Menakar Peluang Saham Emas RI Dilirik Van Eck GDX di Maret 2026, Siapa Paling Potensial?

Seiring dengan kenaikan harga emas dunia, harga saham perusahaan emas di RI juga ikut terbang sejak tahun lalu. Sebagian dinilai bisa masuk ke ETF populer, Van Eck Gold Miner (DGX). Kira-kira siapa paling potensial? 

Menakar Peluang Saham Emas RI Dilirik Van Eck GDX di Maret 2026, Siapa Paling Potensial?

Mikirduit - Saham emas Indonesia dinilai bisa masuk ETF logam mulia populer di dunia, yaitu VanEck Gold Miners ETF atau kode-nya GDX. Kira-kira emiten mana yang paling potensial? apakah masih menarik dibeli saham-nya? 

Highlight : 

  • Sejak September 2025, sudah ada dua saham emas RI yang masuk GDX, mereka adalah BRMS dan AMMN. 
  • Saham emas RI yang berhasil masuk GDX sudah berhasil melesat 10-30% dalam tiga bulan. 
  • Ada tiga tahapan dalam menakar saham emiten lain potensi bisa masuk GDX pada Maret 2026. 
  • Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini

Indeks Emas Paling Populer di Dunia

VanEck Gold Miners ETF (GDX) adalah ETF emas global milik VanEck yang melacak MarketVector Global Gold Miners Index, berisi saham perusahaan tambang emas dan perak besar serta mapan di dunia. 

Berdasarkan data resmi dari situs VanEck, AUM (Assets Under Management) GDX terbaru mencapai sekitar US$26,52 miliar per 5 Januari 2026. Besarnya dana kelolaan ini menegaskan posisi GDX sebagai ETF saham tambang emas terbesar di dunia, dengan konstituen sekitar 55 saham emas dari berbagai negara seperti Kanada, Australia, Amerika Serikat, dan Indonesia. 

Sementara itu, untuk versi junior-nya ada VanEck Junior Gold Miners ETF (GDXJ) yang melacak MVIS Global Junior Gold Miners Index. ETF ini berfokus pada perusahaan tambang emas kecil hingga menengah, termasuk yang masih berada pada tahap eksplorasi dan pengembangan. 

Dibanding GDX, skala dananya lebih kecil dengan AUM sekitar US$9–9,5 miliar, namun jumlah saham di dalamnya justru lebih banyak, yakni sekitar 95–100 saham emas. Karena berisi emiten berkapitalisasi lebih kecil, GDXJ cenderung lebih volatil dan lebih sensitif terhadap pergerakan harga emas.

Secara sederhana, GDX mewakili “elite” saham emas dunia, sedangkan GDXJ mencerminkan lapisan junior hingga menengah industri emas global. Dari ratusan saham tambang emas yang tercatat secara global, hanya sekitar ±150 saham yang berhasil masuk ke ekosistem indeks GDX dan GDXJ, sehingga keanggotaannya kerap dipandang sebagai validasi skala global sekaligus pemicu potensi aliran dana institusional.

BRMS dan AMMN Sudah Lebih Dulu Masuk

Saat ini sudah ada dua saham emiten tambang emas Indonesia yang berhasil tembus GDX, mereka adalah BRMS dan AMMN. Selain itu, BRMS juga tercatat masuk ke ETF emas Van Eck versi junior yaitu GDXJ. 

Berdasarkan data sampai 2 Januari 2026, AMMN berada di peringkat enam sementara BRMS diurutan ke-30 dari 55 saham emas yang dipegang GDX. Masing-masing memiliki bobot 1,16 persen dan 1,07 persen. 

Masuknya BRMS dan AMMN ke indeks GDX (dan BRMS juga ke GDXJ) dipandang sebagai prestasi signifikan karena memberi eksposur global yang lebih besar, serta menarik arus modal pasif dari investor global melalui ETF.

Sebagai catatan saja, BRMS dan AMMN ini sudah masuk GDX sejak September 2025 lalu. Kurang lebih sudah tiga bulan lebih sejak resmi masuk, dua saham emiten tambang emas ini sudah mencatat kenaikan harga yang luar biasa. 

Sebut saja dari saham BRMS selama tiga bulan lalu sudah terbang lebih dari 30 persen dan terkini parkir di Rp1.255 per saham. Saham AMMN juga tidak kalah dengan kenaikan 13 persen ke posisi Rp7.800 per lembar dalam tiga bulan terakhir. 

Lantas, adakah peluang emiten emas RI lain yang akan menyusul BRMS dan AMMN masuk ke GDX atau GDXJ atau malah dua-dua-nya? 

Sebagai catatan dulu, GDX itu disusun oleh MarketVector Indexes, mereka secara rutin melakukan evaluasi kuartalan pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember. 

Paling dekat berarti kita akan menantikan evaluasi lagi pada Maret mendatang. Sebagai catatan juga, pada evaluasi terakhir kali15 Desember lalu, MarketVector tidak menambahkan saham baru ke dalam indeks GDX maupun GDXJ. 

