Israel-AS Serang Iran Habis-habisan Bikin Khawatir Market Jeblok, Apa yang Bisa Dilakukan Investor Saham?
Perang timur tengah makin panas setelah Amerika Serikat dan Israel memborbardir Iran. Lalu, bagaimana strategi investasi saham yang oke saat kondisi perang ini?
Mikirduit – Investor mulai was-was setelah Israel-Amerika Serikat adu rudal dengan Iran di akhir pekan ini. Lalu, bagaimana cara merespons sentimen perang saat ini? apakah jual semua saham atau santai wait and see? Kami akan ulas probabilitas dan strateginya secara historis.
Highlight
- Probabilitas Perang Skala Besar Sangat Rendah: Meskipun ketegangan meningkat, peluang terjadinya perang dunia ketiga atau konflik berkepanjangan dinilai sangat kecil karena keterbatasan kapasitas finansial dan dinamika moneter negara-negara besar saat ini.
- Dampak Pasar Bersifat Jangka Pendek: Berdasarkan data historis 2003–2025, penurunan indeks S&P 500 dan IHSG akibat sentimen perang cenderung hanya bersifat sementara dengan rata-rata waktu pemulihan yang cukup cepat, yaitu berkisar antara satu hingga empat bulan.
- Strategi Responsif yang Terukur: Investor disarankan untuk tidak bereaksi secara panik, melainkan tetap tenang dengan memanfaatkan momentum koreksi harga untuk mencicil saham fundamental yang sedang "diskon" atau melakukan strategi wait and see jika tidak memiliki cadangan kas.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.
Pasca perang dunia kedua, gap waktu untuk perang dunia ketiga hampir mustahil. Namun, ketika ada perang yang meliputi Timur Tengah, AS, China, dan Rusia mulai membawa-bawa risiko perang dunia ketiga.
Namun, kami menilai dengan kondisi keuangan masing-masing negara serta dinamika moneter dalam beberapa dekade terakhir, peluang terjadi perang sangat tipis. Bahkan, dalam perang AS dengan Iran saja diprediksi, AS hanya sanggup bertahan selama 5 hari.
Sehingga, perang yang terjadi saat ini akan kecil kemungkinannya untuk menjadi perang yang berkepanjangan. Lalu, bagaimana efeknya ke pasar?
Kami akan mengulas kronologis korelasi pasar saham dengan perang sejak 2003 hingga 2025.
Era Invasi Irak
Salah satu perang terbesar pasca perang dunia ke-2 di era 2000-an adalah Invasi Irak. Jadi, pada 2003, Presiden AS George W. Bush menuduh rezim Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal dan menjalin hubungan dengan Al-Qaeda.
Dalam invasi ke Irak ada beberapa kronologi momen yang menjadi fokus dan mempengaruhi pasar:
Pertama, invasi kilat pada Maret-April 2003, kala itu invai dimulai dari serangan udara hingga ditutup pada 1 Mei 2003 dengan pidato Bush yang bilang misi komplit di atas kapal induk USS Abraham Lincoln.
Kedua, penangkapan Saddam Hussein pada Desember 2003.
Ketiga, Transisi dan eskalasi konflik terjadi pada 2004. Ada pertempuran yang lumayan sengit antara Marinir AS dengan gerilyawan Irak. Hingga akhirnya, Juni 2004 AS menyerahkan pemerintahan Irak kepada pemerintah interim, meski tentara koalisi AS masih berada di sana dengan mengaku untuk menjaga keamanan.
Jika melihat efek besar ke market dari perang Irak terjadi di sepanjang 2023. Efek ke market dari invasi ke Irak pada 2003 antara lain:
Pertama, jelang invasi mulai digembar-gembor-kan pada Januari - Februari 2023. Ada tekanan di indeks S&P 500 karena adanya arus ambil untung yang meningkatkan tekanan jual untuk memindahkan aset ke safe haven eperti emas.
Dalam periode Januari - Maret 2003, Indek S&P turun sekitar 14,7 persen, sedangkan indeks harga saham gabungan (IHSG) pasar saham Indonesia turun sekitar 5 persen.
