Moody’s Downgrade Outlook Indonesia Jadi Negatif, Ini yang Bisa Dilakukan Investor Saham

Pasar keuangan Indonesia akhir-akhir ini lagi banyak kena komplain dari asing setelah ultimatum MSCI soal transparansi free float. Kali ini giiran Moody’s menurunkan outlook jadi negatif. Kira-kira gimana dampaknya?

moodys

Mikirduit - Moody’s baru-baru ini menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, tetapi rating tetap dipertahankan investment grade. Kira-kira gimana dampaknya dan apa yang sebaiknya kita lakukan?  

Highlight: 

  • Pasar keuangan Indonesia lagi banyak kena komplain dari asing, kali ini giliran Moody’s turunkan outlook jadi negatif. 
  • Sehari setelah pengumuman itu, IHSG masih koreksi menuju level 7000-an lagi. 
  • Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini

Moody’s Turunkan Outlook Indonesia    

Lembaga pemeringkat (rating agency) Moody’s Investor Service pada Kamis sore (5/2/2026) memberian keterangan tertulis terkait penurunan outlook terhadap pasar utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. 

Meski demikian, Moody’s tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level Baa2, yang masih berada dalam kategori investment grade (layak investasi).

Dengan kata lain, investor global masih menilai Indonesia cukup aman untuk dijadikan tempat menanam modal. Namun perubahan outlook ini menjadi semacam “lampu kuning” bahwa risiko ke depan mulai meningkat.

Moody’s menilai langkah ini sebagai peringatan dini. Pasalnya, sejak awal tahun 2000-an, peringkat kredit Indonesia sebenarnya terus membaik. Jika sampai terjadi penurunan peringkat, skenario terburuknya Indonesia turun ke Baa3, yang masih termasuk investment grade

Karena itu, tekanan ini dinilai masih relatif “terkendali”, mirip dengan perhatian pasar yang sebelumnya muncul dalam konsultasi terbaru MSCI.

Dalam laporannya, Moody’s menggarisbawahi beberapa faktor utama di balik revisi outlook menjadi negatif:

  • Arah kebijakan pemerintah dinilai makin sulit diprediksi dalam setahun terakhir. Hal ini dikhawatirkan bisa mengurangi efektivitas kebijakan dan melemahkan tata kelola.
  • Pemerintah makin mengandalkan belanja negara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Ini dinilai berisiko bagi kondisi keuangan negara, apalagi penerimaan pajak Indonesia masih terbatas.
  • Pembentukan sovereign wealth fund baru bernama Danantara menimbulkan tanda tanya soal sumber dana, cara pengelolaan, dan tujuan investasinya.
  • Munculnya wacana menaikkan batas defisit anggaran di atas 3%, meskipun pemerintah kemudian menegaskan tetap berkomitmen pada aturan tersebut. Selain itu, adanya pembahasan di parlemen terkait peran dan tata kelola Bank Indonesia, serta perubahan kebijakan di sektor sumber daya alam, ikut menambah ketidakpastian.
  • Di sisi masyarakat, Moody’s juga menyoroti meningkatnya ketidakpuasan publik terkait pendapatan, peluang kerja, dan biaya hidup, yang memicu gelombang protes sepanjang tahun.

Apakah ke depan rating bisa turun? 

Moody’s menjelaskan, penurunan peringkat bisa terjadi jika beberapa hal berikut benar-benar terwujud:

  • Pemerintah terus menjalankan kebijakan belanja besar tanpa dibarengi perbaikan penerimaan negara.
  • Kondisi eksternal memburuk, misalnya rupiah melemah terlalu lama atau dana asing banyak keluar, sehingga menyulitkan pembayaran utang dan menggerus cadangan devisa.
  • Kondisi keuangan BUMN melemah, serta hasil investasi BUMN kurang baik akibat tata kelola Danantara yang tidak cukup kuat.

Institusi Global Ikut Komplain Pasar Saham RI, IHSG Kebakaran 

Sebelum langkah Moody’s Investors Service menurunkan outlook Indonesia, sejak minggu lalu pasar lebih dulu mendapat peringatan dari MSCI terkait isu free float di bursa saham domestik.

Setelah itu, secara berurutan sejumlah institusi keuangan global seperti Goldman Sachs, UBS, dan Nomura juga menurunkan penilaian mereka terhadap pasar saham Indonesia, menandakan meningkatnya kehati-hatian investor asing terhadap prospek jangka pendek pasar RI.

Pasar saham kita bisa dibilang sedang mengalami momen trust issue yang terakumulasi, hasilnya IHSG langsung merespon turun dalam. 

Pada 28 Januari lalu, IHSG sempat mengalami trading halt pada sesi kedua, berlajut lagi pada 29 Januari pada 30 menit pertama, gejolak makin kencang sampai terkoreksi 8 persen lagi, alhasil trading halt lagi. 

Meski begitu, pada sesi kedua pada hari yang sama, gerak IHSG mulai berbalik arah menguat. 

Sayangnya, memasuki Februari penguatan tak bertahan lama, setelah Moody’s menurunkan outlook dan banyak huru-hara global yang belum reda seperti tekanan geopolitik, perubahan ekspektasi suku bunga kembali hawkish, dan lainnya, membuat tekanan jual di IHSG belum bisa ditahan, meskipun banyak perusahaan sudah mulai menggulirkan aksi buyback lagi. 

Sampai perdagangan Jumat pada sesi pertama (6/2/2026), IHSG terpantau turun lagi 2,83 persen dari pembukaan ke posisi 7,874,41.  

