Harga Minyak Dunia Tembus 90 dolar AS per Barrel, Bakal Dejavu 2022 atau 1970-an?
harga minyak dunia terbang ke 93 dolar AS, melewati batas nafas harga Pertalite di Rp10.000 pemerintah Indonesia. Lalu, dengan begini, apakah bisa jadi booming minyak seperti booming komoditas di 2022? simak ulasannya di sini
Mikirduit – Harga minyak tembus 93 dolar AS per saham. Apakah ini akan menjadi dejavu kenaikan harga batu bara di 2022 akibat perang Rusia Ukraina? kami akan jelaskan perbedaan signifikan keduanya di sini.
Highlight
- Lonjakan harga minyak ke 93 dolar AS per barel dipicu potensi penghentian produksi migas di negara Teluk akibat konflik Timur Tengah, yang bahkan bisa mendorong harga hingga 150 dolar AS jika gangguan pasokan berlanjut.
- Berbeda dengan lonjakan komoditas pada 2022 yang didorong kombinasi permintaan tinggi dan gangguan pasokan, kondisi 2026 terjadi saat permintaan energi cenderung stagnan sehingga kenaikan harga lebih banyak dipicu gangguan supply.
- Karena kenaikan harga minyak saat ini berisiko bersifat sementara dan bisa terganggu masalah distribusi serta perlambatan ekonomi global, peluang cuan saham migas dinilai lebih cocok untuk strategi jangka pendek.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.
Harga minyak dunia mencatatkan kenaikan ke level tertinggi sejak 2023 pada perdagangan 7 Maret 2026 ke level 93 dolar AS per barrel. Kenaikan harga minyak yang sangat drastis itu terjadi karena Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi memperingatkan semua eksportir migas di negara Teluk akan menghentikan produksi selama beberapa hari ke depan.
Dari potensi penghentian produksi selama beberapa hari itu, harga minyak dunia disebut berpotensi terdorong ke 150 dolar AS per barel.
Bahkan, jika perang berakhir lebih cepat, Qatar mengaku butuh waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk kembali ke siklus pengiriman normal.
Sebelumnya, Qatar menghentikan produksi LNG pada 1 Maret 2026 karena serangan Iran mengenai wilayahnya. Padahal, produksi LNG Qatar bisa dibilang berpengaruh terhadap 20 persen dari pasokan global. Bahkan, Eropa yang sudah memutuskan hubungan distribusi gas dengan Rusia juga mengandalkan LNG dari Qatar.
Lalu, dengan fakta harga minyak naik dan ada penghentian produksi ini, apakah jadi sinyal bullish untuk saham migas seperti booming komoditas di 2022?
Perbedaan Kondisi 2022 dengan 2026
Momentum lonjakan harga komoditas di 2022 yang berujung kepada kenaikan harga saham komoditas karena tingkat keuntungan yang melonjak bukan hanya disebabkan satu faktor oleh Perang Rusia-Ukraina saja.
Sebelumnya, ekonomi dunia, terutama China, mulai kembali reaktivasi lagi pada 2021 setelah terkunci pandemi Covid-19 sejak 2020. Hasilnya, di semester II/2021, tingkat permintaan komoditas seperti batu bara dan lainnya meningkat, tapi produksi tidak bisa naik secepat permintaan. Akhirnya, waktu itu China hingga terancam krisis energi karena kebutuhan yang ada sulit dipenuhi oleh supply yang tersedia. Sejak akhir 2021, harga komoditas energi juga sudah naik karena faktor tersebut.
Masalahnya makin memuncak ketika Rusia menyerang Ukraina lalu Negeri Beruang Merah dihukum sanksi perdagangan. Padahal, Rusia merupakan salah satu negara ekspor komoditas yang besar dengan kondisi waktu itu permintaan tengah tinggi. Akhirnya, meletus anomali harga batu bara terbang hingga ke 400 dolar AS per ton. Harga minyak dunia (Brent) juga tembus hingga 130 dolar AS per barrel. Level tertinggi sepanjang masa kala itu.
Artinya, di 2022 ada dua kejadian yang membuat harga komoditas naik hingga menguntungkan para produsen komoditas, yakni permintaan sedang naik, serta ada gangguan supply akibat sanksi terhadap Rusia.
Lalu, bagaimana dengan 2026?
Perbedaan terbesar dengan 2026 adalah kondisi permintaan komoditas termasuk minyak cenderung lambat (stagnan). Sepanjang 2025, OPEC Plus memang meningkatkan produksi, tapi tujuannya bukan untuk memenuhi kenaikan permintaan, melainkan menjaga pangsa pasar meski konsekuensinya harga minyak mengalami penurunan.
Di sisi lain, dalam periode 2026, gangguan terbesar terjadi pada supply dan distribusi dengan kondisi permintaan yang tidak ada kenaikan. Sehingga harga boleh naik, tapi daya beli-nya malah bisa semakin sulit.
Dampak terbesar dari kenaikan harga minyak jika lebih dari 100 dolar AS akibat penghentian produksi adalah perlambatan ekonomi secara global. Harga migas bisa naik, tapi apakah penjualan migas-nya juga mengalami kenaikan dan tidak terganggu terkait distribusi di selat Hormuz?
Menurut Dubes Iran di Indonesia, secara teknis selat tersebut tidak ditutup. Melainkan, ada protokol khusus selama perang. Jika pihak-pihak terkait mematuhi protokol tersebut bisa dengan mudah melewati selat Hormuz.
Masalahnya, perusahaan asuransi maritim mulai dari Gard, Skuld, NorthStandard, London P&I Club, dan American Club mengumumkan kalau perlindungan risiko perang untuk kapal-kapal yang beroperasi di sekitar Iran dibatalkan karena memanasnya perang di Timur Tengah. Hal ini yang menjadi risiko sehingga distribusi tetap terganggu karena kapal-kapal tidak berani lewat tanpa asuransi dengan kondisi konflik di daerah tersebut.
Jika penjualan perusahaan migas terganggu karena sulit mencari asuransi pendukung kapal-nya, efek ke kinerjanya tidak akan se-signifikan seperti 2022. Apalagi, ada risiko ekonomi dunia bisa mengalami perlambatan yang signifikan, sehingga potensi pertumbuhan pendapatan hanya disebabkan oleh faktor kenaikan harga. Sementara itu, volume penjualan berpotensi mengalami penurunan.

Jadi, Apa yang Harus Dilakukan?
Jika kamu berencana untuk masuk ke saham migas dengan asumsi harga minyak lagi naik mendekati 100 dolar AS per barrel, lakukanlah dengan cuan bungkus jangka pendek. Ada beberapa alasannya:
Pertama, kenaikan harga minyak bisa langsung terhenti saat nantinya negara Teluk mengumumkan tidak jadi menghentikan produksi atau produksi kembali normal.
Kedua, efek kenaikan harga minyak terhadap harga saham cenderung jangka pendek. Pasalnya, dari kenaikan harga minyak itu belum tentu secara langsung menaikkan pendapatan jika ada faktor kesulitan distribusi barang.
Lalu, Apa Saja List dan Strategi Saham Winner dan Losers Saat Harga Minyak Tembus 90 dolar AS per barel?
Kamu bisa dapatkan insightnya di Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
- Event online bulanan
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private
Langsung langganan sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa, Cek KODE PROMO-nya sesuai dengan plan yang kamu butuhkan dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