Pengambilalihan Krimea oleh Rusia dari Ukraina 2014
Sebenarnya, efek aneksasi krimea di 2014 tidak terlalu signifikan ke pasar saham global, meski menghadirkan gejolak.
Kejadian itu bermula dari Ukraina yang dipimpin oleh pemerintahan baru yang pro-barat. Ukraina pun mulai lebih dekat ke Eropa.
Adapun, ada satu kota di Krimea bernama Sevastopol, yang menjadi markas besar Armada Laut Hitam Rusia. Di sini, Rusia khawatir jika Ukraina bergabung dengan NATO, mereka akan kehilangan akses militer ke pelabuhan strategis tersebut.
Di sini, Rusia pun mulai mengambil alih Krimea. Hingga muncul referendum pada 16 Maret 2014 yang hasilnya 96,7 persen penduduk setuju untuk gabung dengan Rusia. Meski, Barat menilai referendum itu ilegal.
Dari kejadian ini, blok Barat (NATO) memberikan sanksi awal di sektor energi dan perbankan Rusia. Dari sanksi ekonomi ini, mulai berdampak ke pasar saham global yang mengalami guncangan sekitar 3-5 persen.
Jika melihat Indeks SP 500 hanya mengalami penurunan 3 persen dalam jangka pendek di Maret 2014, sedangkan IHSG sempat anjlok 4 persen dalam sepekan di 17 Maret 2014.

Perang Rusia Ukraina 2022
Berbeda dengan kejadian di Krimea, kejadian perang Rusia-Ukraina di 2022 menjadi salah atu perang terbesar di Eropa sejak Perang Dunia ke-2.
Kejadiannya berawal dari operasi militer khusus untuk mencegah Ukraina bergabung dengan NATO. Akhirnya serangan dilakukan dari tiga arah, yakni Utara (Belarus menuju Kyiv), Timur (Donbas), dan Selatan (Krimea).
Dampaknya, dari kejadian ini, Rusia dikenakan sanksi ekonomi mulai dari Bank Rusia kehilangan akses sistem SWIFT (jalur komunikasi keuangan global), membekukan cadangan devisa Rusia di luar negeri, hingga adanya embargo komoditas dari Rusia.
Dalam tahap awal perang, kejadian ini sempat menekan pasar cukup signifikan. Tingkat penurunan IHSG mulai dari April 2022 sempat mengalami penurunan 8,53 persen dalam sepekan, sedangkan hingga Desember 2022 turun 6,51 persen.
Sementara itu, indeks SP 500 sempat mengalami penurunan 21,42 persen sepanjang Maret -September 2022. Namun, catatannya adalah penurunan pasar saham di 2022 juga bertepatan dengan pengetatan moneter The Fed (kenaikan suku bunga). Namun, kenaikan suku bunga memang menjadi diputuskan lebih cepat karena kenaikan harga komoditas secara anomali, yang salah satu faktornya adalah peran Rusia tersebut.
Perang AS-Israel Melawan Palestina (2023-2025)
Konflik Israel yang menyerang Palestina dan perang di Laut Merah terjadi cukup panjang dari Oktober 2023 hingga 2025.
Jika dilihat tekanan terbesar ke pasar saham terjadi ketika awal perang, yakni pada Oktober 2023. Kala itu, IHSG turun sekitar 3,72 persen sejak level tertinggi di 18 September 2023 hingga 23 Oktober 2023.
Sementara itu, di periode yang sama indeks SP 500 mengalami penurunan hingga 7,21 persen di periode yang sama dengan IHSG.
Mau mulai investasi saham AS?
Ada beberapa platform dari Indonesia yang bisa membuatmu bertransaksi di saham AS dengan mudah dan cepat. Dua platform saham AS di Indonesia antara lain:
- XTB Indonesia, platform yang sudah mendunia terutama di Eropa, daftar jadi nasabahnya sekarang dengan klik link di sini
- Gotrade Indonesia, platform yang juga memudahkan investasi saham AS di Indonesia. Daftar dengan klik link di sini
- Ajaib Alpha, platform investasi saham AS yang ada di Indonesia. Daftar dengan klik di sini dan gunakan kode Ajaib SURY216 untuk dapatkan bonus dari Ajaib
Dampak Perang ke Pasar Saham
Jika melihat, dampak dari perang ke pasar saham dengan asumsi perang tidak mencapai skala global yang besar seperti Perang Dunia ke-1 dan 2, efeknya cenderung hanya jangka pendek.
Jika menghitung kronologi sejak Invasi Irak sampai Konflik Timur Tengah (2003-2025), rata-rata pemulihan pasca penurunan pasar cenderung cepat sekitar 1-4 bulan. Bahkan, saat kejadian Rusi-Ukraina malah pasar saham bisa bangkit dengan cepat.
Jika dilihat, saham-saham yang berhubungan positif dengan perang (dengan asumsi perang tidak meluas) antara lain, sektor energi (komoditas dan perkapalannya), serta sektor komoditas logam (industri dan emas). Untuk komoditas ini sangat berlaku di pasar saham Indonesia karena memang ekonominya didorong oleh aktivitas komoditas. Hal itu terjadi saat harga batu bara terbang ke 400 dolar AS per ton, kondisi struktur APBN Indonesia surplus cukup besar.
Sementara itu, untuk US akan berhubungan dengan saham yang membuat kapal tempur seperti Lockheed Martin dan Raytheon.
Jadi, bagaimana strategi dalam merespons pasar saham yang dilanda sentimen perang tersebut?
Sebenarnya, tetap tenang dan atur porto sesuai plan-nya.
Misalnya, plan investasi dengan kondisi masih ada cash, bisa dicicil jika sahamnya justru mengalami anomali penurunan yang signifikan. Sehingga, kita bisa memperbaiki harga rata-rata.
Jika tidak memiliki cash, bisa take profit sebagian kecil dari saham-saham investasi yang masih untung. Nantinya kumpulan hasil sebagian taking profit ini bisa digunakan untuk masuk ke saham yang lagi diskon (dengan fundamental dan prospek yang menarik).
Jika kondisinya saham investasi tidak ada yang untung bagaimana? berarti wait and see, sabar dulu saja. Terkadang nggak setiap momen kita harus memaksakan diri untuk ikut hingga harus cut loss (meski sebagian). Tapi, jika penasaran bisa cut loss di saham yang ruginya paling kecil dengan porsi maksimal 20 persen dari modal yang sudah ada di dalam.
Bagaimana dengan tradingan? ini juga ada dua perspektif.
Pertama, disiplin saja sesuai dengan plan stop loss. Jika mencapai stop loss bisa jual rugi dulu. Nanti bisa masuk ke saham yang jangka pendek lagi naik, meski harus cuan bungkus karena biasanya cenderung konsolidasi lagi dalam jangka pendek. Selain itu, bisa juga spekulatif di saham-saham yang koreksi, tapi teknikalnya menarik. Sehingga dalam jangka 1 minggu - 1 bulan bisa take profit.
Kedua, jika terlanjur berada di bawah level stop loss dan tidak rela jual rugi, ya kalau mau hold bisa saja. Catatannya, pelanggaran disiplin stop loss ini harus diiringi dengan pengetahuan fundamental emiten terkait serta momentumnya. Jadi, bukan cuma asal nggak mau stop loss. Sehingga, kita bisa ukur peluang pemulihannya butuh waktu berapa lama.
Namun, cara yang kedua tidak disarankan karena biasanya dalam trading kita tidak membeli di area best price. Sehingga saat dikonversi menjadi saham jangka menengah, ada risiko periode hold sangat lama bisa lebih dari 2 tahun jika ternyata prospek kinerja emitennya tidak begitu bagus dan posisi beli agak di atas.
Intinya, jangan terlalu reaktif panik dan sebagainya. Buat keputusan dengan kepala dingin, fluktuasi tekanan penurunan pasar saham akibat perang biasanya hanya jangka pendek. Kecuali jika terjadi perang dunia ketiga, yang menurut kalkulasi kami perhitungannya sangat rendah.
Mikirduit Lagi Ada Diskon Mulai dari Rp200.000 untuk Join Mikirsaham Nih!
Benefitnya mencakup:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
- Event online bulanan
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private
Untuk detail kamu bisa baca lebih detail terkait benefit dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