Kami melihat tekanan jual masih bisa berlanjut sampai support terdekat di level 7.480. Di sisi lain, jika ada bounce back ada resistance yang masih perlu ditembus untuk membalikan tren di atas level 8.500. 

Secara jangka pendek, tren iHSG sekarang masih turun, ada potensi seelah menyentuh support geraknya akan terkonsolidasi dulu dalam beberapa bulan, sampai menemukan katalis yang lebih kuat lagi untuk berbalik arah. 

Lantas, apa yang harus kita lakukan? 

Dalam situasi seperti ini, sebenarnya menjadi pengingat kita bahwa tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini bukan hanya soal angka pertumbuhan, tetapi juga soal kepercayaan. 

Ke depan, fokus utama yang perlu diperkuat adalah kepastian arah kebijakan, disiplin fiskal, transparansi pengelolaan BUMN dan investasi strategis, serta upaya memperluas basis penerimaan negara. 

Di saat yang sama, pemerintah juga perlu menjaga stabilitas pasar keuangan dan komunikasi kebijakan yang konsisten agar pelaku pasar tidak terus diliputi ketidakpastian. 

Dengan langkah-langkah tersebut, tekanan yang muncul saat ini diharapkan bisa menjadi momentum perbaikan, bukan awal dari pelemahan yang lebih dalam, sekaligus mengembalikan kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang ekonomi Indonesia.

Dari sini kita semakin memahami bahwa tantangan seperti itu jadi hal yang patut dipantau, tapi itu sulit untuk kita kontrol. Maka dari itu, kita fokus dulu saja pada apa yang bisa kita kendalikan: 

Jangan melawan arus 

Meskipun sudah banyak saham turun dan mulai menarik secara angka, tetapi kita masih belum bisa mengetahui secara pasti apakah saham itu sudah mencapai bottom atau belum. 

Kita pastikan secara tren dulu, selama masih turun, ada baiknya kita wait and see sampai tekanan jual reda. Nanti bisa masuk lagi ketika sudah muncul momentum beli lagi secara teknikal. 

Jangan melawan arus ketika masih banyak yang jualan, kalau kita tidak mau diguyur. 

Sementara kalau yang terbawa nyangkut gimana? Nah, ini menjadi PR dulu untuk mulai rebalancing portofolio. 

Pilah dulu strategi yang diterapkan di suatu saham itu untuk trading atau investasi. 

Kalau itu saham trading, maka prinsip stop loss sebisa mungkin kita penuhi, tetapi kalau sudah terlalu dalam, kita bisa kurangi porsi perlahan setiap ada bounce back. 

Kalau untuk saham investasi, kita pastikan lagi kondisi fundemental-nya ada terganggu juga tidak dengan kondisi saat ini, jika masih aman, maka solusi-nya ada average down, tetapi dengan catatan ketika nanti tekanan jual sudah reda.

Prospek Saham Retail Jelang Lebaran, Siapa Paling Menarik?
1 Ramadan tak terasa kurang dari sebulan lagi, biasanya ini akan menjadi momentum paling optimal bagi pertumbuhan bisnis retail. Kira-kira gimana prospeknya dan siapa yang paling menarik dilirik saham-nya?

Fokus money management dulu 

Fokus money management saat ini juga sangat penting, karena kalau nanti kita mau beli saham lagi dibawah atau average down kan perlu modal.

Maka saat ini fokus dulu mengumpulkan cash buffer sebagai modal nanti ambil harga saham di momentum yang lebih optimal. 

Untuk mengumpulkan cash tidak harus kita cut loss semua saham, tetapi pastikan secara persentase ketika harga saham semakin turun, tidak terlalu mengganggu psikologis kita dan kita tetap punya ruang untuk beli lagi nanti. 

Kembali ke Jalur Fundamental Dulu 

Terakhir, dalam pilih saham apa yang mau dibeli saat ini kita kembali ke jalur fundamental. Karena biasanya, mereka adalah yang lebih cepat pulih ketika crash terjadi seperti saat ini. 

Fokus pemilihan saham bisa kita alihkan pada saham-saham yang memiliki fundamental kuat, prospek dividen murah, dan valuasi murah. 

Valuasi murah ini juga harus kita pastikan lagi dengan kondisi laba-nya, mereka itu murah karena dari tekanan harga atau karena perubahan bisnis yang mempengaruhi valuasi. 

Akan menarik kalau kita dapat saham yang valuasi-nya murah tapi laba-nya tetap tumbuh, ditambah punya prospek dividen juga menarik.

Gimana, kalian sudah menemukan saham dengan kriteria seperti itu atau malah sudah masuk di porto?

Dapatkan Insight Saham hingga Diskusi serta Konsultasi Bersama hampir 1.000 Investor Lainnya di Mikirsaham

Yuk join dengan Mikirsaham sekarang untuk bisa dapatkan benefit ini semua:

  • Stockpick investing (dividend, value, growth, contrarian) yang di-update setiap bulan (terbarunya akan diseleksi terbaik maksimal 5 masing-masing strategi dengan analisis yang komprehensif)
  • Stock Ideas (memberikan gambaran besar saham-saham yang menarik, tapi tidak termasuk stockpick)
  • Stockpicking swing trade mingguan (khusus member mikirsaham elite jika kuota masih tersedia)
  • Insight saham terkini serta action-nya
  • Update porto founder
  • IPO dan Corporate Action Digest
  • Event online bulanan
  • Grup Diskusi Saham

Join ke Member Mikirsaham Pro sekarang juga dengan klik link di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini