Jika Punya Uang Rp100 juta, Apa Investasi Terbaik Saat Ini?

Jika punya uang Rp100 juta, bagusnya investasi di mana ya? jika kamu termasuk yang bingung seperti ini, baca detail konten ini ya.

Jika Punya Uang Rp100 juta, Apa Investasi Terbaik Saat Ini?

Mikir Duit – Jika punya uang Rp100 juta saat ini, kira-kira di mana tempat menyimpan untuk investasi yang terbaik? kita akan coba pikirkan tempat menyimpan uang Rp100 juta terbaik sebagai uang dingin dalam konten kali ini.

Kondisi Ekonomi Terkini

Kondisi ekonomi saat ini masih dalam posisi tingkat suku bunga yang sangat tinggi. Apa artinya? berarti laju ekonomi secara umum akan mulai melambat. Kok bisa? ya karena dengan suku bunga tinggi, orang yang kelebihan uang lebih suka menempatkan dananya di aset yang aman seperti deposito dan obligasi.

Dengan begitu, uang beredar mulai sedikit sehingga pendorong putaran ekonomi mulai melambat. Ya sesuai dengan tujuannya, suku bunga naik untuk mengendalikan inflasi dan mengurangi peredaran uang di masyarakat. Efeknya, ya ekonomi melambat.

💡
Untuk itu, ketika inflasi di AS naik tinggi, Federal Reserve alias bank sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunganya secara agresif hingga dikecam oleh senator kalau aksinya bisa membuat jutaan orang di sana jadi pengangguran.

Adapun, efek dari kenaikan suku bunga itu juga sudah terasa di sektor teknologi. Saat masa pandemi Covid-19 ketika suku bunga rendah, sektor tersebut kebanjiran likuiditas uang dalam bentuk investasi ke dunia startup. Miliaran dolar AS berputar di sana dengan harapan bisa mendapatkan keuntungan investasi yang optimal.

Sayangnya, ketika arah suku bunga mulai naik, prospek ekonomi melambat, investor langsung enggan berinvestasi ke tempat berisiko seperti startup teknologi tersebut. Hal itu yang membuat banyak startup tumbang, termasuk juga di Indonesia. Soalnya, secara model bisnis belum menguntungkan, lalu sumber dananya dari investor juga mulai tersendat dan kering kerontang.

Di tengah suku bunga yang tinggi, AS mengalami masalah perbankan setelah salah satu bank kelas menengah Sillicon Valley Bank kolaps. Gara-gara itu, muncul aksi rush money yang mengancam banyak bank daerah dan menengah kecil di AS. Jika rush money terus terjadi, bukan tidak mungkin krisis keuangan seperti 2008 kembali terulang.

The Fed dan beberapa bank besar di AS pun bergerak cepat untuk segera menyelamatkan bank-bank yang sudah mendapatkan lampu merah terancam bangkrut. Sayangnya, aksi rush money mereda, kini perbankan AS terancam masalah kredit bermasalah di sektor komersial, seperti segmen bisnis menengah, yang berpotensi naik tinggi. Jika itu terjadi, bank skala menengah kecil yang punya banyak portofolio kredit segmen menengah juga terancam.

BACA JUGA: Ketika Bank Kecil di AS Bikin Satu Negara Ketar-ketir Panik, Begini Penyebabnya

Dengan begitu, kita tidak ada yang tahu akankah AS mengalami resesi atau malah krisis keuangan parah di 2023 ini. Kalau begitu investasi apa yang paling cocok untuk saat ini?

Jenis Investasi yang Menarik

Ketika kita bicara investasi, sebaiknya kita tidak membicarakan yang posisi harganya sudah tinggi seperti emas. Soalnya, jika kita masuk saat ini sudah telat, semua sudah berpesta dan mungkin akan usai, tapi kita baru masuk. Nanti, yang ada cuma kebagian cuci piring aja [sebuah frasa untuk orang yang beli saham di pucuk lalu setelah itu dibanting turun].

Investasi Emas

Posisi harga emas dunia memang tidak terlalu tinggi setelah hanya berada di 2.000 dolar AS per troy ounce [setara per 31,1 kilogram]. Begitu juga dengan harga emas Antam yang terakhir senilai Rp1,05 juta per gram, harganya lebih rendah dari level tertinggi Maret 2023 senilai Rp1,09 juta per gram.

Namun tetap saja, posisi saat ini tetap tertinggi sejak pandemi Covid-19. Artinya, jika semua kondisi ekonomi baik-baik saja, harga emas akan turun dan untuk bisa melejit lagi membutuhkan kondisi krisis ekonomi yang mungkin baru terjadi pada 5-10 tahun ke depan. Intinya, jika harga emas bisa turun ke Rp950.000 per gram, itu bisa jadi titik masuk terbaik dengan toleransi hingga Rp990.000 per gram.

Investasi Obligasi Negara

Jujur, salah satu surat berharga negara (SBN) ritel terbaik adalah Sukuk Ritel yang diterbitkan pada bulan lalu. Dengan karakter surat berharga yang bisa diperjualkan di pasar sekunder, dan diterbitkan saat suku bunga Bank Indonesia di puncak tertingginya, berarti ketika bank sentral mengganti arah kebijakan moneter, harga SBN ritel itu bisa melejit di pasar sekunder.

Namun, tenang, pemerintah masih akan merilis surat berharga lainnya, dengan rencana jadwal sebagai berikut:

  • Sukuk Tabungan seri ST010: 5-24 Mei 2023
  • ORI023: 26 Juni-20 Juli 2023
  • Sukuk Ritel seri SR0019: 18 Agustus - 13 September 2023
  • ORI024: 9 Oktober - 2 November 2023
  • Sukuk Tabungan seri ST011: 3-29 November 2023

Jika melihat jadwal tersebut, SBN ritel terbaik lainnya yang bisa dibeli adalah Sukuk Tabungan ST010 dan ORI023. Untuk ST011 harusnya masih memiliki kupon yang tinggi karena bakal dirilis sebelum Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia di pekan ketiga Mei 2023. Artinya, tingkat kupon masih tinggi.

Sayangnya, ST011 ini tipe SBN ritel yang tidak bisa diperdagangkan. Jadi, sumber keuntungannya hanya dari kupon sampai tenor selesai. Adapun, fitur kupon floating with the floor atau mengambang dengan batas minimal juga tidak akan naik. Pasalnya, BI sudah mengerem kenaikan suku bunga dan setelah ini harusnya tren menuju turun. Berarti, kupon dari ST011 berpeluang kecil untuk naik di tengah jalan.

SBN ritel lainnya adalah ORI023, tetapi jeda waktu dari 24 Mei ketika periode terakhir ST010 diperdagangkan dengan ORI023 cukup jauh. Di sini, bisa jadi BI sudah mulai memangkas suku bunga di Juni 2023, apalagi jika ekonomi AS mulai mengalami masalah. Meski begitu, ORI yang diterbitkan periode itu tetap bisa dibilang terbaik karena harganya berpotensi naik ketika BI menurunkan suku bunga.

Investasi Saham

Jujur, pasar saham lagi penuh ketidakpastian, belum lagi pasar saham Indonesia yang masih sepi. Jika mau menyicil beli, bisa masuk ke saham bank besar, tapi perhatikan posisi harga belinya jangan sampai terlalu tinggi. Seperti, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), jika masuk kalau bisa di posisi Rp8.000-an bawah.

Alasannya, saham perbankan lagi dalam risiko kenaikan beban bunga saat posisi suku bunga tinggi. Namun, ketika BI mulai membalikkan arah kebijakan jadi penurunan suku bunga, itu bisa jadi positif untuk emiten bank tersebut.

Untuk sektor lainnya masih agak berisiko karena terkena dampak perlambatan ekonomi global dan daya beli masyarakat di domestik. Apalagi, saham sektor batu bara yang siap-siap terjun bebas karena harga komoditasnya mau menormalisasikan diri.

Investasi Reksa dana

Jika melihat polanya saat ini, investasi reksa dana pendapatan tetap bisa tepat. Pasalnya, dengan posisi suku bunga tinggi, ekspektasinya kita bisa mulai dapat harga reksa dana pendapatan tetap lebih rendah. Nantinya, ketika BI membalikkan kebijakan moneter jadi kenaikan suku bunga, baru tuh kita bisa panen cuan dari reksa dana pendapatan tetap.

BACA JUGA: Fakta, Apakah Benar Investasi Reksa dana Sudah Tidak Menarik Lagi?

Di sisi lain, investasi reksa dana saham juga harus diperhatikan. Mereka memiliki risiko dari aset investasinya, yakni saham yang masih dalam tren bearish atau sideways. Namun, berbeda dengan saham, kita bisa mulai cicil beli produk reksa dana saham. Alasannya, reksa dana saham dikelola oleh manajer investasi dengan mengacu untuk mengalahkan indeks harga saham gabungan. Jika IHSG mulai rebound, reksa dana saham juga berpotensi naik.

Jadi, Jika Punya Uang Rp100 Juta, Lebih Baik Investasi di mana?

Pertanyaannya, apa nih tujuanmu? kalau mau tidak pusing dan degdegan sih tinggal tempatkan aja di obligasi negara ritel seperti ST dan ORI yang kami dengan seri rekomendasi terbaik tadi. Jika menempatkan dana di sana selama 2-3 tahun atau sekarang ada 4-5 tahun senilai Rp100 juta, kamu akan mendapatkan pendapatan pasif rutin per bulan sekitar Rp487.500 (dengan asumsi kupon 6,5% per tahun + dikurangi pajak 10% dari total kupon yang diterima).

Berarti, dalam lima tahun ke depan, kamu bisa meningkatkan aset senilai Rp32,5 juta. Jadi, totalnya senilai Rp132,5 juta.

Menarik? kalau tidak menarik, kamu bisa mulai diversifikasi nih dengan pola seperti ini. [ini bukan rekomendasi pola hanya pembagian risiko penurunan dengan aset yang aman]

  • 10 persen: Emas (asumsinya, harga emas masih tinggi, biar tidak ketinggalan masuk sedikit dulu)
  • 20 persen: Saham atau reksa dana saham (kelebihan langsung ke saham bisa dapat dividen, kelebihan reksa dana saham bisa auto melakukan diversifikasi aset)
  • 30 persen: Reksa dana pendapatan tetap
  • 40 persen: SBN ritel

Dengan pola seperti, 80 persen dana-mu hampir pasti lebih aman dari risiko fluktuasi pasar yang besar seperti saham. Jadi, kerugian di saham tidak akan terasa apa-apa. Ketika kamu masuk ke saha royal dividen dan fundamental bagus, ya seiring waktu nilainya juga naik.

Namun, ini pola untuk kamu yang moderat. Jika ingin agresif, ya tinggal naikkan porsi saham atau reksa dana saham. Lalu, kurang portofolio lainnya seperti, emas, reksa dana pendapatan tetap, atau SBN ritel.

Pastinya, kamu harus paham kalau agresif berarti risiko menjadi lebih besar. Biasanya sih, kalau posisi suku bunga tinggi dan risiko ekonomi masih tidak jelas, banyak investor besar pilih moderat atau konservatif.

💡
Posisi konservatif itu biasanya menemaptkan dana di reksa dana pasar uang, deposito, dan SBN ritel yang risiko penurunan pokok investasi hampir sangat mustahil.

Kesimpulan

Ya, dengan ketidakpastian ekonomi masih sangat tinggi. Jumlah PHK cukup tinggi, dan kamu yang mencari kerja pasti susah banget dengan jumlah demand yang mencari talent lebih sedikit dibandingkan supply tenaga kerja yang tersedia.

Hal itu pun memicu perang upah hingga akhirnya ada penurunan pendapatan di tengah risiko inflasi naik. Hasilnya, pasti ekonomi melambat yang bisa berdampak kepada kinerja investasi aset agresif seperti saham yang selaras dengan pertumbuhan ekonomi.
Nah, dengan suggest ini, kamu tetap pilih jalankan mode agresif atau mending masuk moderat dulu aja?