Meski begitu, mari kita menakar bagaimana peluang emiten lain dilirik masuk GDX. Berikut ulasannya : 

Seleksi Awal GDX: Fokus Pure Play Emas

Tahap pertama seleksi GDX menitikberatkan pada struktur bisnis emiten. Syarat utamanya, perusahaan harus tergolong pure play emas, atau setidaknya lebih dari 50 persen pendapatannya berasal dari logam mulia. Berdasarkan kriteria ini, beberapa emiten Indonesia yang dinilai memenuhi antara lain ARCI, PSAB, HRTA, EMAS, dan ANTM. 

ANTM memiliki catatan tersendiri karena pendapatannya tidak sepenuhnya berasal dari emas, mengingat bisnisnya juga mencakup aktivitas semi-hulu dan perdagangan. Namun demikian, kontribusi emas terhadap total pendapatan ANTM terus meningkat seiring lonjakan harga emas global, dan dalam beberapa periode terakhir telah melampaui ambang 50 persen, sehingga secara struktur bisnis tetap memenuhi kriteria pure play.

Sementara itu, HRTA juga dikategorikan pure play emas, meskipun beroperasi sebagai pemain hilir yang terintegrasi secara vertikal, dengan fokus pada penjualan emas batangan ke ritel dan pasokan untuk bullion bank. 

Adapun ARCI, PSAB, dan EMAS merupakan pure play dari sisi hulu, dengan aktivitas utama berupa penambangan emas hingga pengolahan menjadi emas batangan.

Masalah Terbesar Dalam Saham, Kapan Melakukan Take Profit?
Refleksi akhir tahun kali ini, saya ingin membahas permasalahan terbesar dalam saham, yakni kapan melakukan take profit? simak ulasan dari pengalaman saya di sini

Syarat Likuiditas dan Kapitalisasi Pasar

Di luar aspek bisnis, GDX menerapkan sejumlah kriteria teknis yang cukup ketat namun masih realistis. Beberapa di antaranya meliputi free float minimum 10 persen, kapitalisasi pasar minimal sekitar USD 150 juta, rata-rata nilai transaksi harian tiga bulanan minimal USD 1 juta selama tiga kuartal berturut-turut, serta volume transaksi bulanan minimal 250.000 saham selama enam bulan.

Dalam tahap ini, PSAB gugur lebih awal karena free float yang masih berada di kisaran 7,5 persen. Meski begitu, terdapat perkembangan menarik setelah pengendali PSAB, Jimmy Budiarto, melepas sekitar 2,5 persen saham, yang memunculkan spekulasi bahwa PSAB tengah berupaya meningkatkan free float demi memenuhi syarat indeks global. Untuk aspek likuiditas dan kapitalisasi pasar, ARCI dan ANTM relatif tidak menghadapi hambatan berarti karena standar minimum GDX tergolong rendah bagi emiten berkapitalisasi besar.

Sementara itu, EMAS yang baru melantai di bursa pada 22 September 2025 belum memenuhi syarat tiga bulan data perdagangan pada evaluasi Desember 2025.

Namun, saham ini sudah dapat masuk perhitungan pada evaluasi Maret 2026. Sejak IPO hingga akhir 2025, aktivitas perdagangan EMAS terbilang cukup aktif, sehingga secara likuiditas dinilai menjanjikan.

Seleksi Tahap Akhir: Paling Menentukan

Setelah melewati dua tahap seleksi, kandidat yang tersisa hanyalah ARCI, ANTM, dan EMAS. Namun proses belum berakhir, karena masih ada tahap seleksi akhir yang menjadi tantangan terbesar. Pada tahap ini, GDX menggunakan pendekatan relatif, di mana saham baru harus berada dalam 85 persen teratas berdasarkan free float market capitalization dibandingkan seluruh konstituen GDX dan GDXJ.

Berdasarkan harga penutupan akhir 2025, ARCI berada di peringkat terbawah, hampir menyentuh 100 persen, sehingga tersisih. Sementara EMAS dan ANTM berada di kisaran peringkat 85 persen–98 persen, yang masih tergolong berat untuk lolos. 

Dengan kondisi tersebut, peluang masuknya emiten Indonesia selain BRMS ke dalam indeks ETF emas paling bergengsi di dunia ini dinilai masih terbatas dalam jangka pendek.

Meski demikian, peluang masuk ke GDXJ, sebagai versi junior dari GDX, masih tetap terbuka. Metodologi GDXJ relatif lebih akomodatif bagi perusahaan dengan skala yang lebih kecil. Bahkan, terdapat kasus di mana satu saham dapat menjadi konstituen GDX dan GDXJ secara bersamaan, sebagaimana yang telah terjadi pada BRMS.

Dapatkan Insight Saham hingga Diskusi serta Konsultasi Bersama hampir 1.000 Investor Lainnya di Mikirsaham

Yuk join dengan Mikirsaham sekarang untuk bisa dapatkan benefit ini semua:

  • Stockpick investing (dividend, value, growth, contrarian) yang di-update setiap bulan (terbarunya akan diseleksi terbaik maksimal 5 masing-masing strategi dengan analisis yang komprehensif)
  • Stock Ideas (memberikan gambaran besar saham-saham yang menarik, tapi tidak termasuk stockpick)
  • Stockpicking swing trade mingguan (khusus member mikirsaham elite jika kuota masih tersedia)
  • Insight saham terkini serta action-nya
  • Update porto founder
  • IPO dan Corporate Action Digest
  • Event online bulanan
  • Grup Diskusi Saham

Join ke Member Mikirsaham Pro sekarang juga dengan klik link di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini