Menelisik Motif DEWA Buyback Saat Harga Saham Meroket

Saham DEWA muncul dengan narasi mau buyback jumbo Rp1,6 triliun. Padahal, kas di Q2/2025 cuma Rp600-an miliar. Apakah ini sebuah pertanda bagus atau risiko?

saham dewa

Mikirduit – DEWA berencana melakukan buyback dengan total alokasi mencapai Rp1,66 triliun. Periode waktunya 19 November 2026 - 19 Februari 2026. Pertanyaannya, kenapa buyback jumbo ini dilakukan saat harga DEWA naik tinggi?

Highlight
  • Buyback jumbo DEWA berpotensi menjadi strategi menjaga stabilitas harga saham di tengah aksi jual pemegang saham hasil konversi utang.
  • Prospek jangka pendek DEWA bisa terbantu jika piutang Rp1,6 triliun benar-benar berubah menjadi kas sehingga ruang buyback dan ROE meningkat.
  • Kinerja DEWA menunjukkan perbaikan margin signifikan, namun pertumbuhan ke depan sangat bergantung pada munculnya kontrak baru di luar BUMI.
  • Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini

Buyback adalah aksi beli kembali sebuah saham dari perusahaan itu sendiri. Dalam pencatatannya, nanti saham yang di-buyback masuk ke dalam treasury stock.

Biasanya, sentimen buyback menjadi pendorong harga saham dalam jangka pendek karena ada asumsi harga saham sudah murah, serta ada potensi pembelian jumbo dari emiten itu sendiri. Sehingga ada potensi demand saham naik.

Indikator harga saham bisa naik jangka pendek bisa dihitung dari segi nominal buyback-nya besar atau kecil. Biasanya di atas Rp1 triliun dianggap besar. Namun, akan tergantung juga dengan porsi dari free float. Misalnya, GOTO yang free float-nya cukup besar, nilai Rp1 triliun itu akan terlihat lebih kecil dan sulit menggerakkan harga.

Beberapa alasan buyback saham bisa dilakukan ketika harga saham mengalami penurunan signifikan dan dianggap sudah sangat murah serta tidak sesuai fundamental bisnisnya. Ditambah, emiten memiliki cash untuk melakukan buyback tersebut sehingga harga saham bisa di-normalisasi lebih cepat. 

Selain itu, ada juga saham yang melakukan buyback karena memiliki cash berlebih, yang mana tingkat cash yang tinggi dengan rasio utang yang turun bisa membuat return on Equity turun. Sehingga, buyback dilakukan untuk bakar cash sehingga posisi ROE bisa tetap menarik.

Salah satu yang pernah melakukan hal ini adalah ADRO, yang mana pada 2021-2022 perseroan melakukan buyback di harga tinggi sekitar Rp2.000-an per saham. Dengan cocoklogi, cash perseroan naik signifikan dari Rp25 triliun pada 2021 menjadi Rp63 triliun pada 2022. Sehingga ada indikasi buyback dilakukan untuk menjaga tingkat ROE bisa tetap oke. Meski, buybacknya juga tidak sepenuhnya dilakukan. Selain itu, buyback tersebut juga membantu nilai tambah ke pemegang saham karena harga saham cenderung terjaga.

Terakhir, buyback dilakukan karena ada kebutuhan untuk MESOP. Biasanya, untuk hal ini tingkat buybacknya tidak begitu besar.

Lalu, Bagaimana dengan DEWA?

Kami memiliki beberapa skenario untuk aksi buyback saham DEWA yang dilakukan di harga atas. Jika dikatakan harga saham DEWA masih undervalue, kami belum menemukan alasan kuatnya. Meski, kalau dibandingkan dengan kontraktor tambang lainnya seperti DOID, PTRO, hingga MAHA, posisinya DEWA masih lebih murah dari PTRO, tapi masih lebih mahal dari DOID dan MAHA. Sehingga belum ada anomali urgensi dari DEWA.

Jika dilihat, perbaikan bisnis DEWA terjadi ada di pos margin keuntungan (biaya yang lebih efisien karena perubahan bisnis yang mengerjakan sendiri proyeknya). Dari segi pendapatan belum ada kontrak baru yang ditandatangani. 

Kecuali, jika ada kontrak baru yang dalam proses tanda-tangan sehingga bisa membuat valuasi DEWA bisa lebih menarik dibandingkan dengan DOID dan MAHA dengan ruang pertumbuhan yang agresif. Pasalnya, kalau tahun depan tidak ada kontrak baru, DEWA bisa mencatatkan pertumbuhan yang lebih lambat daripada tahun ini.

promo investing pro

Lalu, apa tesis aksi buyback DEWA, dan bagaimana prospeknya?

Menjaga Harga Saham Tetap Stabil Jika Pemegang Saham Konversi Utang Jual Barang

Pertama, DEWA melakukan buyback selaras dengan aksi para pemegang saham yang masuk dengan private placement karena konversi utang lagi menjual saham perseroan. 

Ingat aksi private placement DEWA di awal tahun. Ada tiga entitas, yakni PT Madhani Talatah Nusantara, PT Andhesti Tungkas Pratama, dan PT Antareja Mahada Makmur yang masuk ke DEWA lewat private placement di akhir  Februari 2025. Ketiganya memborong 18,83 miliar lembar saham baru DEWA dengan harga Rp75 per saham. Transaksi ini dilakukan untuk konversi utang menjadi saham dengan total nilai transaksi sekitar Rp1,4 triliun.

Adapun utang DEWA terhadap ketiga entitas itu adalah utang usaha dan pinjaman. Dengan detail:

  • Utang kepada Madhani sekitar Rp756 miliar terkait jasa penambangan 
  • Utang pokok kepada Andhesti senilai Rp358 miliar yang memiliki jatuh tempo 18 bulan dengan bunga 12 persen per tahun
  • Utang kepada Antareja sekitar Rp296 miliar

Setelah private placement selesai, ketiganya mulai melakukan aksi jual saham DEWA sejak April 2025. Tujuannya, ya untuk menjadikan utang yang dikonversi menjadi saham itu kembali menjadi cash.

Dengan harga rata-rata yang dimiliki  Rp75 per saham, para kreditur DEWA itu juga mendapatkan selisih keuntungan dari aksi jualnya ke pasar saham.

Secara historis, baru dua pemegang saham yang melepas kepemilikannya, yakni Madhani dan Antareja.

Madhani menjadi salah satu yang rutin melakukan transaksi. Dari catatan kami, transaksi Madhani dilakukan sebanyak 8 kali dari 29 April 2025 sampai 13 Oktober 2025. Dari 8 transaksi itu, 7 transaksi dilepas dengan harga Rp75 per saham (harga pembelian private placement). Lalu, ada 1 penjualan di harga pasar senilai Rp208 per saham.

Dari sini, total penjualan Madhani sudah lebih besar dari nilai saham yang didapatkannya. Kami hitung, total senilai Rp930 miliar dari total jumlah saham pertama yang didapatkan saat private placement senilai Rp756 miliar.

Hingga 20 November 2025, kepemilikan Madhani tersisa 5,8 persen dibandingkan dengan sebelumnya mencapai 24 persen. Menariknya adalah kesepakatan dengan pihak yang menampung saham Madhani di harga private placement senilai Rp75 per saham. Pihak itu masih belum diketahui, entah pengendali DEWA Zurich Aset atau lainnya. Namun, jika itu Zurich Aset (yang juga ada afiliasi dengan BUMI), harusnya tercatat.

Di sisi lain, pada 8 Agustus 2025 ada transaksi beli cukup besar senilai 2,5 miliar lembar saham dari CGS Internasional Hong Kong Ltd ketika Madhani jual saham DEWA tersebut.

Sementara itu, Antareja baru melakukan sekali penjualan sebesar 954 juta lembar di harga private placement senilai Rp75 per saham. Kepemilikannya pun turun menjadi 7,3 persen dibandingkan dengan sebelumnya 9,72 persen.

Untuk Andhesti sejauh ini belum ada catatan melakukan aksi jual. Dari catatan kami, Andhesti memiliki kepemilikan saham DEWA sekitar 11,76 persen.

Sehingga, aksi buyback berpotensi menjadi strategi menjaga persepsi hingga harga saham DEWA tetap terjaga jika ada salah satu pemegang saham dari konversi utang tersebut melakukan penjualan ke pasar.

Apalagi, total masih ada sekitar 10,14 miliar lembar milik ketiga entitas tersebut yang masih belum keluar dari DEWA. Secara total, jika mengacu ke harga saham DEWA per 20 November 2025, nilainya bisa mencapai Rp4,26 triliun.

Perusahaan Warren Buffett Mulai Borong Saham Google, Begini Strategi yang Bisa Diikuti
Ada kehebohan di pasar saham AS setelah Berkshire hathaway, perusahaan warren buffett membeli saham GOOGL. Lalu, bagaimana strategi agar bisa mengikuti gerak Berkshire dengan cuan?

Ada Potensi Uang Kaget dari Piutang Rp1,6 triliun

Kedua, DEWA lagi banyak kas sehingga mau dikeluarkan sebagian (mungkin tidak sampai Rp1,6 triliun) untuk menjaga tingkat ROE tetap menarik. Jika melirik laporan keuangan DEWA terakhir di kuartal II/2025 (kuartal ketiga lagi diaudit), kas dan setara kas perseroan hanya Rp631 miliar. Artinya, dana itu tidak mencukupi untuk buyback. Padahal, dalam keterangan buyback bakal menggunakan dari kas internal.

Nah, menariknya DEWA memang punya piutang senilai Rp1,6 triliun. Dengan ketentuan Rp1,09 triliun belum jatuh tempo, Rp175 miliar jatuh tempo dalam 1-30 hari, Rp5,29 miliar 31-60 hari, dan Rp365 miliar sudah lebih dari 60 hari.

Jika keseluruhan piutang itu sudah menjadi cash, cukup logis untuk DEWA membuat narasi buyback Rp1,66 triliun hingga eksekusi hingga 30 persen dana buyback tersebut. Jika itu terjadi, dalam jangka pendek akan menarik untuk saham DEWA. Dalam perhitungan kami, jika nilai piutang Rp1,6 triliun itu menjadi cash serta bisa menambah pendapatan bunga (dengan rata-rata bunga deposito), bisa membuat ROE DEWA dari 3,4 persen menjadi 5,29 persen. Sementara itu, jika melakukan buyback full Rp1,66 triliun bisa meningkatkan ROE hingga menjadi 5,9 persen.

Sehingga jika alasan buyback adalah hal ini, bisa cukup menarik untuk prospek harga saham DEWA dalam jangka pendek. Namun, hal ini perlu dikonfirmasi dari kinerja perseroan kuartal III/2025. Apakah piutang Rp1,6 triliun itu sudah dibayarkan dan menjadi cash atau belum.

Prospek Saham DEWA

Prospek saham DEWA sendiri disorot menarik karena perseroan mau fokus langsung menjadi kontraktor tambang dibandingkan dengan sebelumnya memberikan pengerjaan ke subkontraktor. Untuk memenuhi itu, perseroan sudah berinvestasi Rp942 miliar untuk membeli alat berat dari XCMG Group Indonesia pada Mei 2025.

Teranyar, DEWA juga baru tanda tangan kredit sindikasi dengan BBCA, Bank Papua, Bank Sulteng, BCIC, SDRA, Bank Sumselbar, Bank Kaltim dan Kaltara senilai Rp260 miliar dengan tenor 3 tahun hingga 31 Juli 2027. Namun, belum ada kabar lagi terkait tujuan penggunaan kredit sindikasi tersebut.

Jika melirik historisnya, DEWA sempat menandatangani kredit sindikasi dengan bank-bank tersebut senilai maksimal Rp2,6 triliun. Lalu, perseroan juga baru saja update jaminan fidusia atas mesin dan peralatan senilai Rp2,88 triliun sebagai jaminan kredit sindikasi pada 2024 di Mei 2025. Artinya, kredit sindikasi yang siap cair Rp260 miliar bagian dari kredit sindikasi pada 2024 tersebut. Meski tenornya agak berbeda (dalam total kredit tersebut 60 bulan alias 5 tahun).

Dari perkembangan ini, DEWA tengah melakukan perbaikan kinerja. Hal itu juga terlihat dari kinerja DEWA per kuartal II/2025

Jika dilihat, DEWA mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 1079 persen menjadi Rp167 miliar. Namun, kenaikan itu bukan didorong oleh kenaikan pendapatan yang signifikan. Malah, pendapatannya hanya naik 6,44 persen menjadi Rp3,1 triliun. Kenaikan terjadi karena perbaikan dari segi biaya di beban pokok pendapatan yang lebih efisien saat pendapatan naik, serta biaya operasional juga lebih efisien.

Hasilnya, gross profit margin DEWA naik menjadi 15,33 persen dibandingkan dengan 7,44 persen, serta net profit margin naik menjadi 5,4 persen dibandingkan dengan 0,49 persen.

Namun, tantangan DEWA adalah ekspansi untuk memperbesar pendapatan dari pihak ketiga. Pasalnya, 99 persen pendapatan DEWA berasal dari BUMI, yang diperkirakan memiliki posisi di Zurich Asset, yang merupakan pengendali DEWA. Jika DEWA tidak mendapatkan kontrak baru pada tahun depan, ada potensi pertumbuhan kinerja akan stagnan. Pasalnya, pertumbuhan kali ini didorong oleh perbaikan margin keuntungan.

Kalau mau mendapatkan insight saham sambil diskusi secara real time bersama founder Mikirduit, yuk join Mikirsaham

Kamu bisa mendapatkan insightnya dengan join Mikirsaham Pro.

Benefit Mikirsaham Pro:

  • Stockpick investing (dividend, value, growth, contrarian) yang di-update setiap bulan
  • Stockpicking swing trade mingguan (khusus member mikirsaham elite jika kuota masih tersedia)
  • Insight saham terkini serta action-nya
  • IPO dan Corporate Action Digest
  • Event online bulanan
  • Grup Diskusi Saham

Join ke Member Mikirsaham Pro sekarang juga dengan klik link di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini