JPMorgan Kerek Naik Target Harga Saham Nikel, Begini Prospeknya!

JP Morgan merevisi naik target harga saham-saham nikel seperti ANTM, MDKA, dan INCO. Kira-kira gimana prospeknya? Apakah menarik untuk dikejar harga saham saat ini?

Saham nikel

Mikirduit - JP Morgan menaikkan target harga untuk saham-saham nikel seperti MDKA, ANTM, dan INCO. Apakah masih menarik dibeli saat ini dan gimana prospek ke depannya?

Highlight
- Saham ANTM, INCO, MDKA akhir-akhir ini mulai menarik perhatian pasar berkat reli harga nikel. 
- JP Morgan ikut merekomendasikan tiga saham itu dan paling baru menaikkan target harga ke level lebih tinggi. 
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.

Harga Nikel Terbang +20%  

Setelah kurang lebih tiga tahun harga nikel tertekan akibat suplai yang berlebih, akhirnya mulai bangkit lagi berkat produksi nikel di Indonesia akan dikurangi hingga 24 persen pada tahun ini,

Hal tersebut membuat harga nikel di LME naik lebih dari 20 persen sejak akhir 2025 ke atas level US$ 18.000 per ton.

Harga saham nikel

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengkonfirmasi bahwa pemerintah menetapkan kebijakan pemangkasan produksi bijih nikel nasional pada 2026, meski belum merinci besaran pengurangannya. 

Menurut Bahlil, langkah ini bertujuan menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan nikel di pasar global agar harga tetap stabil.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Meidy Katrin Lengkey, menyampaikan pada pertengahan Desember 2025 bahwa pemerintah berencana menetapkan kuota produksi bijih nikel sekitar 250 juta ton dalam RKAB 2026. Angka ini turun sekitar 34 persen dibanding target RKAB 2025 yang mencapai 379 juta ton menjadi 250 juta ton, sebagai strategi untuk menahan tekanan penurunan harga nikel.

Dan baru-baru ini, update soal RKAB sudah disetujui. Ini membawa harapan bahwa harga nikel akan semakin stabil. 

Di sisi lain, selama ini industri nikel dibayangi ekspektasi kelebihan pasokan, ternyata di realita belum kelihatan. Artinya, ini hanya “paper surplus” saja, karena digudang belum terlihat barang aslinya. 

International Nickel Study Group (INSG) misalnya, sempat memproyeksikan surplus produksi nikel sekitar 209.000 metrik ton. Namun surplus tersebut belum benar-benar tercermin pada stok fisik.

Buktinya, stok nikel di London Metal Exchange (LME) yang hanya meningkat sekitar 93.000 ton dalam periode November 2024 hingga November 2025.

Kemudian dalam riset S&P Global yang rilis pada 29 Desember 2025 lalu, pelaku pasar menyoroti sistem RKAB yang berkontribusi pada persepsi “oversupply” itu terlalu berlebihan.

Target Harga JP Morgan di Saham Nikel

Setelah harga nikel pulih ke atas US$ 18.000 per ton. JP Morgan menilai masih ada narasi mengenai pasokan yang potensi menjadi katalis tambahan yang bisa mendorong reli harga nikel.

Dengan RKAB yang disetujui, ada potensi kondisi kelebihan yang diekspektasikan beberapa waktu lalu bisa berubah menjadi kondisi defisit.

Namun, realisasi itu tentu akan bergantung pada sejumlah faktor seperti asumsi kadar bijih sampai penyesuaian terhadap pengurangan izin.

JP Morgan menilai manfaat awal akan dirasakan lebih dulu oleh penjualan bijih di sektor hulu, setelah itu produk setengah jadi seperti nikel pig iron (NPI) diperkirakan baru akan mengalami kenaikan harga setelah peleburan non-terintegrasi mulai menutup kapasitas produksi akibat meningkatnya biaya bahan baku bijih.

Melalui riset terbaru bertajuk Best of Asean, Asean Metals, yang terbit 9 Januari 2026, Benny Kurniawan dkk menilai ada tiga saham terkait nikel yang menjadi pilihan JP Morgan saat ini, mereka adalah ANTM, MDKA, dan INCO. Baru-baru ini, tiga saham ini diberikan peringkat yang lebih tinggi dari riset sebelumnya.

Mari kita ulas satu per satu beserta prospeknya:

Saham ANTM

Saham ANTM menjadi salah satu pilihan JP Morgan yang sudah overweight sejak tahun lalu, kini target harga-nya dinaikkan menjadi Rp4.500 per saham.

Adapun harga ANTM per penutupan Senin (19/1/2026) berada di Rp4.000 per saham, artinya dari target JP Morgan masih ada potensial upside sampai 12,5 persen.

ANTM menjadi pilihan karena memiliki kadar bijih tinggi sekitar 1,7 persen. Kadar ini menjadi pilihan bagi mayoritas smelter untuk digunakan campuran.

Selain itu, pemulihan volume penjualan emas yang asalnya dari impor dan aktivitas tambang blok Freeport diproyeksikan akan terjadi pada paruh kedua tahun ini.

Saham INCO

Selanjutnya, ada saham INCO dengan rating yang naik kelas dari neutral menjadi overweight.

Saham INCO dipilih mempertimbangkan 70 persen penjualan bijih nikel yang berasal dari limonit. Selain itu, JP Morgan juga menilai INCO akan memanfaatkan opsi kepemilikan pada proyek HPAL yang akan datang, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kontribusi pendapatan dari entitas afiliasi.

Melansir Bisnis.com, update terbaru terkait RKAB 2026 untuk INCO sudah disetujui. Mereka hanya dapat izin kuota produksi nikel sekitar 30 persen dari total volume yang diajukan sebelumnya kepada pemerintah. Hal ini disampaikan oleh Presiden Direktur Bernardus Irmanto dalam forum Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI.

Menurut manajemen, ini bisa menjadi risiko karena kuota yang relatif rendah tersebut berpotensi tidak cukup untuk memenuhi komitmen pasokan bijih nikel yang menjadi dasar operasional dan pengembangan sejumlah pabrik hilirisasi nikel di berbagai lokasi, termasuk di Sorowako, Pomalaa, dan Bahodopi. Perusahaan berharap pemerintah memberi kesempatan untuk mengajukan revisi RKAB agar target produksi dapat disesuaikan dengan kebutuhan operasional proyek-proyek tersebut.

Sebelumnya, keterlambatan persetujuan RKAB sempat membuat Vale menghentikan sementara kegiatan tambang karena dokumen tersebut adalah syarat wajib untuk melanjutkan operasi. Namun, setelah RKAB 2026 keluar, operasional tambang bisa kembali berjalan meskipun dengan target produksi yang direvisi.

Saham MDKA

Terakhir, ada MDKA yang mendapatkan kenaikan rating menjadi overweight.

JP Morgan menilai saham MDKA masih tertinggal secara valuasi dibandingkan Merdeka n dua entitas anak usahanya yang telah melantai di bursa yaitu MBMA dan EMAS, dengan selisih performa sekitar 20–77% dalam enam bulan terakhir.

Ke depan, MDKA diproyeksikan memasuki fase pertumbuhan pendapatan yang lebih kuat setelah berada di titik impas pada 2025, seiring peningkatan produksi dari tambang emas Pani Gold Project serta dukungan harga emas yang tetap tinggi.

Selain itu, tren kenaikan harga tembaga menjadi katalis tambahan yang berpotensi memperkuat prospek MDKA, mengingat eksposur perseroan terhadap komoditas tersebut. Kombinasi pemulihan kinerja operasional, leverage terhadap harga emas dan tembaga, serta valuasi yang relatif murah membuka ruang re-rating saham MDKA ke depan.

Namun, dalam jangka pendek ada tantangan yang masih dihadapi karena result laporan keuangan 2025 diproyeksi akan mengalami kerugian sekitar Rp75 miliar. Hal ini terjadi karena Tambang Pani baru mulai berkontribusi bertahap. Output awal belum cukup untuk menutup seluruh fixed cost operasional dan overhead grup. Di sisi lain, meskipun EMAS dan MBMA berkinerja baik, faktanya kontribusinya masih terbatas.

Jadi, menurut kalian mana saham pilihan JP Morgan yang menarik?

Dengan Begitu, Bagaimana Strategi untuk Saham IRSX Jelang Right Issue di Maret 2026?

Yuk join dengan Mikirsaham sekarang untuk bisa dapatkan benefit ini semua:

  • Stockpick investing (dividend, value, growth, contrarian) yang di-update setiap bulan (terbarunya akan diseleksi terbaik maksimal 5 masing-masing strategi dengan analisis yang komprehensif)
  • Stock Ideas (memberikan gambaran besar saham-saham yang menarik, tapi tidak termasuk stockpick)
  • Stockpicking swing trade mingguan (khusus member mikirsaham elite jika kuota masih tersedia)
  • Insight saham terkini serta action-nya
  • Update porto founder
  • IPO dan Corporate Action Digest
  • Event online bulanan
  • Grup Diskusi Saham

Join ke Member Mikirsaham Pro sekarang juga dengan klik link di sini Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini