki bisnis hilir.
Di sisi lain, emiten seperti TLDN dapat menarik perhatian karena efisiensi operasional dan profil tanaman yang masih produktif, sedangkan BWPT masih berada dalam fase perbaikan kinerja yang membuat prospeknya lebih sensitif terhadap pergerakan harga komoditas.
Mau Dapat Insight dan Idea Saham Investing hingga Trading dengan Strategi Sesuai Kebutuhanmu?
Kamu bisa dapatkan semuanya di Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
- Event online bulanan
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
